TRAGEDI KEUMANGAN DALAM REVOLUSI SOSIAL 1946 DIHABISI SAMPAI LAKI LAKI TERAKAHIR
Peristiwa Cumbok pada Januari 1946 menjadi salah satu bab paling kelam dalam sejarah sosial-politik Aceh. Konflik antara golongan uleebalang dan kelompok yang berafiliasi dengan PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) berubah menjadi kekerasan terbuka setelah jatuhnya Beureunuen pada 11 Januari 1946.
Dalam pusaran peristiwa itulah keluarga Uleebalang Keumangan mengalami kehancuran yang hampir total.
Setelah Beureunuen dikuasai pasukan pro-PUSA, dua putra Teuku Keumangan Umar—Teuku Raja Abdullah dan Teuku Keumangan Muhammad—ditangkap dan dibawa ke Meureudu.
Keduanya kemudian dibunuh. Peristiwa ini menandai awal dari berakhirnya garis laki-laki Uleebalang Keumangan.
Sekitar sebulan kemudian, keluarga besar uleebalang Keumangan yang masih berada di Beureunuen turut menjadi sasaran.
Mereka terdiri dari Teuku Keumangan Pocut Umar (75 tahun), Teuku Abdul Rahman, Teuku Hasan (12 tahun), Teuku Meurah Amin (7 tahun), Teuku Abdul Latif (cucu), Teuku M. Tahir (5 tahun), Pocut Nuraimah (15 tahun), serta dua istri keluarga, Cupo Bahren dan Cupo Aman.
Pasukan pro-PUSA di bawah pimpinan Husin Sab dari Gigieng yang dikenal keras dalam operasi-operasinya—menangkap mereka dan membawa rombongan itu ke Gigieng.
Para pria dewasa dan anak laki-laki—Teuku Abdul Rahman, Teuku Abdul Latif, Teuku Hasan, dan Teuku Meurah Amin—dibunuh di Paya Ie Luhop, Gigieng.
Adapun Teuku Keumangan Pocut Umar yang telah lanjut usia dikisahkan dibunuh secara terpisah. Berdasarkan kesaksian lisan, ia dieksekusi dengan cara yang sangat kejam.
Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana revolusi sosial tidak lagi membedakan usia maupun kedudukan; dendam politik dan sosial menelan siapa saja yang dianggap bagian dari struktur lama.
Sementara itu, para tawanan perempuan dan anak kecil—Pocut Nuraimah, Cupo Bahren, Cupo Aman, dan Teuku M. Tahir—akhirnya dijemput oleh keluarga dari Samalanga, yakni Teuku Haji Husin dan Teuku Haji Zainal Abidin, lalu dikembalikan kepada Pocut Haji Asma di Samalanga.
Mereka menjadi saksi hidup atas runtuhnya keluarga besar Keumangan.
Sosok sentral dalam tragedi ini adalah Teuku Muhammad Keumangan. Pada tahun 1938, ia menggantikan ayahnya, Teuku Umar Keumangan, sebagai Uleebalang Keumangan terakhir.
Dalam kehidupan pribadinya, ia memiliki dua istri: Cut Asiah, putri Tgk Imeum di Usi, dan Pocut Keumala dari Lama Inong, Meulaboh.
Dari Cut Asiah ia memperoleh tiga anak laki-laki, sementara dari Pocut Keumala ia memiliki seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki.
Namun jabatan dan garis keturunannya berakhir tragis. Pada Januari 1946, setelah jatuhnya Beureunuen, Teuku Muhammad Keumangan bersama abangnya, Teuku Raja Abdullah, ditangkap dan dibunuh di Meureudu.
Dengan kematian mereka, berakhirlah kepemimpinan laki-laki Uleebalang Keumangan dalam sejarah Aceh.
Dalam perkembangan berikutnya, Cut Asiah—istri Teuku Muhammad Keumangan—kemudian menikah dengan Daud Beureueh, seorang tokoh Pusa dan pemimpin penting Aceh pada masa revolusi dan sesudahnya.
Tragedi Keumangan menjadi cermin betapa Revolusi Sosial 1946 bukan sekadar pergantian struktur kekuasaan, melainkan juga pergolakan yang merombak tatanan lama secara drastis.
Ia menyisakan luka mendalam dalam memori kolektif masyarakat Aceh—tentang kekuasaan yang runtuh, keluarga yang tercerai-berai, dan sebuah zaman yang berubah dengan harga yang amat mahal.adifa(FT Rumah kediaman Ub Keumangan dan Teuku Muhammad Keumangan)
Sumber : Adi FA

No comments:
Post a Comment