19 March 2026

Mitsuyuki Tanaka (yang kemudian dikenal dengan nama Indonesia Sutoro) adalah salah satu sosok penting dari kelompok Zanryu Nihon-jin, yaitu tentara Jepang yang memilih tetap tinggal di Indonesia setelah Perang Dunia II berakhir untuk membantu perjuangan kemerdekaan. Berikut adalah profil dan kisah hidup Mitsuyuki Tanaka: 1. Membelot demi Kemerdekaan Indonesia Setelah Jepang menyerah pada Agustus 1945, Tanaka yang saat itu bertugas di Jawa Tengah menolak perintah untuk menyerahkan diri kepada Sekutu atau dipulangkan ke Jepang. Ia merasa memiliki ikatan emosional dengan rakyat Indonesia dan tidak ingin melihat Belanda kembali menjajah tanah ini. 2. Bergabung dengan Barisan Keamanan Rakyat (BKR) Tanaka bergabung dengan pasukan pemuda Indonesia di Magelang dan Ambarawa. Karena keahlian militernya, ia menjadi instruktur bagi para pejuang Indonesia yang saat itu masih minim pengalaman tempur. Ia mengajarkan taktik gerilya, cara menggunakan senjata rampasan Jepang, dan disiplin militer. 3. Peran dalam Palagan Ambarawa Salah satu kontribusi terbesarnya adalah dalam peristiwa Palagan Ambarawa (Desember 1945). Tanaka berada di garis depan membantu pasukan Kolonel Sudirman melawan tentara Sekutu dan NICA. Keahliannya dalam mengoperasikan artileri dan senjata berat sangat membantu pihak Indonesia memenangkan pertempuran tersebut. 4. Mengganti Nama Menjadi Sutoro Untuk menghindari kejaran tentara Belanda yang menganggapnya sebagai pengkhianat dan penjahat perang, ia mengubah identitasnya menjadi nama lokal, Sutoro. Ia membaur sepenuhnya dengan masyarakat, mempelajari bahasa Jawa, dan masuk Islam. 5. Kehidupan Setelah Perang Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada tahun 1949, Sutoro memilih untuk tetap menjadi warga negara Indonesia (WNI). Ia menetap di Magelang, Jawa Tengah, dan menjalani kehidupan yang sangat sederhana sebagai petani dan pekerja biasa. Ia menikah dengan wanita setempat dan membesarkan keluarganya di sana. 6. Penghargaan dan Akhir Hayat Meski awalnya dianggap pembelot oleh pemerintah Jepang, di kemudian hari jasa-jasanya diakui oleh pemerintah Indonesia. Atas perjuangannya, ia dianugerahi Bintang Gerilya oleh Pemerintah Republik Indonesia. Mitsuyuki Tanaka atau Sutoro meninggal dunia pada tahun 1998 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Dharmoloyo, Magelang, sebuah penghormatan tertinggi bagi seorang pejuang kemerdekaan. Kisah Tanaka adalah simbol solidaritas lintas bangsa dalam melawan kolonialisme, di mana seorang mantan prajurit kekaisaran memilih mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan bangsa lain yang telah ia anggap sebagai rumahnya sendiri. Sumber : Kadek Merta Yasa #sorotan

 

Mitsuyuki Tanaka (yang kemudian dikenal dengan nama Indonesia Sutoro) adalah salah satu sosok penting dari kelompok Zanryu Nihon-jin, yaitu tentara Jepang yang memilih tetap tinggal di Indonesia setelah Perang Dunia II berakhir untuk membantu perjuangan kemerdekaan.



Berikut adalah profil dan kisah hidup Mitsuyuki Tanaka:
1. Membelot demi Kemerdekaan Indonesia
Setelah Jepang menyerah pada Agustus 1945, Tanaka yang saat itu bertugas di Jawa Tengah menolak perintah untuk menyerahkan diri kepada Sekutu atau dipulangkan ke Jepang. Ia merasa memiliki ikatan emosional dengan rakyat Indonesia dan tidak ingin melihat Belanda kembali menjajah tanah ini.
2. Bergabung dengan Barisan Keamanan Rakyat (BKR)
Tanaka bergabung dengan pasukan pemuda Indonesia di Magelang dan Ambarawa. Karena keahlian militernya, ia menjadi instruktur bagi para pejuang Indonesia yang saat itu masih minim pengalaman tempur. Ia mengajarkan taktik gerilya, cara menggunakan senjata rampasan Jepang, dan disiplin militer.
3. Peran dalam Palagan Ambarawa
Salah satu kontribusi terbesarnya adalah dalam peristiwa Palagan Ambarawa (Desember 1945). Tanaka berada di garis depan membantu pasukan Kolonel Sudirman melawan tentara Sekutu dan NICA. Keahliannya dalam mengoperasikan artileri dan senjata berat sangat membantu pihak Indonesia memenangkan pertempuran tersebut.
4. Mengganti Nama Menjadi Sutoro
Untuk menghindari kejaran tentara Belanda yang menganggapnya sebagai pengkhianat dan penjahat perang, ia mengubah identitasnya menjadi nama lokal, Sutoro. Ia membaur sepenuhnya dengan masyarakat, mempelajari bahasa Jawa, dan masuk Islam.
5. Kehidupan Setelah Perang
Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada tahun 1949, Sutoro memilih untuk tetap menjadi warga negara Indonesia (WNI). Ia menetap di Magelang, Jawa Tengah, dan menjalani kehidupan yang sangat sederhana sebagai petani dan pekerja biasa. Ia menikah dengan wanita setempat dan membesarkan keluarganya di sana.
6. Penghargaan dan Akhir Hayat
Meski awalnya dianggap pembelot oleh pemerintah Jepang, di kemudian hari jasa-jasanya diakui oleh pemerintah Indonesia. Atas perjuangannya, ia dianugerahi Bintang Gerilya oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Mitsuyuki Tanaka atau Sutoro meninggal dunia pada tahun 1998 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Dharmoloyo, Magelang, sebuah penghormatan tertinggi bagi seorang pejuang kemerdekaan.
Kisah Tanaka adalah simbol solidaritas lintas bangsa dalam melawan kolonialisme, di mana seorang mantan prajurit kekaisaran memilih mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan bangsa lain yang telah ia anggap sebagai rumahnya sendiri.

Sumber : Kadek Merta Yasa
#sorotan

No comments:

Post a Comment