03 October 2024

7 Fakta Ida Iasha, Artis Senior yang Masih Tampil Cantik meski Usianya Hampir Menginjak Usia 60 Tahun Ida Iasha atau Ida Albertina van Suchtelen van de Haere adalah selebriti populer di era 80-an hingga sekitar 2000-an yang kembali menjadi pembicaraan hangat. Soalnya, Ida Iasha, umurnya nyaris memasuki angka 60 tahun itu (kelahiran tahun 1963) tetap tampak cantik dan awet muda yang adalah selebriti Indonesia keturunan Belanda. Ida Iasha yang memperingati ulang tahunnya setiap tanggal 14 bulan Mei itu, pun seorang bintang iklan sabun kecantikan paling lama daripada bintang iklan sabun yang lain. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut fakta menarik mengenai Ida Iasha yang mungkin belum banyak diketahui orang: 1. Wajah cantik dan paras ayu Ida Iasha, ia dapatkan dari garis keturunan ayah dan ibunya. Sang ayah seorang pria berdarah Belanda sementara sang ibu merupakan orang Solo, Jawa Tengah. 2. Ida Iasha telah mulai berkarir sejak usianya masih sangat muda, yakni sekitar tahun 1981. Saat itu ia masih berusia 18 tahun. 3. Ida Iasha yang juga dikenal dengan film-filmnya, sebelumnya ia adalah seorang model yang berkiprah pada model sampul dan model iklan. 4. Pada tahun 1986, dengan judul film ‘Tahu Sama Tahu’ dan judul film “Kodrat’ adalah awal karir Ida Iasha di dunia film. 5. Aktor yang sering beradu akting dengan Ida Iasha dalam film yang ia mainkan, diantaranya Rano Karno dan Rhoma Irama, Roy Sahetapy, dan Warkop DKI. 6. Nama Ida Iasha benar-benar dikenal banyak orang, ketika ia membintangi iklan sabun kecantikan ternama. Karena Ida merupakan bintang iklan sabun yang paling lama saat itu. Hampir satu dekade lebih, Ida Iasha membintangi iklan sabun kecantikan tersebut. 7. Ketika sinetron mulai membanjiri dunia pertelevisian Indonesia sekitar akhir tahun 90-an, Ida Iasha turut andil memerankan beberapa judul sinetron. Sejumlah judul sinetron yang telah dibintangi Ida Iasha, ‘Kembang Setaman’ dan ‘Salah Asuhan’ Melalui akun Instagram @idaiasha_gallery bisa dilihat perjalanan karir Ida Iasha dari waktu ke waktu dengan tampilan paras cantiknya yang hampir tidak berubah sama sekali. Akun itu memosting foto-foto Ida Iasha untuk sesi sabun kecantikan (1993), Majalah Kartini (1989), Majalah Internasional ‘HELLO’(1986), di Klinik Kecantikan (2018), Foto model untuk Djarum Super dengan Itang Yunaz dan lainnya. Sebab hingga sekarang, tidak diketahui Ida Iasha memiliki akun sosial media jenis apapun oleh publik, sebab captionnya di akun itu menyebutkan bahwa Ida Iasha tidak mempunyai media sosial. Untuk orang-orang generasi yang hidup semasa dengan Ida Iasha, mungkin dapat mengobati kerinduan terhadap sosok selebriti tercantik di masanya itu lewat postingan foto-foto di laman akun Instagram itu.

 7 Fakta Ida Iasha, Artis Senior yang Masih Tampil Cantik meski Usianya Hampir Menginjak Usia 60 Tahun



Ida Iasha atau Ida Albertina van Suchtelen van de Haere adalah selebriti populer di era 80-an hingga sekitar 2000-an yang kembali menjadi pembicaraan hangat. Soalnya, Ida Iasha, umurnya nyaris memasuki angka 60 tahun itu (kelahiran tahun 1963) tetap tampak cantik dan awet muda yang adalah selebriti Indonesia keturunan Belanda. Ida Iasha yang memperingati ulang tahunnya setiap tanggal 14 bulan Mei itu, pun seorang bintang iklan sabun kecantikan paling lama daripada bintang iklan sabun yang lain.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut fakta menarik mengenai Ida Iasha yang mungkin belum banyak diketahui orang: 

1. Wajah cantik dan paras ayu Ida Iasha, ia dapatkan dari garis keturunan ayah dan ibunya. Sang ayah seorang pria berdarah Belanda sementara sang ibu merupakan orang Solo, Jawa Tengah. 

2. Ida Iasha telah mulai berkarir sejak usianya masih sangat muda, yakni sekitar tahun 1981. Saat itu ia masih berusia 18 tahun. 

3. Ida Iasha yang juga dikenal dengan film-filmnya, sebelumnya ia adalah seorang model yang berkiprah pada model sampul dan model iklan. 

4. Pada tahun 1986, dengan judul film ‘Tahu Sama Tahu’ dan judul film “Kodrat’ adalah awal karir Ida Iasha di dunia film. 

5. Aktor yang sering beradu akting dengan Ida Iasha dalam film yang ia mainkan, diantaranya Rano Karno dan Rhoma Irama, Roy Sahetapy, dan Warkop DKI. 

6. Nama Ida Iasha benar-benar dikenal banyak orang, ketika ia membintangi iklan sabun kecantikan ternama. Karena Ida merupakan bintang iklan sabun yang paling lama saat itu. Hampir satu dekade lebih, Ida Iasha membintangi iklan sabun kecantikan tersebut.

7. Ketika sinetron mulai membanjiri dunia pertelevisian Indonesia sekitar akhir tahun 90-an, Ida Iasha turut andil memerankan beberapa judul sinetron.

Sejumlah judul sinetron yang telah dibintangi Ida Iasha, ‘Kembang Setaman’ dan ‘Salah Asuhan’ Melalui akun Instagram @idaiasha_gallery bisa dilihat perjalanan karir Ida Iasha dari waktu ke waktu dengan tampilan paras cantiknya yang hampir tidak berubah sama sekali. Akun itu memosting foto-foto Ida Iasha untuk sesi sabun kecantikan (1993), Majalah Kartini (1989), Majalah Internasional ‘HELLO’(1986), di Klinik Kecantikan (2018), Foto model untuk Djarum Super dengan Itang Yunaz dan lainnya.

Sebab hingga sekarang, tidak diketahui Ida Iasha memiliki akun sosial media jenis apapun oleh publik, sebab captionnya di akun itu menyebutkan bahwa Ida Iasha tidak mempunyai media sosial. Untuk orang-orang generasi yang hidup semasa dengan Ida Iasha, mungkin dapat mengobati kerinduan terhadap sosok selebriti tercantik di masanya itu lewat postingan foto-foto di laman akun Instagram itu.

TENTARA BAYARAN DALAM SEJARAH JAWA: KSATRIA BAYANGAN DARI BERBAGAI PENJURU NUSANTARA Sejarah Jawa dipenuhi dengan kisah-kisah heroik yang melibatkan tentara bayaran—prajurit tangguh dari berbagai sudut Nusantara yang dipanggil untuk melindungi kerajaan besar di pulau ini. Bagaikan sosok tak terlihat, mereka adalah bayangan di balik kemenangan para penguasa. Dari Madura hingga Makassar, dari Bugis hingga Bali, para prajurit ini berdatangan, membawa nyali baja dan kemampuan tempur yang tak diragukan. Majapahit, kerajaan yang agung dan tak terkalahkan, selalu mengandalkan prajurit-prajurit dari Madura. Sebagai garis pertahanan pertama, mereka berdiri gagah menghadapi musuh, sementara para panglima Jawa beristirahat di balik perisai emas, menunggu saat yang tepat untuk turun tangan. Demak juga mengikuti tradisi yang sama. Pada zaman Arya Panggiri di Pajang, tentara bayaran dari Bali—dikenal dengan keberanian bak singa di medan perang—menjadi tameng pertama dalam melawan serangan musuh. Di bawah panji Mataram Islam, tentara dari Madura, Bugis, dan Makassar dipanggil untuk bertempur. Para panglima dan pendekar Jawa menahan diri di belakang, seolah menguji kekuatan tentara bayaran mereka. Namun, saat pertempuran memanas dan musuh tak lagi terhalang, para jagoan Jawa akhirnya turun, menghujani musuh dengan kekuatan yang seakan tak tertandingi. Ternyata, strategi licik dan cerdas ini menarik perhatian VOC Belanda. Mereka pun meniru cara penguasa Jawa, merekrut tentara bayaran dari seantero Nusantara: Jawa, Madura, Bugis, Makassar, Bali, Ambon, Manado, dan Nusa Tenggara. Tak cukup hanya merekrut, VOC dengan lihai menjadikan tentara bayaran Jawa sebagai komandan untuk memimpin para prajurit dari suku lain. Sebuah kombinasi mematikan yang membuat VOC terus memperluas cengkeraman kekuasaannya. Begitulah sejarah Jawa dituliskan. Tentara bayaran, yang dulunya hanya dianggap sebagai prajurit sewaan, berubah menjadi garda terdepan yang menentukan nasib kerajaan-kerajaan besar. Mereka adalah ksatria-ksatria bayangan, tak selalu terlihat, namun selalu ada di saat-saat paling genting. #sejarah #fyp

 TENTARA BAYARAN DALAM SEJARAH JAWA: KSATRIA BAYANGAN DARI BERBAGAI PENJURU NUSANTARA


Sejarah Jawa dipenuhi dengan kisah-kisah heroik yang melibatkan tentara bayaran—prajurit tangguh dari berbagai sudut Nusantara yang dipanggil untuk melindungi kerajaan besar di pulau ini. Bagaikan sosok tak terlihat, mereka adalah bayangan di balik kemenangan para penguasa. Dari Madura hingga Makassar, dari Bugis hingga Bali, para prajurit ini berdatangan, membawa nyali baja dan kemampuan tempur yang tak diragukan.



Majapahit, kerajaan yang agung dan tak terkalahkan, selalu mengandalkan prajurit-prajurit dari Madura. Sebagai garis pertahanan pertama, mereka berdiri gagah menghadapi musuh, sementara para panglima Jawa beristirahat di balik perisai emas, menunggu saat yang tepat untuk turun tangan. Demak juga mengikuti tradisi yang sama. Pada zaman Arya Panggiri di Pajang, tentara bayaran dari Bali—dikenal dengan keberanian bak singa di medan perang—menjadi tameng pertama dalam melawan serangan musuh.


Di bawah panji Mataram Islam, tentara dari Madura, Bugis, dan Makassar dipanggil untuk bertempur. Para panglima dan pendekar Jawa menahan diri di belakang, seolah menguji kekuatan tentara bayaran mereka. Namun, saat pertempuran memanas dan musuh tak lagi terhalang, para jagoan Jawa akhirnya turun, menghujani musuh dengan kekuatan yang seakan tak tertandingi.


Ternyata, strategi licik dan cerdas ini menarik perhatian VOC Belanda. Mereka pun meniru cara penguasa Jawa, merekrut tentara bayaran dari seantero Nusantara: Jawa, Madura, Bugis, Makassar, Bali, Ambon, Manado, dan Nusa Tenggara. Tak cukup hanya merekrut, VOC dengan lihai menjadikan tentara bayaran Jawa sebagai komandan untuk memimpin para prajurit dari suku lain. Sebuah kombinasi mematikan yang membuat VOC terus memperluas cengkeraman kekuasaannya.


Begitulah sejarah Jawa dituliskan. Tentara bayaran, yang dulunya hanya dianggap sebagai prajurit sewaan, berubah menjadi garda terdepan yang menentukan nasib kerajaan-kerajaan besar. Mereka adalah ksatria-ksatria bayangan, tak selalu terlihat, namun selalu ada di saat-saat paling genting.


#sejarah #fyp

Legenda Nyi R0r0 Kidul, MITOS??? Dikutip dari buku berjudul Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Terpopuler yang ditulis oleh Lia Nuralia dan Lim Imadudin, Nyi Roro Kidul adalah anak dari Raja Prabu Siliwangi dari kerajaan Pakuan Pajajaran. Ibunya adalah permaisuri kinasih, permaisuri yang paling disayangi oleh Prabu Siliwangi. Nyi Roro Kidul yang semula bernama Putri Kandita, memiliki paras cantik melebihi ibunya. Oleh karena itu, tidak heran Kandita menjadi putri kesayangan ayahnya. Sikap Prabu Siliwangi tersebut menumbuhkan kecemburuan antara selir dan putra-putri raja lainnya. Akhirnya, mereka bersekongkol untuk menyingkirkan Kandita dan ibunya. Singkat cerita, Kandita dan ibunya terserang penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Semula mereka dikucilkan lalu diusir dari istana atas perintah Prabu Siliwangi karena desakan selir dan putra putrinya. Putri Kandita dan permaisuri pergi berkelana menuju selatan wilayah kerajaan. Dalam perjalanan, permaisuri meninggal dunia. Dalam pengembaraannya, Putri Kandita tiba di sebuah aliran sungai. Tanpa ragu, ia menikmati air sungai sepuas hatinya. Ia menyusuri aliran sungai ke arah hulu dan menemukan beberapa mata air yang menyembur deras. Lantas, ia berendam. Dengan kesendiriannya, ia menetap di dekat sumber air panas dan melatih olah kanuragan. Setelah sekian lama tinggal di sungai, tanpa disadari penyakitnya pun berangsur-angsur hilang. Setelah sembuh, Kandita melakukan perjalanan ke arah hilir sungai. Kandita terpesona saat tiba di muara sungai yang dekat dengan laut. Setelah itu, Putri Kandita memutuskan untuk bermukim di wilayah tepi laut sebelah selatan wilayah Pakuan Pajajaran. Selama menetap disana, Kandita dikenal luas hingga ke berbagai kerajaan di pulau Jawa sebagai seorang wanita yang cantik. Sejak saat itu, banyak pangeran yang ingin mempersuntingnya. Menghadapi para pelamar, ia mengajukan syarat yaitu para pelamar harus mengalahkan kesaktiannya termasuk bertempur dengan gelombang laut di pantai selatan pulau Jawa. Apabila para pelamar kalah, maka mereka harus tunduk menjadi pengiringnya. Pertempuran tersebut sering dilakukan di kawasan sebuah teluk yang ada di pantai selatan. Putri Kandita bisa menguasai gelombang laut selatan sehingga mendapat gelar Ratu Nyi Roro Kidul yang artinya Ratu Penguasa Pantai Selatan. Mitos Nyi Roro Kidul Dikutip dari buku berjudul Kumpulan Kisah Nyata Hantu di 13 Kota yang ditulis oleh Argo Wikanjati, terdapat kepercayaan bahwa jika orang hilang di Pantai Parangtritis, maka orang tersebut hilang karena "diambil" oleh Nyi Roro Kidul. Nyi Roro Kidul sering dikaitkan dengan larangan menggunakan baju berwarna hijau di pantai Selatan. Dikutip dari buku yang berjudul Narasi Mitos dan Legenda Indonesia dalam Ekspresi Batik Tamarin karya Nuning Yanti Damayanti, memakai baju hijau dapat membuat pemakainya tertimpa kesialan karena warna hijau adalah warna kesukaan Nyi Roro Kidul. Oleh karena itu, tidak ada yang boleh menggunakan warna tersebut di sepanjang pantai selatan Jawa. Secara logika, alasan tersebut muncul karena air laut pada daerah pantai Selatan memiliki warna yang cenderung kehijauan. Sehingga apabila korban tenggelam menggunakan pakaian hijau, maka akan sulit ditemukan. #nyirorokidul #prabusiliwangi

 Legenda Nyi R0r0 Kidul, MITOS???

Dikutip dari buku berjudul Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara Terpopuler yang ditulis oleh Lia Nuralia dan Lim Imadudin, Nyi Roro Kidul adalah anak dari Raja Prabu Siliwangi dari kerajaan Pakuan Pajajaran. Ibunya adalah permaisuri kinasih, permaisuri yang paling disayangi oleh Prabu Siliwangi. Nyi Roro Kidul yang semula bernama Putri Kandita, memiliki paras cantik melebihi ibunya. Oleh karena itu, tidak heran Kandita menjadi putri kesayangan ayahnya.



Sikap Prabu Siliwangi tersebut menumbuhkan kecemburuan antara selir dan putra-putri raja lainnya. Akhirnya, mereka bersekongkol untuk menyingkirkan Kandita dan ibunya. Singkat cerita, Kandita dan ibunya terserang penyakit yang tidak dapat disembuhkan. Semula mereka dikucilkan lalu diusir dari istana atas perintah Prabu Siliwangi karena desakan selir dan putra putrinya.


Putri Kandita dan permaisuri pergi berkelana menuju selatan wilayah kerajaan. Dalam perjalanan, permaisuri meninggal dunia. Dalam pengembaraannya, Putri Kandita tiba di sebuah aliran sungai. Tanpa ragu, ia menikmati air sungai sepuas hatinya. Ia menyusuri aliran sungai ke arah hulu dan menemukan beberapa mata air yang menyembur deras. Lantas, ia berendam. Dengan kesendiriannya, ia menetap di dekat sumber air panas dan melatih olah kanuragan. Setelah sekian lama tinggal di sungai, tanpa disadari penyakitnya pun berangsur-angsur hilang.


Setelah sembuh, Kandita melakukan perjalanan ke arah hilir sungai. Kandita terpesona saat tiba di muara sungai yang dekat dengan laut. Setelah itu, Putri Kandita memutuskan untuk bermukim di wilayah tepi laut sebelah selatan wilayah Pakuan Pajajaran.


Selama menetap disana, Kandita dikenal luas hingga ke berbagai kerajaan di pulau Jawa sebagai seorang wanita yang cantik. Sejak saat itu, banyak pangeran yang ingin mempersuntingnya. Menghadapi para pelamar, ia mengajukan syarat yaitu para pelamar harus mengalahkan kesaktiannya termasuk bertempur dengan gelombang laut di pantai selatan pulau Jawa.


Apabila para pelamar kalah, maka mereka harus tunduk menjadi pengiringnya. Pertempuran tersebut sering dilakukan di kawasan sebuah teluk yang ada di pantai selatan. Putri Kandita bisa menguasai gelombang laut selatan sehingga mendapat gelar Ratu Nyi Roro Kidul yang artinya Ratu Penguasa Pantai Selatan.


Mitos Nyi Roro Kidul

Dikutip dari buku berjudul Kumpulan Kisah Nyata Hantu di 13 Kota yang ditulis oleh Argo Wikanjati, terdapat kepercayaan bahwa jika orang hilang di Pantai Parangtritis, maka orang tersebut hilang karena "diambil" oleh Nyi Roro Kidul.


Nyi Roro Kidul sering dikaitkan dengan larangan menggunakan baju berwarna hijau di pantai Selatan. Dikutip dari buku yang berjudul Narasi Mitos dan Legenda Indonesia dalam Ekspresi Batik Tamarin karya Nuning Yanti Damayanti, memakai baju hijau dapat membuat pemakainya tertimpa kesialan karena warna hijau adalah warna kesukaan Nyi Roro Kidul. Oleh karena itu, tidak ada yang boleh menggunakan warna tersebut di sepanjang pantai selatan Jawa.


Secara logika, alasan tersebut muncul karena air laut pada daerah pantai Selatan memiliki warna yang cenderung kehijauan. Sehingga apabila korban tenggelam menggunakan pakaian hijau, maka akan sulit ditemukan.


#nyirorokidul #prabusiliwangi

Pasukan TNI ketika akan memasuki kota Yogyakarta setelah bergerilya di wilayah Jawa Tengah selama tujuh bulan lamanya, Yogyakarta, 1949. 📷 Spaarnestad/Nationaal Archief

 Pasukan TNI ketika akan memasuki kota Yogyakarta setelah bergerilya di wilayah Jawa Tengah selama tujuh bulan lamanya, Yogyakarta, 1949. 📷 Spaarnestad/Nationaal Archief



Ratu Kencono Wungu Pemimpin Perempuan Terakhir di Majapahit Dyah Suhita, atau lebih dikenal sebagai Ratu Kencono Wungu, adalah ratu perempuan terakhir dari Kerajaan Majapahit yang memerintah pada periode 1429-1447. Ia merupakan sosok yang melanjutkan garis keturunan kerajaan yang kuat, dan mengukir sejarah sebagai salah satu pemimpin perempuan yang berhasil memimpin kerajaan besar ini. Asal Usul Dyah Suhita Berdasarkan beberapa sumber sejarah, ada beberapa pendapat yang berbeda mengenai asal-usul Dyah Suhita. NJ Krom menyatakan bahwa Dyah Suhita adalah putri dari Bhre Wirabhumi, sedangkan Kitab Pararaton menyebutnya sebagai cucu Bhre Wirabhumi. Pendapat lain menyatakan bahwa ia adalah putri Wikramawardhana, raja Majapahit sebelumnya, dari selirnya. Perbedaan pendapat ini tidak mengurangi fakta bahwa Dyah Suhita adalah sosok berpengaruh dalam sejarah Majapahit, dan ia menikah dengan Aji Ratnapangkaja, seorang panglima perang yang memainkan peran penting dalam Perang Paregreg. Menjadi Ratu Majapahit Setelah wafatnya Wikramawardhana pada tahun 1429, terjadi perebutan kekuasaan di kalangan keluarga kerajaan. Dyah Suhita akhirnya naik takhta menjadi ratu Majapahit, menggantikan ayahnya. Bersama suaminya, Aji Ratnapangkaja, ia memimpin Majapahit dengan bijaksana, berusaha mengembalikan kejayaan kerajaan yang sempat terpuruk akibat konflik politik dan perang saudara. Dalam masa pemerintahannya, Dyah Suhita dikenal sebagai pemimpin yang memperhatikan kearifan lokal dan mendirikan berbagai bangunan pemujaan di lereng-lereng gunung sebagai punden berundak, termasuk di Gunung Penanggungan dan Gunung Lawu. Di bawah kepemimpinannya, Majapahit secara perlahan berhasil memulihkan kendali atas Nusantara, meskipun kemunduran kerajaan ini sudah mulai terlihat. Akhir Pemerintahan dan Warisan Dyah Suhita memimpin selama 18 tahun sebelum wafat pada tahun 1447. Sayangnya, ia dan suaminya tidak memiliki keturunan, sehingga setelah kematiannya, takhta Majapahit diteruskan oleh adiknya, Bhre Kertawijaya, yang kemudian dikenal sebagai Brawijaya. Sebagai ratu kedua dan terakhir di Majapahit setelah Tribhuwana Tunggadewi, Dyah Suhita dikenang sebagai simbol kepemimpinan perempuan di era kerajaan Nusantara. Ia tidak hanya berperan dalam mempertahankan stabilitas kerajaan, tetapi juga dalam menjaga warisan budaya Majapahit yang terus dihormati hingga kini. #Hashtags: #RatuKenconoWungu #KerajaanMajapahit #PerempuanMajapahit #DyahSuhita #SejarahNusantara #KepemimpinanPerempuan #MajapahitTerakhir

 Ratu Kencono Wungu

Pemimpin Perempuan Terakhir di Majapahit


Dyah Suhita, atau lebih dikenal sebagai Ratu Kencono Wungu, adalah ratu perempuan terakhir dari Kerajaan Majapahit yang memerintah pada periode 1429-1447. Ia merupakan sosok yang melanjutkan garis keturunan kerajaan yang kuat, dan mengukir sejarah sebagai salah satu pemimpin perempuan yang berhasil memimpin kerajaan besar ini.



Asal Usul Dyah Suhita Berdasarkan beberapa sumber sejarah, ada beberapa pendapat yang berbeda mengenai asal-usul Dyah Suhita. NJ Krom menyatakan bahwa Dyah Suhita adalah putri dari Bhre Wirabhumi, sedangkan Kitab Pararaton menyebutnya sebagai cucu Bhre Wirabhumi. Pendapat lain menyatakan bahwa ia adalah putri Wikramawardhana, raja Majapahit sebelumnya, dari selirnya. Perbedaan pendapat ini tidak mengurangi fakta bahwa Dyah Suhita adalah sosok berpengaruh dalam sejarah Majapahit, dan ia menikah dengan Aji Ratnapangkaja, seorang panglima perang yang memainkan peran penting dalam Perang Paregreg.


Menjadi Ratu Majapahit Setelah wafatnya Wikramawardhana pada tahun 1429, terjadi perebutan kekuasaan di kalangan keluarga kerajaan. Dyah Suhita akhirnya naik takhta menjadi ratu Majapahit, menggantikan ayahnya. Bersama suaminya, Aji Ratnapangkaja, ia memimpin Majapahit dengan bijaksana, berusaha mengembalikan kejayaan kerajaan yang sempat terpuruk akibat konflik politik dan perang saudara.


Dalam masa pemerintahannya, Dyah Suhita dikenal sebagai pemimpin yang memperhatikan kearifan lokal dan mendirikan berbagai bangunan pemujaan di lereng-lereng gunung sebagai punden berundak, termasuk di Gunung Penanggungan dan Gunung Lawu. Di bawah kepemimpinannya, Majapahit secara perlahan berhasil memulihkan kendali atas Nusantara, meskipun kemunduran kerajaan ini sudah mulai terlihat.


Akhir Pemerintahan dan Warisan Dyah Suhita memimpin selama 18 tahun sebelum wafat pada tahun 1447. Sayangnya, ia dan suaminya tidak memiliki keturunan, sehingga setelah kematiannya, takhta Majapahit diteruskan oleh adiknya, Bhre Kertawijaya, yang kemudian dikenal sebagai Brawijaya.


Sebagai ratu kedua dan terakhir di Majapahit setelah Tribhuwana Tunggadewi, Dyah Suhita dikenang sebagai simbol kepemimpinan perempuan di era kerajaan Nusantara. Ia tidak hanya berperan dalam mempertahankan stabilitas kerajaan, tetapi juga dalam menjaga warisan budaya Majapahit yang terus dihormati hingga kini.


#Hashtags: #RatuKenconoWungu

#KerajaanMajapahit

#PerempuanMajapahit

#DyahSuhita

#SejarahNusantara

#KepemimpinanPerempuan

#MajapahitTerakhir

TELIK SANDI RATU KALINYAMAT Zaman dahulu disebut Telik Sandi, era sekarang dikenal Intelegen. Yakni seseorang yang diberi tugas khusus, biasanya dikemas dalam penyamaran untuk menutupi identitas, demi mengumpulkan data atau bukti-bukti, tidak lepas dari memantau gerak-gerik target operasi. Memiliki berbagai tujuan, intinya bermisikan rahasia. Susah ditebak, kecuali sesama Telik Sandi. Teringat sejarahnya Ratu Kalinyamat, Pendekar tanpa tanding, perempuan Jawa yang tangguh. Setidaknya memiliki 400-an Telik Sandi terlatih. Disebar di Jawa dan menyusup keberbagai kerajaan yang ada di luar Jawa. Bahkan ada yang pura-pura jadi antek-antek Portugis. Untuk apa demikian?! Silahkan baca keterangan saya diparagraf pertama. Biar tidak gagal fokus! Suatu hari seorang Pangeran, salah satu putra Kasultanan Samodra Pasai hendak diculik oleh pasukan Portugis. Targetnya dibunuh! Skenario pembunuhan direkayasa seolah-olah dilakukan oleh prajurit utusan Ratu Kalinyamat. Kemudian Portugis lepas tangan! Artinya jika terlaksana secara mulus, Ratu Kalinyamat akan bentrok dengan Sultan Samodra Pasai. Adu domba tingkat sadis! Portugis berpikir Wong Jawa tidak memiliki skill sebagai Intelegen yang berkapasitas brilian. Siasat pun dijalankan! Beberapa Wong Jawa dibeli dengan kepingan emas, wanita cantik-cantik dipersiapkan, arak kelas kakap dihidangkan. Berbulan-bulan pesta digelar, tentu demi menyenangkan beberapa Wong Jawa yang dianggap bisa dijadikan bonekanya. Dan Portugis beranggapan berhasil! Padahal gagal total! Beberapa Wong Jawa itu sesungguhnya pasukan Telik Sandi Ratu Kalinyamat. Sebelum beraksi perintah pembunuhan terhadap Sang Pangeran Kasultanan Samodra Pasai berlangsung, jauh-jauh hari Sang Ratu Kalinyamat sudah menyiapkan siasat lebih cerdik. Skenario pembunuhan ala Portugis dijalankan, namun yang dibunuh bukan Sang Pangeran, akan tetapi salah satu pesuruh Portugis. Penghianat wajib dibabat! Lebih awal lebih baik. Ini maklumat, mulut manis bermuka dua harus dilenyapkan dari Nusantara. Kemudian! Mayat yang disangka Pangeran, diserahkan! Dengan catatan, dijemput sendiri dengan kapal besar Portugis, tepatnya dipertengahan selat Malaka dan wajib diterima langsung oleh pemimpin pasukan. Ini sudah menjadi perjanjian sekaligus skema di awal. Singkat cerita! Kapal besar Portugis sudah berada di tengah Selat Malaka, mayat itu dikirim dan diserahkan dengan sampan kecil, ditarik sendiri oleh pemimpin prajurit Portugis. Mereka senang, misinya tercapai. Samodra Pasai akan bertempur dengan Wong Jawa. Pikirnya! Beberapa saat kemudian tiba-tiba kapal Portugis oleng, ternyata kapal yang menunggu mayat selama berjam-jam sudah dilobangi, dibobol para Pasukan Ratu Kalinyamat dari bawah gardan. Dengan metode sangat rapi dan profesional. Tragis! Kapal itu tenggelam dan semua tewas. Adapun yang awal mulanya mencoba berenang langsung dihajar dengan panah. Musnah sudah, hingga ke akar-akarnya! Petarung sejati tidak perlu berisik tatkala menumbangkan lawan! Musuh lenyap dalam senyap. Wong Jawa Merobohkan musuh tanpa butuh teriakan!!! Sejak tragedi itu Ratu Kalinyamat diberi julukan kerajaan Portugis sebagai Ratu Jawa nan cantik, lemah lembut terhadap sesama Wong Jawa, namun teramat keji terhadap Portugis dan antek-anteknya.

 TELIK SANDI RATU KALINYAMAT


Zaman dahulu disebut Telik Sandi, era sekarang dikenal Intelegen. Yakni seseorang yang diberi tugas khusus, biasanya dikemas dalam penyamaran untuk menutupi identitas, demi mengumpulkan data atau bukti-bukti, tidak lepas dari memantau gerak-gerik target operasi. Memiliki berbagai tujuan, intinya bermisikan rahasia. Susah ditebak, kecuali sesama Telik Sandi.



Teringat sejarahnya Ratu Kalinyamat, Pendekar tanpa tanding, perempuan Jawa yang tangguh. Setidaknya memiliki 400-an Telik Sandi terlatih. Disebar di Jawa dan menyusup keberbagai kerajaan yang ada di luar Jawa. Bahkan ada yang pura-pura jadi antek-antek Portugis. Untuk apa demikian?! Silahkan baca keterangan saya diparagraf pertama. Biar tidak gagal fokus!


Suatu hari seorang Pangeran, salah satu putra Kasultanan Samodra Pasai hendak diculik oleh pasukan Portugis. Targetnya dibunuh!


Skenario pembunuhan direkayasa seolah-olah dilakukan oleh prajurit utusan Ratu Kalinyamat. Kemudian Portugis lepas tangan! Artinya jika terlaksana secara mulus, Ratu Kalinyamat akan bentrok dengan Sultan Samodra Pasai. Adu domba tingkat sadis!


Portugis berpikir Wong Jawa tidak memiliki skill sebagai Intelegen yang berkapasitas brilian. Siasat pun dijalankan! Beberapa Wong Jawa dibeli dengan kepingan emas, wanita cantik-cantik dipersiapkan, arak kelas kakap dihidangkan.


Berbulan-bulan pesta digelar, tentu demi menyenangkan beberapa Wong Jawa yang dianggap bisa dijadikan bonekanya. Dan Portugis beranggapan berhasil! Padahal gagal total!


Beberapa Wong Jawa itu sesungguhnya pasukan Telik Sandi Ratu Kalinyamat. Sebelum beraksi perintah pembunuhan terhadap Sang Pangeran Kasultanan Samodra Pasai berlangsung, jauh-jauh hari Sang Ratu Kalinyamat sudah menyiapkan siasat lebih cerdik.


Skenario pembunuhan ala Portugis dijalankan, namun yang dibunuh bukan Sang Pangeran, akan tetapi salah satu pesuruh Portugis. Penghianat wajib dibabat! Lebih awal lebih baik. Ini maklumat, mulut manis bermuka dua harus dilenyapkan dari Nusantara.


Kemudian! Mayat yang disangka Pangeran, diserahkan! Dengan catatan, dijemput sendiri dengan kapal besar Portugis, tepatnya dipertengahan selat Malaka dan wajib diterima langsung oleh pemimpin pasukan. Ini sudah menjadi perjanjian sekaligus skema di awal.


Singkat cerita! Kapal besar Portugis sudah berada di tengah Selat Malaka, mayat itu dikirim dan diserahkan dengan sampan kecil, ditarik sendiri oleh pemimpin prajurit Portugis. Mereka senang, misinya tercapai. Samodra Pasai akan bertempur dengan Wong Jawa. Pikirnya!


Beberapa saat kemudian tiba-tiba kapal Portugis oleng, ternyata kapal yang menunggu mayat selama berjam-jam sudah dilobangi, dibobol para Pasukan Ratu Kalinyamat dari bawah gardan. Dengan metode sangat rapi dan profesional.


Tragis! Kapal itu tenggelam dan semua tewas. Adapun yang awal mulanya mencoba berenang langsung dihajar dengan panah. Musnah sudah, hingga ke akar-akarnya!


Petarung sejati tidak perlu berisik tatkala menumbangkan lawan! Musuh lenyap dalam senyap. Wong Jawa Merobohkan musuh tanpa butuh teriakan!!!


Sejak tragedi itu Ratu Kalinyamat diberi julukan kerajaan Portugis sebagai Ratu Jawa nan cantik, lemah lembut terhadap sesama Wong Jawa, namun teramat keji terhadap Portugis dan antek-anteknya.

"Candi Tegowangi: Jejak Keagungan Majapahit dan Kisah Sakral Bhre Matahun" Candi Tegowangi adalah salah satu peninggalan bersejarah dari masa Kerajaan Majapahit yang terletak di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Candi ini dibangun sekitar abad ke-14 sebagai tempat pendharmaan Bhre Matahun, sesuai dengan informasi yang tercantum dalam Kitab Pararaton dan Negarakertagama. Bhre Matahun adalah ipar Raja Hayam Wuruk yang meninggal pada tahun 1388 M, dan candi ini diperkirakan mulai dibangun pada tahun 1400 M. Candi Tegowangi memiliki bentuk dasar bujur sangkar dengan ukuran 11,2 x 11,2 meter dan tinggi 4,35 meter. Candi ini terbuat dari batu andesit, dengan pondasi dari bata. Bagian kaki candi memiliki dua tingkat yang dihiasi oleh relief dan panel berbentuk raksasa (gana) yang duduk jongkok. Pada tubuh candi, terdapat relief cerita Sudamala yang menggambarkan kisah penyucian Dewi Durga menjadi Dewi Uma. Selain itu, di halaman candi terdapat beberapa arca, termasuk arca Parwati Ardhenari dan Garuda berbadan manusia, yang menunjukkan latar belakang agama Hindu dari candi ini. Candi ini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Kediri yang terawat dengan baik, dan lokasinya yang luas dan asri menjadikan tempat ini menarik untuk dikunjungi.

 "Candi Tegowangi: Jejak Keagungan Majapahit dan Kisah Sakral Bhre Matahun"


Candi Tegowangi adalah salah satu peninggalan bersejarah dari masa Kerajaan Majapahit yang terletak di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Candi ini dibangun sekitar abad ke-14 sebagai tempat pendharmaan Bhre Matahun, sesuai dengan informasi yang tercantum dalam Kitab Pararaton dan Negarakertagama. Bhre Matahun adalah ipar Raja Hayam Wuruk yang meninggal pada tahun 1388 M, dan candi ini diperkirakan mulai dibangun pada tahun 1400 M.



Candi Tegowangi memiliki bentuk dasar bujur sangkar dengan ukuran 11,2 x 11,2 meter dan tinggi 4,35 meter. Candi ini terbuat dari batu andesit, dengan pondasi dari bata. Bagian kaki candi memiliki dua tingkat yang dihiasi oleh relief dan panel berbentuk raksasa (gana) yang duduk jongkok. Pada tubuh candi, terdapat relief cerita Sudamala yang menggambarkan kisah penyucian Dewi Durga menjadi Dewi Uma.


Selain itu, di halaman candi terdapat beberapa arca, termasuk arca Parwati Ardhenari dan Garuda berbadan manusia, yang menunjukkan latar belakang agama Hindu dari candi ini. Candi ini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah di Kediri yang terawat dengan baik, dan lokasinya yang luas dan asri menjadikan tempat ini menarik untuk dikunjungi.

PANGLIMA JAWA MENDIRIKAN KERAJAAN DI TANAH BATAK Indrawarman adalah salah satu Panglima Tentara Singasari dalam Ekspedisi Pamalayu di Sumatra. Namanya tercatat dalam cerita Batak Simalungun tentang Jaka Dolog (Kertanegara) dari Singasari. Ketika Kebo Anabrang kembali ke Jawa, ia tidak membawa semua pasukan, tetapi meninggalkan sebagian di bawah pimpinan Indrawarman untuk menjaga keamanan Sumatra. Indrawarman dipercayakan untuk menjaga daerah ekspedisi Pamalayu di muara Sungai Asahan. Pada saat Singasari Runtuh, pada tahun 1293, ia menolak kekuasaan Majapahit yang didirikan Raden Wijaya sebagai kelanjutan dari Singhasari. Sehingga Indrawarman kabur dan mendirikan Kerajaan Silo di pedalaman Simalungun. Pendirian Kerajaan Silo oleh Indrawarman dan pasukan asal Jawa dibantu oleh marga Siregar/Silo yang datang dari Lottung (Lontung), Samosir Timur, mereka bekerjasama untuk melawan desakan marga Sinaga yang juga datang dari Samosir Timur. Pelabuhan kerajaan ini terletak di muara Sungai Bah Belon bernama Indrapura. Kemudian pasukan Jawa tersebut juga mengadopsi marga lokal dan membentuk marga baru. Indrawarman mengadopsi marga Siregar/Silo walau sembilan putranya mengadopsi marga lainnya di Simalungun. Pada tahun 1339 datang pasukan Majapahit di bawah pimpinan Adityawarman menghancurkan kerajaan ini. Indrawarman terbunuh dan beberapa pusat kerajaan dihancurkan, walau putra-putra raja Indrawarman berhasil lolos ke Haranggaol, pesisir Danau Toba. Keturunan Indrawarman kemudian mendirikan Kerajaan Dolok Silo dan Kerajaan Raya Kahean di hulu Sungai Ular dan Sungai Padang, sedangkan marga Sinaga memasuki daerah lama Kerajaan Silo dan mendirikan Kerajaan Tanah Jawa, yang melanjutkan permusuhan marga Sinaga dan Siregar sebagai pewaris Indrawarman.

 PANGLIMA JAWA MENDIRIKAN KERAJAAN DI TANAH BATAK 





Indrawarman adalah salah satu Panglima Tentara Singasari dalam Ekspedisi Pamalayu di Sumatra. Namanya tercatat dalam cerita Batak Simalungun tentang Jaka Dolog (Kertanegara) dari Singasari.


Ketika Kebo Anabrang kembali ke Jawa, ia tidak membawa semua pasukan, tetapi meninggalkan sebagian di bawah pimpinan Indrawarman untuk menjaga keamanan Sumatra. Indrawarman dipercayakan untuk menjaga daerah ekspedisi Pamalayu di muara Sungai Asahan. 


Pada saat Singasari Runtuh, pada tahun 1293, ia menolak kekuasaan Majapahit yang didirikan Raden Wijaya sebagai kelanjutan dari Singhasari. Sehingga Indrawarman kabur dan mendirikan Kerajaan Silo di pedalaman Simalungun.


Pendirian Kerajaan Silo oleh Indrawarman dan pasukan asal Jawa dibantu oleh marga Siregar/Silo yang datang dari Lottung (Lontung), Samosir Timur, mereka bekerjasama untuk melawan desakan marga Sinaga yang juga datang dari Samosir Timur. Pelabuhan kerajaan ini terletak di muara Sungai Bah Belon bernama Indrapura. Kemudian pasukan Jawa tersebut juga mengadopsi marga lokal dan membentuk marga baru.


Indrawarman mengadopsi marga Siregar/Silo walau sembilan putranya mengadopsi marga lainnya di Simalungun. 


Pada tahun 1339 datang pasukan Majapahit di bawah pimpinan Adityawarman menghancurkan kerajaan ini. Indrawarman terbunuh dan beberapa pusat kerajaan dihancurkan, walau putra-putra raja Indrawarman berhasil lolos ke Haranggaol, pesisir Danau Toba. 


Keturunan Indrawarman kemudian mendirikan Kerajaan Dolok Silo dan Kerajaan Raya Kahean di hulu Sungai Ular dan Sungai Padang, sedangkan marga Sinaga memasuki daerah lama Kerajaan Silo dan mendirikan Kerajaan Tanah Jawa, yang melanjutkan permusuhan marga Sinaga dan Siregar sebagai pewaris Indrawarman.

Ketika Kebo Anabrang kembali ke Jawa, ia tidak membawa semua pasukan, tetapi meninggalkan sebagian di bawah pimpinan Indrawarman untuk menjaga keamanan Sumatra. Indrawarman dipercayakan untuk menjaga daerah ekspedisi Pamalayu di muara Sungai Asahan. 


Pada saat Singasari Runtuh, pada tahun 1293, ia menolak kekuasaan Majapahit yang didirikan Raden Wijaya sebagai kelanjutan dari Singhasari. Sehingga Indrawarman kabur dan mendirikan Kerajaan Silo di pedalaman Simalungun.


Pendirian Kerajaan Silo oleh Indrawarman dan pasukan asal Jawa dibantu oleh marga Siregar/Silo yang datang dari Lottung (Lontung), Samosir Timur, mereka bekerjasama untuk melawan desakan marga Sinaga yang juga datang dari Samosir Timur. Pelabuhan kerajaan ini terletak di muara Sungai Bah Belon bernama Indrapura. Kemudian pasukan Jawa tersebut juga mengadopsi marga lokal dan membentuk marga baru.


Indrawarman mengadopsi marga Siregar/Silo walau sembilan putranya mengadopsi marga lainnya di Simalungun. 


Pada tahun 1339 datang pasukan Majapahit di bawah pimpinan Adityawarman menghancurkan kerajaan ini. Indrawarman terbunuh dan beberapa pusat kerajaan dihancurkan, walau putra-putra raja Indrawarman berhasil lolos ke Haranggaol, pesisir Danau Toba. 


Keturunan Indrawarman kemudian mendirikan Kerajaan Dolok Silo dan Kerajaan Raya Kahean di hulu Sungai Ular dan Sungai Padang, sedangkan marga Sinaga memasuki daerah lama Kerajaan Silo dan mendirikan Kerajaan Tanah Jawa, yang melanjutkan permusuhan marga Sinaga dan Siregar sebagai pewaris Indrawarman.

Berikut adalah daftar 20 kerajaan di Indonesia beserta informasi tentang raja saat kejayaan, tahun kejayaan, dan tahun kehancuran: 1. **Kerajaan Kutai (Abad ke-4 - Abad ke-16)** - Raja pertama: Kudungga - Raja saat kejayaan: Mulawarman - Tahun Kejayaan: Abad ke-4 - Tahun kehancuran: Abad ke-16 2. **Kerajaan Tarumanagara (358 M - 669 M)** - Raja saat kejayaan: Purnawarman - Tahun Kejayaan: 395-434 M - Tahun kehancuran: 669 M 3. **Kerajaan Kalingga (Abad ke-6 - Abad ke-7)** - Ratu saat kejayaan: Shima - Tahun Kejayaan: 674-695 M - Tahun kehancuran: Abad ke-7 4. **Kerajaan Sriwijaya (683 M - 1178 M)** - Raja saat kejayaan: Balaputradewa - Tahun Kejayaan: Abad ke-9 - Tahun kehancuran: 1178 M 5. **Kerajaan Mataram Kuno (732 M - 1007 M)** - Raja saat kejayaan: Dyah Balitung - Tahun Kejayaan: 898-910 M - Tahun kehancuran: 1007 M 6. **Kerajaan Medang (732 M - 1016 M)** - Raja saat kejayaan: Mpu Sendok - Tahun Kejayaan: Abad ke-10 - Tahun kehancuran: 1016 M 7. **Kerajaan Padjajaran (923 M - 1597 M)** - Raja saat kejayaan: Prabu Siliwangi - Tahun Kejayaan: Abad ke-15 - Tahun kehancuran: 1597 M 8. **Kerajaan Kahuripan (1019 M - 1049 M)** - Raja saat kejayaan: Airlangga - Tahun Kejayaan: 1028-1049 M - Tahun kehancuran: 1049 M 9. **Kerajaan Kediri (1045 M - 1222 M)** - Raja saat kejayaan: Jayabaya - Tahun Kejayaan: 1135-1157 M - Tahun kehancuran: 1222 M 10. **Kerajaan Tidore (1081 M - 1805 M)** - Raja saat kejayaan: Sultan Nuku - Tahun Kejayaan: 1797-1805 M - Tahun kehancuran: 1805 M 11. **Kerajaan Singasari (1222 M - 1292 M)** - Raja saat kejayaan: Kertanegara - Tahun Kejayaan: 1268-1292 M - Tahun kehancuran: 1292 M 12. **Kerajaan Ternate (1257 M - 1683 M)** - Raja saat kejayaan: Sultan Baabullah - Tahun Kejayaan: 1570-1583 M - Tahun kehancuran: 1683 M 13. **Kerajaan Samudera Pasai (1267 M - 1517 M)** - Raja saat kejayaan: Sultan Malik Al-Saleh - Tahun Kejayaan: Abad ke-13 - Tahun kehancuran: 1517 M 14. **Kerajaan Majapahit (1293 M - 1478 M)** - Raja saat kejayaan: Hayam Wuruk - Tahun Kejayaan: 1350-1389 M - Tahun kehancuran: 1478 M 15. **Kerajaan Gowa-Tallo (1320 M - 1667 M)** - Raja saat kejayaan: Sultan Hasanuddin - Tahun Kejayaan: 1653-1669 M - Tahun kehancuran: 1667 M 16. **Kerajaan Demak (1478 M - 1546 M)** - Raja saat kejayaan: Sultan Trenggana - Tahun Kejayaan: 1521-1546 M - Tahun kehancuran: 1546 M 17. **Kerajaan Aceh (1496 M - 1903 M)** - Raja saat kejayaan: Sultan Iskandar Muda - Tahun Kejayaan: 1607-1636 M - Tahun kehancuran: 1903 M 18. **Kerajaan Banten (1525 M - 1813 M)** - Raja saat kejayaan: Sultan Ageng Tirtayasa - Tahun Kejayaan: 1651-1682 M - Tahun kehancuran: 1813 M 19. **Kerajaan Pajang (1568 M - 1587 M)** - Raja saat kejayaan: Sultan Hadiwijaya - Tahun Kejayaan: 1549-1582 M - Tahun kehancuran: 1587 M 20. **Kerajaan Mataram Islam (1582 M - 1755 M)** - Raja saat kejayaan: Sultan Agung - Tahun Kejayaan: 1613-1645 M - Tahun kehancuran: 1755 M #KerajaanKutai #RajaMulawarman #SejarahKutai #KerajaanTarumanagara #RajaPurnawarman #SejarahTarumanagara #KerajaanKalingga #RatuShima #SejarahKalingga #KerajaanSriwijaya #Balaputradewa #SejarahSriwijaya #KerajaanMataramKuno #DyahBalitung #SejarahMataramKuno #KerajaanMedang #MpuSendok #SejarahMedang #KerajaanPadjajaran #PrabuSiliwangi #SejarahPadjajaran #KerajaanKahuripan #Airlangga #SejarahKahuripan #KerajaanKediri #Jayabaya #SejarahKediri #KerajaanTidore #SultanNuku #SejarahTidore

 Berikut adalah daftar 20 kerajaan di Indonesia beserta informasi tentang raja saat kejayaan, tahun kejayaan, dan tahun kehancuran:



1. **Kerajaan Kutai (Abad ke-4 - Abad ke-16)**

   - Raja pertama: Kudungga

   - Raja saat kejayaan: Mulawarman

   - Tahun Kejayaan: Abad ke-4

   - Tahun kehancuran: Abad ke-16


2. **Kerajaan Tarumanagara (358 M - 669 M)**

   - Raja saat kejayaan: Purnawarman

   - Tahun Kejayaan: 395-434 M

   - Tahun kehancuran: 669 M


3. **Kerajaan Kalingga (Abad ke-6 - Abad ke-7)**

   - Ratu saat kejayaan: Shima

   - Tahun Kejayaan: 674-695 M

   - Tahun kehancuran: Abad ke-7


4. **Kerajaan Sriwijaya (683 M - 1178 M)**

   - Raja saat kejayaan: Balaputradewa

   - Tahun Kejayaan: Abad ke-9

   - Tahun kehancuran: 1178 M


5. **Kerajaan Mataram Kuno (732 M - 1007 M)**

   - Raja saat kejayaan: Dyah Balitung

   - Tahun Kejayaan: 898-910 M

   - Tahun kehancuran: 1007 M


6. **Kerajaan Medang (732 M - 1016 M)**

   - Raja saat kejayaan: Mpu Sendok

   - Tahun Kejayaan: Abad ke-10

   - Tahun kehancuran: 1016 M


7. **Kerajaan Padjajaran (923 M - 1597 M)**

   - Raja saat kejayaan: Prabu Siliwangi

   - Tahun Kejayaan: Abad ke-15

   - Tahun kehancuran: 1597 M


8. **Kerajaan Kahuripan (1019 M - 1049 M)**

   - Raja saat kejayaan: Airlangga

   - Tahun Kejayaan: 1028-1049 M

   - Tahun kehancuran: 1049 M


9. **Kerajaan Kediri (1045 M - 1222 M)**

   - Raja saat kejayaan: Jayabaya

   - Tahun Kejayaan: 1135-1157 M

   - Tahun kehancuran: 1222 M


10. **Kerajaan Tidore (1081 M - 1805 M)**

    - Raja saat kejayaan: Sultan Nuku

    - Tahun Kejayaan: 1797-1805 M

    - Tahun kehancuran: 1805 M


11. **Kerajaan Singasari (1222 M - 1292 M)**

    - Raja saat kejayaan: Kertanegara

    - Tahun Kejayaan: 1268-1292 M

    - Tahun kehancuran: 1292 M


12. **Kerajaan Ternate (1257 M - 1683 M)**

    - Raja saat kejayaan: Sultan Baabullah

    - Tahun Kejayaan: 1570-1583 M

    - Tahun kehancuran: 1683 M


13. **Kerajaan Samudera Pasai (1267 M - 1517 M)**

    - Raja saat kejayaan: Sultan Malik Al-Saleh

    - Tahun Kejayaan: Abad ke-13

    - Tahun kehancuran: 1517 M


14. **Kerajaan Majapahit (1293 M - 1478 M)**

    - Raja saat kejayaan: Hayam Wuruk

    - Tahun Kejayaan: 1350-1389 M

    - Tahun kehancuran: 1478 M


15. **Kerajaan Gowa-Tallo (1320 M - 1667 M)**

    - Raja saat kejayaan: Sultan Hasanuddin

    - Tahun Kejayaan: 1653-1669 M

    - Tahun kehancuran: 1667 M


16. **Kerajaan Demak (1478 M - 1546 M)**

    - Raja saat kejayaan: Sultan Trenggana

    - Tahun Kejayaan: 1521-1546 M

    - Tahun kehancuran: 1546 M


17. **Kerajaan Aceh (1496 M - 1903 M)**

    - Raja saat kejayaan: Sultan Iskandar Muda

    - Tahun Kejayaan: 1607-1636 M

    - Tahun kehancuran: 1903 M


18. **Kerajaan Banten (1525 M - 1813 M)**

    - Raja saat kejayaan: Sultan Ageng Tirtayasa

    - Tahun Kejayaan: 1651-1682 M

    - Tahun kehancuran: 1813 M


19. **Kerajaan Pajang (1568 M - 1587 M)**

    - Raja saat kejayaan: Sultan Hadiwijaya

    - Tahun Kejayaan: 1549-1582 M

    - Tahun kehancuran: 1587 M


20. **Kerajaan Mataram Islam (1582 M - 1755 M)**

    - Raja saat kejayaan: Sultan Agung

    - Tahun Kejayaan: 1613-1645 M

    - Tahun kehancuran: 1755 M


#KerajaanKutai  

#RajaMulawarman  

#SejarahKutai  

#KerajaanTarumanagara  

#RajaPurnawarman  

#SejarahTarumanagara  

#KerajaanKalingga  

#RatuShima  

#SejarahKalingga  

#KerajaanSriwijaya  

#Balaputradewa  

#SejarahSriwijaya  

#KerajaanMataramKuno  

#DyahBalitung  

#SejarahMataramKuno  

#KerajaanMedang  

#MpuSendok  

#SejarahMedang  

#KerajaanPadjajaran  

#PrabuSiliwangi  

#SejarahPadjajaran  

#KerajaanKahuripan  

#Airlangga  

#SejarahKahuripan  

#KerajaanKediri  

#Jayabaya  

#SejarahKediri  

#KerajaanTidore  

#SultanNuku  

#SejarahTidore

Peta keluaran Inggris dari tahun 1874 tentang Jawa dan Kalimantan Peta keluaran Inggris ini menyebut Jawa dan Kalimantan sebagai daerah jajahan Belanda yang utama di Kepulauan Hindia. Ada beberapa hal yang bisa dicatat dari peta ini: Peta ini dihiasi dengan gambar-gambar hewan serta orang berpakaian tradisional Jawa serta Dayak, di samping sketsa tentang kota Kucing dan Sungai Sarawak yang melintasinya. Peta Jawa diberi batas warna: Ungu untuk wilayah yang dikuasai Belanda, umumnya di pesisir utara; serta coklat yang menurut Inggris masih dikuasai oleh Mataram dan/atau penerusnya. Peta Jawa disertai deretan gunung dari ujung barat hingga ke timur, lengkap dengan nama dan ketinggiannya. Menarik bahwa Jawa bagian barat ternyata lebih rapat jarak antar gunungnya daripada bagian tengah dan timur. Wilayah Kalimantan dibagi menjadi 3 bagian: jajahan Belanda (ungu), kekuasaan Kesultanan Brunei (coklat), dan wilayah Kesultanan Sulu (abu-abu). Peta Kalimantan berasal dari peta lain yang disusun para misionaris dari Borneo Church Mission Institution. Tahun terbit: 1874 Tempat terbit: London/Edinburgh Juru kartografi: Van de Velde / Augustins Petermann / G.H. Swanston Kredit : Andre Owen Repost : #TEMPODOELOE

 Peta keluaran Inggris dari tahun 1874 tentang Jawa dan Kalimantan


Peta keluaran Inggris ini menyebut Jawa dan Kalimantan sebagai daerah jajahan Belanda yang utama di Kepulauan Hindia. Ada beberapa hal yang bisa dicatat dari peta ini:



Peta ini dihiasi dengan gambar-gambar hewan serta orang berpakaian tradisional Jawa serta Dayak, di samping sketsa tentang kota Kucing dan Sungai Sarawak yang melintasinya.


Peta Jawa diberi batas warna: Ungu untuk wilayah yang dikuasai Belanda, umumnya di pesisir utara; serta coklat yang menurut Inggris masih dikuasai oleh Mataram dan/atau penerusnya.


Peta Jawa disertai deretan gunung dari ujung barat hingga ke timur, lengkap dengan nama dan ketinggiannya. Menarik bahwa Jawa bagian barat ternyata lebih rapat jarak antar gunungnya daripada bagian tengah dan timur.


Wilayah Kalimantan dibagi menjadi 3 bagian: jajahan Belanda (ungu), kekuasaan Kesultanan Brunei (coklat), dan wilayah Kesultanan Sulu (abu-abu).


Peta Kalimantan berasal dari peta lain yang disusun para misionaris dari Borneo Church Mission Institution.


Tahun terbit: 1874

Tempat terbit: London/Edinburgh

Juru kartografi: Van de Velde / Augustins Petermann / G.H. Swanston

Kredit : Andre Owen


Repost : #TEMPODOELOE

Ellyas Pical adalah salah satu petinju legendaris Indonesia, lahir pada 24 Maret 1960, di Ullath, Saparua, Maluku Tengah. Dikenal dengan julukan "The Exocet," Pical adalah petinju kelas terbang super yang membuat sejarah sebagai juara dunia pertama dari Indonesia. Statistik dan Karier Tinggi: 5 kaki 5 inci (165 cm) Kebangsaan: Indonesia Sikap: Kidal Pical memiliki total 26 pertarungan sepanjang kariernya, dengan catatan sebagai berikut: Menang: 20 Menang oleh KO: 11 Kalah: 5 Imbang: 1 Prestasi Ellyas Pical dikenal tidak hanya sebagai petinju, tetapi juga sebagai ikon olahraga Indonesia. Ia berhasil meraih gelar juara dunia setelah melalui berbagai tantangan dalam dunia tinju profesional, mengukir namanya di hati para penggemar olahraga. Warisan Sebagai keturunan keluarga besar Pical, Ellyas Pical telah memberikan inspirasi kepada banyak generasi muda di Indonesia, terutama di Maluku. Keberhasilannya di ring tinju menjadi bukti bahwa dedikasi dan kerja keras dapat mengantarkan seseorang meraih prestasi yang membanggakan. Kariernya yang cemerlang dan pengaruhnya dalam dunia olahraga menjadikan Ellyas Pical sebagai salah satu nama yang dihormati dalam sejarah tinju Indonesia. Fb. Cinema Indonesia Celana murmer: https://s.shopee.co.id/2AvxE53ZBq https://s.shopee.co.id/5ppFasnr31

 Ellyas Pical adalah salah satu petinju legendaris Indonesia, lahir pada 24 Maret 1960, di Ullath, Saparua, Maluku Tengah. Dikenal dengan julukan "The Exocet," Pical adalah petinju kelas terbang super yang membuat sejarah sebagai juara dunia pertama dari Indonesia.



Statistik dan Karier


Tinggi: 5 kaki 5 inci (165 cm)


Kebangsaan: Indonesia


Sikap: Kidal


Pical memiliki total 26 pertarungan sepanjang kariernya, dengan catatan sebagai berikut:


Menang: 20


Menang oleh KO: 11


Kalah: 5


Imbang: 1


Prestasi


Ellyas Pical dikenal tidak hanya sebagai petinju, tetapi juga sebagai ikon olahraga Indonesia. Ia berhasil meraih gelar juara dunia setelah melalui berbagai tantangan dalam dunia tinju profesional, mengukir namanya di hati para penggemar olahraga.


Warisan


Sebagai keturunan keluarga besar Pical, Ellyas Pical telah memberikan inspirasi kepada banyak generasi muda di Indonesia, terutama di Maluku. Keberhasilannya di ring tinju menjadi bukti bahwa dedikasi dan kerja keras dapat mengantarkan seseorang meraih prestasi yang membanggakan.


Kariernya yang cemerlang dan pengaruhnya dalam dunia olahraga menjadikan Ellyas Pical sebagai salah satu nama yang dihormati dalam sejarah tinju Indonesia.


Fb. Cinema Indonesia 

Celana murmer:

https://s.shopee.co.id/2AvxE53ZBq

https://s.shopee.co.id/5ppFasnr31

SEJARAH PERBANKAN INDONESIA Perbankan di Indonesia memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak zaman kerajaan, jauh sebelum lembaga perbankan modern terbentuk. Pada masa kerajaan di Nusantara, cara menyimpan uang dan harta benda dilakukan dengan metode tradisional yang terfokus pada sistem barter dan simpanan kekayaan di lingkungan kerajaan atau istana. Kekayaan berupa emas, perak, rempah-rempah, dan benda berharga lainnya sering kali disimpan dalam bentuk fisik di lumbung atau dalam kepemilikan langsung oleh para raja dan bangsawan. ZAMAN KERAJAAN & KOLONIAL BELANDA Pada masa Kerajaan Majapahit, Sriwijaya, dan Mataram, bentuk penyimpanan kekayaan yang aman diatur oleh pihak kerajaan, di mana perdagangan internasional terutama dilakukan dengan negara-negara asing seperti India dan Tiongkok. Namun, belum ada sistem perbankan formal seperti yang kita kenal sekarang. Era kolonial Belanda membawa perubahan signifikan. Pada abad ke-18, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), perusahaan dagang Belanda, mulai mengendalikan perdagangan di Nusantara. Dalam rangka mendukung operasionalnya, VOC mendirikan lembaga keuangan yang menjadi cikal bakal bank modern. VOC juga mengeluarkan surat utang atau obligaties, yang dapat dianggap sebagai salah satu bentuk awal instrumen keuangan di Nusantara. Pada tahun 1828, setelah VOC bubar, didirikan De Javasche Bank oleh pemerintah kolonial Belanda. De Javasche Bank berfungsi sebagai bank sentral sekaligus bank komersial, dan merupakan bank pertama di Indonesia yang berdiri di bawah pengawasan pemerintah kolonial. Bank ini memiliki wewenang untuk mengeluarkan mata uang gulden, yang berfungsi sebagai alat tukar resmi di wilayah Hindia Belanda. PERIODE SETELAH KEMERDEKAAN Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, sistem perbankan mulai mengalami nasionalisasi. Pada tahun 1951, pemerintah Indonesia mengambil alih De Javasche Bank, yang kemudian diubah menjadi Bank Indonesia pada tahun 1953. Bank Indonesia diberi tugas sebagai bank sentral dengan wewenang mengatur kebijakan moneter dan mengelola mata uang rupiah yang menggantikan gulden Belanda. Seiring berkembangnya ekonomi Indonesia, banyak bank nasional mulai didirikan. Bank Negara Indonesia (BNI) menjadi salah satu bank nasional pertama yang didirikan oleh pemerintah pada tahun 1946. Selanjutnya, Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang awalnya berdiri pada masa kolonial sebagai lembaga keuangan agraria, diambil alih oleh pemerintah dan diubah fungsinya untuk melayani masyarakat luas, terutama di sektor agraria dan pedesaan. Pada dekade 1960-an hingga 1980-an, perbankan di Indonesia terus berkembang dengan didirikannya berbagai bank swasta, seperti Bank Central Asia (BCA) dan Bank Danamon. Reformasi ekonomi di akhir tahun 1980-an dan 1990-an membuka jalan bagi liberalisasi sektor perbankan, termasuk kebijakan deregulasi yang memungkinkan bank swasta berkembang pesat. KRISIS MONETER & PEMULIHAN Perbankan Indonesia mengalami guncangan besar selama krisis moneter Asia pada tahun 1997-1998. Banyak bank swasta kolaps karena tidak mampu menanggung beban kredit macet akibat depresiasi tajam rupiah. Pemerintah Indonesia terpaksa melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap sektor perbankan, termasuk menasionalisasi beberapa bank swasta yang kolaps. Setelah krisis tersebut, perbankan Indonesia bangkit kembali dan mengalami pertumbuhan pesat, didukung oleh kebijakan pemerintah yang lebih prudent dalam mengatur sektor keuangan. Saat ini, sistem perbankan Indonesia terdiri dari berbagai bank nasional, bank swasta, serta bank asing yang beroperasi di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). KESIMPULAN Perbankan di Indonesia telah melalui perjalanan panjang dari sistem tradisional penyimpanan harta pada zaman kerajaan hingga menjadi sistem keuangan modern yang kita kenal sekarang. Dengan peran pentingnya dalam mendukung perekonomian nasional, perbankan Indonesia terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan tantangan global. Referensi: 1. Tim Penulis Sejarah Bank Indonesia. Sejarah Bank Indonesia. Jakarta: Bank Indonesia, 2015. 2. Lindblad, J. Thomas. Sejarah Ekonomi Modern Indonesia. Leiden: KITLV Press, 1998.

 SEJARAH PERBANKAN INDONESIA


Perbankan di Indonesia memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak zaman kerajaan, jauh sebelum lembaga perbankan modern terbentuk. Pada masa kerajaan di Nusantara, cara menyimpan uang dan harta benda dilakukan dengan metode tradisional yang terfokus pada sistem barter dan simpanan kekayaan di lingkungan kerajaan atau istana. Kekayaan berupa emas, perak, rempah-rempah, dan benda berharga lainnya sering kali disimpan dalam bentuk fisik di lumbung atau dalam kepemilikan langsung oleh para raja dan bangsawan.



ZAMAN KERAJAAN & KOLONIAL BELANDA

Pada masa Kerajaan Majapahit, Sriwijaya, dan Mataram, bentuk penyimpanan kekayaan yang aman diatur oleh pihak kerajaan, di mana perdagangan internasional terutama dilakukan dengan negara-negara asing seperti India dan Tiongkok. Namun, belum ada sistem perbankan formal seperti yang kita kenal sekarang.


Era kolonial Belanda membawa perubahan signifikan. Pada abad ke-18, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), perusahaan dagang Belanda, mulai mengendalikan perdagangan di Nusantara. Dalam rangka mendukung operasionalnya, VOC mendirikan lembaga keuangan yang menjadi cikal bakal bank modern. VOC juga mengeluarkan surat utang atau obligaties, yang dapat dianggap sebagai salah satu bentuk awal instrumen keuangan di Nusantara.


Pada tahun 1828, setelah VOC bubar, didirikan De Javasche Bank oleh pemerintah kolonial Belanda. De Javasche Bank berfungsi sebagai bank sentral sekaligus bank komersial, dan merupakan bank pertama di Indonesia yang berdiri di bawah pengawasan pemerintah kolonial. Bank ini memiliki wewenang untuk mengeluarkan mata uang gulden, yang berfungsi sebagai alat tukar resmi di wilayah Hindia Belanda.


PERIODE SETELAH KEMERDEKAAN

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, sistem perbankan mulai mengalami nasionalisasi. Pada tahun 1951, pemerintah Indonesia mengambil alih De Javasche Bank, yang kemudian diubah menjadi Bank Indonesia pada tahun 1953. Bank Indonesia diberi tugas sebagai bank sentral dengan wewenang mengatur kebijakan moneter dan mengelola mata uang rupiah yang menggantikan gulden Belanda.


Seiring berkembangnya ekonomi Indonesia, banyak bank nasional mulai didirikan. Bank Negara Indonesia (BNI) menjadi salah satu bank nasional pertama yang didirikan oleh pemerintah pada tahun 1946. Selanjutnya, Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang awalnya berdiri pada masa kolonial sebagai lembaga keuangan agraria, diambil alih oleh pemerintah dan diubah fungsinya untuk melayani masyarakat luas, terutama di sektor agraria dan pedesaan.


Pada dekade 1960-an hingga 1980-an, perbankan di Indonesia terus berkembang dengan didirikannya berbagai bank swasta, seperti Bank Central Asia (BCA) dan Bank Danamon. Reformasi ekonomi di akhir tahun 1980-an dan 1990-an membuka jalan bagi liberalisasi sektor perbankan, termasuk kebijakan deregulasi yang memungkinkan bank swasta berkembang pesat.


KRISIS MONETER & PEMULIHAN

Perbankan Indonesia mengalami guncangan besar selama krisis moneter Asia pada tahun 1997-1998. Banyak bank swasta kolaps karena tidak mampu menanggung beban kredit macet akibat depresiasi tajam rupiah. Pemerintah Indonesia terpaksa melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap sektor perbankan, termasuk menasionalisasi beberapa bank swasta yang kolaps.


Setelah krisis tersebut, perbankan Indonesia bangkit kembali dan mengalami pertumbuhan pesat, didukung oleh kebijakan pemerintah yang lebih prudent dalam mengatur sektor keuangan. Saat ini, sistem perbankan Indonesia terdiri dari berbagai bank nasional, bank swasta, serta bank asing yang beroperasi di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).


KESIMPULAN

Perbankan di Indonesia telah melalui perjalanan panjang dari sistem tradisional penyimpanan harta pada zaman kerajaan hingga menjadi sistem keuangan modern yang kita kenal sekarang. Dengan peran pentingnya dalam mendukung perekonomian nasional, perbankan Indonesia terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan tantangan global.


Referensi:

1. Tim Penulis Sejarah Bank Indonesia. Sejarah Bank Indonesia. Jakarta: Bank Indonesia, 2015.

2. Lindblad, J. Thomas. Sejarah Ekonomi Modern Indonesia. Leiden: KITLV Press, 1998.

Bung Hatta atau Mohammad Hatta terlahir dengan nama Muhammad Athar pada tanggal 12 Agustus 1902 di Fort De Kock(Bukittinggi jaman kolonial), Sumatera Barat. Berasal dari keluarga terpandang, sang ayah dari keluarga ulama di Sumatera Barat, sedangkan sang ibu dari keluarga pedagang. Karena berasal dari keluarga terpandang, Bung Hatta bisa mendapatkan pendidikan yang baik. Setelah mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat, Bung Hatta melanjutkan pendidikan di Europese lagere School(Sekolah Lanjutan dasar untuk orang Eropa dan bangsawan). Pada tahun 1916 beliau menempuh pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Orderwijs atau MULO di Padang. Setelah lulus dari MULO, Bung Hatta pergi ke Batavia untuk menimba ilmu pendidikan umum di Hoogere Burgerschool(HBS). Selain mengikuti pendidikan, Bung Hatta juga aktif dalam organisasi pemuda Jong Sumatranen Bond. Setelah lulus dari HBS, beliau pergi ke Belanda untuk menempuh pendidikan tinggi di Nederland Handelshogeschool karena mendapatkan bea siswa dari Yayasan Van Deventer. Selama menjadi mahasiswa di Belanda, beliau aktif pada organisasi Indische Vereeniging, sebuah perkumpulan mahasiswa dari Hindia Belanda yang kuliah di Belanda. Setelah menyelesaikan kuliahnya di Belanda, pada tahun 1932 Bung Hatta kembali ke tanah air. Berbekal pendidikan tinggi dan pengalaman berorganisasi, beliau mulai melakukan pergerakan bersama tokoh tokoh nasionalis lainya untuk memperjuangkan kemerdekaan. Tokoh nasionalis yang menjadi gandengannya adalah Bung Karno dimana setelah merdeka kedua tokoh ini menjadi pasangan presiden dan wakil presiden. Tapi walaupun kedua tokoh ini terlihat seperti sepaket atau dulu sering disebut Dwi Tunggal, ternyata kedua tokoh ini pernah beberapa kali berselisih paham dan berbeda pandangan. Berikut beberapa hal yang pernah menjadi perbedaan antara Bung Karno dan Bung Hatta. • Cara memperjuangkan kemerdekaan. Bung Karno lewat Partai Nasionalis Indonesia(PNI), memperjuangkan kemerdekaan dengan cara mengumpulkan dukungan massa. Sedangkan Bung Hatta lewat PNI(Pendidikan Nasionalis Indonesia), memperjuangkan kemerdekaan dengan cara memberikan pendidikan dan wawasan kemerdekaan kepada masyarakat. Suatu saat Bung Karno pernah mengkritik cara yang digunakan Bung Hatta. “Mendidik rakyat supaya cerdas akan memerlukan waktu bertahun-tahun Bung Hatta. Jalan yang Bung tempuh baru akan tercapai kalua hari sudah kiamat,” kata Soekarno mengomentari metode pergerakan PNI Hatta. Tapi Bung Hatta tetap pada pendiriannya untuk melakukan perjuangan melalui pendidikan praktis kepada rakyat. Memberikan pendidikan dan pengetahuan menurutnya lebih baik dari pada daya tarik pribadi seorang pemimpin sehingga tidak ada cara untuk pengkaderan pemimpin. Dikemudian hari, apa yang diperkirakan Bung Hatta dengan cara yang dilakukan Bung Karno terbukti, partai PNI tidak berjalan dan bubar ketika Bung Karno sudah tidak ada. • Perbedaan pandangan terhadap sistem demokrasi. Bung Karno merasa bahwa sistem demokrasi parlementer yang berlaku saat itu tidak efektif dan tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Lalu Bung Karno mengusulkan sistem demokrasi terpimpin yang memberikan kekuasaan lebih besar kepada presiden sebagai pemimpin tunggal bangsa. Sedangkan Bung Hatta tetap mempertahankan sistem demokrasi parlementer yang menghargai peran parlemen dan partai-partai politik sebagai wakil rakyat. Bung Hatta juga khawatir bahwa sistem demokrasi terpimpin akan membuka peluang bagi presiden untuk menjadi diktator. Perbedaan inilah yang membuat Bung Hatta akhirnya mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden. • Perbedaan ideologi politik. Bung Karno cenderung berhaluan sosialis dan nasionalis, sedangkan Bung Hatta lebih condong ke arah liberal dan demokratis. Bung Karno menginginkan pemerintahan yang kuat dan sentralistik, sedangkan Bung Hatta mengusung pemerintahan yang desentralistik dan menghormati otonomi daerah. • Status Irian Barat(Papua) dalam sidang BPUPKI. Bung Karno berpendapat bahwa wilayah Irian Barat dalam sejarah masa lalu adalah bagian dari Indonesia. Sedangkan Bung Hatta berpendapat dari segi genetik dan ras masyarakat Irian Barat berbeda dengan ras masyarakat Indonesia yang lainnya, disamping itu tidak adanya bukti yang otentik bahwa wilayah Irian Barat dulu adalah wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit.

 Bung Hatta atau Mohammad Hatta terlahir dengan nama Muhammad Athar pada tanggal 12 Agustus 1902 di Fort De Kock(Bukittinggi jaman kolonial), Sumatera Barat.

Berasal dari keluarga terpandang, sang ayah dari keluarga ulama di Sumatera Barat, sedangkan sang ibu dari keluarga pedagang.


Karena berasal dari keluarga terpandang, Bung Hatta bisa mendapatkan pendidikan yang baik.


Setelah mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat, Bung Hatta melanjutkan pendidikan di Europese lagere School(Sekolah Lanjutan dasar untuk orang Eropa dan bangsawan).


Pada tahun 1916 beliau menempuh pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Orderwijs atau MULO di Padang.



Setelah lulus dari MULO, Bung Hatta pergi ke Batavia untuk menimba ilmu pendidikan umum di Hoogere Burgerschool(HBS).


Selain mengikuti pendidikan, Bung Hatta juga aktif dalam organisasi pemuda Jong Sumatranen Bond.


Setelah lulus dari HBS, beliau pergi ke Belanda untuk menempuh pendidikan tinggi di Nederland Handelshogeschool karena mendapatkan bea siswa dari Yayasan Van Deventer.


Selama menjadi mahasiswa di Belanda, beliau aktif pada organisasi Indische Vereeniging, sebuah perkumpulan mahasiswa dari Hindia Belanda yang kuliah di Belanda.


Setelah menyelesaikan kuliahnya di Belanda, pada tahun 1932 Bung Hatta kembali ke tanah air.


Berbekal pendidikan tinggi dan pengalaman berorganisasi, beliau mulai melakukan pergerakan bersama tokoh tokoh nasionalis lainya untuk memperjuangkan kemerdekaan.


Tokoh nasionalis yang menjadi gandengannya adalah Bung Karno dimana setelah merdeka kedua tokoh ini menjadi pasangan presiden dan wakil presiden.


Tapi walaupun kedua tokoh ini terlihat seperti sepaket atau dulu sering disebut Dwi Tunggal, ternyata kedua tokoh ini pernah beberapa kali berselisih paham dan berbeda pandangan.


Berikut beberapa hal yang pernah menjadi perbedaan antara Bung Karno dan Bung Hatta.


• Cara memperjuangkan kemerdekaan.

Bung Karno lewat Partai Nasionalis Indonesia(PNI), memperjuangkan kemerdekaan dengan cara mengumpulkan dukungan massa.

Sedangkan Bung Hatta lewat PNI(Pendidikan Nasionalis Indonesia), memperjuangkan kemerdekaan dengan cara memberikan pendidikan dan wawasan kemerdekaan kepada masyarakat.

Suatu saat Bung Karno pernah mengkritik cara yang digunakan Bung Hatta.

“Mendidik rakyat supaya cerdas akan memerlukan waktu bertahun-tahun Bung Hatta. Jalan yang Bung tempuh baru akan tercapai kalua hari sudah kiamat,” kata Soekarno mengomentari metode pergerakan PNI Hatta.

Tapi Bung Hatta tetap pada pendiriannya untuk melakukan perjuangan melalui pendidikan praktis kepada rakyat. 

Memberikan pendidikan dan pengetahuan menurutnya lebih baik dari pada daya tarik pribadi seorang pemimpin sehingga tidak ada cara untuk pengkaderan pemimpin.


Dikemudian hari, apa yang diperkirakan Bung Hatta dengan cara yang dilakukan Bung Karno terbukti, partai PNI tidak berjalan dan bubar ketika Bung Karno sudah tidak ada.


• Perbedaan pandangan terhadap sistem demokrasi. 

Bung Karno merasa bahwa sistem demokrasi parlementer yang berlaku saat itu tidak efektif dan tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Lalu Bung Karno mengusulkan sistem demokrasi terpimpin yang memberikan kekuasaan lebih besar kepada presiden sebagai pemimpin tunggal bangsa. 

Sedangkan Bung Hatta tetap mempertahankan sistem demokrasi parlementer yang menghargai peran parlemen dan partai-partai politik sebagai wakil rakyat. 

Bung Hatta juga khawatir bahwa sistem demokrasi terpimpin akan membuka peluang bagi presiden untuk menjadi diktator.

Perbedaan inilah yang membuat Bung Hatta akhirnya mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden.


• Perbedaan ideologi politik. 

Bung Karno cenderung berhaluan sosialis dan nasionalis, sedangkan Bung Hatta lebih condong ke arah liberal dan demokratis. 

Bung Karno menginginkan pemerintahan yang kuat dan sentralistik, sedangkan Bung Hatta mengusung pemerintahan yang desentralistik dan menghormati otonomi daerah.


• Status Irian Barat(Papua) dalam sidang BPUPKI.

Bung Karno berpendapat bahwa wilayah Irian Barat dalam sejarah masa lalu adalah bagian dari Indonesia. 

Sedangkan Bung Hatta berpendapat dari segi genetik dan ras masyarakat Irian Barat berbeda dengan ras masyarakat Indonesia yang lainnya, disamping itu tidak adanya bukti yang otentik bahwa wilayah Irian Barat dulu adalah wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit.

02 October 2024

MAKAM PANEMBAHAN SENOPATI Inilah pintu makam raja Mataram Islam yang pertama Kotagede merupakan salah satu kawasan bersejarah di kota Yogyakarta. Di kecamatan ini terdapat jejak peninggalan kerajaan Mataram Islam yang merupakan cikal bakal Kasultanan Ngayogyakarta. Jika kita bebicara tentang Mataram Islam, salah satu nama yang tak bisa dilewatkan untuk dibahas adalah Panembahan Senopati. Panembahan Senopati memiliki nama asli Danang Sutowijoyo yang juga dikenal sebagai Sutawijaya. Ia merupakan putra Ki Gede Pemanahan, pendiri cikal bakal kerajaan Mataram Islam. Awal mula berdirinya kerajaan Mataram Islam ketika Sutawijaya dan Ki Ageng Pamanahan membantu Jaka Tingkir membunuh Aryo Penangsang. Jaka Tingkir kemudian mendirikan Kerajaan Pajang, dan menghadiahkan tanah Mentaok (di Kotagede, Yogyakarta sekarang) kepada Ki Ageng Pamanahan dan Sutawijaya. Pada masa kepemimpinan Ki Ageng Pamanahan status Mataram Islam hanyalah sebuah kadipaten di Kerajaan Pajang. Namun, setelah Ki Ageng Pamanahan wafat pada 1575 M, Sutawijaya melepaskan diri dari kerajaan Pajang dan mendirikan kerajaan Mataram Islam pada 1582 M. Pasca berhasil memerdekan kerajaan Mataram Islam, Sutawijaya mengangkat dirinya jadi sultan dengan gelar Panembahan Senopati. Panembahan Senopati bergelar Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama, yang menunjukan raja berkuasa atas pemerintahhan dan keagamaan. Sedangkan gelar Senopati untuk sebutan panglima perang. Kerajaan Mataram Islam pada masa pemerintahan Panembahan Senopati merupakan sebuah kerajaan agraris yang beribukota di Kotagede. Dibawah kepemimpinanya, Kerajaan Mataram Islam tumbuh menjadi kerajaan yang besar dan berhasil menguasai daerah Kerajaan Pajang yang sedang dilanda perang saudara. Panembahan Senopati juga berhasil menyatukan wilayah-wilayah yang melepaskan diri dari Kerajaan Pajang. Di bawah kepemimpinan Panembahan Senopati, desa tumbuh menjadi kota yang makmur dan ramai. .

 MAKAM PANEMBAHAN SENOPATI


 Inilah pintu makam raja Mataram Islam yang pertama 


Kotagede merupakan salah satu kawasan bersejarah di kota Yogyakarta. Di kecamatan ini terdapat jejak peninggalan kerajaan Mataram Islam yang merupakan cikal bakal Kasultanan Ngayogyakarta. Jika kita bebicara tentang Mataram Islam, salah satu nama yang tak bisa dilewatkan untuk dibahas adalah Panembahan Senopati. Panembahan Senopati memiliki  nama asli Danang Sutowijoyo yang juga dikenal sebagai Sutawijaya. Ia merupakan putra Ki Gede Pemanahan, pendiri cikal bakal kerajaan Mataram Islam.



Awal mula berdirinya kerajaan Mataram Islam ketika Sutawijaya dan Ki Ageng Pamanahan membantu Jaka Tingkir membunuh Aryo Penangsang. Jaka Tingkir kemudian mendirikan Kerajaan Pajang, dan menghadiahkan tanah Mentaok (di Kotagede, Yogyakarta sekarang) kepada Ki Ageng Pamanahan dan Sutawijaya. Pada masa kepemimpinan Ki Ageng Pamanahan status Mataram Islam hanyalah sebuah kadipaten di Kerajaan Pajang. Namun, setelah Ki Ageng Pamanahan wafat pada 1575 M, Sutawijaya melepaskan diri dari kerajaan Pajang dan mendirikan kerajaan Mataram Islam pada 1582 M.


Pasca berhasil memerdekan kerajaan Mataram Islam, Sutawijaya  mengangkat dirinya jadi sultan dengan gelar Panembahan Senopati. Panembahan Senopati bergelar Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama, yang menunjukan raja berkuasa atas pemerintahhan dan keagamaan. Sedangkan gelar Senopati untuk sebutan panglima perang.


Kerajaan Mataram Islam  pada masa pemerintahan Panembahan Senopati merupakan sebuah kerajaan agraris yang beribukota di Kotagede. Dibawah kepemimpinanya, Kerajaan Mataram Islam tumbuh menjadi kerajaan yang besar dan berhasil menguasai daerah Kerajaan Pajang yang sedang dilanda perang saudara. Panembahan Senopati juga berhasil menyatukan wilayah-wilayah yang melepaskan diri dari Kerajaan Pajang. Di bawah kepemimpinan Panembahan Senopati, desa tumbuh menjadi kota yang makmur dan ramai.


.

KISAH DI BALIK RONCE MELATI PADA KERIS PENGANTIN PRIA Sejarah tradisi mengalungkan ronce bunga melati di keris pada mempelai pria bermula sejak masa Ki Juru Mertani, penasehat Sutawijaya alias Panembahan Senopati, pendiri kesultanan Mataram. Ki Juru Mertani memulai tradisi tersebut saat putranya menikah. Ia terinspirasi Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan, yang tewas saat bertempur dengan Sutawijaya. Ki Juru Mertani terkesan dengan kegagahan dan keperkasaan Arya Penangsang saat perang tanding melawan Sutawijaya. Dikisahkan, saat adu kanuragan, tombak Kyai Pleret yang dipakai Sutawijaya mengenai lambung Arya Penangsang, hingga ususnya terburai. Meski demikian Arya Penangsang tetap bertempur. Ia menyangkutkan buraian ususnya pada wrangka keris Setan Kober yang terselip di pinggangnya. Sutawijaya sempat terdesak dan tibalah kesempatan itu digunakan oleh Arya Penangsang untuk segera menuntaskan peperangan. Ia mencabut keris dari warangkanya. Namun nahas, tanpa sadar mata keris Setan Kober langsung memotong ususnya dan Ia tewas seketika. Melihat itu, Ki Juru Mertani menginginkan putranya seperti Arya Penangsang. Ia menyimbolkan harapan tersebut dengan mengenakan keris pada anaknya berhias ronce bunga melati, yang digambarkan seperti usus Arya Penangsang saat bertempur dengan Sutawijaya. Dengan begitu maka pengantin pria akan tampak lebih gagah, dan tradisi tersebut tetap digunakan hingga saat ini.

 KISAH DI BALIK RONCE MELATI PADA KERIS PENGANTIN PRIA 


Sejarah tradisi mengalungkan ronce bunga melati di keris pada mempelai pria bermula sejak masa Ki Juru Mertani, penasehat Sutawijaya alias Panembahan Senopati, pendiri kesultanan Mataram. Ki Juru Mertani memulai tradisi tersebut saat putranya menikah. Ia terinspirasi Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan, yang tewas saat bertempur dengan Sutawijaya.


Ki Juru Mertani terkesan dengan kegagahan dan keperkasaan Arya Penangsang saat perang tanding melawan Sutawijaya. Dikisahkan, saat adu kanuragan, tombak Kyai Pleret yang dipakai Sutawijaya mengenai lambung Arya Penangsang, hingga ususnya terburai. Meski demikian Arya Penangsang tetap bertempur. Ia menyangkutkan buraian ususnya pada wrangka keris Setan Kober yang terselip di pinggangnya.



Sutawijaya sempat terdesak dan tibalah kesempatan itu digunakan oleh Arya Penangsang untuk segera menuntaskan peperangan. Ia mencabut keris dari warangkanya. Namun nahas, tanpa sadar mata keris Setan Kober langsung memotong ususnya dan Ia tewas seketika.


Melihat itu, Ki Juru Mertani menginginkan putranya seperti Arya Penangsang. Ia menyimbolkan harapan tersebut dengan mengenakan keris pada anaknya berhias ronce bunga melati, yang digambarkan seperti usus Arya Penangsang saat bertempur dengan Sutawijaya. Dengan begitu maka pengantin pria akan tampak lebih gagah, dan tradisi tersebut tetap digunakan hingga saat ini.

Pelarian Raden Wijaya Menuju Sumenep Berikut adalah rangkuman rute pelarian Raden Wijaya menuju Sumenep berdasarkan dua sumber utama, yaitu Pararaton dan Prasasti Kudadu 1294: Berdasarkan Pararaton dan Kidung Ranggalawe: 1. Keraton Tumapel: Titik awal keberangkatan Raden Wijaya dalam menghadapi ancaman musuh dari utara. 2. Desa Mameling: Tempat terjadinya pertempuran dengan pasukan Daha yang dikenal sebagai pasukan Jaran Guyang. 3. Kembali ke Tumapel: Setelah mendengar kabar bahwa Kertanegara telah tewas dan istana telah dikuasai musuh, Raden Wijaya dan pasukannya mundur. Mereka kemudian dikejar oleh pasukan Daha di bawah pimpinan Kebo Mundarang hingga ke Sawah Miring. 4. Desa Talaga Pager: Di sini, pasukan terakhir Raden Wijaya masih dikejar oleh musuh. 5. Desa Pandakan: Raden Wijaya ditolong oleh Macan Kuping, tetua desa Pandakan. Gajah Pagon, salah satu prajuritnya, ditinggalkan di desa ini untuk dirawat karena luka serius akibat tombak. Macan Kuping juga membangun tempat persembunyian bagi Raden Wijaya di tengah ladang. 6. Datar: Titik terakhir pelarian Raden Wijaya di mana ia bersiap untuk menyeberang ke Madura menggunakan perahu. Berdasarkan Prasasti Kudadu 1294: 1. Keraton Tumapel: Titik awal keberangkatan pasukan Raden Wijaya bersama Ardharaja, menantu Kertanegara. Mereka mendengar pasukan musuh telah tiba di Desa Jasun Wungkal. 2. Desa Kedung Peluk: Lokasi pertempuran pertama Raden Wijaya dengan pasukan musuh. 3. Desa Lembah dan Batang: Perjalanan dilalui tanpa bertemu musuh. 4. Desa Kapulungan: Tempat Raden Wijaya kembali bertemu musuh dan bertempur. 5. Desa Rabut Carat: Di sini, Ardharaja berkhianat dengan meninggalkan Raden Wijaya untuk bergabung dengan pasukan Daha. Saat itu, pasukan Raden Wijaya tinggal berjumlah enam ratus orang. 6. Desa Pamwatan Apajeg: Raden Wijaya terus dikejar musuh, kehilangan banyak prajurit. 7. Desa Terung: Desa tujuan Raden Wijaya untuk meminta bantuan kepada akuwu Rakryan Wuru Agraja. Namun, di tengah perjalanan pada malam hari, ia kembali bertemu dengan musuh dan terpaksa mengubah arah menuju Kembangsri. 8. Kembangsri: Raden Wijaya terus dikejar hingga menyeberangi Sungai Mas. Banyak prajuritnya tenggelam dan tewas akibat tusukan tombak musuh. 9. Desa Kudadu: Setelah berhasil menyeberangi Sungai Mas, Raden Wijaya tiba di Desa Kudadu dan diterima oleh kepala desa setempat. Kepala desa Kudadu kemudian membantu Raden Wijaya menyeberang ke Madura melalui Rembang. Rangkaian peristiwa ini menandai babak penting dalam sejarah pendirian Majapahit, yang memperlihatkan keteguhan dan strategi Raden Wijaya dalam menghadapi tekanan musuh. #RadenWijaya #PelarianRadenWijaya #Majapahit #SejarahIndonesia #KerajaanMajapahit #PrasastiKudadu #Pararaton #KidungRanggalawe #PerjuanganRadenWijaya #SejarahNusantara #Tumapel #Sumenep

 Pelarian Raden Wijaya Menuju Sumenep


Berikut adalah rangkuman rute pelarian Raden Wijaya menuju Sumenep berdasarkan dua sumber utama, yaitu Pararaton dan Prasasti Kudadu 1294:



 Berdasarkan Pararaton dan Kidung Ranggalawe:

1. Keraton Tumapel: Titik awal keberangkatan Raden Wijaya dalam menghadapi ancaman musuh dari utara.

2. Desa Mameling: Tempat terjadinya pertempuran dengan pasukan Daha yang dikenal sebagai pasukan Jaran Guyang.

3. Kembali ke Tumapel: Setelah mendengar kabar bahwa Kertanegara telah tewas dan istana telah dikuasai musuh, Raden Wijaya dan pasukannya mundur. Mereka kemudian dikejar oleh pasukan Daha di bawah pimpinan Kebo Mundarang hingga ke Sawah Miring.

4. Desa Talaga Pager: Di sini, pasukan terakhir Raden Wijaya masih dikejar oleh musuh.

5. Desa Pandakan: Raden Wijaya ditolong oleh Macan Kuping, tetua desa Pandakan. Gajah Pagon, salah satu prajuritnya, ditinggalkan di desa ini untuk dirawat karena luka serius akibat tombak. Macan Kuping juga membangun tempat persembunyian bagi Raden Wijaya di tengah ladang.

6. Datar: Titik terakhir pelarian Raden Wijaya di mana ia bersiap untuk menyeberang ke Madura menggunakan perahu.


 Berdasarkan Prasasti Kudadu 1294:

1. Keraton Tumapel: Titik awal keberangkatan pasukan Raden Wijaya bersama Ardharaja, menantu Kertanegara. Mereka mendengar pasukan musuh telah tiba di Desa Jasun Wungkal.

2. Desa Kedung Peluk: Lokasi pertempuran pertama Raden Wijaya dengan pasukan musuh.

3. Desa Lembah dan Batang: Perjalanan dilalui tanpa bertemu musuh.

4. Desa Kapulungan: Tempat Raden Wijaya kembali bertemu musuh dan bertempur.

5. Desa Rabut Carat: Di sini, Ardharaja berkhianat dengan meninggalkan Raden Wijaya untuk bergabung dengan pasukan Daha. Saat itu, pasukan Raden Wijaya tinggal berjumlah enam ratus orang.

6. Desa Pamwatan Apajeg: Raden Wijaya terus dikejar musuh, kehilangan banyak prajurit.

7. Desa Terung: Desa tujuan Raden Wijaya untuk meminta bantuan kepada akuwu Rakryan Wuru Agraja. Namun, di tengah perjalanan pada malam hari, ia kembali bertemu dengan musuh dan terpaksa mengubah arah menuju Kembangsri.

8. Kembangsri: Raden Wijaya terus dikejar hingga menyeberangi Sungai Mas. Banyak prajuritnya tenggelam dan tewas akibat tusukan tombak musuh.

9. Desa Kudadu: Setelah berhasil menyeberangi Sungai Mas, Raden Wijaya tiba di Desa Kudadu dan diterima oleh kepala desa setempat. Kepala desa Kudadu kemudian membantu Raden Wijaya menyeberang ke Madura melalui Rembang.


Rangkaian peristiwa ini menandai babak penting dalam sejarah pendirian Majapahit, yang memperlihatkan keteguhan dan strategi Raden Wijaya dalam menghadapi tekanan musuh.

#RadenWijaya  

#PelarianRadenWijaya  

#Majapahit  

#SejarahIndonesia  

#KerajaanMajapahit  

#PrasastiKudadu  

#Pararaton  

#KidungRanggalawe  

#PerjuanganRadenWijaya  

#SejarahNusantara  

#Tumapel  

#Sumenep

Sangat kontras sekali, wilayah Mataram bernama Panaragan ini menempatkan keris pada bagian depan badan. Sedangkan Mataram area keraton keris ditempatkan pada belakang badan. Keberlangsungan ini Sehingga menjadi identitas pada wilayah Mataram keraton dan Panaragan, bahkan disebutkan Panaragan dipaksa menjadi budaya Mataraman. Dalam kultur Jawa pada berbagai penelitian, termasuk hasil penelitian profesor UNEJ Jember setidaknya terdapat beberapa sub suku Jawa seperti berikut: - Jawa Mataraman keraton (Yogyakarta & Surakarta) - Jawa Mataram brang wetan (plat AE & plat AG) - Jawa ngapak (vocal serba A, berbatasan suku sunda) - Jawa Tengger (vocal Serba A, mendiami pegunungan sekitar Bromo/semeruu) - Jawa Aneman (berakhiran -em, pesisir Utara Jawa) - Jawa Arekan (plat L, Plat S, Plat W) - Jawa Panaragan (Plat AE) - Jawa Bawean (trah pejabat Giri Kedaton di Pulo Bawean) Kemudian Jawa campuran, seperti: - Jawa Cirebon (Jawa dengan Sunda) - Jawa Cilegon (Jawa dengan Sunda/Betawi) - Jawa Osing (sisa-sisa Jawa Blambangan dengan Bali) - Jawa Pendalungan (Jawa dengan Madura) - Jawa Jaton (Jawa dengan Minahasa) Lantas bagaimana dengan Samin? Dan kalang? Yang sering diangkat media sebagai suku Samin dan suku kalang? Samin sendiri merupakan sebuah pergerakan era kolonial Belanda tidak berbeda dengan sarekat Islam dan Budi Utomo, yang dimana awal pemikiran Samin berasal dari Samin sepuh (putra bupati sumoroto, Ponorogo) dan Samin Anom (cucu putra bupati sumoroto, Ponorogo) menggunakan siasat pola pikir masyarakat panaragan meski saat ini lebih melebur menjadi sub Jawa Aneman. Sedangkan sub Jawa kalang sendiri yang tersebar diberbagai wilayah Jawa turut melebur menjadi sub Jawa yang ditempati. Sebagai contoh suku kalang di Magetan yang kekuatannya digunakan oleh Belanda untuk menaklukkan pembangkang diberbagai wilayah di karesidenan Madiun kini mengikuti sub Jawa Panaragan. sedangkan di kalang di kota Gede mengikuti sub Jawa Mataram keraton. Kaum Panaragan bukan seharusnya dalam tata budaya Mataram terlihat dari tradisi, budaya, dialek yang sangat berbeda dan kontras dengan budaya Mataraman. Karena Panaragan atau wengker dianggap jowo tuek/tua karena telah ada sebelum Mataraman (modern) itu ada. Seperti reog dadak merak dan reog thek (jaranan) yang merupakan budaya asli Panaraga, tidak akan bisa dirubah menjadi dan mengikuti pakem tari keraton, dialeknya pun begitu keras dan tegas, termasuk penempatan keris pada depan badan karena mengikuti pakaian adat Panaragan (Penadon) yang tidak dapat diletakan pada bagian belakang, tidak seperti beskap keraton dengan modifikasi khusus pola pakaian yang memberi ruang keris pada belakang badan. Meski demikian, kini kaum Panaragan menjadi rebutan antara Mataram keraton Yogyakarta dengan Surakarta, kedua keraton ini pernah diselamatkan oleh pasukan Panaragan. Namun yang sangat kontras dan agresif untuk merubah budaya panaragan menjadi Mataraman ialah Surakarta, dengan memberikan berbagai penghargaan kepada budayawan, sejarah Panaragan dengan demikian merubah kebiasaan seperti menggunakan Blangkon tanpa mondol/perbawan, sedangkan Panaragan memiliki blangkon dengan mondol yang lebih besar dari blangkon Yogyakarta. Kemudian penempatan keris dari depan menjadi belakang dengan mengganti pakaian Penadon dengan beskap Surakarta sehingga keris dapat diletakan pada bagian belakang badan. Padahal, panaragan sendiri memiliki beskap Panaragan sendiri dengan penempatan keris didepan (cek foto 2 orang kiri bawah).

 Sangat kontras sekali, wilayah Mataram bernama Panaragan ini menempatkan keris pada bagian depan badan. Sedangkan Mataram area keraton keris ditempatkan pada belakang badan.



Keberlangsungan ini Sehingga menjadi identitas pada wilayah Mataram keraton dan Panaragan, bahkan disebutkan Panaragan dipaksa menjadi budaya Mataraman.


Dalam kultur Jawa pada berbagai penelitian, termasuk hasil penelitian profesor UNEJ Jember setidaknya terdapat beberapa sub suku Jawa seperti berikut:

- Jawa Mataraman keraton (Yogyakarta & Surakarta)

- Jawa Mataram brang wetan (plat AE & plat AG)

- Jawa ngapak (vocal serba A, berbatasan suku sunda)

- Jawa Tengger (vocal Serba A, mendiami pegunungan sekitar Bromo/semeruu)

- Jawa Aneman (berakhiran -em, pesisir Utara Jawa)

- Jawa Arekan (plat L, Plat S, Plat W)

- Jawa Panaragan (Plat AE)

- Jawa Bawean (trah pejabat Giri Kedaton di Pulo Bawean)


Kemudian Jawa campuran, seperti:

- Jawa Cirebon (Jawa dengan Sunda)

- Jawa Cilegon (Jawa dengan Sunda/Betawi)

- Jawa Osing (sisa-sisa Jawa Blambangan dengan Bali)

- Jawa Pendalungan (Jawa dengan Madura)

- Jawa Jaton (Jawa dengan Minahasa)


Lantas bagaimana dengan Samin? Dan kalang? Yang sering diangkat media sebagai suku Samin dan suku kalang? Samin sendiri merupakan sebuah pergerakan era kolonial Belanda tidak berbeda dengan sarekat Islam dan Budi Utomo, yang dimana awal pemikiran Samin berasal dari Samin sepuh (putra bupati sumoroto, Ponorogo) dan Samin Anom (cucu putra bupati sumoroto, Ponorogo) menggunakan siasat pola pikir masyarakat panaragan meski saat ini lebih melebur menjadi sub Jawa Aneman.


Sedangkan sub Jawa kalang sendiri yang tersebar diberbagai wilayah Jawa turut melebur menjadi sub Jawa yang ditempati. Sebagai contoh suku kalang di Magetan yang kekuatannya digunakan oleh Belanda untuk menaklukkan pembangkang diberbagai wilayah di karesidenan Madiun kini mengikuti sub Jawa Panaragan. sedangkan di kalang di kota Gede mengikuti sub Jawa Mataram keraton.


Kaum Panaragan bukan seharusnya dalam tata budaya Mataram terlihat dari tradisi, budaya, dialek yang sangat berbeda dan kontras dengan budaya Mataraman. Karena Panaragan atau wengker dianggap jowo tuek/tua karena telah ada sebelum Mataraman (modern) itu ada.


Seperti reog dadak merak dan reog thek (jaranan) yang merupakan budaya asli Panaraga, tidak akan bisa dirubah menjadi dan mengikuti pakem tari keraton, dialeknya pun begitu keras dan tegas, termasuk penempatan keris pada depan badan karena mengikuti pakaian adat Panaragan (Penadon) yang tidak dapat diletakan pada bagian belakang, tidak seperti beskap keraton dengan modifikasi khusus pola pakaian yang memberi ruang keris pada belakang badan.


Meski demikian, kini kaum Panaragan menjadi rebutan antara Mataram keraton Yogyakarta dengan Surakarta, kedua keraton ini pernah diselamatkan oleh pasukan Panaragan. Namun yang sangat kontras dan agresif untuk merubah budaya panaragan menjadi Mataraman ialah Surakarta, dengan memberikan berbagai penghargaan kepada budayawan, sejarah Panaragan dengan demikian merubah kebiasaan seperti menggunakan Blangkon tanpa mondol/perbawan, sedangkan Panaragan memiliki blangkon dengan mondol yang lebih besar dari blangkon Yogyakarta. 

Kemudian penempatan keris dari depan menjadi belakang dengan mengganti pakaian Penadon dengan beskap Surakarta sehingga keris dapat diletakan pada bagian belakang badan. Padahal, panaragan sendiri memiliki beskap Panaragan sendiri dengan penempatan keris didepan (cek foto 2 orang kiri bawah).

SENGKALAN DAN CANDRASENGKALA Sengkalan merupakan rangkaian kata-kata menjadi kalimat panjang yang memiliki makna, yang juga menandakan tahun perhitungan tahun jawa. Dalam tradisi jawa biasanya tahun dihitung menggunakan peredaran bulan, yang dalam bahasa jawa disebut , candra. Bermula dari sinilah kemudian susunan kata-kata menjadi rangkaian kalimat panjang yang menjadi penanda tahun tersebut disebut Candra sengkala. Penunjukan dan pemaknaan dalam Sengkalan tersebut didasarkan menurut watak (sifat) setiap kata atau kalimat yang masing-masin bermakna angka tertentu. Tata cara pembacaan angka tahunnya dimulai dari belakang. Menurut bentuk wujudnya, Sengkalan dibedakan menjadi 2 macam : 1. Berupa rangkaian kata menjadi kalimat disebut dengan Sengkalan Lamba. 2. Berupa rangkaian gambar lukisan yang disebut dengan Sengkalan Memet. Adapun beberapa contoh Watak (sifat) setiap kata adalah sebagai berikut : Watak 1 : Gusti Allah, Janma, Srengenge, Rembulan, Bumi, Lintang, Sirah, Gulu, Nata, Irung, Ati, Bunder, Iku, Urip, Aji, Praja, Tunggal, Wutuh, Nyata, Eko, lsp. Watak 2 : Tangan, Suku, Mripat, Swiwi, Alis, Penganten, Kembar, Nembah, Nyawang, Nyekel, Mireng, Lumaku, Mabur, Dwi lsp. Watak 3: Geni, Murub, Panas, Putri, Estri, Welut, Jurit, Kaya, Lir, Guna, Cacing, Sorot, Tri, lsp. Watak 4: Banyu, Segara, Kali, Kreta, Keblat, Karya, Bening, Brahmana, Satriya, Sudra, Catur, lsp. Watak 5: Buta, Angin, Alas, Jemparing, Tata, Pandawa, Panca,lsp. Watak 6: Rasa (legi, pait, asin), Tawon, Lemut, Obah, Wayang, Mangsa, Kayu, Sad,lsp Watak 7: Gunung, Tunggangan, Pandita, Swara, Guru, Mulang, Sapta, lsp. Watak 8: Gajah, Naga, Baya, Wasu, Pujangga, Tekek, Kadal, Ngesthi, Wanara, Astha,lsp. Watak 9: Lawang, Gapura, Guwa, Jawata, Menga, Ganda, Terus, Nawa,lsp. Watak 0: Suwung, Sirna, Rusak, Tanpa, Ilang, Mati, Muluk, Duwur, Awang-awang, Suwarga, Langit, Adoh, Dasa, lsp. Contoh penggunaan Sengkalan atau Candra Sekala sepaerti : 1. Gapura Trus Gunaning Janmi 9 9 3 1 Menjadi 1399 tahun Jawa menunjukkan berdirinya Masjid Demak 2. Naga Muluk Tinitihan Janma 8 0 7 1 Menjadi 1708 tahun Jawa menunjukkan berdirinya panggung Sanggabuwana di pelataran Kraton Surakarta 3. Sirna Ilang Kretaning Bumi 0 0 4 1 Menjadi 1499 tahun Jawa atau tahun Saka atau tahun 1478 M tahun runtuhnya Kerajaan Majapahit. Penjelasan Sengkalan yang lain adalah sebagai berikut : Dalam Bahasa Jawa, tembung sengkala berarti 1) kecelakaan, halangan, 2) angka tahun yang dilambangkan dengan kata-kata, atau gambar yang mempunyai makna. Dalam artikel ini, akan dibahas sengkala dalam arti angka tahun yang dilambangkan dengan kata-kata atau gambar yang mempunyai makna. Kata sengkalan ini berasal dari kata saka , dan kala . Saka adalah nama suku (Caka ) dari India yang pernah migrasi ke Jawa, dan kala yang berarti waktu, atau tahun. Jadi saka kala berarti Tahun Saka. Tahun Saka dimulai sejak Raja Saliwahana, Ajisaka, naik tahta, pada tahun 78 Masehi. Tembung saka berubah bunyi menjadi sangka , lalu berubah menjadi sengka. Tembung sengka diikuti tembung kala , menjadi sengkala . Ada surya sengkala , yaitu sengkalan yang dibuat berdasar kalender surya (solar calendar), misalnya Tahun Masehi. Ada juga candra sengkala yang dibuat berdasar kalender bulan (lunar calendar ), misalnya kalender Islam Hijriyah atau Kalender Jawa. Sengkalan boleh memakai kalender Masehi, Islam, atau Jawa. Sengkalan dapat dipakai untuk menandai lahirnya seseorang, berdirinya suatu lembaga, daerah, kota, negara, atau berdirinya suatu bangunan (istana, kantor, gapura). Bisa juga untuk menandai kematian, berakhir, bubar, atau ditutupnya suatu lembaga. Ada sengkalan lamba, miring, memet , dan sastra . Sengkalan lamba mempergunakan kata-kata yang sederhana , misalnya "Buta Lima Naga Siji". Buta berwatak 5, lima berwatak 5, naga berwatak 8, dan siji berwatak 1, setelah digabung menjadi 5581, lalu dibalik, berarti tahun 1855. Sengkalan miring merupakan sengkalan lamba juga, tetapi mempergunakan kata-kata miring (padanan), yang lebih rumit daripada sengkalan lamba. Misalnya sengkalan "Lungiding Wasita Ambuka Bawana ". Kata lungid berarti tajam; yang dimaksud adalah tajamnya senjata (gaman ), gaman mempunyai watak 5. Kata wasita berarti pitutur jati , atau nasihat suci; pitutur jati berkaitan dengan resi, wiku , atau pandhita yang berwatak 7. Yang dimaksud dengan kata ambuka, adalah lawang atau gapura yang berwatak 9, dan kata bawana maksudnya adalah bumi yang berwatak 1. Diperoleh angka 5791, yang berarti tahun 1975. Contoh lain, misalnya "Naga Salira Ambuka Bumi ". Naga dan salira merupakan lambang angka 8, ambuka lambang 9, dan bumi lambang 1. Jadi tersusun 8891. Susunan angka ini harus dibalik, sehingga menjadi tahun 1988. Menurut buku Babad Tanah Jawi (sejarah Majapahit), runtuhnya kerajaan Majapahit ditandai dgn sengkalan "Sirna Ilang Kretaning Bumi" , masing-masing menunjukkan angka 0, 0, 4, dan 1, lalu dibalik menjadi 1400 Tahun Saka atau 1478 M. Gedung DPRD Wonosobo diberi sengkalan "Sabda Pandhawa Raga Nyawiji ", karena didirikan pada tahun 1957. Contoh lain, misalnya ada orang yang lahir pada tahun 2011 M. Mula-mula angka ini dibalik menjadi 1102, lalu pilih kata yang dianggap cocok, misalnya "Aji Budaya Muluk Samya ". Artinya: nilai budaya yg terbang (manfaat, berkembang) bersama sesama. Sengkalan memet memakai lukisan, gambar, atau ornamen, atau memakai Huruf Jawa. Sengkalan memet dapat dijumpai pada arca, candi, atau gedung. Di bagian bagian atas gapura magangan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, ada ornamen dua naga, yang ekornya ke mengarah atas, lalu melilit, menyatu. Ornamen ini dibaca "Dwi Naga Ngrasa Tunggal" . Dwi berwatak 2, naga berwatak 8, ngrasa berwatak 6, dan tunggal berwatak 1. Diperoleh susunan angka 2, 8, 6, dan 1,sehingga diperoleh tahun 1682, yaitu saat dibangunnya bagian itu. Di kraton Surakarta, ada ornamen yang dibaca "Naga Muluk Tinitihan Janma" . Naga berwatak 8, muluk (terbang) berwatak 0, tinitihan (ditunggangi) berwatak 7, dan janma (manusia) berwatak 1; setelah digabung menjadi 8071, setelah dibalik menjadi 1708. Sengkalan merupakan chronogram (Yunani; chrono : waktu, gramma : huruf). Chronogram adalah kalimat yang menyembunyikanangka-angka, yang berkaitan dengan tahun. Sebagai contoh, kalimat AM ORE M ATV RI TAS, jika diambil huruf yg bold , menjadi MMVI, lambang angka Romawi untuk tahun 2006. M y D ay C losed I I n I mmortality, adalah chronogram , yang menunjukkan tahun wafatnya Ratu Elizabeth I, MDCIII= 1603. Berikut adalah tembung (kata) dan wataknya. Watak 1 (satu) Benda atau sifat yang berwatak 1, adalah: 1. Cacahnya satu: aji (harga, nilai), bangsa , bathara , budaya, budi , dewa , dhara (perut), gusti, hyang, nabi, narendra , narpa (raja), narpati (raja), nata (raja), pangeran, praja (negara), raja, ratu. swarga (surga), tata (aturan), wani (berani), wiji (biji), urip (hidup). 2 Bentuknya bulat: bawana (bumi), bumi , candra (bulan), jagad (bumi), kartika (bintang), rat (bumi), srengenge (matahari), surya (matahari), wulan (bulan). 3. Berarti ‘satu’: eka, nyawiji (menyatu) , siji, tunggal. 4. Berarti ‘orang’: janma, jalma, manungsa, tyas, wong Watak 2 (dua) Benda atau sifat yang berwatak 2, adalah: 1. Cacahnya dua : asta (tangan), kuping, mata, netra, paningal (mata), soca (mata), swiwi (sayap), talingan (telinga), sungu (tanduk), supit. 2. Fungsi no 1 di atas: ndeleng (melihat), ndulu (melihat), ngrungu (mendengar) 3. Berarti ‘dua’: apasang, dwi, kalih, kembar, penganten. Watak 3 (tiga) 1. Berarti ‘api’ : agni , dahana , geni , pawaka , puji 2. Sifat api: benter (panas), murub (menyala), kukus (asap), panas , sorot , sunar (sinar, cahaya), urub (nyala). 3. Berarti ‘tiga’: hantelu, mantri , tiga, tri, trisula, trima, ujwala, wredu Watak 4 (empat) 1. Berkaitan dengan air: bun (embun), her , tirta, toya, samodra, sendang, segara (laut), sindang, tasik (laut), wedang, udan. 2. Berarti ‘empat’: papat, pat, catur, sekawan, keblat, warna (kasta) 3. Berarti ‘bekerja’: karya, karta, kirti, kretaning, pakarti Watak 5 (lima) 1. Cacahnya lima: cakra (roda), driya (indra), indri, indriya, pandawa 2. Berarti ‘raksasa’ : buta , danawa, diyu, raseksa, raseksi, wisaya, yaksa 3. Berarti ‘senjata’: bana, gaman , panah, pusaka, sara, jemparing , warajang, lungid (tajam) 4. Berarti ‘angin’ : angin , bayu, samirana, maruta, sindung 5. Berarti ‘lima’: lima , gangsal, panca, pandawa Watak 6 (enam) 1. Berkaitan dengan ‘rasa’: amla, asin, dura, gurih, kecut, legi , pait, pedes, rasa, sinesep, tikta 2. Benda ‘asal rasa’: gendis, gula, uyah 3. Berarti ‘enam’: nem, retu (enam tahun), sad, 4. Hewan ‘berkaki enam’: bramara, hangga-hangga (laba-laba), kombang, semut , tawon Watak 7 (tujuh) 1. Berkaitan dengan ‘petapa’: biksu, dhita, dwija, muni , pandhita, resi, sabda, suyati wiku, yogiswara, wasita 2. Berarti ‘kuda’ : aswa, jaran, kapal, kuda, turangga , wajik. 3. Berarti ‘gunung’: ancala , ardi, arga, giri, gunung, prawata, wukir 4. Berarti ‘tujuh’: pitu, sapta, Watak 8 (delapan) 1. Berkaitan dengan ‘hewan melata’ : bajul, baya, bunglon, cecak, menyawak, slira, tanu, murti. 2. Berarti ‘gajah’: gajah, dirada , dwipangga, esthi, kunjara, liman, matengga 3. Berarti ‘naga’: naga, sawer, taksaka , ula 4. Berarti delapan : asta, wolu Watak 9 (sembilan) 1. Benda ‘berlubang’: ambuka, babahan, butul (tembus), dwara, gapura, gatra (wujug), guwa, lawang, rong, song, trusta, wiwara, wilasita, 2. Berarti ‘sembilan’: nawa, raga, rumaga, sanga. Watak 0 (nol) 1. Bersifat tidak ada atau hampa: asat, boma, gegana, ilang , murca (hilang) , musna , nir (tanpa), sirna (hilang), suwung, sunya, tan, umbul (melayang). 2. Berarti ‘langit’: akasa, gegana, dirgantara, langit, swarga, tawang ; 3. Sifat langit: duwur, inggil, luhur 4. Bersifat menuju langit : tumenga, mumbul, muluk, mesat Untuk membuat sengkalan, kalimat harus punya makna yang utuh, puitis, dan indah. Untuk tahun 2012 ini ada beberapa contoh sengkalan seperti : Nyawang Praja Adoh Lumaku. Nyekel Bumi Tanpa Tangan. Manembah Gusti tanpa Mata. Manembah Gusti Swarga Keasta. Nyembah Gusti tanpa Swiwi, dll. https://guruberbagiguruberguru.blogspot.com/2016/09/sengkalan-dan-candrasengkala.html?m=1

 SENGKALAN DAN CANDRASENGKALA


Sengkalan merupakan rangkaian kata-kata menjadi kalimat panjang yang memiliki makna, yang juga menandakan tahun perhitungan tahun jawa. Dalam tradisi jawa biasanya tahun dihitung menggunakan peredaran bulan, yang dalam bahasa jawa disebut , candra. Bermula dari sinilah kemudian susunan kata-kata menjadi rangkaian kalimat panjang yang menjadi penanda tahun tersebut disebut Candra sengkala.



Penunjukan dan pemaknaan dalam Sengkalan tersebut didasarkan menurut watak (sifat) setiap kata atau kalimat yang masing-masin bermakna angka tertentu. Tata cara pembacaan angka tahunnya dimulai dari belakang.


Menurut bentuk wujudnya, Sengkalan dibedakan menjadi 2 macam :


1. Berupa rangkaian kata menjadi kalimat disebut dengan Sengkalan Lamba.


2. Berupa rangkaian gambar lukisan yang disebut dengan Sengkalan Memet.


Adapun beberapa contoh Watak (sifat) setiap kata adalah sebagai berikut :


Watak 1 :   Gusti Allah, Janma, Srengenge, Rembulan, Bumi, Lintang, Sirah, Gulu, Nata, Irung,   Ati, Bunder, Iku, Urip, Aji, Praja, Tunggal, Wutuh, Nyata, Eko, lsp.


Watak 2 :   Tangan, Suku, Mripat, Swiwi, Alis, Penganten, Kembar, Nembah, Nyawang, Nyekel, Mireng, Lumaku, Mabur, Dwi lsp.


Watak 3:    Geni, Murub, Panas, Putri, Estri, Welut, Jurit, Kaya, Lir, Guna, Cacing, Sorot, Tri, lsp.


Watak 4:    Banyu, Segara, Kali, Kreta, Keblat, Karya, Bening, Brahmana, Satriya, Sudra, Catur, lsp.


Watak 5:    Buta, Angin, Alas, Jemparing, Tata, Pandawa, Panca,lsp.


Watak 6:    Rasa (legi, pait, asin), Tawon, Lemut, Obah, Wayang, Mangsa, Kayu, Sad,lsp


Watak 7:    Gunung, Tunggangan, Pandita, Swara, Guru, Mulang, Sapta, lsp.


Watak 8:    Gajah, Naga, Baya, Wasu, Pujangga, Tekek, Kadal, Ngesthi, Wanara, Astha,lsp.


Watak 9:    Lawang, Gapura, Guwa, Jawata, Menga, Ganda, Terus, Nawa,lsp.


Watak 0:    Suwung, Sirna, Rusak, Tanpa, Ilang, Mati, Muluk, Duwur, Awang-awang, Suwarga, Langit, Adoh, Dasa, lsp.


Contoh penggunaan Sengkalan atau Candra Sekala sepaerti :


 1. Gapura Trus Gunaning Janmi


        9            9          3            1      Menjadi 1399 tahun Jawa menunjukkan berdirinya Masjid Demak


2. Naga Muluk Tinitihan Janma


      8         0            7            1         Menjadi 1708 tahun Jawa menunjukkan berdirinya panggung   Sanggabuwana di pelataran Kraton Surakarta


3. Sirna Ilang Kretaning Bumi


       0        0          4              1          Menjadi 1499 tahun Jawa atau tahun Saka atau tahun 1478 M tahun runtuhnya Kerajaan Majapahit.


Penjelasan Sengkalan yang lain adalah sebagai berikut :


Dalam Bahasa Jawa, tembung sengkala  berarti 1) kecelakaan, halangan, 2) angka tahun yang dilambangkan dengan kata-kata, atau gambar yang mempunyai makna. Dalam artikel ini,  akan dibahas sengkala dalam arti angka tahun yang dilambangkan dengan kata-kata atau gambar yang mempunyai makna.


Kata sengkalan   ini berasal dari kata saka , dan kala . Saka adalah nama suku (Caka ) dari India yang pernah migrasi ke Jawa, dan kala yang berarti waktu, atau tahun. Jadi saka kala berarti Tahun Saka. Tahun Saka dimulai sejak Raja Saliwahana, Ajisaka, naik tahta, pada tahun 78 Masehi. Tembung saka berubah bunyi menjadi sangka , lalu berubah menjadi sengka. Tembung sengka diikuti tembung kala , menjadi sengkala .


Ada surya sengkala , yaitu sengkalan yang dibuat berdasar kalender surya (solar calendar), misalnya Tahun Masehi. Ada juga candra sengkala   yang dibuat berdasar kalender bulan (lunar calendar ), misalnya kalender Islam Hijriyah atau Kalender Jawa. Sengkalan boleh memakai kalender Masehi, Islam, atau Jawa.


Sengkalan dapat dipakai untuk menandai lahirnya seseorang, berdirinya suatu lembaga, daerah, kota, negara,  atau berdirinya suatu bangunan (istana, kantor, gapura). Bisa juga untuk menandai kematian, berakhir, bubar, atau ditutupnya suatu lembaga. 


Ada sengkalan lamba, miring, memet , dan sastra . Sengkalan lamba mempergunakan kata-kata yang sederhana , misalnya "Buta Lima Naga Siji".   Buta berwatak 5, lima berwatak 5, naga berwatak 8, dan siji berwatak 1, setelah digabung menjadi 5581, lalu dibalik, berarti tahun 1855.


Sengkalan miring merupakan sengkalan lamba juga, tetapi mempergunakan kata-kata miring (padanan), yang lebih rumit daripada  sengkalan lamba. Misalnya sengkalan "Lungiding Wasita Ambuka Bawana ". Kata lungid berarti tajam; yang dimaksud adalah tajamnya senjata (gaman ), gaman mempunyai watak 5. Kata wasita berarti pitutur jati , atau nasihat suci; pitutur jati berkaitan dengan resi, wiku , atau pandhita yang berwatak 7. Yang dimaksud dengan kata ambuka, adalah lawang atau gapura yang berwatak 9, dan kata bawana maksudnya adalah bumi yang berwatak 1. Diperoleh angka 5791, yang berarti tahun 1975.


Contoh lain, misalnya "Naga Salira Ambuka Bumi ". Naga dan salira merupakan lambang angka 8, ambuka lambang 9, dan bumi lambang 1. Jadi tersusun 8891. Susunan angka ini harus dibalik, sehingga menjadi tahun 1988.  


Menurut buku Babad Tanah Jawi (sejarah Majapahit), runtuhnya kerajaan Majapahit ditandai dgn sengkalan "Sirna Ilang Kretaning Bumi" , masing-masing menunjukkan angka 0, 0, 4, dan 1, lalu dibalik menjadi 1400 Tahun Saka atau 1478 M. Gedung DPRD Wonosobo diberi sengkalan  "Sabda Pandhawa Raga Nyawiji ", karena didirikan pada tahun 1957. Contoh lain, misalnya ada orang yang lahir pada tahun 2011 M. Mula-mula angka ini dibalik menjadi 1102, lalu pilih kata yang dianggap cocok, misalnya "Aji Budaya Muluk Samya ". Artinya: nilai budaya yg terbang (manfaat, berkembang) bersama sesama.


Sengkalan memet memakai lukisan, gambar, atau ornamen, atau memakai Huruf Jawa. Sengkalan memet dapat dijumpai pada arca, candi, atau gedung.


Di bagian bagian atas gapura magangan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, ada ornamen dua naga, yang ekornya ke mengarah atas, lalu melilit, menyatu. Ornamen ini dibaca "Dwi Naga Ngrasa Tunggal" . Dwi berwatak 2, naga berwatak 8, ngrasa berwatak 6, dan tunggal berwatak 1. Diperoleh susunan angka 2, 8, 6, dan 1,sehingga diperoleh tahun 1682, yaitu saat dibangunnya bagian itu.


Di kraton Surakarta, ada ornamen yang dibaca "Naga Muluk Tinitihan Janma" . Naga berwatak 8, muluk (terbang) berwatak 0, tinitihan (ditunggangi) berwatak 7, dan janma (manusia) berwatak 1; setelah digabung menjadi 8071, setelah dibalik menjadi 1708.


Sengkalan merupakan chronogram (Yunani; chrono : waktu, gramma : huruf). Chronogram adalah kalimat yang menyembunyikanangka-angka, yang berkaitan dengan tahun. Sebagai contoh, kalimat AM ORE M ATV RI TAS, jika diambil huruf yg bold , menjadi MMVI, lambang angka Romawi untuk tahun 2006. M y D ay C losed I I n I mmortality, adalah chronogram , yang menunjukkan tahun wafatnya Ratu Elizabeth I, MDCIII= 1603.


 Berikut adalah tembung (kata) dan wataknya.


Watak 1 (satu)


Benda atau sifat yang berwatak 1, adalah:


1. Cacahnya satu: aji (harga, nilai), bangsa , bathara , budaya, budi , dewa , dhara (perut), gusti, hyang, nabi, narendra , narpa (raja), narpati (raja), nata (raja), pangeran, praja (negara), raja, ratu. swarga (surga), tata (aturan), wani (berani), wiji (biji), urip (hidup).


2  Bentuknya bulat: bawana (bumi), bumi , candra (bulan), jagad (bumi), kartika (bintang),  rat (bumi), srengenge (matahari), surya (matahari), wulan (bulan).


3. Berarti ‘satu’: eka, nyawiji (menyatu) , siji, tunggal.


4. Berarti ‘orang’: janma, jalma, manungsa, tyas, wong


Watak 2 (dua)


Benda atau sifat yang berwatak 2, adalah:


1. Cacahnya dua : asta (tangan), kuping, mata, netra, paningal (mata), soca (mata),  swiwi (sayap), talingan (telinga), sungu (tanduk), supit.


2. Fungsi no 1 di atas: ndeleng (melihat), ndulu (melihat),  ngrungu (mendengar)


3. Berarti ‘dua’: apasang, dwi, kalih, kembar, penganten.


  Watak 3 (tiga)


1. Berarti ‘api’ : agni , dahana , geni , pawaka , puji


2. Sifat api: benter (panas), murub (menyala), kukus (asap), panas , sorot , sunar (sinar, cahaya), urub (nyala).


3. Berarti ‘tiga’: hantelu, mantri , tiga, tri, trisula, trima, ujwala, wredu


Watak   4 (empat)


1. Berkaitan dengan air: bun (embun), her , tirta, toya, samodra,   sendang, segara (laut), sindang, tasik (laut), wedang, udan.  


2. Berarti ‘empat’: papat, pat, catur, sekawan, keblat, warna (kasta)


3. Berarti ‘bekerja’: karya, karta, kirti, kretaning, pakarti


Watak 5 (lima)


1. Cacahnya lima: cakra (roda), driya (indra), indri, indriya, pandawa


2. Berarti ‘raksasa’ : buta , danawa, diyu, raseksa, raseksi, wisaya, yaksa


3. Berarti ‘senjata’: bana, gaman , panah, pusaka, sara, jemparing , warajang, lungid (tajam)


4. Berarti ‘angin’ : angin , bayu, samirana, maruta, sindung


5. Berarti ‘lima’: lima , gangsal, panca, pandawa


Watak   6 (enam)


1. Berkaitan dengan ‘rasa’: amla, asin, dura, gurih, kecut, legi ,  pait, pedes, rasa, sinesep, tikta


2. Benda ‘asal rasa’: gendis, gula, uyah


3. Berarti ‘enam’: nem, retu (enam tahun), sad,


4. Hewan ‘berkaki enam’: bramara, hangga-hangga (laba-laba),   kombang, semut , tawon


Watak 7 (tujuh)


1. Berkaitan dengan ‘petapa’: biksu, dhita, dwija, muni , pandhita, resi, sabda, suyati  wiku, yogiswara, wasita


2. Berarti ‘kuda’ : aswa, jaran, kapal, kuda, turangga , wajik.


3. Berarti ‘gunung’: ancala , ardi, arga, giri, gunung, prawata, wukir


4. Berarti ‘tujuh’: pitu, sapta,


Watak 8 (delapan)


1. Berkaitan dengan ‘hewan melata’ : bajul, baya, bunglon, cecak,   menyawak, slira, tanu, murti.  


2. Berarti ‘gajah’: gajah, dirada , dwipangga, esthi, kunjara, liman,  matengga  


3. Berarti ‘naga’: naga, sawer, taksaka , ula


4. Berarti delapan : asta, wolu  


Watak   9 (sembilan)


1. Benda ‘berlubang’: ambuka, babahan, butul (tembus), dwara, gapura, gatra (wujug), guwa, lawang, rong, song, trusta, wiwara, wilasita,   


2. Berarti ‘sembilan’: nawa, raga, rumaga, sanga.


Watak 0 (nol)


1. Bersifat tidak ada atau hampa: asat, boma, gegana, ilang , murca (hilang) , musna , nir (tanpa), sirna (hilang),  suwung, sunya, tan,   umbul (melayang).


2. Berarti ‘langit’: akasa, gegana, dirgantara, langit, swarga, tawang ;


3. Sifat langit: duwur, inggil, luhur


4. Bersifat menuju langit : tumenga, mumbul, muluk, mesat


Untuk membuat sengkalan, kalimat harus punya makna yang utuh, puitis, dan indah.


Untuk tahun 2012 ini ada beberapa contoh sengkalan seperti :


Nyawang Praja Adoh Lumaku.


Nyekel Bumi Tanpa Tangan.


Manembah Gusti tanpa Mata.


Manembah Gusti Swarga Keasta.


Nyembah Gusti tanpa Swiwi, dll.


https://guruberbagiguruberguru.blogspot.com/2016/09/sengkalan-dan-candrasengkala.html?m=1

Jejak Para Pendekar Warok Di Bumi Mataram Sejarah Kulonprogo erat kaitanya dengan kisah kehebatan para pendekar Warok asal Ponorogo. Kulonprogo sendiri berasal dari nama Kulon / Barat Ponorogo yg letak tanahnya di barat sungai Progo yang dihuni keturunan para pendekar Warok Ponorogo. Dalam babad Mataram disebutkan, pada tahun 1671, Keraton Mataram diserang oleh Trunojoyo dari Madura. Amangkurat I, Raja Mataram saat itu meninggal di Tegal, Jawa Tengah. Penerusnya, Amangkurat II meminta bantuan Belanda untuk merebut pesisir utara Jawa yang sudah dikuasai Pasukan Trunojoyo yang terdiri dari gabungan orang-orang Madura, Makassar, dan Surabaya. Selain meminta bantuan Belanda, Amangkurat II juga meminta bantuan kepada Adipati Ponorogo untuk merebut kembali tahta Kerajaan Mataram dari Trunojoyo. Adipati Ponorogo kemudian mengirim pasukan yang terdiri dari pendekar Warok. Berkat bantuan ini, Ibukota Kerajaan Mataram di Plered Bantul berhasil direbut kembali, wilayah pesisir selatan Jawa juga. Pasukan Trunojoyo dipukul mundur sampai ke Kediri. Keberadaan Pasukan Warok Ponorogo tetap dipertahankan untuk menjaga Istana Mataram. Di era Mataram, para pendekar Warok telah berkali-kali berjasa mempertahankan Mataram. Salah satunya saat merebut lagi tahta Mataram saat tragedi geger pecinan yang dipimpin Sunan Kuning. Berkat pasukan pendekar Warok Ponorogo, Keraton Mataram berhasil bertahan dari ancaman Trunojoyo. Trunojoyo sendiri akhirnya berhasil ditangkap pemerintah kolonial Belanda dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1679. Para Warok yang berhasil menjaga Keraton mendapat hadiah tempat tinggal di atas tanah perdikan di sebelah barat keraton untuk memudahkan penjagaan keraton ketika terjadi penyerangan terhadap keraton. Tanah perdikan tersebut diberi nama Kulon Ponorogo hingga di kenal saat ini menjadi Kulon Progo yang berarti Keraton Mataram sebelah Barat Ponorogo. Salah warisan dari leluhur Ponorogo adalah adanya kesenian Reog di Kulonprogo. Sampai sekarang Reog masih terus dilestarikan di daerah kecamatan Sentolo dan Lendah. Adapun saat ini, Kulonprogo sudah menjadi kabupaten dengan wilayah yang lebih luas dibandingkan dengan tanah perdikan Kulonprogo di zaman Mataram. Karena pada tahun 1945 Kesultanan Jogja dan Paku Alam menggabungkan wilayah Kabupaten Kulonporogo dengan Kabupaten Adikarto. oleh :Jamal degtyarev source ; https://musabab.com

 Jejak Para Pendekar Warok Di Bumi Mataram


Sejarah Kulonprogo erat kaitanya dengan kisah kehebatan para pendekar Warok asal Ponorogo. Kulonprogo sendiri berasal dari nama Kulon / Barat Ponorogo yg letak tanahnya di barat sungai Progo yang dihuni keturunan para pendekar Warok Ponorogo.



Dalam babad Mataram disebutkan, pada tahun 1671, Keraton Mataram diserang oleh Trunojoyo dari Madura. Amangkurat I, Raja Mataram saat itu meninggal di Tegal, Jawa Tengah.


Penerusnya, Amangkurat II meminta bantuan Belanda untuk merebut pesisir utara Jawa yang sudah dikuasai Pasukan Trunojoyo yang terdiri dari gabungan orang-orang Madura, Makassar, dan Surabaya.


Selain meminta bantuan Belanda, Amangkurat II juga meminta bantuan kepada Adipati Ponorogo untuk merebut kembali tahta Kerajaan Mataram dari Trunojoyo.


Adipati Ponorogo kemudian mengirim pasukan yang terdiri dari pendekar Warok. Berkat bantuan ini, Ibukota Kerajaan Mataram di Plered Bantul berhasil direbut kembali, wilayah pesisir selatan Jawa juga.


 


Pasukan Trunojoyo dipukul mundur sampai ke Kediri. Keberadaan Pasukan Warok Ponorogo tetap dipertahankan untuk menjaga Istana Mataram.


Di era Mataram, para pendekar Warok telah berkali-kali berjasa mempertahankan Mataram. Salah satunya saat merebut lagi tahta Mataram saat tragedi geger pecinan yang dipimpin Sunan Kuning.


 


Berkat pasukan pendekar Warok Ponorogo, Keraton Mataram berhasil bertahan dari ancaman Trunojoyo. Trunojoyo sendiri akhirnya berhasil ditangkap pemerintah kolonial Belanda dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1679.


Para Warok yang berhasil menjaga Keraton mendapat hadiah tempat tinggal di atas tanah perdikan di sebelah barat keraton untuk memudahkan penjagaan keraton ketika terjadi penyerangan terhadap keraton. 


Tanah perdikan tersebut diberi nama Kulon Ponorogo hingga di kenal saat ini menjadi Kulon Progo yang berarti Keraton Mataram sebelah Barat Ponorogo.


Salah warisan dari leluhur Ponorogo adalah adanya kesenian Reog di Kulonprogo. Sampai sekarang Reog masih terus dilestarikan di daerah kecamatan Sentolo dan Lendah. 


Adapun saat ini, Kulonprogo sudah menjadi kabupaten dengan wilayah yang lebih luas dibandingkan dengan tanah perdikan Kulonprogo di zaman Mataram. Karena pada tahun 1945 Kesultanan Jogja dan Paku Alam menggabungkan wilayah Kabupaten Kulonporogo dengan Kabupaten Adikarto.


oleh :Jamal degtyarev


source ; https://musabab.com

WAJAH PATIH GAJAH MADA Ada sebuah Arca yang berada di Museum Nasional bernama Kertala atau disebut juga Arca Brajanata. Museum Nasional memberi nomor inventaris 310d dan disebut berasal dari Gunung Penanggungan. Arca Kertala atau Arca Brajanata oleh Prof. Dr. Muhammad Yamin dikatakan merupakan perwujudan lain dari Mahapatih dari Kerajaan Majapahit, yaitu : Mahapatih Gajah Mada. Pada suatu hari Prof. Dr. Muhammad Yamin pernah mengunjungi Trowulan untuk melihat jejak-jejak Kerajaan Majapahit. Saat itulah Prof. Dr. Muhammad Yamin menemukan pecahan terakota berupa kepala pria berwajah gempal dan berambut ikal. Menurut pendapatnya Arca Kertala atau Arca Bratanala ini digali dekat puri Gajah Mada di Trowulan, Majapahit. Prof. Dr. Muhammad Yamin mengidentifikasi bahwa wajah itu sebagai wajah Gajah Mada. Menurutnya dalam Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara, air muka arca itu penuh dengan kegiatan yang mahatangkas. Wajahnya menyinarkan keberanian seorang ahli politikus yang berpandangan jauh. Hal yang berbeda disampaikan oleh Arkeolog dari Universitas Indonesia, bernama Agus Aris Munandar berpendapat lain soal wajah Gajah Mada. Dalam Gajah Mada Biografi Politik, ia menjelaskan arca Brajanata dan Bima sebagai dua perkembangan dari penggambaran Gajah Mada. Mahapatih Gajah Mada atau Mpu Mada sudah meninggal dunia 1364 Masehi, dal versi yang lain dianggap mokhsa namun tetap dikenang dan pada masa Majapahit dianggap sebagai titisan Dewa. Menurut pendapat dari Agus Aris Munandar : " Gajahmada dipandang sebagai dewata yang dapat dimintai pertolongan masyarakat yang sengsara akibat peperangan,” Selepas Hayam Wuruk, perang terus terjadi di Majapahit. Pada masa itu pula arca-arca perwujudan Gajah Mada terus diciptakan. Nampaknya masyarakat ingin mendatangkan kembali masa gemilang pemerintahan raja dan patihnya itu. Gajah Mada Berwujud Brajanata Kisah Panji, menurut Agus Aris Munandar juga menyimpan metafora kehidupan Raja Hayam Wuruk. Penggambaran Kisah Panji pertama kali terdapat di Candi Miri Gambar, Blitar. Candi ini didirikan setelah Hayam Wuruk wafat dan saat menantunya, Raja Wikramawarddhana berkuasa. Kisah ini dihiasi dengan tokoh Panji dan Brajanata, dua tokoh yang paling dominan dalam beberapa kisah panji paling awal. Tokoh-tokoh utama dalam Kisah Panji bisa disejajarkan dengan tokoh sejarah pada masa Majapahit. Misalnya Raden Panji adalah Raja Hayam Wuruk. Ayahanda Panji, Raja Keling atau Raja Jenggala atau Raja Kahuripan adalah Kertawarddhana alias Raden Cakradhara. Ibunda Panji adalah permaisuri dari Raja Keling yaitu : Tribhuwana Wijayottunggadewi karena Ibu Hayam Wuruk ini juga memiliki gelar Bhre Kahuripan. Sedangkan Raja Daha adalah paman Panji. Kenyataannya, Raja Daha juga paman Hayam Wuruk dan Permaisuri Raja Daha atau bibi dari Raja Hayam Wuruk bergelar Bhre Daha. Dewi Sekar Taji, putri dari Raja Daha adalah permaisuri Raden Panji. Dalam sejarah Majapahit, permaisuri Raja Hayam Wuruk adalah sepupunya sendiri, yaitu putri dari Bhre Daha. Dalam Kitab Pararaton namanya disebut Paduka Sori. Lalu kekasih Raden Panji, yaitu : Dewi Angreni bisa dipadankan dengan putri dari Sunda yang bunuh diri dalam peristiwa Bubat yaitu : Dyah Pitaloka. Dengan banyaknya kesamaan penokohan itu, rasanya tidak berlebihan jika menyamakan Raden Brajanata sebagai Gajah Mada. Raden Brajanata adalah kakak Raden Panji yang berbeda ibu. Namanya disebut dalam Hikayat Panji Kuda Semirang dan Hikayat Panji Angreni dari Palembang. Peranan Brajanata mirip dengan Gajah Mada. Brajanata juga selalu mengawal Raden Panji, sebagaimana Gajah Mada dengan Hayam Wuruk. " Brajanata dalam kisahnya disuruh ayah dan . ibu dari Raden Panji untuk menghabisi Dewi Angreni. " Brajanata digambarkan tinggi besar, badan tegap, berkumis tebal, berambut ikal dan mungkin merupakan ikon dari Gajah Mada " Itu sesuai dengan pendapat Poerbatjaraka dalam Tjerita Pandji dalam Perbandingan mengenai relief Panji Gambyok di Kediri. Tokoh berambut ikal dan berbadan tegap itu adalah Brajanata. Arca Brajanata Dengan demikian, menurut Agus, arca koleksi Museum Nasional bernomor inventaris 310d dari Gunung Penanggungan yang dinamai Kertala lebih tepat jika diidentifikasi sebagai Brajanata. “Arca itu sangat mirip dengan figur pria tegap berambut keriting yang digambarkan di kanan kiri pipi tangga Candi Miri,” katanya. Apalagi tokoh Kertala dalam Cerita Panji hanya berperan sedikit jika dibandingkan dengan pengiring Raden Panji yang lainnya, seperti Brajanata, Carang Waspa, atau Prasanta. “Tokoh yang diarcakan tentunya tokoh yang mengesankan, tidak cukup hanya dalam relief, melainkan perlu sosok arcanya,” kata Agus Aris Munandar. Maka jika Brajanata adalah ikon Gajah Mada, Arca Brajanata itu dapat ditafsirkan sebagai penggambaran dari Gajah Mada. Arca itu menampilkan sosok berbadan tegap, kumis melintang, rambut ikal berombak, di bagian puncak kepala terdapat ikatan rambut dengan pita membentuk topi tekes. Ia mengenakan busana, gelang dan kelat lengan atas berupa ular. Lingga atau bagian kemaluannya diukir menonjol. Namun seiring waktu pandangan masyarakat berubah. Gajah Mada kemudian lebih banyak digambarkan sebagai Bima. Pada masa akhir Majapahit, pertengahan abad ke-15, banyak dibuat arca Bima yang cirinya mirip dengan arca tokoh Brajanata. “Hal itu bukanlah kebetulan belaka,” kata Agus Aris Munandar. * Gajah Mada sebagai Bima Arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Triwurjani juga menjelaskan dalam “Bima sebagai Tokoh yang Dikultuskan” termuat di Proceedings Pertemuan Ilmiah Arkeologi V, bahwa kurang lebih pada awal abad ke-15 muncul kultus terhadap tokoh Bima yang dikenal dari kisah Mahabharata. Arca Bima beberapa kali ditemukan pada bangunan suci yang terdapat di beberapa daerah di Jawa Timur. Misalnya Arca Bima dari Trenggalek, Jawa Timur. Di bagian belakang Arca Bima itu terdapat inskripsi. Model tulisannya sejaman dengan prasasti yang dikeluarkan oleh Gajah Mada pada tahun 1357. “…Pada waktu itu… pendeta Mpu Wirata… memberikan pratistha kepada telapak…,” tulisan dalam inkskripsi itu. Menurut Triwurjani adanya kata pratistha dapat berarti bahwa arca itu adalah arca perwujudan. Ini disepakati oleh Agus Aris Munandar. Arca itu sesuai dengan ciri arca perwujudan masa Majapahit. Sikap arca tidak memperlihatkan gerak tubuh. Kedua tangan terjulur di samping tubuh. Mata digambarkan setengah terpejam seperti sikap meditasi. Agus Aris Munandar juga mengaitkan tokoh itu sebagai perwujudan Gajah Mada. Secara fisik Arca Bima berkumis, berbadan tegap, kemaluannya menonjol dari balik kain. Dan hal ini mirip dengan arca Brajanata. Bedanya hanya pada tata rambut. Brajanata rambutnya menyerupai tutup kepala tekes. Arca Bima rambutnya berbentuk supit urang. Dalam Arca Bima dari Trenggalek ini Bima juga digambarkan memiliki kuku yang panjang dan disebut Pancanaka. Menurut Agus Aris Munandar gejala itu juga menunjukkan ada pergeseran penggambaran dari Gajah Mada sebagai Brajanata ke dalam penggambarannya sebagai tokoh Bima. “Para pemuja dan pengagum Gajah Mada mulai pertengahan abad ke-15 lebih menyukai mengarcakan Gajah Mada sebagai Arca Bima daripada sebagai Arca Brajanata,” Alasannya, tokoh Bima lebih terkenal dibanding Brajanata. Tokoh Brajanata baru dikenal dalam karya sastra muda, yaitu Kisah Panji. Kisah ini baru berkembang pada era Majapahit akhir. Sementara tokoh Bima sudah dikenal sejak masuknya pengaruh India dan Hindu ke Jawa. Tokoh Bima terkesan lebih sakral dibanding Brajanata. Bila Brajanata adalah manusia biasa maka Bima adalah aspek Siwa yang berwujud manusia. “Karenanya pengagum Gajah Mada lebih senang menyetarakannya dengan Bima,” Menurut Agus, tokoh Bima punya kesamaan dengan Gajah Mada. Berdasarkan namanya, Gajah Mada, bisa dibayangkan orangnya tinggi besar dan bertenaga besar seperti Gajah. Bima kebetulan mempunyai kemiripan perawakan dengan Gajah Mada. Sebenarnya banyak juga tokoh yang bercirikan seperti itu dalam kisah epos Mahabharata. Namun Bima lebih punya banyak peran. Tokoh Bima juga ditempatkan sebagai tokoh protagonis dalam kisah epos Mahabharata. Dalam konsep agama, Bima juga disetarakan dengan Gajah Mada. Dalam Kitab Jawa Kuno, Brahmanda Purana, menyebut Bima sebagai aspek Siwa. Sedangkan raja-raja Majapahit seringkali disetarakan sebagai Siwa. Maka, Patih Amangkubhumi-nya sebagai aspek dari Sang Dewa. Selama ini Arca Bima banyak ditemukan dari masa Kerajaan Majapahit. Pertanyaannya : " Siapakah yang hendak diwujudkan oleh arca itu..? " Dan Agus Aris Munandar yakin, tokoh yang dimaksud adalah Sang Mahapatih Gajah Mada. Sumber : Historia

 WAJAH  PATIH GAJAH MADA 

 

Ada sebuah Arca yang berada di Museum Nasional bernama Kertala  atau disebut juga Arca Brajanata. Museum Nasional memberi nomor inventaris 310d dan disebut berasal dari Gunung Penanggungan. Arca Kertala atau Arca  

Brajanata oleh Prof. Dr. Muhammad Yamin dikatakan merupakan perwujudan lain dari Mahapatih dari Kerajaan Majapahit, yaitu :  Mahapatih Gajah Mada. Pada suatu hari Prof. Dr. Muhammad Yamin pernah mengunjungi Trowulan untuk melihat jejak-jejak Kerajaan Majapahit. Saat itulah Prof. Dr. Muhammad Yamin menemukan pecahan terakota berupa kepala pria berwajah gempal dan berambut ikal. Menurut pendapatnya Arca Kertala atau Arca Bratanala ini digali dekat puri Gajah Mada di Trowulan, Majapahit. 



Prof. Dr. Muhammad Yamin mengidentifikasi bahwa wajah itu sebagai wajah Gajah Mada. Menurutnya dalam Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara, air muka arca itu penuh dengan kegiatan yang mahatangkas. Wajahnya menyinarkan keberanian seorang ahli politikus yang berpandangan jauh.


Hal yang berbeda disampaikan oleh Arkeolog dari Universitas Indonesia, bernama Agus Aris Munandar berpendapat lain soal wajah Gajah Mada. Dalam Gajah Mada Biografi Politik, ia menjelaskan arca Brajanata dan Bima sebagai dua perkembangan dari penggambaran Gajah Mada.


Mahapatih Gajah Mada atau Mpu Mada sudah meninggal dunia 1364 Masehi, dal versi yang lain dianggap mokhsa namun tetap dikenang dan pada masa Majapahit dianggap sebagai titisan Dewa. Menurut pendapat dari Agus Aris Munandar : 

" Gajahmada dipandang sebagai dewata yang dapat dimintai pertolongan masyarakat yang sengsara akibat peperangan,” 

Selepas Hayam Wuruk, perang terus terjadi di Majapahit. Pada masa itu pula arca-arca perwujudan Gajah Mada terus diciptakan. Nampaknya masyarakat ingin mendatangkan kembali masa gemilang pemerintahan raja dan patihnya itu.


Gajah Mada Berwujud Brajanata


Kisah Panji, menurut Agus Aris Munandar juga 

menyimpan metafora kehidupan Raja Hayam Wuruk. Penggambaran Kisah Panji pertama kali terdapat di Candi Miri Gambar, Blitar. 

Candi ini didirikan setelah Hayam Wuruk wafat dan saat menantunya, Raja Wikramawarddhana berkuasa. Kisah ini dihiasi dengan tokoh Panji dan Brajanata, dua tokoh yang paling dominan dalam beberapa kisah panji paling awal.


Tokoh-tokoh utama dalam Kisah Panji bisa disejajarkan dengan tokoh sejarah pada masa Majapahit. Misalnya Raden Panji adalah Raja   Hayam Wuruk. Ayahanda Panji, Raja Keling atau Raja Jenggala atau Raja Kahuripan adalah Kertawarddhana alias Raden Cakradhara. Ibunda Panji adalah permaisuri dari Raja Keling yaitu : Tribhuwana Wijayottunggadewi karena  Ibu Hayam Wuruk ini juga memiliki gelar Bhre Kahuripan. Sedangkan Raja Daha adalah paman Panji. Kenyataannya, Raja Daha juga paman Hayam Wuruk dan Permaisuri Raja Daha atau bibi dari Raja Hayam Wuruk bergelar Bhre Daha.


Dewi Sekar Taji, putri dari Raja Daha adalah permaisuri Raden Panji. Dalam sejarah Majapahit, permaisuri Raja Hayam Wuruk adalah sepupunya sendiri, yaitu putri dari Bhre Daha. Dalam Kitab Pararaton namanya disebut  Paduka Sori. Lalu kekasih Raden Panji, yaitu : Dewi Angreni bisa dipadankan dengan putri dari  Sunda yang bunuh diri dalam peristiwa Bubat yaitu : Dyah Pitaloka.


Dengan banyaknya kesamaan penokohan itu, rasanya tidak berlebihan jika menyamakan Raden Brajanata sebagai Gajah Mada. 

Raden Brajanata adalah kakak Raden Panji yang berbeda ibu. Namanya disebut dalam Hikayat Panji Kuda Semirang dan Hikayat Panji Angreni dari Palembang.


Peranan Brajanata mirip dengan Gajah Mada. Brajanata juga selalu mengawal Raden Panji, sebagaimana Gajah Mada dengan Hayam Wuruk. 

" Brajanata dalam kisahnya disuruh ayah dan  

. ibu dari Raden Panji untuk menghabisi Dewi 

   Angreni.

" Brajanata digambarkan tinggi besar, badan

   tegap, berkumis tebal, berambut ikal dan 

   mungkin merupakan ikon dari Gajah Mada " 


Itu sesuai dengan pendapat Poerbatjaraka dalam Tjerita Pandji dalam Perbandingan mengenai relief Panji Gambyok di Kediri. 

Tokoh berambut ikal dan berbadan tegap itu adalah Brajanata.


Arca Brajanata


Dengan demikian, menurut Agus, arca koleksi Museum Nasional bernomor inventaris 310d dari Gunung Penanggungan yang dinamai Kertala lebih tepat jika diidentifikasi sebagai Brajanata. “Arca itu sangat mirip dengan figur pria tegap berambut keriting yang digambarkan di kanan kiri pipi tangga Candi Miri,” katanya.


Apalagi tokoh Kertala dalam Cerita Panji hanya berperan sedikit jika dibandingkan dengan pengiring Raden Panji yang lainnya, seperti Brajanata, Carang Waspa, atau Prasanta. “Tokoh yang diarcakan tentunya tokoh yang mengesankan, tidak cukup hanya dalam relief, melainkan perlu sosok arcanya,” kata Agus Aris Munandar. 


Maka jika Brajanata adalah ikon Gajah Mada, Arca Brajanata  itu dapat ditafsirkan sebagai penggambaran dari Gajah Mada. Arca itu menampilkan sosok berbadan tegap, kumis melintang, rambut ikal berombak, di bagian puncak kepala terdapat ikatan rambut dengan pita membentuk topi tekes. Ia mengenakan busana, gelang dan kelat lengan atas berupa ular. Lingga atau bagian kemaluannya diukir menonjol.


Namun seiring waktu pandangan masyarakat berubah. Gajah Mada kemudian lebih banyak digambarkan sebagai Bima. Pada masa akhir Majapahit, pertengahan abad ke-15, banyak dibuat arca Bima yang cirinya mirip dengan arca tokoh Brajanata.

“Hal itu bukanlah kebetulan belaka,” kata Agus

  Aris Munandar. 


* Gajah Mada sebagai Bima


Arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Triwurjani juga  menjelaskan dalam “Bima sebagai Tokoh yang Dikultuskan” termuat di Proceedings Pertemuan Ilmiah Arkeologi V, bahwa kurang lebih pada awal abad ke-15 muncul kultus terhadap tokoh Bima yang dikenal dari kisah Mahabharata. Arca Bima beberapa kali ditemukan pada bangunan suci yang terdapat di beberapa daerah di Jawa Timur. Misalnya Arca Bima dari Trenggalek, Jawa Timur. Di bagian belakang Arca Bima itu terdapat inskripsi. Model tulisannya sejaman dengan prasasti yang dikeluarkan oleh Gajah Mada pada tahun 1357.


“…Pada waktu itu… pendeta Mpu Wirata… memberikan pratistha kepada telapak…,” tulisan dalam inkskripsi itu.


Menurut Triwurjani adanya kata pratistha dapat  berarti bahwa arca itu adalah arca perwujudan. Ini disepakati oleh Agus Aris Munandar. Arca itu sesuai dengan ciri arca perwujudan masa Majapahit. Sikap arca tidak memperlihatkan gerak tubuh. Kedua tangan terjulur di samping tubuh. Mata digambarkan setengah terpejam seperti sikap meditasi. Agus Aris Munandar juga mengaitkan tokoh itu sebagai perwujudan Gajah Mada.


Secara fisik Arca Bima berkumis, berbadan tegap, kemaluannya menonjol dari balik kain. Dan hal ini mirip dengan arca Brajanata. Bedanya hanya pada tata rambut. Brajanata rambutnya menyerupai tutup kepala tekes. Arca Bima rambutnya berbentuk supit urang. Dalam Arca Bima dari Trenggalek ini Bima juga digambarkan memiliki kuku yang panjang dan disebut Pancanaka. 


Menurut Agus Aris Munandar gejala itu juga  menunjukkan ada pergeseran penggambaran dari Gajah Mada sebagai Brajanata ke dalam  penggambarannya sebagai tokoh Bima. 

“Para pemuja dan pengagum Gajah Mada mulai pertengahan abad ke-15 lebih menyukai mengarcakan Gajah Mada sebagai Arca Bima daripada sebagai Arca Brajanata,” 


Alasannya, tokoh Bima lebih terkenal dibanding Brajanata. Tokoh Brajanata baru dikenal dalam karya sastra muda, yaitu Kisah Panji. Kisah ini baru berkembang pada era Majapahit akhir. Sementara tokoh Bima sudah dikenal sejak masuknya pengaruh India dan Hindu ke Jawa. Tokoh Bima terkesan lebih sakral dibanding Brajanata. Bila Brajanata adalah manusia biasa maka Bima adalah aspek Siwa yang berwujud manusia.

 “Karenanya pengagum Gajah Mada lebih

   senang menyetarakannya dengan Bima,” 


Menurut Agus, tokoh Bima punya kesamaan dengan Gajah Mada. Berdasarkan namanya, Gajah Mada, bisa dibayangkan orangnya tinggi besar dan bertenaga besar seperti Gajah. Bima kebetulan mempunyai kemiripan perawakan dengan Gajah Mada. Sebenarnya banyak juga tokoh yang bercirikan seperti itu dalam kisah epos Mahabharata. Namun Bima lebih punya banyak peran. Tokoh Bima juga ditempatkan sebagai tokoh protagonis dalam kisah epos Mahabharata. 


Dalam konsep agama, Bima juga disetarakan dengan Gajah Mada. Dalam Kitab Jawa Kuno, Brahmanda Purana, menyebut Bima sebagai aspek Siwa. Sedangkan raja-raja Majapahit seringkali disetarakan sebagai Siwa. Maka, Patih Amangkubhumi-nya sebagai aspek dari Sang Dewa. Selama ini Arca Bima banyak ditemukan dari masa Kerajaan Majapahit. Pertanyaannya : " Siapakah yang hendak diwujudkan oleh arca itu..? "

Dan Agus Aris Munandar yakin, tokoh yang dimaksud adalah Sang Mahapatih Gajah Mada.


Sumber : Historia

Sejarah Pasukan Bhayangkara, Tentaranya Kerajaan Majapahit. Didirikan pada masa Kerajaan Singasari Bhayangkara adalah pasukan khusus yang bertugas pada masa Kerajaan Majapahit. Walaupun Pasukan Bhayangkara beroperasi pada masa Kerajaan Majapahit, sebenarnya pasukan ini sudah ada pada masa Kerajaan Singasari tepatnya pada masa Kertanegara, Raja Singasari. Pasukan Bhayangkara awalnya diciptakan untuk misi pengawalan raja dan keluarganya. Pasukan Bhayangkara baru dikenal secara luas pada masa Jayanegara, Raja Majapahit. Pada masa itu pasukan Bhayangkara yang dipimpin Gajah Mada berhasil menumpas pemberontakan Ra Kuti. Militer penuh waktu. Mayoritas tentara pada masa kerajaan Majapahit adalah milisi, yang berarti mereka hanya dipanggil pada saat perang saja dan pada masa damai mereka beraktifitas sebagaimana masyarakat biasa. Kebanyakan dari milisi berprofesi sebagai petani atau rakyat biasa. Sedangkan Pasukan Bhayangkara adalah pasukan tetap, yaitu dimana pasukan itu ditugaskan penuh waktu dan digaji oleh negara, bahkan pasukan Bhayangkara mendapatkan uang pensiun ketika sudah tidak aktif lagi. Mereka kadang-kadang mendapatkan hadiah tanah apabila berhasil menaklukkan wilayah musuh. #history #tempodulu #indonesia #nusantara

 Sejarah Pasukan Bhayangkara, Tentaranya Kerajaan Majapahit.


Didirikan pada masa Kerajaan Singasari

Bhayangkara adalah pasukan khusus yang bertugas pada masa Kerajaan Majapahit.


Walaupun Pasukan Bhayangkara beroperasi pada masa Kerajaan Majapahit, sebenarnya pasukan ini sudah ada pada masa Kerajaan Singasari tepatnya pada masa Kertanegara, Raja Singasari. Pasukan Bhayangkara awalnya diciptakan untuk misi pengawalan raja dan keluarganya.


Pasukan Bhayangkara baru dikenal secara luas pada masa Jayanegara, Raja Majapahit. Pada masa itu pasukan Bhayangkara yang dipimpin Gajah Mada berhasil menumpas pemberontakan Ra Kuti.



Militer penuh waktu.


Mayoritas tentara pada masa kerajaan Majapahit adalah milisi, yang berarti mereka hanya dipanggil pada saat perang saja dan pada masa damai mereka beraktifitas sebagaimana masyarakat biasa. Kebanyakan dari milisi berprofesi sebagai petani atau rakyat biasa.


Sedangkan Pasukan Bhayangkara adalah pasukan tetap, yaitu dimana pasukan itu ditugaskan penuh waktu dan digaji oleh negara, bahkan pasukan Bhayangkara mendapatkan uang pensiun ketika sudah tidak aktif lagi. Mereka kadang-kadang mendapatkan hadiah tanah apabila berhasil menaklukkan wilayah musuh.


#history #tempodulu #indonesia #nusantara

Kelompok yang membuat belanda kerepotan! Samin Surosentiko atau dikenal dengan suku samin. Perlawanan mereka terhadap belanda cukup membuat koloni belanda kerepotan. Pasalnya suku samin melakukan perlawanan dengan elegan yaitu tidak patuh atau "nurut" kepada kebijakan atau aturan yang ditetapkan belanda tempo dulu. Blora, Jawa Tengah, Indonesia Sumber. Radar mukomuko 📷 Tropenmuseum

 Kelompok yang membuat belanda kerepotan! Samin Surosentiko atau dikenal dengan suku samin. Perlawanan mereka terhadap belanda cukup membuat koloni belanda kerepotan. Pasalnya suku samin melakukan perlawanan dengan elegan yaitu tidak patuh atau "nurut" kepada kebijakan atau aturan yang ditetapkan belanda tempo dulu. 



Blora, Jawa Tengah, Indonesia 

Sumber. Radar mukomuko

📷 Tropenmuseum

Kita coba renungkan bagaimana perjuangan para pahlawan kita pada masa lampau. Meski kemerdekaan sudah dideklarasikan, kekuatan asing tetap saja memantau pergerakan kita pada masa itu, bahkan hingga kini kita bangsa indonesia tidak boleh lengah karena banyak cara licik yang bisa ditempuh kekuatan asing untuk menguasai kembali republik tercinta ini. Ini adalah potret para pejuang kemerdekaan Indonesia yang tertangkap pasukan Belanda, mereka dikumpulkan dan dikepung tentara Belanda dan selanjutnya tidak ada yang tahu nasib mereka, Kopeng-Salatiga, sekitar Oktober 1947. • Sumber : National Archief - Th. van de Burgt Posted : #TEMPODOELOE

 Kita coba renungkan bagaimana perjuangan para pahlawan kita pada masa lampau. Meski kemerdekaan sudah dideklarasikan, kekuatan asing tetap saja memantau pergerakan kita pada masa itu, bahkan hingga kini kita bangsa indonesia tidak boleh lengah karena banyak cara licik yang bisa ditempuh kekuatan asing untuk menguasai kembali republik tercinta ini. Ini adalah potret para pejuang kemerdekaan Indonesia yang tertangkap pasukan Belanda, mereka dikumpulkan dan dikepung tentara Belanda dan selanjutnya tidak ada yang tahu nasib mereka, Kopeng-Salatiga, sekitar Oktober 1947.



Sumber : National Archief - Th. van de Burgt

Posted  : #TEMPODOELOE

SUKU JAWA Suku Jawa, atau dikenal sebagai Tiyang Jawi (krama) dan Wong Jawa (ngoko), adalah suku bangsa Austronesia terbesar di Indonesia, berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tahun 2010, sekitar 40,22% penduduk Indonesia adalah etnis Jawa. Tidak hanya di Indonesia, suku Jawa juga tersebar di Kaledonia Baru dan Suriname sebagai warisan era kolonial Belanda, serta di berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Arab Saudi, dan Belanda. Mayoritas orang Jawa adalah Muslim, dengan minoritas Kristen, Kejawen, Hindu, dan Buddha. Kebudayaan Jawa yang kaya telah dipengaruhi oleh lebih dari seribu tahun interaksi antara budaya Kejawen dan Hindu-Buddha, yang masih terlihat dalam sejarah, tradisi, dan seni Jawa. Dengan populasi global yang besar, suku Jawa menjadi kelompok etnis terbesar kelima di antara umat Islam di dunia, setelah bangsa Arab, Bengali, Punjabi, dan Turki. Suku Jawa juga memiliki beberapa sub-suku seperti Banyumasan, Cirebon, Osing, Samin, Tengger, Jawa Merauke, dan Jawa Suriname. Masyarakat Jawa adalah hasil perpaduan genetik antara orang Austroasiatik dan Austronesia, dengan sekitar 20-30% gen Austronesia dan 50-60% gen Austroasiatik. Adopsi bahasa Austronesia oleh penduduk awal Jawa terjadi sebagai bentuk adaptasi dalam perdagangan dan pertukaran budaya. Budaya Jawa yang sangat kompleks menekankan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian dalam kehidupan sehari-hari, menjunjung tinggi kesopanan dan kesederhanaan. Budaya Jawa, yang meliputi wayang kulit, keris, batik, dan gamelan, juga tersebar di luar Jawa. Wayang remaja dari LSM Kampung Halaman di Yogyakarta mendapat penghargaan seni dari AS pada tahun 2011. Gamelan Jawa diajarkan di Universitas Victoria Wellington, Selandia Baru, dan rutin dipentaskan di AS dan Eropa. Sastra Jawa seperti Nagarakretagama diakui UNESCO sebagai Memori Dunia. Pengaruh budaya Jawa juga terlihat di luar Indonesia, termasuk Malaysia, Singapura, dan Thailand Selatan, terutama pada era Majapahit. Bahasa Jawa adalah bahasa Austronesia dengan banyak serapan dari bahasa Sanskerta. Pada awal 1990-an, survei majalah Tempo menunjukkan bahwa mayoritas orang Jawa masih menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Jawa memiliki aturan perbedaan kosakata dan intonasi berdasarkan hubungan sosial, yang dikenal sebagai unggah-ungguh. Meskipun aksara Jawa semakin tergantikan oleh huruf Latin, aksara ini masih diajarkan di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Mayoritas orang Jawa adalah Muslim (sekitar 96%), dengan perbedaan kultur antara kaum Santri dan Abangan. Kaum Santri mengamalkan ajaran Islam secara syariat, sedangkan kaum Abangan masih terpengaruh kuat oleh Kejawen. Selain Islam, orang Jawa juga ada yang menganut agama Kristen (sekitar 3%), Hindu, Buddha, dan Kejawen. Komunitas Jawa Hindu dapat ditemukan di kawasan pegunungan Bromo Tengger Semeru, dan komunitas Jawa Buddha di desa Kalimanggis, Temanggung. Budaya Jawa adalah warisan yang kaya dan berharga, dengan nilai-nilai dan tradisi yang masih dijaga dan dihormati oleh masyarakat Jawa hingga saat ini. Jika ada kesalahan pada pembahasan ini, mohon berikan kritikan ke saya, akan saya perbaiki 🙏

 SUKU JAWA

Suku Jawa, atau dikenal sebagai Tiyang Jawi (krama) dan Wong Jawa (ngoko), adalah suku bangsa Austronesia terbesar di Indonesia, berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tahun 2010, sekitar 40,22% penduduk Indonesia adalah etnis Jawa. Tidak hanya di Indonesia, suku Jawa juga tersebar di Kaledonia Baru dan Suriname sebagai warisan era kolonial Belanda, serta di berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Arab Saudi, dan Belanda.



Mayoritas orang Jawa adalah Muslim, dengan minoritas Kristen, Kejawen, Hindu, dan Buddha. Kebudayaan Jawa yang kaya telah dipengaruhi oleh lebih dari seribu tahun interaksi antara budaya Kejawen dan Hindu-Buddha, yang masih terlihat dalam sejarah, tradisi, dan seni Jawa. Dengan populasi global yang besar, suku Jawa menjadi kelompok etnis terbesar kelima di antara umat Islam di dunia, setelah bangsa Arab, Bengali, Punjabi, dan Turki. Suku Jawa juga memiliki beberapa sub-suku seperti Banyumasan, Cirebon, Osing, Samin, Tengger, Jawa Merauke, dan Jawa Suriname.


Masyarakat Jawa adalah hasil perpaduan genetik antara orang Austroasiatik dan Austronesia, dengan sekitar 20-30% gen Austronesia dan 50-60% gen Austroasiatik. Adopsi bahasa Austronesia oleh penduduk awal Jawa terjadi sebagai bentuk adaptasi dalam perdagangan dan pertukaran budaya. Budaya Jawa yang sangat kompleks menekankan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian dalam kehidupan sehari-hari, menjunjung tinggi kesopanan dan kesederhanaan.


Budaya Jawa, yang meliputi wayang kulit, keris, batik, dan gamelan, juga tersebar di luar Jawa. Wayang remaja dari LSM Kampung Halaman di Yogyakarta mendapat penghargaan seni dari AS pada tahun 2011. Gamelan Jawa diajarkan di Universitas Victoria Wellington, Selandia Baru, dan rutin dipentaskan di AS dan Eropa. Sastra Jawa seperti Nagarakretagama diakui UNESCO sebagai Memori Dunia. Pengaruh budaya Jawa juga terlihat di luar Indonesia, termasuk Malaysia, Singapura, dan Thailand Selatan, terutama pada era Majapahit.


Bahasa Jawa adalah bahasa Austronesia dengan banyak serapan dari bahasa Sanskerta. Pada awal 1990-an, survei majalah Tempo menunjukkan bahwa mayoritas orang Jawa masih menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Jawa memiliki aturan perbedaan kosakata dan intonasi berdasarkan hubungan sosial, yang dikenal sebagai unggah-ungguh. Meskipun aksara Jawa semakin tergantikan oleh huruf Latin, aksara ini masih diajarkan di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.


Mayoritas orang Jawa adalah Muslim (sekitar 96%), dengan perbedaan kultur antara kaum Santri dan Abangan. Kaum Santri mengamalkan ajaran Islam secara syariat, sedangkan kaum Abangan masih terpengaruh kuat oleh Kejawen. Selain Islam, orang Jawa juga ada yang menganut agama Kristen (sekitar 3%), Hindu, Buddha, dan Kejawen. Komunitas Jawa Hindu dapat ditemukan di kawasan pegunungan Bromo Tengger Semeru, dan komunitas Jawa Buddha di desa Kalimanggis, Temanggung.


Budaya Jawa adalah warisan yang kaya dan berharga, dengan nilai-nilai dan tradisi yang masih dijaga dan dihormati oleh masyarakat Jawa hingga saat ini.


Jika ada kesalahan pada pembahasan ini, mohon berikan kritikan ke saya, akan saya perbaiki 🙏

GELAR 'ANDI': WARISAN KOLONIAL ATAU SIMBOL KEBANGSAWANAN BUGIS-MAKASSAR?" Apakah Anda pernah mendengar nama "Andi" di awal nama seseorang? Atau mungkin Anda memiliki teman dengan nama yang diawali oleh gelar ini? Di kalangan masyarakat Bugis-Makassar, gelar "Andi" bukanlah sekadar hiasan di depan nama—itu bisa menjadi simbol kebangsawanan, terutama saat dihubungkan dengan nominal Uang Panai’. Bagi sebagian besar masyarakat, apabila seorang perempuan Bugis memiliki gelar "Andi", maka Uang Panai’ yang harus disiapkan pun harus lebih tinggi dari biasanya. Namun, di balik tradisi yang telah begitu mendarah daging ini, ada sebuah kenyataan tersembunyi yang mungkin belum banyak diketahui. Gelar "Andi" sebenarnya bukanlah gelar kebangsawanan murni dari tradisi Bugis-Makassar. Lantas, bagaimana gelar ini muncul dan menjadi begitu penting? Asal-Usul Gelar "Andi" dalam Sejarah Bugis-Makassar Sejarah mencatat bahwa gelar "Andi" bukan berasal dari dalam adat Bugis-Makassar itu sendiri, melainkan hasil intervensi dari seorang misionaris Belanda di awal abad ke-20. Gelar ini mulai dikenal sekitar 100 tahun yang lalu, serupa dengan pemberian gelar "Haji" bagi umat Islam pada masa kolonial. Prof. Mattulada, seorang antropolog dari Unhas, menelusuri asal muasal gelar ini pada masa penjajahan Belanda. Di tahun 1930-an, setiap siswa yang ingin melanjutkan sekolah ke tingkat HIS atau sekolah pamong praja, harus menyertakan “stamboom” atau daftar silsilah keluarga bangsawan mereka. Dalam proses ini, gelar "Andi" digunakan untuk mengidentifikasi siswa yang berasal dari keluarga bangsawan, membedakannya dari masyarakat umum. Kisah seorang tokoh terkenal, Andi Matalatta, mengukuhkan sejarah ini. Pada tahun 1929, saat ia hendak melanjutkan sekolahnya di Openbare Schakelschool Makassar, namanya dibubuhi kata "Andi" di depan. Muhayyang Daeng Ngawing, yang kala itu menjabat sebagai kepala sekolah, menjelaskan bahwa penggunaan gelar ini bertujuan untuk memisahkan keturunan bangsawan dari orang biasa. Pemberian gelar "Andi" ini pertama kali diperkenalkan oleh B.F. Matthews, seorang misionaris Belanda yang juga kepala sekolah OSVIA. Bersama Colliq Pujie, Matthews adalah pelopor penulisan Sureq I Lagaligo, karya sastra legendaris Bugis-Makassar. Matthews memiliki ambisi besar—ia ingin menerapkan sistem Standen Stelsel di Sulawesi Selatan, seperti yang ada di Jawa. Maka, gelar "Andi" diberikan kepada semua bangsawan terdidik yang nantinya akan dipersiapkan untuk mengisi jabatan penting di pemerintahan kolonial Belanda. Sejak saat itu, para keturunan bangsawan mulai menyematkan gelar "Andi" di depan nama mereka, dan gelar ini bertahan hingga Indonesia merdeka, menjadi simbol status yang diwariskan turun-temurun. Strata Sosial dalam Masyarakat Bugis dan Makassar Sulawesi Selatan dikenal dengan keragaman etnisnya—terdapat suku Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, dan Sa’dan. Namun, suku Bugis dan Makassar menjadi mayoritas di wilayah ini, masing-masing dengan sistem strata sosial yang kaya akan tradisi. Di masyarakat Bugis, terdapat tiga strata sosial utama: Arung (bangsawan tertinggi), Ata (budak yang kini tak lagi berlaku), dan To Maradeka (masyarakat umum). Sementara di suku Makassar, ada empat strata sosial, yaitu Ata, Daeng (kalangan pengusaha), Karaeng (raja atau bangsawan), dan Kare (tokoh religius). Gelar kebangsawanan yang muncul dari kedua suku ini beragam, antara lain: Arung, Besse, Baso, Daeng, Datu, Karaeng, Opu, Petta, Sombayya, dan Tenri. Semua gelar ini memiliki akar sejarah dan makna yang mendalam, menunjukkan kekayaan budaya dan kebesaran kerajaan di Sulawesi Selatan. Namun, gelar "Andi" kini menjadi salah satu yang paling dikenali, bukan hanya karena status kebangsawanan yang diwakilinya, tapi juga karena sejarah panjang di balik pembentukannya—sebuah warisan kolonial yang akhirnya melekat kuat dalam identitas budaya Bugis-Makassar. FB. Cinema Indonesian

 GELAR 'ANDI': WARISAN KOLONIAL ATAU SIMBOL KEBANGSAWANAN BUGIS-MAKASSAR?"


Apakah Anda pernah mendengar nama "Andi" di awal nama seseorang? Atau mungkin Anda memiliki teman dengan nama yang diawali oleh gelar ini? Di kalangan masyarakat Bugis-Makassar, gelar "Andi" bukanlah sekadar hiasan di depan nama—itu bisa menjadi simbol kebangsawanan, terutama saat dihubungkan dengan nominal Uang Panai’. Bagi sebagian besar masyarakat, apabila seorang perempuan Bugis memiliki gelar "Andi", maka Uang Panai’ yang harus disiapkan pun harus lebih tinggi dari biasanya.



Namun, di balik tradisi yang telah begitu mendarah daging ini, ada sebuah kenyataan tersembunyi yang mungkin belum banyak diketahui. Gelar "Andi" sebenarnya bukanlah gelar kebangsawanan murni dari tradisi Bugis-Makassar. Lantas, bagaimana gelar ini muncul dan menjadi begitu penting?


Asal-Usul Gelar "Andi" dalam Sejarah Bugis-Makassar


Sejarah mencatat bahwa gelar "Andi" bukan berasal dari dalam adat Bugis-Makassar itu sendiri, melainkan hasil intervensi dari seorang misionaris Belanda di awal abad ke-20. Gelar ini mulai dikenal sekitar 100 tahun yang lalu, serupa dengan pemberian gelar "Haji" bagi umat Islam pada masa kolonial.


Prof. Mattulada, seorang antropolog dari Unhas, menelusuri asal muasal gelar ini pada masa penjajahan Belanda. Di tahun 1930-an, setiap siswa yang ingin melanjutkan sekolah ke tingkat HIS atau sekolah pamong praja, harus menyertakan “stamboom” atau daftar silsilah keluarga bangsawan mereka. Dalam proses ini, gelar "Andi" digunakan untuk mengidentifikasi siswa yang berasal dari keluarga bangsawan, membedakannya dari masyarakat umum.


Kisah seorang tokoh terkenal, Andi Matalatta, mengukuhkan sejarah ini. Pada tahun 1929, saat ia hendak melanjutkan sekolahnya di Openbare Schakelschool Makassar, namanya dibubuhi kata "Andi" di depan. Muhayyang Daeng Ngawing, yang kala itu menjabat sebagai kepala sekolah, menjelaskan bahwa penggunaan gelar ini bertujuan untuk memisahkan keturunan bangsawan dari orang biasa.


Pemberian gelar "Andi" ini pertama kali diperkenalkan oleh B.F. Matthews, seorang misionaris Belanda yang juga kepala sekolah OSVIA. Bersama Colliq Pujie, Matthews adalah pelopor penulisan Sureq I Lagaligo, karya sastra legendaris Bugis-Makassar. Matthews memiliki ambisi besar—ia ingin menerapkan sistem Standen Stelsel di Sulawesi Selatan, seperti yang ada di Jawa. Maka, gelar "Andi" diberikan kepada semua bangsawan terdidik yang nantinya akan dipersiapkan untuk mengisi jabatan penting di pemerintahan kolonial Belanda.


Sejak saat itu, para keturunan bangsawan mulai menyematkan gelar "Andi" di depan nama mereka, dan gelar ini bertahan hingga Indonesia merdeka, menjadi simbol status yang diwariskan turun-temurun.


Strata Sosial dalam Masyarakat Bugis dan Makassar


Sulawesi Selatan dikenal dengan keragaman etnisnya—terdapat suku Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, dan Sa’dan. Namun, suku Bugis dan Makassar menjadi mayoritas di wilayah ini, masing-masing dengan sistem strata sosial yang kaya akan tradisi.


Di masyarakat Bugis, terdapat tiga strata sosial utama: Arung (bangsawan tertinggi), Ata (budak yang kini tak lagi berlaku), dan To Maradeka (masyarakat umum). Sementara di suku Makassar, ada empat strata sosial, yaitu Ata, Daeng (kalangan pengusaha), Karaeng (raja atau bangsawan), dan Kare (tokoh religius).


Gelar kebangsawanan yang muncul dari kedua suku ini beragam, antara lain: Arung, Besse, Baso, Daeng, Datu, Karaeng, Opu, Petta, Sombayya, dan Tenri. Semua gelar ini memiliki akar sejarah dan makna yang mendalam, menunjukkan kekayaan budaya dan kebesaran kerajaan di Sulawesi Selatan.


Namun, gelar "Andi" kini menjadi salah satu yang paling dikenali, bukan hanya karena status kebangsawanan yang diwakilinya, tapi juga karena sejarah panjang di balik pembentukannya—sebuah warisan kolonial yang akhirnya melekat kuat dalam identitas budaya Bugis-Makassar.


FB. Cinema Indonesian