12 February 2026

Dulu Dipecat Karena Berani Kritik Bung Karno, Kini Pria Ini Resmi Jadi Pahlawan Nasional! Tanpa Diplomasi Cerdiknya, Sepertiga Laut Indonesia Mungkin Masih Milik Asing Sejarah sering kali melukiskan takdir yang tak terduga. Siapa sangka, seorang akademisi yang pernah dicopot gelarnya karena "berani" melawan arus politik Presiden Soekarno, justru menjadi orang yang paling berjasa menyatukan kedaulatan laut Indonesia. Pada tahun 2025, melalui Keppres No. 116/TK/2025, Presiden Prabowo Subianto resmi menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M. Ini adalah penghormatan tertinggi bagi sang arsitek kedaulatan yang selama puluhan tahun berjuang agar laut di antara pulau-pulau kita tidak lagi dianggap "perairan bebas" bagi kapal asing. Keberanian yang Berbayar Mahal Kisah Mochtar bukan tentang karpet merah yang terbentang luas. Pada tahun 1962, saat menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Unpad, ia menunjukkan integritas yang tajam. Ia mengkritik manifesto politik Soekarno dan menyebut sang proklamator sebagai "sosialis musiman". Akibat kritikan pedas itu, ia dipecat dari jabatannya sebagai guru besar melalui telegram langsung dari Jepang atas perintah Bung Karno. Namun, alih-alih hancur, Mochtar justru terbang ke luar negeri untuk menimba ilmu di Harvard dan Chicago. Pengalaman pahit ini justru menempanya menjadi diplomat yang lebih tenang, cerdik, dan taktis. Menyelamatkan Sepertiga Wilayah Indonesia Sebelum era Mochtar, Indonesia hanya memiliki kedaulatan laut sejauh 3 mil dari garis pantai. Akibatnya, wilayah laut di tengah-tengah Nusantara dianggap sebagai laut internasional. Kapal perang dan kapal pencuri ikan asing bisa bebas melenggang tanpa izin di antara Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Mochtar-lah yang menjadi otak di balik konsep Wawasan Nusantara. Lewat kemampuan diplomasi yang luar biasa dalam forum UNCLOS (Konvensi Hukum Laut PBB), ia berhasil meyakinkan dunia bahwa Indonesia adalah satu kesatuan utuh: Tanah dan Air. Berkat perjuangan panjangnya, wilayah Indonesia bertambah luas hingga jutaan kilometer persegi tanpa perlu meletuskan satu butir peluru pun. Sepertiga laut yang dulu "milik dunia", kini resmi menjadi beranda kedaulatan Republik Indonesia. Diplomat Catur yang Jenius Mochtar dikenal sebagai diplomat yang tak pernah kehilangan akal. Kegemarannya pada olahraga catur membuatnya selalu selangkah lebih maju dalam bernegosiasi. Ia piawai mencairkan suasana yang tegang dengan kelakar cerdas, namun tetap lugas dalam menyampaikan kepentingan bangsa. Di luar pemerintahan, ia juga pionir dalam dunia praktisi hukum dengan mendirikan kantor hukum pertama di Indonesia yang mempekerjakan pengacara asing, Mochtar Karuwin Komar (MKK). Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu Setelah wafat pada 6 Juni 2021, nama Mochtar Kusumaatmadja kini abadi. Tidak hanya melalui gelar Pahlawan Nasional, namanya juga diabadikan menggantikan Jalan Layang Pasupati di Bandung. Definisi hukumnya yang terkenal—bahwa hukum bukan sekadar aturan, tapi juga proses untuk mewujudkan keadilan di masyarakat—masih menjadi pedoman bagi seluruh mahasiswa hukum di Indonesia hingga saat ini. Mochtar telah membuktikan bahwa pengabdian pada negara tidak selalu harus dengan senjata, namun bisa melalui pena, pikiran, dan keteguhan prinsip. (Wikipedia) #MochtarKusumaatmadja #PahlawanNasional #WawasanNusantara #SejarahIndonesia #KedaulatanLaut #InspirasiBangsa #InfoBandung

 Dulu Dipecat Karena Berani Kritik Bung Karno, Kini Pria Ini Resmi Jadi Pahlawan Nasional!

Tanpa Diplomasi Cerdiknya, Sepertiga Laut Indonesia Mungkin Masih Milik Asing



Sejarah sering kali melukiskan takdir yang tak terduga. Siapa sangka, seorang akademisi yang pernah dicopot gelarnya karena "berani" melawan arus politik Presiden Soekarno, justru menjadi orang yang paling berjasa menyatukan kedaulatan laut Indonesia.


Pada tahun 2025, melalui Keppres No. 116/TK/2025, Presiden Prabowo Subianto resmi menyematkan gelar Pahlawan Nasional kepada Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H., LL.M. Ini adalah penghormatan tertinggi bagi sang arsitek kedaulatan yang selama puluhan tahun berjuang agar laut di antara pulau-pulau kita tidak lagi dianggap "perairan bebas" bagi kapal asing.


Keberanian yang Berbayar Mahal

Kisah Mochtar bukan tentang karpet merah yang terbentang luas. Pada tahun 1962, saat menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Unpad, ia menunjukkan integritas yang tajam. Ia mengkritik manifesto politik Soekarno dan menyebut sang proklamator sebagai "sosialis musiman".


Akibat kritikan pedas itu, ia dipecat dari jabatannya sebagai guru besar melalui telegram langsung dari Jepang atas perintah Bung Karno. Namun, alih-alih hancur, Mochtar justru terbang ke luar negeri untuk menimba ilmu di Harvard dan Chicago. Pengalaman pahit ini justru menempanya menjadi diplomat yang lebih tenang, cerdik, dan taktis.


Menyelamatkan Sepertiga Wilayah Indonesia

Sebelum era Mochtar, Indonesia hanya memiliki kedaulatan laut sejauh 3 mil dari garis pantai. Akibatnya, wilayah laut di tengah-tengah Nusantara dianggap sebagai laut internasional. Kapal perang dan kapal pencuri ikan asing bisa bebas melenggang tanpa izin di antara Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.


Mochtar-lah yang menjadi otak di balik konsep Wawasan Nusantara. Lewat kemampuan diplomasi yang luar biasa dalam forum UNCLOS (Konvensi Hukum Laut PBB), ia berhasil meyakinkan dunia bahwa Indonesia adalah satu kesatuan utuh: Tanah dan Air.


Berkat perjuangan panjangnya, wilayah Indonesia bertambah luas hingga jutaan kilometer persegi tanpa perlu meletuskan satu butir peluru pun. Sepertiga laut yang dulu "milik dunia", kini resmi menjadi beranda kedaulatan Republik Indonesia.


Diplomat Catur yang Jenius

Mochtar dikenal sebagai diplomat yang tak pernah kehilangan akal. Kegemarannya pada olahraga catur membuatnya selalu selangkah lebih maju dalam bernegosiasi. Ia piawai mencairkan suasana yang tegang dengan kelakar cerdas, namun tetap lugas dalam menyampaikan kepentingan bangsa.


Di luar pemerintahan, ia juga pionir dalam dunia praktisi hukum dengan mendirikan kantor hukum pertama di Indonesia yang mempekerjakan pengacara asing, Mochtar Karuwin Komar (MKK).


Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu

Setelah wafat pada 6 Juni 2021, nama Mochtar Kusumaatmadja kini abadi. Tidak hanya melalui gelar Pahlawan Nasional, namanya juga diabadikan menggantikan Jalan Layang Pasupati di Bandung.


Definisi hukumnya yang terkenal—bahwa hukum bukan sekadar aturan, tapi juga proses untuk mewujudkan keadilan di masyarakat—masih menjadi pedoman bagi seluruh mahasiswa hukum di Indonesia hingga saat ini. Mochtar telah membuktikan bahwa pengabdian pada negara tidak selalu harus dengan senjata, namun bisa melalui pena, pikiran, dan keteguhan prinsip. (Wikipedia) 


#MochtarKusumaatmadja #PahlawanNasional #WawasanNusantara #SejarahIndonesia #KedaulatanLaut #InspirasiBangsa #InfoBandung

No comments:

Post a Comment