Ir. Sakirman ( Tokoh PKI )adalah sosok yang sangat unik dalam sejarah Indonesia karena ia merupakan kakak kandung dari Pahlawan Revolusi Letnan Jenderal TNI (Anumerta) Siswondo Parman.
Meskipun mereka bersaudara, keduanya berada di kutub politik yang benar-benar berlawanan. Berikut adalah profil singkat mengenai Ir. Sakirman:
Profil dan Latar Belakang
• Pendidikan Tinggi: Sesuai gelarnya (Ir.), beliau adalah seorang insinyur lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB). Ia merupakan angkatan yang sama dengan beberapa tokoh besar bangsa lainnya.
• Aktivis Pergerakan: Sebelum terjun penuh ke dunia politik komunis, ia aktif dalam pergerakan nasional melawan penjajahan Belanda.
Peran di PKI (Partai Komunis Indonesia)
• Tokoh Elit: Ir. Sakirman bukan anggota biasa. Beliau adalah tokoh senior dan anggota Politbiro CC PKI (badan pengambil keputusan tertinggi di partai).
• Jabatan Publik: Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) dan merupakan salah satu arsitek politik partai di bidang ekonomi dan teknik.
Hubungan Tragis dengan S. Parman
Perbedaan ideologi antara Sakirman (Komunis) dan S. Parman (TNI AD) sering disebut sebagai "Kisah Brutus" versi Indonesia atau drama keluarga yang paling tragis dalam sejarah politik tanah air:
1. Ideologi: Sakirman sangat setia pada garis partai PKI, sementara adiknya, S. Parman, adalah salah satu perwira intelijen TNI AD yang paling gigih menentang pengaruh PKI di dalam pemerintahan.
2. Peristiwa G30S: Ironisnya, saat S. Parman diculik dan dibunuh oleh kelompok yang didukung oleh partainya sendiri (PKI) pada 1 Oktober 1965, Sakirman berada di jajaran elit pimpinan partai tersebut.
Akhir Hayat
Setelah peristiwa G30S gagal, Ir. Sakirman menjadi buronan pemerintah Orde Baru. Ia sempat melarikan diri ke Jawa Tengah namun akhirnya ditangkap. Nasib akhirnya tidak tercatat secara detail dalam sejarah publik sebagaimana tokoh besar PKI lainnya (seperti Aidit atau Nyoto), namun ia diketahui meninggal dunia dalam masa pengejaran atau penahanan tersebut.

No comments:
Post a Comment