04 February 2026

BERDIRI SENDIRIAN SAAT KEKUASAAN RUNTUH KISAH MENTERI TERAKHIR YANG SETIA MENDAMPINGI SOEHARTO Jakarta, Mei 1998. Di tengah tekanan politik yang memuncak, demonstrasi mahasiswa di berbagai kota, dan retaknya dukungan elite, Presiden Soeharto masih mencoba satu langkah terakhir: membentuk kabinet reformasi. Upaya itu dimaksudkan untuk meredam krisis legitimasi yang semakin dalam. Namun sejarah bergerak lebih cepat dari rencana. Satu per satu menteri menyatakan mundur. Dukungan politik yang selama puluhan tahun menopang kekuasaan Orde Baru runtuh dalam hitungan hari. Pada malam 20 Mei 1998, setelah pertemuan dengan Wakil Presiden BJ Habibie, Soeharto akhirnya menyadari bahwa tak ada lagi fondasi politik yang bisa dipertahankan. Pagi 21 Mei 1998, di Istana Merdeka, Jakarta, Soeharto menyampaikan pengunduran dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia. Kekuasaan resmi diserahkan kepada BJ Habibie, menandai berakhirnya satu era panjang dalam sejarah politik Indonesia. Ada satu detail yang kerap luput dari ingatan publik. Pada momen yang seharusnya dihadiri jajaran kabinet, Soeharto justru berdiri hampir sendirian. Mayoritas menterinya telah memilih pergi. Dari seluruh anggota kabinet, hanya satu yang tetap berada di sisi presiden hingga detik terakhir. Ia adalah Saadillah Mursjid, Menteri Sekretaris Negara saat itu. Di tengah situasi politik yang tidak populer dan berisiko, Saadillah tidak meninggalkan jabatannya. Ia mendampingi Soeharto saat pengumuman pengunduran diri dibacakan, menjadi simbol loyalitas administratif di saat kekuasaan kehilangan pijakan. Kesetiaan Saadillah Mursjid bukan tanpa catatan. Sejumlah tokoh reformasi, termasuk Amien Rais, pernah menyampaikan penghargaan atas sikapnya yang memilih tetap menjalankan tanggung jawab negara hingga akhir, meski arus politik bergerak ke arah sebaliknya. Dalam konteks transisi kekuasaan yang penuh ketegangan, sikap itu dinilai sebagai bentuk konsistensi terhadap amanah jabatan, bukan pembelaan terhadap kekuasaan. Peristiwa 21 Mei 1998 bukan hanya tentang lengsernya seorang presiden, tetapi juga tentang pilihan-pilihan personal di saat krisis: siapa yang pergi, siapa yang bertahan, dan apa makna loyalitas ketika sejarah sedang berbelok arah. Dua puluh lima tahun lebih berlalu, kisah ini tetap relevan untuk direnungkan—terutama ketika publik kembali bertanya, masih adakah figur yang memilih berdiri di samping tanggung jawabnya saat situasi menjadi paling sulit? #Reformasi1998 #SejarahIndonesia #Soeharto #KabinetIndonesia #PolitikNasional

 BERDIRI SENDIRIAN SAAT KEKUASAAN RUNTUH KISAH MENTERI TERAKHIR YANG SETIA MENDAMPINGI SOEHARTO


Jakarta, Mei 1998. Di tengah tekanan politik yang memuncak, demonstrasi mahasiswa di berbagai kota, dan retaknya dukungan elite, Presiden Soeharto masih mencoba satu langkah terakhir: membentuk kabinet reformasi. Upaya itu dimaksudkan untuk meredam krisis legitimasi yang semakin dalam. Namun sejarah bergerak lebih cepat dari rencana.



Satu per satu menteri menyatakan mundur. Dukungan politik yang selama puluhan tahun menopang kekuasaan Orde Baru runtuh dalam hitungan hari. Pada malam 20 Mei 1998, setelah pertemuan dengan Wakil Presiden BJ Habibie, Soeharto akhirnya menyadari bahwa tak ada lagi fondasi politik yang bisa dipertahankan.


Pagi 21 Mei 1998, di Istana Merdeka, Jakarta, Soeharto menyampaikan pengunduran dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia. Kekuasaan resmi diserahkan kepada BJ Habibie, menandai berakhirnya satu era panjang dalam sejarah politik Indonesia.


Ada satu detail yang kerap luput dari ingatan publik. Pada momen yang seharusnya dihadiri jajaran kabinet, Soeharto justru berdiri hampir sendirian. Mayoritas menterinya telah memilih pergi. Dari seluruh anggota kabinet, hanya satu yang tetap berada di sisi presiden hingga detik terakhir.


Ia adalah Saadillah Mursjid, Menteri Sekretaris Negara saat itu. Di tengah situasi politik yang tidak populer dan berisiko, Saadillah tidak meninggalkan jabatannya. Ia mendampingi Soeharto saat pengumuman pengunduran diri dibacakan, menjadi simbol loyalitas administratif di saat kekuasaan kehilangan pijakan.


Kesetiaan Saadillah Mursjid bukan tanpa catatan. Sejumlah tokoh reformasi, termasuk Amien Rais, pernah menyampaikan penghargaan atas sikapnya yang memilih tetap menjalankan tanggung jawab negara hingga akhir, meski arus politik bergerak ke arah sebaliknya. Dalam konteks transisi kekuasaan yang penuh ketegangan, sikap itu dinilai sebagai bentuk konsistensi terhadap amanah jabatan, bukan pembelaan terhadap kekuasaan.


Peristiwa 21 Mei 1998 bukan hanya tentang lengsernya seorang presiden, tetapi juga tentang pilihan-pilihan personal di saat krisis: siapa yang pergi, siapa yang bertahan, dan apa makna loyalitas ketika sejarah sedang berbelok arah. Dua puluh lima tahun lebih berlalu, kisah ini tetap relevan untuk direnungkan—terutama ketika publik kembali bertanya, masih adakah figur yang memilih berdiri di samping tanggung jawabnya saat situasi menjadi paling sulit?


#Reformasi1998

#SejarahIndonesia

#Soeharto

#KabinetIndonesia

#PolitikNasional

No comments:

Post a Comment