24 March 2026

"Secara zoogeografi kawasan Indonesia dibagi tiga pula: kawasan Asia hingga Paparan Sunda dengan fauna Asia, kawasan Indonesia Tengah dengan fauna campuran Asia-Australia, dan kawasan Australia hingga Irian dengan fauna Australia. Batas timur kawasan fauna Asia disebut Garis Wallace (GW), sedangkan batas kawasan fauna Australia dinamakan Garis Lydekker (GL). Garis fauna ini ditarik berdasarkan anggapan bahwa fauna Asia tidak dapat melakukan migrasi ke daratan Australia, dan sebaliknya. Tetapi, dalam makalahnya Sartono menunjukkan, fosil-fosil vertebrata serta artefak Plestosen – bekas permukiman manusia 1,6 juta tahun sampai 10 ribu tahun silam – ditemukan tidak hanya di Paparan Sunda, melainkan juga di kawasan Wallace. Malah, kata doktor geologi kuarter kelahiran Madiun itu, "migrasi akhirnya mencapai daratan Australia, Tasmania, dan Irian." Bahkan, dengan ditemukannya fosil gajah purba di Pulau Timor, 1969, Sartono menganggap garis batas fauna zoogeografi, seperti GW tadi, "telah gugur"." PETA BARU BADAK DAN GAJAH Konsep "berenang" dan "terbawa arus" dalam teori migrasi fauna ternyata lemah. Sebuah sumbangan ahli geologi pada penelitian arkeologi. (TEMPO, No. 4, Thn. XIV, 24 Maret 1984,”Ilmu dan Teknologi”) Fosil kuda nil ternyata tidak pernah ditemukan di sekitar Sungai Nil, di Negeri Mesir sana. Melainkan di Bumiayu, Jawa Tengah, pada sekitar 1930-an. Masih tampak utuh, fosil dengan panjang tubuh hampir 2 m dan tinggi 1,5 m itu tegak kalem di Museum Geologi Bandung. Sang kuda nil sendiri diperkirakan hidup sekitar 1,8 juta tahun silam. Kehadiran fosil ini – di antara sekitar 50.000 fosil koleksi museum geologi satu-satunya di Asia Tenggara yang pada 16 Mei nanti genap berusia 55 tahun – mendadak hangat dibicarakan dalam Rapat Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi (REHPA) II di Cisarua, Bogor, dua pekan lalu. Rapat yang membahas semuat hasil penelitian arkeologi selama Pelita II dan III ini diramaikan oleh 52 makalah dan 64 ahli. Mereka berdatangan dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Yogyakarta dan Bali, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Museum Nasional, serta ITB, UI, UGM, dan Unud (Bali). Makalah yang termasuk paling menarik datang dari Prof. Dr. S. Sartono, guru besar Jurusan Geologi ITB. Makalah ini membawa perubahan besar dalam teori migrasi fauna yang dikenal selama ini. Dulu, kata Sartono, "para arkeolog dan zoolog menduga, penyeberangan dari daratan Asia hingga ke Australia dilakukan dengan perahu." Pada- hal, "dugaan ini lemah.” Perahu zaman baheula itu sangat sederhana, dibuat dari ranting pohon yang diikat seperti rakit, sehingga tidak mungkin digunakan mengarungi samudra dalam jarak jauh. Apalagi, "perahunya sendiri tak pernah ditemukan," ujar Sartono, 56. Ia juga menolak teori "berenang" dan "terbawa arus", karena "mana mungkin hewan berenang puluhan kilometer.” Selama ini, kawasan Indonesia secara umum dibagi tiga dari barat ke timur: Paparan Sunda, Bagian Tengah, dan Paparan Sahul (Arafura). Paparan Sunda mencakup Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan Semenanjung Melayu, dengan kedalaman laut antara 60 m dan 100 m. Bagian Tengah meliputi Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara, dengan kedalaman laut ratusan hingga ribuan meter. Paparan Sahul mencakup Irian Jaya, Aru, hingga Australia, dengan kedalaman laut rata-rata sama dengan Paparan Sunda. Secara zoogeografi kawasan Indonesia dibagi tiga pula: kawasan Asia hingga Paparan Sunda dengan fauna Asia, kawasan Indonesia Tengah dengan fauna campuran Asia-Australia, dan kawasan Australia hingga Irian dengan fauna Australia. Batas timur kawasan fauna Asia disebut Garis Wallace (GW), sedangkan batas kawasan fauna Australia dinamakan Garis Lydekker (GL). Garis fauna ini ditarik berdasarkan anggapan bahwa fauna Asia tidak dapat melakukan migrasi ke daratan Australia, dan sebaliknya. Tetapi, dalam makalahnya Sartono menunjukkan, fosil-fosil vertebrata serta artefak Plestosen – bekas permukiman manusia 1,6 juta tahun sampai 10 ribu tahun silam – ditemukan tidak hanya di Paparan Sunda, melainkan juga di kawasan Wallace. Malah, kata doktor geologi kuarter kelahiran Madiun itu, "migrasi akhirnya mencapai daratan Australia, Tasmania, dan Irian." Bahkan, dengan ditemukannya fosil gajah purba di Pulau Timor, 1969, Sartono menganggap garis batas fauna zoogeografi, seperti GW tadi, "telah gugur". Menurut Sartono, proses migrasi tak mungkin dipahami tanpa memperhatikan faktor turun naiknya permukaan tanah. Karena itulah, sejak 1978, para geolog diikutsertakan membantu tim arkeologi. Sartono lalu mengambil Pulau Timor sebagai contoh. Dari penelitian geologi, pulau ini mengalami pengangkatan sampai 1.283 m. Sedangkan dasar lautan di selatannya turun sekitar 1.000 m. Jenis sedimen batuan di da- sar laut itu sama dengan jenis sedimen batuan yang ada di Pulau Timor. Artinya, Pulau Timor dan laut di sekitarnya dulu merupakan kesatuan daratan. Hal seperti ini pulalah yang bisa menjawab ditemukannya fosil gajah purba berusia sekitar 1,6 juta tahun di Sulawesi dan Pulau Sumba. Padahal, menurut GW, gajah adalah fauna Asia yang hanya hidup di Paparan Sunda. Dari data geologi dan arkeologi yang terkumpul, Sartono menyajikan "peta migrasi baru" fauna vertebrata dari daratan Asia ke Australia pada kala Plestosen. Dari kawasan Siwalik (Pakistan), migrasi menuju Burma. Dari sini migrasi bercabang: satu menuju timur ke Cina, lainnya menuju Semenanjung Melayu. Dari Cina, jalur migrasi menuju Jepang – Taiwan – Filipina – Sulawesi, terus ke Paparan Sunda. Dari Semenanjung Melayu jalur migrasi mengarah ke Bangka, kemudian ke Paparan Sunda. Melalui Busur Banda, jalur ini merentang ke timur hingga Flores. Di sini jalur itu bercabang: satu ke selatan menuju Sumba, lainnya tiba di Timor melalui Lombian dan Alor. Jalur Sumba akhirnya tiba di Sabu, jalur Timor mencapai Rote. Dari Sabu dan Rote, jalur migrasi menjulur ke tenggara hingga Scott Plateu di utara Australia, di Paparan Sahul. Terus ke kawasan Australia barat laut, dan tiba di Queensland dan New South Wales 35.000-25.000 tahun silam. Melalui Selat Bass, jalur migrasi dari Australia tenggara ini tiba di Tasmania. Ketika Sartono ditanya mengapa jalur migrasi fauna ini baru ditemukan sekarang, lulusan angkatan pertama Jurusan Geologi ITB ini menjawab, "persoalannya juga baru dipikirkan belakangan." Para geolog baru diikutsertakan meneliti masalah arkeologi sejak 1978. Sumber: TEMPO, No. 4, Thn. XIV, 24 Maret 1984

 "Secara zoogeografi kawasan Indonesia dibagi tiga pula: kawasan Asia hingga Paparan Sunda dengan fauna Asia, kawasan Indonesia Tengah dengan fauna campuran Asia-Australia, dan kawasan Australia hingga Irian dengan fauna Australia. Batas timur kawasan fauna Asia disebut Garis Wallace (GW), sedangkan batas kawasan fauna Australia dinamakan Garis Lydekker (GL). Garis fauna ini ditarik berdasarkan anggapan bahwa fauna Asia tidak dapat melakukan migrasi ke daratan Australia, dan sebaliknya.



Tetapi, dalam makalahnya Sartono menunjukkan, fosil-fosil vertebrata serta artefak Plestosen – bekas permukiman manusia 1,6 juta tahun sampai 10 ribu tahun silam – ditemukan tidak hanya di Paparan Sunda, melainkan juga di kawasan Wallace. Malah, kata doktor geologi kuarter kelahiran Madiun itu, "migrasi akhirnya mencapai daratan Australia, Tasmania, dan Irian."


Bahkan, dengan ditemukannya fosil gajah purba di Pulau Timor, 1969, Sartono menganggap garis batas fauna zoogeografi, seperti GW tadi, "telah gugur"."


PETA BARU BADAK DAN GAJAH


Konsep "berenang" dan "terbawa arus" dalam teori migrasi fauna ternyata lemah. Sebuah sumbangan ahli geologi pada penelitian arkeologi.


(TEMPO, No. 4, Thn. XIV, 24 Maret 1984,”Ilmu dan Teknologi”)


Fosil kuda nil ternyata tidak pernah ditemukan di sekitar Sungai Nil, di Negeri Mesir sana. Melainkan di Bumiayu, Jawa Tengah, pada sekitar 1930-an. Masih tampak utuh, fosil dengan panjang tubuh hampir 2 m dan tinggi 1,5 m itu tegak kalem di Museum Geologi Bandung. Sang kuda nil sendiri diperkirakan hidup sekitar 1,8 juta tahun silam. 


Kehadiran fosil ini – di antara sekitar 50.000 fosil koleksi museum geologi satu-satunya di Asia Tenggara yang pada 16 Mei nanti genap berusia 55 tahun – mendadak hangat dibicarakan dalam Rapat Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi (REHPA) II di Cisarua, Bogor, dua pekan lalu. Rapat yang membahas semuat hasil penelitian arkeologi selama Pelita II dan III ini diramaikan oleh 52 makalah dan 64 ahli. Mereka berdatangan dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Yogyakarta dan Bali, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Museum Nasional, serta ITB, UI, UGM, dan Unud (Bali).


Makalah yang termasuk paling menarik datang dari Prof. Dr. S. Sartono, guru besar Jurusan Geologi ITB. Makalah ini membawa perubahan besar dalam teori migrasi fauna yang dikenal selama ini. Dulu, kata Sartono, "para arkeolog dan zoolog menduga, penyeberangan dari daratan Asia hingga ke Australia dilakukan dengan perahu." Pada- hal, "dugaan ini lemah.”


Perahu zaman baheula itu sangat sederhana, dibuat dari ranting pohon yang diikat seperti rakit, sehingga tidak mungkin digunakan mengarungi samudra dalam jarak jauh. Apalagi, "perahunya sendiri tak pernah ditemukan," ujar Sartono, 56. Ia juga menolak teori "berenang" dan "terbawa arus", karena "mana mungkin hewan berenang puluhan kilometer.”


Selama ini, kawasan Indonesia secara umum dibagi tiga dari barat ke timur: Paparan Sunda, Bagian Tengah, dan Paparan Sahul (Arafura). Paparan Sunda mencakup Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan Semenanjung Melayu, dengan kedalaman laut antara 60 m dan 100 m. Bagian Tengah meliputi Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara, dengan kedalaman laut ratusan hingga ribuan meter. Paparan Sahul mencakup Irian Jaya, Aru, hingga Australia, dengan kedalaman laut rata-rata sama dengan Paparan Sunda.


Secara zoogeografi kawasan Indonesia dibagi tiga pula: kawasan Asia hingga Paparan Sunda dengan fauna Asia, kawasan Indonesia Tengah dengan fauna campuran Asia-Australia, dan kawasan Australia hingga Irian dengan fauna Australia. Batas timur kawasan fauna Asia disebut Garis Wallace (GW), sedangkan batas kawasan fauna Australia dinamakan Garis Lydekker (GL). Garis fauna ini ditarik berdasarkan anggapan bahwa fauna Asia tidak dapat melakukan migrasi ke daratan Australia, dan sebaliknya.


Tetapi, dalam makalahnya Sartono menunjukkan, fosil-fosil vertebrata serta artefak Plestosen – bekas permukiman manusia 1,6 juta tahun sampai 10 ribu tahun silam – ditemukan tidak hanya di Paparan Sunda, melainkan juga di kawasan Wallace. Malah, kata doktor geologi kuarter kelahiran Madiun itu, "migrasi akhirnya mencapai daratan Australia, Tasmania, dan Irian."


Bahkan, dengan ditemukannya fosil gajah purba di Pulau Timor, 1969, Sartono menganggap garis batas fauna zoogeografi, seperti GW tadi, "telah gugur". Menurut Sartono, proses migrasi tak mungkin dipahami tanpa memperhatikan faktor turun naiknya permukaan tanah. Karena itulah, sejak 1978, para geolog diikutsertakan membantu tim arkeologi. 


Sartono lalu mengambil Pulau Timor sebagai contoh. Dari penelitian geologi, pulau ini mengalami pengangkatan sampai 1.283 m. Sedangkan dasar lautan di selatannya turun sekitar 1.000 m. Jenis sedimen batuan di da- sar laut itu sama dengan jenis sedimen batuan yang ada di Pulau Timor. Artinya, Pulau Timor dan laut di sekitarnya dulu merupakan kesatuan daratan. Hal seperti ini pulalah yang bisa menjawab ditemukannya fosil gajah purba berusia sekitar 1,6 juta tahun di Sulawesi dan Pulau Sumba. Padahal, menurut GW, gajah adalah fauna Asia yang hanya hidup di Paparan Sunda.


Dari data geologi dan arkeologi yang terkumpul, Sartono menyajikan "peta migrasi baru" fauna vertebrata dari daratan Asia ke Australia pada kala Plestosen. Dari kawasan Siwalik (Pakistan), migrasi menuju Burma. Dari sini migrasi bercabang: satu menuju timur ke Cina, lainnya menuju Semenanjung Melayu.


Dari Cina, jalur migrasi menuju Jepang – Taiwan  – Filipina – Sulawesi, terus ke Paparan Sunda. Dari Semenanjung Melayu jalur migrasi mengarah ke Bangka, kemudian ke Paparan Sunda. Melalui Busur Banda, jalur ini merentang ke timur hingga Flores. Di sini jalur itu bercabang: satu ke selatan menuju Sumba, lainnya tiba di Timor melalui Lombian dan Alor. Jalur Sumba akhirnya tiba di Sabu, jalur Timor mencapai Rote.


Dari Sabu dan Rote, jalur migrasi menjulur ke tenggara hingga Scott Plateu di utara Australia, di Paparan Sahul. Terus ke kawasan Australia barat laut, dan tiba di Queensland dan New South Wales 35.000-25.000 tahun silam. Melalui Selat Bass, jalur migrasi dari Australia tenggara ini tiba di Tasmania. 


Ketika Sartono ditanya mengapa jalur migrasi fauna ini baru ditemukan sekarang, lulusan angkatan pertama Jurusan Geologi ITB ini menjawab, "persoalannya juga baru dipikirkan belakangan." Para geolog baru diikutsertakan meneliti masalah arkeologi sejak 1978.


Sumber: TEMPO, No. 4, Thn. XIV, 24 Maret 1984

Sumber : Harry Anggoro Djatmiko

No comments:

Post a Comment