24 June 2025

Jepang menguasai Yogyakarta pada 5 Maret 1942, Sultan HB IX melakukan 2 hal : 1. Menemui fihak Jepang dan menyatakan bahwa segala sesuatu yang menyangkut wilayah Kesultanan harus dibicarakan dahulu dengan Sultan. Tindakan ini untuk memastikan dan memberikan legitimasi kekuasaan Sultan atas wilayah kesultanan. 2. Memusatkan kekuasaan hanya kepada Sultan, dengan membubarkan jabatan "pepatih dalem" Danurejan yg selama ini menjadi kekuatan mewakili pemerintah Belanda. Kebijakan sultan ini nyatanya diiyakan oleh Jepang. Dan untuk kali kedua pada 1 Agustus 1942 Sultan diangkat kembali sebagi Sultan Nagari Djokjakarta, di Jakarta. Pengangkatan ini terekam dalam foto, dimana Djokja-ko (HB IX) dan Pakoealam-ko (PA VIII) bersama opsir jepang di kraton & pakualaman (gambar 1 dan 2); serta foto sultan dengan Jenderal Immamura di Jakarta (gambar 3) Seperti Belanda, Yogyakarta juga ditempatkan seorang Gubernur Jepang (Gunseikan). Gunseikan pertama hanya bertahan 3 bulan. Sedangkan penggantinya selalu berganti setiap tahun karena konflik dan perbedaan pendapat dengan Sultan. Kata beliau, dalam wawancara mengenang zaman Jepang, secara keseluruhan sebenarnya hubungan beliau dengan pemerintah Jepang selalu agak tegang. Karena beliau selalu memprotes perlakuan Jepang terhadap rakyat. Beliau secara teratur bersama para raja Jawa dipanggil ke Jakarta oleh pemerintah pusat Jepang (Saiko Shikikan) untuk menerima instruksi. Biasanya Sultan akan dipanggil secara sendiri dan memperoleh teguran karena sikap mbalelo beliau. Sumber : tahta untuk rakyat

 Jepang menguasai Yogyakarta pada 5 Maret 1942, Sultan HB IX melakukan 2 hal :


1. Menemui fihak Jepang dan menyatakan bahwa segala sesuatu yang menyangkut wilayah Kesultanan harus dibicarakan dahulu dengan Sultan. Tindakan ini untuk memastikan dan memberikan legitimasi kekuasaan Sultan atas wilayah kesultanan.


2. Memusatkan kekuasaan hanya kepada Sultan, dengan membubarkan jabatan "pepatih dalem" Danurejan yg selama ini menjadi kekuatan mewakili pemerintah Belanda. 



Kebijakan sultan ini nyatanya diiyakan oleh Jepang. Dan untuk kali kedua pada 1 Agustus  1942 Sultan diangkat kembali sebagi Sultan Nagari Djokjakarta, di Jakarta. 


Pengangkatan ini terekam dalam foto,  dimana Djokja-ko (HB IX) dan Pakoealam-ko (PA VIII) bersama opsir jepang di kraton & pakualaman (gambar 1 dan 2); serta foto sultan dengan Jenderal Immamura di Jakarta (gambar 3)


Seperti Belanda, Yogyakarta juga ditempatkan seorang Gubernur Jepang (Gunseikan). 


Gunseikan pertama hanya bertahan 3 bulan. Sedangkan penggantinya selalu berganti setiap tahun karena konflik dan perbedaan pendapat dengan Sultan.


Kata beliau, dalam wawancara mengenang zaman Jepang, secara keseluruhan sebenarnya hubungan beliau dengan pemerintah Jepang selalu agak tegang. Karena beliau selalu memprotes perlakuan Jepang terhadap rakyat. 


Beliau secara teratur bersama para raja Jawa dipanggil ke Jakarta oleh pemerintah pusat Jepang (Saiko Shikikan) untuk menerima instruksi.


Biasanya Sultan akan dipanggil secara sendiri dan memperoleh teguran karena sikap mbalelo beliau.


Sumber : tahta untuk rakyat

SAAT RAFFLES TAK “SEBERADAB” PERKIRAAN ORANG Tepat hari ini 213 tahun lalu tentara Kerajaan Inggris menjarah keraton Kesultanan Jogjakarta 20 Juni 1812. "Semua perempuan yang berada di hunian dalam keraton tetap dihormati, dan kepemilikan harta mereka turut dilindungi. Dalam kesempatan seperti ini diperlukan disiplin yang sangat tegas bahwa tak satu pun orang dianiaya ataupun kebiadaban berlangsung” Pernyataan tadi ditulis oleh Kapten William Thorn, seorang perwira Kerajaan Inggris, dalam Memoirs of The Conquest of Java yang terbit tiga tahun setelah penaklukan Yogyakarta. Thorn terlibat dalam pertempuran 19-20 Juni 1812. Tampaknya, ada yang luput dari perhatian Thorn tentang peristiwa menyerahnya Sultan. Sabtu pagi yang penuh kekalutan. Pertempuran antara serdadu Kerajaan Inggris dan laskar Keraton Yogyakarta masih berlanjut, tetapi dengan skala yang mengecil. Semua kubu pertahanan Sultan Hamengkubuwono II sudah dikuasai serdadu-serdadu sipahiIndia. Keraton sudah sangat terdesak, serdadu-serdadu berseragam merah khas Kerajaan Inggris telah menyeruak ke dalam keraton. Peter Brian Ramsay Carey dalam Kuasa Ramalan yang terbit pada 2011 mengungkapkan suasana jatuhnya Keraton Yogyakarta lewat pemerian Babad Bedhah ing Ngayogyakarta. Dia merupakan Profesor Emeritus di Trinity College, Oxford, Inggris, dan kini dia juga menjabat sebagai Adjunct Professor di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Babad itu ditulis Pangeran Panular, salah satu putra Sultan. Saat pagi menjelang, Sultan dan keluarganya berbusana serba putih, bahkan kursi-kursi pun dibalut kain putih. Sultan telah memerintahkan semua kepala laskar prajurit keraton untuk meletakkan senjata dan mengibarkan bendera putih. Sebelum pukul sembilan, Sultan sudah menjadi tawanan. Dalam tawanan itu termasuk sekitar 300 laskar perempuan pengawal Sultan. Mereka adalah para perempuan yang dididik untuk berperilaku lembah lembut dan bertindak tegas secara militer. Mereka mahir menggunakan senapan dan menunggang kuda. Babad tersebut juga mengisahkan betapa terhinanya Sultan saat itu. Mereka merelakan segala senjata dilucuti oleh serdadu Inggris dan sipahi, kemudian diarak dengan pengawalan menuju Wisma Residen yang berlokasi di barat Benteng Vredeburg. Menurut Carey, Sultan menyerahkan keris, pedang, dan belatinya. Semua senjata pusaka keraton disita, yaitu Kiai Paningset, Kiai Sangkelat, Kiai Urub, Kiai Jinggo, Kiai Gupito, Kiai Joko Piturun, dan Kiai Mesem. Namun, tatkala penobatan Hamengkubuwono III, senjata pusaka itu dikembalikan lagi ke keraton, kecuali pedang dan belati karena Raffles kelak mengirimkannya kepada Lord Minto di India sebagai tanda penaklukan Keraton Yogyakarta kepada Kerajaan Inggris. Bahkan, kancing-kancing emas yang melekat di busana kebesaran Sultan dijarah oleh para serdadu sipahi India. Berbagai senjata, gamelan, wayang, ratusan kitab sejarah Jawa, dan naskah-naskah daftar tanah kerajaan turut dijarah. Bahkan, dikisahkan juga dalam Babad Bedhah ing Ngayogyakarta bahwa selama empat hari lebih, harta rampasan perang diangkut dengan pedati ke Wisma Residen. Kuli pengangkutnya berasal dari pengawal dan kerabat dekat Sultan sendiri. Sementara itu, sebagai seorang letnan gubernur dan panglima perang, Thomas Stamford Raffles pun tak ketinggalan. Dia turut menjarah dan mengangkut harta keraton yang nilainya sekitar 200.000 hingga 1.200.000 dollar Spanyol. Kolonel Rollo Gillespie, seorang panglima tentara Inggris di Jawa, menjarah 800.000 dollar Spanyol. Sebesar 74.000 dollar Spanyol (sekitar Rp 27 miliar untuk kurs kini) untuk dirinya sendiri, sisanya dibagi-bagikan ke perwira lain di bawahnya. Sebagian lagi, sebesar 7.000 dollar Spanyol (sekitar Rp 2,5 miliar untuk kurs kini) dibagikan kepada legiun Pangeran Prangwedana dari Mangkunagaran. Pustaka naskah itu tidak kembali ke Jawa, setidaknya hingga hari ini. Menurut pemerian Carey, sekitar 55 naskah Jawa milik Raffles, sebagian besar diserahkan kepada Royal Asiatic Society pada 1830. Koleksi naskah jarahan Raffles bukanlah yang terbanyak. Kolonel Colin Mackenzie memiliki 66 naskah Jawa milik Keraton Yogyakarta. Sementara itu, sekitar 45 naskah Jawa koleksi John Crawfurd, seorang residen Yogyakarta, sebagian besar dijual kepada British Museum pada 1842. Babad tersebut juga berkisah tentang penjarahan yang tampaknya membabi buta terhadap barang-barang perhiasan milik perempuan keraton. Serdadu-serdadu itu memasuki wilayah keputren. Seorang istri resmi Putra Mahkota dilucuti perhiasan dan pakaian kebesarannya. Salah seorang perwira Inggris tewas ditikam seorang perempuan keraton lantaran sang perwira akan membawanya sebagai rampasan perang, demikian paparan Carey dalam bukunya. Peristiwa ini hanya terjadi sekali dalam sejarah Jawa, ketika istana sebagai lambang kedaulatan penguasa lokal diserang, dijarah, dan ditundukkan oleh pasukan Eropa. Sang Letnan Gubenur Jendral Sir Thomas Stamford Bingley Raffles sendiri sebenarnya hanya menyayangkan cara menjarah para prajuritnya, tapi tidak untuk penjarahannya.... Dari berbagai Sumber Beny Rusmawan

 SAAT RAF


FLES TAK “SEBERADAB” PERKIRAAN ORANG


Tepat hari ini 213 tahun lalu tentara Kerajaan Inggris menjarah keraton Kesultanan Jogjakarta 20 Juni 1812.


"Semua perempuan yang berada di hunian dalam keraton tetap dihormati, dan kepemilikan harta mereka turut dilindungi. Dalam kesempatan seperti ini diperlukan disiplin yang sangat tegas bahwa tak satu pun orang dianiaya ataupun kebiadaban berlangsung”


Pernyataan tadi ditulis oleh Kapten William Thorn, seorang perwira Kerajaan Inggris, dalam Memoirs of The Conquest of Java yang terbit tiga tahun setelah penaklukan Yogyakarta. Thorn terlibat dalam pertempuran 19-20 Juni 1812. Tampaknya, ada yang luput dari perhatian Thorn tentang peristiwa menyerahnya Sultan. 


Sabtu pagi yang penuh kekalutan. Pertempuran antara serdadu Kerajaan Inggris dan laskar Keraton Yogyakarta masih berlanjut, tetapi dengan skala yang mengecil. Semua kubu pertahanan Sultan Hamengkubuwono II sudah dikuasai serdadu-serdadu sipahiIndia. 


Keraton sudah sangat terdesak, serdadu-serdadu berseragam merah khas Kerajaan Inggris telah menyeruak ke dalam keraton.


Peter Brian Ramsay Carey dalam Kuasa Ramalan yang terbit pada 2011 mengungkapkan suasana jatuhnya Keraton Yogyakarta lewat pemerian Babad Bedhah ing Ngayogyakarta. Dia merupakan Profesor Emeritus di Trinity College, Oxford, Inggris, dan kini dia juga menjabat sebagai Adjunct Professor di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.


Babad itu ditulis Pangeran Panular, salah satu putra Sultan. Saat pagi menjelang, Sultan dan keluarganya berbusana serba putih, bahkan kursi-kursi pun dibalut kain putih. Sultan telah memerintahkan semua kepala laskar prajurit keraton untuk meletakkan senjata dan mengibarkan bendera putih. Sebelum pukul sembilan, Sultan sudah menjadi tawanan.

Dalam tawanan itu termasuk sekitar 300 laskar perempuan pengawal Sultan. Mereka adalah para perempuan yang dididik untuk berperilaku lembah lembut dan bertindak tegas secara militer. Mereka mahir menggunakan senapan dan menunggang kuda.


Babad tersebut juga mengisahkan betapa terhinanya Sultan saat itu. Mereka merelakan segala senjata dilucuti oleh serdadu Inggris dan sipahi, kemudian diarak dengan pengawalan menuju Wisma Residen yang berlokasi di barat Benteng Vredeburg.


Menurut Carey, Sultan menyerahkan keris, pedang, dan belatinya. Semua senjata pusaka keraton disita, yaitu Kiai Paningset, Kiai Sangkelat, Kiai Urub, Kiai Jinggo, Kiai Gupito, Kiai Joko Piturun, dan Kiai Mesem. 

Namun, tatkala penobatan Hamengkubuwono III, senjata pusaka itu dikembalikan lagi ke keraton, kecuali pedang dan belati karena Raffles kelak mengirimkannya kepada Lord Minto di India sebagai tanda penaklukan Keraton Yogyakarta kepada Kerajaan Inggris. Bahkan, kancing-kancing emas yang melekat di busana kebesaran Sultan dijarah oleh para serdadu sipahi India. 


Berbagai senjata, gamelan, wayang, ratusan kitab sejarah Jawa, dan naskah-naskah daftar tanah kerajaan turut dijarah. Bahkan, dikisahkan juga dalam Babad Bedhah ing Ngayogyakarta bahwa selama empat hari lebih, harta rampasan perang diangkut dengan pedati ke Wisma Residen. Kuli pengangkutnya berasal dari pengawal dan kerabat dekat Sultan sendiri. 


Sementara itu, sebagai seorang letnan gubernur dan panglima perang, Thomas Stamford Raffles pun tak ketinggalan. Dia turut menjarah dan mengangkut harta keraton yang nilainya sekitar 200.000 hingga 1.200.000 dollar Spanyol.


Kolonel Rollo Gillespie, seorang panglima tentara Inggris di Jawa, menjarah 800.000 dollar Spanyol. Sebesar 74.000 dollar Spanyol (sekitar Rp 27 miliar untuk kurs kini) untuk dirinya sendiri, sisanya dibagi-bagikan ke perwira lain di bawahnya. Sebagian lagi, sebesar 7.000 dollar Spanyol (sekitar Rp 2,5 miliar untuk kurs kini) dibagikan kepada legiun Pangeran Prangwedana dari Mangkunagaran. 


Pustaka naskah itu tidak kembali ke Jawa, setidaknya hingga hari ini. Menurut pemerian Carey, sekitar 55 naskah Jawa milik Raffles, sebagian besar diserahkan kepada Royal Asiatic Society pada 1830. Koleksi naskah jarahan Raffles bukanlah yang terbanyak. Kolonel Colin Mackenzie memiliki 66 naskah Jawa milik Keraton Yogyakarta. Sementara itu, sekitar 45 naskah Jawa koleksi John Crawfurd, seorang residen Yogyakarta, sebagian besar dijual kepada British Museum pada 1842. 


Babad tersebut juga berkisah tentang penjarahan yang tampaknya membabi buta terhadap barang-barang perhiasan milik perempuan keraton. Serdadu-serdadu itu memasuki wilayah keputren. Seorang istri resmi Putra Mahkota dilucuti perhiasan dan pakaian kebesarannya. Salah seorang perwira Inggris tewas ditikam seorang perempuan keraton lantaran sang perwira akan membawanya sebagai rampasan perang, demikian paparan Carey dalam bukunya.

Peristiwa ini hanya terjadi sekali dalam sejarah Jawa, ketika istana sebagai lambang kedaulatan penguasa lokal diserang, dijarah, dan ditundukkan oleh pasukan Eropa.


Sang Letnan Gubenur Jendral Sir Thomas Stamford Bingley Raffles sendiri sebenarnya hanya menyayangkan cara menjarah para prajuritnya, tapi tidak untuk penjarahannya....


Dari berbagai Sumber


Beny Rusmawan

Uber Cup adalah kejuaraan bulu tangkis internasional untuk nomor beregu putri yang diadakan setiap dua tahun sekali. Nama kejuaraan ini berasal dari nama H.S. Betty Uber, mantan pemain bulu tangkis dari Inggris. Piala Uber pertama kali diadakan pada tahun 1957 di Preston, Lancashire, Inggris. Pada tahun tersebut, turnamen ini diikuti oleh 11 negara, dan dimenangkan oleh Amerika Serikat. Piala Uber pada awalnya diadakan setiap tiga tahun sekali. Namun, sejak tahun 1984, Piala Uber diadakan setiap dua tahun sekali bersama dengan Piala Thomas, kejuaraan beregu untuk putra yang dimulai lebih awal pada tahun 1949. Tiga penyelenggaraan pertama Piala Uber dimenangkan secara berturut-turut oleh Amerika Serikat. #ArsipHariIni menampilkan foto Rombongan Atlet Bulu Tangkis Uber Cup Indonesia Berangkat dari Lapangan Udara Kemayoran ke Australia. Dari kanan ke kiri; Happy Herawati, Minarni Soedaryanto, Ny. Dick Sudirman, Corry Kawilarang, dan Retno Kustijah berfoto bersama sebelum keberangkatan rombongan atlet bulu tangkis Uber Cup Indonesia dari Lapangan Udara Kemayoran ke Australia, 23 Juni 1959.

 Uber Cup adalah kejuaraan bulu tangkis internasional untuk nomor beregu putri yang diadakan setiap dua tahun sekali. Nama kejuaraan ini berasal dari nama H.S. Betty Uber, mantan pemain bulu tangkis dari Inggris. Piala Uber pertama kali diadakan pada tahun 1957 di Preston, Lancashire, Inggris. Pada tahun tersebut, turnamen ini diikuti oleh 11 negara, dan dimenangkan oleh Amerika Serikat.



Piala Uber pada awalnya diadakan setiap tiga tahun sekali. Namun, sejak tahun 1984, Piala Uber diadakan setiap dua tahun sekali bersama dengan Piala Thomas, kejuaraan beregu untuk putra yang dimulai lebih awal pada tahun 1949. Tiga penyelenggaraan pertama Piala Uber dimenangkan secara berturut-turut oleh Amerika Serikat.


#ArsipHariIni menampilkan foto Rombongan Atlet Bulu Tangkis Uber Cup Indonesia Berangkat dari Lapangan Udara Kemayoran ke Australia.

Dari kanan ke kiri; Happy Herawati, Minarni Soedaryanto, Ny. Dick Sudirman, Corry Kawilarang, dan Retno Kustijah berfoto bersama sebelum keberangkatan rombongan atlet bulu tangkis Uber Cup Indonesia dari Lapangan Udara Kemayoran ke Australia, 23 Juni 1959.

Lahir dan besar di Yogyakarta di tengah kehidupan rakyat biasa, Basiyo tumbuh akrab dengan suasana kampung, budaya keraton, serta irama gamelan yang kelak membentuk gaya humornya yang khas. Tahun-tahun 1930-an menjadi awal perjalanan penting dalam karier seninya. Basiyo mulai dikenal di pentas-pentas dagelan Mataram yang tampil di wilayah Solo seperti Sriwedari, Balekambang, hingga Mangkunegaran. Gaya lawaknya yang menggabungkan kritik sosial, bahasa sehari-hari, serta kesederhanaan membuatnya mudah diterima oleh masyarakat luas. Basiyo semakin populer ketika bergabung dengan RRI Yogyakarta. Di sinilah ia menemukan ruang yang lebih luas untuk mengekspresikan dirinya. Sejak awal 1970-an, Basiyo mulai merekam karya-karyanya dalam bentuk kaset, bekerja sama dengan studio-studio rekaman di Yogyakarta dan Semarang. Puluhan rekaman kaset dagelannya, yang diproduksi oleh berbagai label seperti Ramayana Record, Lokananta, Fajar Record, dan Irama Record, beredar luas dan menjadi hiburan favorit di banyak rumah. Diperkirakan, ada lebih dari 70 judul rekaman yang ia hasilkan. Dari sinilah dagelan-dagelannya menjangkau pendengar di luar Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Judul-judul seperti Degan Wasiat, Kibir Kejungkir, Maling Kontrang-Kantring menjadi bagian dari warisan budaya populer Jawa. Basiyo tutup usia pada 31 Agustus 1979 karena penyakit jantung. Ia dimakamkan di Pemakaman Terban, Yogyakarta. Kepergiannya meninggalkan duka bagi dunia seni Jawa, namun warisannya tetap hidup dalam memori kolektif masyarakat. #spiritual21 #pelawak #basiyo #humor #standupcomedy #comedy #laporpak #srimulat

 Lahir dan besar di Yogyakarta di tengah kehidupan rakyat biasa, Basiyo tumbuh akrab dengan suasana kampung, budaya keraton, serta irama gamelan yang kelak membentuk gaya humornya yang khas.



Tahun-tahun 1930-an menjadi awal perjalanan penting dalam karier seninya. Basiyo mulai dikenal di pentas-pentas dagelan Mataram yang tampil di wilayah Solo seperti Sriwedari, Balekambang, hingga Mangkunegaran. 


Gaya lawaknya yang menggabungkan kritik sosial, bahasa sehari-hari, serta kesederhanaan membuatnya mudah diterima oleh masyarakat luas. 


Basiyo semakin populer ketika bergabung dengan RRI Yogyakarta. Di sinilah ia menemukan ruang yang lebih luas untuk mengekspresikan dirinya. 


Sejak awal 1970-an, Basiyo mulai merekam karya-karyanya dalam bentuk kaset, bekerja sama dengan studio-studio rekaman di Yogyakarta dan Semarang. 


Puluhan rekaman kaset dagelannya, yang diproduksi oleh berbagai label seperti Ramayana Record, Lokananta, Fajar Record, dan Irama Record, beredar luas dan menjadi hiburan favorit di banyak rumah. Diperkirakan, ada lebih dari 70 judul rekaman yang ia hasilkan.


Dari sinilah dagelan-dagelannya menjangkau pendengar di luar Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Judul-judul seperti Degan Wasiat, Kibir Kejungkir, Maling Kontrang-Kantring menjadi bagian dari warisan budaya populer Jawa.


Basiyo tutup usia pada 31 Agustus 1979 karena penyakit jantung. Ia dimakamkan di Pemakaman Terban, Yogyakarta. Kepergiannya meninggalkan duka bagi dunia seni Jawa, namun warisannya tetap hidup dalam memori kolektif masyarakat.


#spiritual21 #pelawak #basiyo #humor #standupcomedy #comedy #laporpak #srimulat

Sejarah, Per4ng Keturunan Majapahit oleh Kesultanan Demak (1478-1518): Tragedi Akhir Majapahit Kerajaan Majapahit, kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara, mengalami kemunduran drastis setelah wafatnya Hayam Wuruk dan semakin diperparah oleh perang saudara dalam Perang Paregreg (1405-1406). Pada tahun 1478, Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah menyerang dan menaklukkan sisa-sisa kekuatan Majapahit. Namun, tidak hanya sekadar merebut kekuasaan, pasukan Demak juga melakukan pembantaian besar-besaran terhadap keturunan kerajaan Majapahit, mengakhiri sisa-sisa dinasti yang pernah berjaya di Nusantara. --- Latar Belakang: Runtuhnya Majapahit Setelah perang saudara dan melemahnya ekonomi akibat tekanan dari Kesultanan Malaka dan pedagang Islam, Majapahit semakin kehilangan kekuatannya. Pada tahun 1478, Prabu Girindrawardhana (raja terakhir Majapahit) menghadapi serangan besar dari Kesultanan Demak yang mengklaim dirinya sebagai penerus sah Majapahit melalui garis keturunan dari ibu Raden Patah. Demak yang sudah menjadi kekuatan utama di Jawa melihat Majapahit sebagai kerajaan yang lemah dan siap untuk dihancurkan. --- Serangan dan Pembantaian Keturunan Majapahit 1. Penyerbuan ke Istana Majapahit (1478) Pasukan Demak dipimpin oleh Raden Patah melakukan serangan besar ke ibu kota Majapahit. Pertahanan Majapahit yang lemah tidak mampu menahan serangan, dan istana dengan cepat jatuh ke tangan pasukan Demak 2. Pembantaian Keluarga Kerajaan dan Bangsawan Majapahit Setelah istana dikuasai, terjadi pembantaian besar-besaran terhadap bangsawan dan keturunan kerajaan Majapahit. Para pangeran dan pejabat tinggi yang masih setia kepada Hindu-Buddha dibunuh atau dipaksa masuk Kuil-kuil dan bangunan keagamaan Hindu-Buddha dihancurkan atau dialihfungsikan n. 3. Pelarian Keturunan Majapahit ke Bali dan Blambangan Sebagian kecil bangsawan Majapahit yang selamat melarikan diri ke Bali, di mana mereka mendirikan Kerajaan Gelgel, cikal bakal Kesultanan Klungkung. Blambangan (di ujung timur Jawa) menjadi salah satu benteng terakhir Hindu di Jawa dan terus bertahan hingga abad ke-18 sebelum akhirnya ditaklukkan oleh Mataram dan Belanda. --- Dampak dan Warisan Sejarah 1. Akhir Era Hindu-Buddha di Jawa Dengan jatuhnya Majapahit dan pembantaian keluarga kerajaan, pengaruh Hindu-Buddha di Jawa mulai menghilang. Kesultanan-kesultanan seperti Demak, Cirebon, dan Banten mulai mendominasi Pulau Jawa. 2. Majapahit Digantikan oleh Kesultanan Demak Demak mengklaim dirinya sebagai penerus Majapahit, tetapi dalam versi Raden Patah memerintah dengan dasar dan mengubah sistem kerajaan yang sebelumnya berbasis Hindu-Buddha. 3. Perlawanan di Blambangan dan Bali Blambangan bertahan sebagai kerajaan Hindu terakhir di Jawa hingga abad ke-18. Bali menjadi pusat budaya Hindu di Nusantara dan tetap bertahan hingga sekarang. --- Kesimpulan Tragedi pembantaian keturunan Majapahit oleh Kesultanan Demak menandai salah satu peristiwa paling berdarah dalam sejarah Nusantara. Peristiwa ini menjadi simbol peralihan besar dari era Hindu-Buddha ke era di Jawa, sekaligus mengakhiri salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada di Indonesia. Meski Majapahit telah runtuh, jejak kejayaannya tetap hidup dalam budaya, seni, dan sejarah Indonesia hingga hari ini.

 Sejarah, Per4ng Keturunan Majapahit oleh Kesultanan Demak (1478-1518): Tragedi Akhir Majapahit

Kerajaan Majapahit, kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara, mengalami kemunduran drastis setelah wafatnya Hayam Wuruk dan semakin diperparah oleh perang saudara dalam Perang Paregreg (1405-1406).



Pada tahun 1478, Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah menyerang dan menaklukkan sisa-sisa kekuatan Majapahit. Namun, tidak hanya sekadar merebut kekuasaan, pasukan Demak juga melakukan pembantaian besar-besaran terhadap keturunan kerajaan Majapahit, mengakhiri sisa-sisa dinasti yang pernah berjaya di Nusantara.

---

Latar Belakang: Runtuhnya Majapahit

Setelah perang saudara dan melemahnya ekonomi akibat tekanan dari Kesultanan Malaka dan pedagang Islam, Majapahit semakin kehilangan kekuatannya. Pada tahun 1478, Prabu Girindrawardhana (raja terakhir Majapahit) menghadapi serangan besar dari Kesultanan Demak yang mengklaim dirinya sebagai penerus sah Majapahit melalui garis keturunan dari ibu Raden Patah.

Demak yang sudah menjadi kekuatan  utama di Jawa melihat Majapahit sebagai kerajaan yang lemah dan siap untuk dihancurkan.

---

Serangan dan Pembantaian Keturunan Majapahit

1. Penyerbuan ke Istana Majapahit (1478)

Pasukan Demak dipimpin oleh Raden Patah  melakukan serangan besar ke ibu kota Majapahit.

Pertahanan Majapahit yang lemah tidak mampu menahan serangan, dan istana dengan cepat jatuh ke tangan pasukan Demak

2. Pembantaian Keluarga Kerajaan dan Bangsawan Majapahit

Setelah istana dikuasai, terjadi pembantaian besar-besaran terhadap bangsawan dan keturunan kerajaan Majapahit.

Para pangeran dan pejabat tinggi yang masih setia kepada Hindu-Buddha dibunuh atau dipaksa masuk 

Kuil-kuil dan bangunan keagamaan Hindu-Buddha dihancurkan atau dialihfungsikan n.

3. Pelarian Keturunan Majapahit ke Bali dan Blambangan

Sebagian kecil bangsawan Majapahit yang selamat melarikan diri ke Bali, di mana mereka mendirikan Kerajaan Gelgel, cikal bakal Kesultanan Klungkung.

Blambangan (di ujung timur Jawa) menjadi salah satu benteng terakhir Hindu di Jawa dan terus bertahan hingga abad ke-18 sebelum akhirnya ditaklukkan oleh Mataram dan Belanda.

---

Dampak dan Warisan Sejarah

1. Akhir Era Hindu-Buddha di Jawa

Dengan jatuhnya Majapahit dan pembantaian keluarga kerajaan, pengaruh Hindu-Buddha di Jawa mulai menghilang.

Kesultanan-kesultanan  seperti Demak, Cirebon, dan Banten mulai mendominasi Pulau Jawa.

2. Majapahit Digantikan oleh Kesultanan Demak

Demak mengklaim dirinya sebagai penerus Majapahit, tetapi dalam versi

Raden Patah memerintah dengan dasar  dan mengubah sistem kerajaan yang sebelumnya berbasis Hindu-Buddha.

3. Perlawanan di Blambangan dan Bali

Blambangan bertahan sebagai kerajaan Hindu terakhir di Jawa hingga abad ke-18.

Bali menjadi pusat budaya Hindu di Nusantara dan tetap bertahan hingga sekarang.

---

Kesimpulan

Tragedi pembantaian keturunan Majapahit oleh Kesultanan Demak menandai salah satu peristiwa paling berdarah dalam sejarah Nusantara. Peristiwa ini menjadi simbol peralihan besar dari era Hindu-Buddha ke era  di Jawa, sekaligus mengakhiri salah satu kerajaan terbesar yang pernah ada di Indonesia.

Meski Majapahit telah runtuh, jejak kejayaannya tetap hidup dalam budaya, seni, dan sejarah Indonesia hingga hari ini.

23 June 2025

Kisah tragis di tahun 1982 Tersebutlah Kasinem, seorang gadis yang saat itu usianya menjelang 20 tahun. Asal Desa Karangudi, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen. Kurang berpendidikan dan kehidupannya dilalui dengan amat sederhana. Nasibnya tragis, hidupnya harus berakhir sebagai korban penyiksaan yang dilakukan secara beramai-ramai oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Melibatkan tidak kurang dari sepuluh orang pelaku. Berbulan-bulan, kuburan Kasinem yang malang tidak pernah ditengok untuk sekedar menerima taburan bunga dan doa dari keluarganya. Tidak dijenguknya Kasinem bukan karena ditelantarkan oleh keluarganya, semata karena orangtuanya belum mengetahui di lokasi kuburannya. Mbok Joyo Tayem, merupakan “pahlawan” bagi Kasinem. Karena dari Mbok Joyolah jenasah Kasinem segera diketahui. Pukul 18.30 Mbok Joyo ketika lewat dipinggir Jembatan Jaran Mati, tidak menemukan apa-apa. Tetapi ketika hendak pulang sekitar pukul 19.00 jenazah Kasinem ditemukan dalam posisi menungging. Beruntung cepat diketemukan, karena dimasa itu, bisa saja sekawanan binatang buas datang. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh pihak berwajib dan dokter Puskesmas. Hasil otopsi sementara disimpulkan bahwa kematainnya dikarenakan kesulitan pernapasan. Tak lama Kasinem dimakamkan di pekuburan umum Kebun Dalem Desa Slogohimo Kabupaten Wonogiri. Makamnya hanya ditandai oleh dua buah kayu tua sebagai pertanda makam sesorang. Ketika proses pemakaman, banyak penduduk merasa iba, beramai-ramai mengeluarkan lampu petromaks. Penduduk dengan suka rela melakukan penguburan sekitar jam 01.00 dini hari. Penduduk merasa meninggalnya Kasinem yang tidak wajar dan mereka berdoa bersama semoga si pembunuh bisa ditemukan segera. Anehnya ada satu oknum petugas desa yang menolak mengurusi jenazah Kasinem karena tidak mau direpotkan sebagai saksi bila dikemudian hari diketahui bahwa kematian Kasinem tidak wajar. Tanggal 23 September 1982, seorang pelaku ditangkap. Dan mengaku jenasah Kasinem dibuang pada 30 Agustus 1982. Beberapa hari kemudian, mayat Kasinem dibongkar, sayangnya hasil otopsi tidak sesuai yang diharapkan. Hasil laboratoris dan mikroskopis tidak dilakukan sama sekali. Sampai-sampai Majelis Hakim Pengadilan dalam pembacaan hasil keputusan pengadilan menyatakan keraguan atas hasil otopsi: “Inilah pelayanan terhadap orang kecil dan melarat dari desa oleh seorang ahli”… Terlepas dari itu semua, seorang penduduk bernama Simin Wikarno yang tinggal di sekitar kuburan Kebun Dalem Dalem, merasa iba dengan Kasinem. Hatinya tergerak untuk memberi taburan bunga sekadarnya. Terlebih ketika ia sedang “punya gawe” mendirikan rumah. Ia melakukan “nyekar” ke makam Kasinem terlebih dahulu. Menurutnya, gawenya hasilnya menjadi memuaskan. Memang sifat manusia, tidak mengenal puas dan Kasimin ketagihan. Ketika ramai judi buntut di desanya, ia ikut-ikutan. Sebagai petani sederhana, ia sering beli tetapi tak pernah menang. Dengan mengendap-ngedap ia datang ke makam Kasinem dan tidak lupa membawa bunga. Entah kebetulan atau tidak, Simin ketiban rejeki nompok yaitu nomor buntutnya “nembus”. Hal ini diulang beberapa kali dan nembus terus. Akibat ulang Simin, mendadak muncul Simin-simin yang lain. Gara-gara hal ini, kuburan Kasinem dijaga warga. Dan tidak berselang lama, makamnya kembali dibongkar untuk diotopsi ulang karena beberapa dari pembunuhnya sudah tertangkap. Setelah itu nomor Simin tidak pernah “nembus” lagi. Sumber: Berita Buana, 10-03-1983. Koleksi Surat Kabar Langka Salemba –Perpustakaan Nasional RI #kriminal #pembunuhan #JudiBuntut #Hukum

 Kisah tragis di tahun 1982


Tersebutlah Kasinem, seorang gadis yang saat itu usianya menjelang 20 tahun. Asal Desa Karangudi, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen. Kurang berpendidikan dan kehidupannya dilalui dengan amat sederhana. Nasibnya tragis, hidupnya harus berakhir sebagai korban penyiksaan yang dilakukan secara beramai-ramai oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Melibatkan tidak kurang dari sepuluh orang pelaku.



Berbulan-bulan, kuburan Kasinem yang malang tidak pernah ditengok untuk sekedar menerima taburan bunga dan doa dari keluarganya. Tidak dijenguknya Kasinem bukan karena ditelantarkan oleh keluarganya, semata karena orangtuanya belum mengetahui di lokasi kuburannya.


Mbok Joyo Tayem, merupakan “pahlawan” bagi Kasinem. Karena dari Mbok Joyolah jenasah Kasinem segera diketahui. Pukul 18.30 Mbok Joyo ketika lewat dipinggir Jembatan Jaran Mati, tidak menemukan apa-apa. Tetapi ketika hendak pulang sekitar pukul 19.00 jenazah Kasinem ditemukan dalam posisi menungging.  Beruntung cepat diketemukan, karena dimasa itu, bisa saja sekawanan binatang buas datang.


Setelah dilakukan pemeriksaan oleh pihak berwajib dan dokter Puskesmas. Hasil otopsi sementara disimpulkan bahwa kematainnya dikarenakan kesulitan pernapasan.  Tak lama Kasinem dimakamkan di pekuburan umum Kebun Dalem Desa Slogohimo Kabupaten Wonogiri.  Makamnya hanya ditandai oleh dua buah kayu tua sebagai pertanda makam sesorang. 


Ketika proses pemakaman, banyak penduduk merasa iba, beramai-ramai mengeluarkan lampu petromaks.  Penduduk dengan suka rela melakukan penguburan sekitar jam 01.00 dini hari. Penduduk merasa meninggalnya Kasinem yang tidak wajar dan mereka berdoa bersama semoga si pembunuh bisa ditemukan segera.  Anehnya ada satu oknum petugas desa yang menolak mengurusi jenazah Kasinem karena tidak mau direpotkan sebagai saksi bila dikemudian hari diketahui bahwa kematian Kasinem tidak wajar.


Tanggal 23 September 1982, seorang pelaku ditangkap. Dan mengaku jenasah Kasinem dibuang pada 30 Agustus 1982. Beberapa hari kemudian, mayat Kasinem dibongkar, sayangnya hasil otopsi tidak sesuai yang diharapkan.  Hasil laboratoris dan mikroskopis tidak dilakukan sama sekali. Sampai-sampai Majelis Hakim Pengadilan dalam pembacaan hasil keputusan pengadilan menyatakan keraguan atas hasil otopsi:  “Inilah pelayanan terhadap orang kecil dan melarat dari desa oleh seorang ahli”…


Terlepas dari itu semua, seorang penduduk bernama Simin Wikarno yang tinggal di sekitar kuburan Kebun Dalem Dalem, merasa iba dengan Kasinem. Hatinya tergerak untuk memberi taburan bunga sekadarnya. Terlebih ketika ia sedang “punya gawe” mendirikan rumah. Ia melakukan “nyekar” ke makam Kasinem terlebih dahulu. Menurutnya, gawenya hasilnya menjadi memuaskan. 


Memang sifat manusia, tidak mengenal puas dan Kasimin ketagihan. Ketika ramai judi buntut di desanya, ia ikut-ikutan.  Sebagai petani sederhana, ia sering beli tetapi tak pernah menang. Dengan mengendap-ngedap ia datang ke makam Kasinem dan tidak lupa membawa bunga. Entah kebetulan atau tidak, Simin ketiban rejeki nompok yaitu nomor buntutnya “nembus”. Hal ini diulang beberapa kali dan nembus terus. Akibat ulang Simin, mendadak muncul Simin-simin yang lain.


Gara-gara hal ini, kuburan Kasinem dijaga warga. Dan tidak  berselang lama, makamnya kembali dibongkar untuk  diotopsi ulang karena beberapa dari pembunuhnya sudah tertangkap. Setelah itu nomor Simin tidak pernah “nembus” lagi.


Sumber: Berita Buana, 10-03-1983. Koleksi Surat Kabar Langka Salemba –Perpustakaan Nasional RI


#kriminal #pembunuhan #JudiBuntut #Hukum

Ketika putri Raymon Westerling mati-matian membersihkan nama bapaknya yang dikenal sebagai penjahat perang berdarah dingin Raymon Westerling dianggap sebagai penjahat perang yang brutal selama Perang Kemerdekaan. Putrinya, Palmyra Westerling, mati-matian membersihkan nama ayahnya. Raymond Westerling adalah tokoh kontroversial dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Saat zaman Perang Kemerdekaan--pihak Belanda menyebutnya sebagia masa Bersiap--Westerling telah memimpin tindakan-tindakan brutal tentara Belanda terhadap masyarakat Indonesia. Oleh pihak Indonesia, apa yang dilakukan Westerling ini sebagai sebuah Kejahatan Perang. Westerling, masih dari sumber yang sama, tidak pernah membantah tindakan kejamnya itu. Meski begitu, dia menolak disebut melakukan kejahatan perang. Atas tindakan Westerling, pada 2013 lalu, Duta Besar Belanda untuk Indonesia meminta maaf kepada pemerintah Indonesia. Pemerintah Belanda juga memberikan sejumlah kompensasi kepada janda-janda yang masih hidup akibat tindakan Westerling. Tapi sang putri, Palmyra Westerling, mati-matian mencoba membersihkan nama ayahnya. Palmyra menjadi sorotan pada 2021 ketika dia menulis surat terbuka yang mendesak pemboikotan film Oost. Itu adalah film Belanda yang dirilis pada Juni 2021 yang berlatar Perang Kemerdekaan Indonesia yang menggambarkan tindakan brutal Westerling. Palmyra bilang dalam suratnya, pembuat film itu telah "memalsukan sejarah" dan "menggambarkan tentara KNIL laiknya penjahat perang Nazi". Pembantaian Westerling merupakan peristiwa pembunuhan ribuan rakyat sipil di Sulawesi Selatan pada Desember 1946 hingga Februari 1947. Pembantaian dilakukan oleh pasukan khusus Belanda Depot Speciale Troepen (DST) di bawah pimpinan Raymond Pierre Paul Westerling. Selain melakukan agresi militer, Belanda juga berusaha memecah Indonesia dengan mendirikan negara-negara boneka berbentuk negara federal. Ini terjadi di Sulawesi Selatan. Dalam Tragedi Patriot dan Pemberontak Kahar Muzakkar (2010), dijelaskan Belanda hendak mendirikan Negara Indonesia Timur (NIT) dengan Makassar sebagai ibu kotanya. Pada akhir 1946, 120 orang dari pasukan khusus DST dan komandannya, Westerling, dikirim ke Makassar. Mereka tiba dengan kapal pada 5 Desember 1946. Mereka ditugasi untuk menumpas pemberontak, yang adalah kelompok nasionalis atau republikein yang revolusioner dan mendukung kemerdekaan Republik Indonesia. Maarten Hidskes, putra Piet Hidskes, anggota DST, menuturkan kisah perang yang selama ini ditutupi ayahnya. Dia menulis kekejaman Belanda dalam buku Di Belanda Tak Seorang Pun Mempercayai Saya: Korban Metode Westerling di Sulawesi Selatan 1946-1947 (2018). Maarten menceritakan Westerling memulai operasinya pada 11 Desember 1946. Sesampai di Makassar, dia membangun kamp di Mattoangin. Pagi pagi hari, dari kamp, mereka bergerak ke kampung Batua. Warga dari kampung sekitar yakni Borong, Patunuang, Parang, dan Baray juga dibariskan di lapangan rumput. Di depan keluarga, mereka disiksa sebelum akhirnya ditembaki. Rumah-rumah dibakar dan diledakkan dengan granat. Kemudian pada 1 Februari, DST dan KNIL menggelar operasinya di Galung Lombok. Sebanyak 364 orang tewas. Operasi Westerling berlangsung selama lebih dari tiga bulan, dari 5 Desember 1946 hingga 21 Februari 1947. Sedikitnya 40.000 orang tewas dibantai Westerling dan pasukannya. Pihak Belanda justru menyelamatkan Westerling ketika hendak diadili. Westerling kabur ke Singapura dan Belgia sebelum pulang ke kampung halamannya di Belanda. Upaya ekstradisi sejak tahun 1950-an tak membuahkan hasil. Westerling hanya sempat dipenjara selama beberapa minggu di Singapura dan Belanda. Pada 1954, Dewan menteri menyatakan bahwa Westerling dan komandan perang lainnya tak dituntut. Di Belanda, ia dipuja-puja bak pahlawan. Jumlah korban yang diakui Belanda hanya 2.000. Belanda sendiri baru mengakui dan meminta maaf atas kejahatan itu 67 tahun setelahnya. Pada 12 September 2013, Pemerintah Belanda lewat Duta Besarnya Tjeerd de Zwaan meminta maaf untuk semua eksekusi-eksekusi tanpa pengadilan di seluruh Nusantara pada periode 1945-1950. Di tahun 2013, 10 janda yang suaminya menjadi korban eksekusi di Sulawesi Selatan mendapat ganti rugi sebesar 20.000 euro (Rp 296 juta). Namun tidak semua mendapat ganti rugi karena terbentur status dan masa gugatan. Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/033864697/indonesia-menyebut-sosok-ini-sebagai-penjahat-perang-brutal-putrinya-mati-matian-membersihkan-namanya #westerling #penjahatperang #perangkemerdekaan #Bersiap #perangrevolusi

 Ketika putri Raymon Westerling mati-matian membersihkan nama bapaknya yang dikenal sebagai penjahat perang berdarah dingin



Raymon Westerling dianggap sebagai penjahat perang yang brutal selama Perang Kemerdekaan. Putrinya, Palmyra Westerling, mati-matian membersihkan nama ayahnya.


Raymond Westerling adalah tokoh kontroversial dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Saat zaman Perang Kemerdekaan--pihak Belanda menyebutnya sebagia masa Bersiap--Westerling telah memimpin tindakan-tindakan brutal tentara Belanda terhadap masyarakat Indonesia.


Oleh pihak Indonesia, apa yang dilakukan Westerling ini sebagai sebuah Kejahatan Perang. Westerling, masih dari sumber yang sama, tidak pernah membantah tindakan kejamnya itu.


Meski begitu, dia menolak disebut melakukan kejahatan perang. Atas tindakan Westerling, pada 2013 lalu, Duta Besar Belanda untuk Indonesia meminta maaf kepada pemerintah Indonesia.


Pemerintah Belanda juga memberikan sejumlah kompensasi kepada janda-janda yang masih hidup akibat tindakan Westerling.


Tapi sang putri, Palmyra Westerling, mati-matian mencoba membersihkan nama ayahnya. Palmyra menjadi sorotan pada 2021 ketika dia menulis surat terbuka yang mendesak pemboikotan film Oost.


Itu adalah film Belanda yang dirilis pada Juni 2021 yang berlatar Perang Kemerdekaan Indonesia yang menggambarkan tindakan brutal Westerling. Palmyra bilang dalam suratnya, pembuat film itu telah "memalsukan sejarah" dan "menggambarkan tentara KNIL laiknya penjahat perang Nazi".


Pembantaian Westerling merupakan peristiwa pembunuhan ribuan rakyat sipil di Sulawesi Selatan pada Desember 1946 hingga Februari 1947. Pembantaian dilakukan oleh pasukan khusus Belanda Depot Speciale Troepen (DST) di bawah pimpinan Raymond Pierre Paul Westerling.


Selain melakukan agresi militer, Belanda juga berusaha memecah Indonesia dengan mendirikan negara-negara boneka berbentuk negara federal. Ini terjadi di Sulawesi Selatan.


Dalam Tragedi Patriot dan Pemberontak Kahar Muzakkar (2010), dijelaskan Belanda hendak mendirikan Negara Indonesia Timur (NIT) dengan Makassar sebagai ibu kotanya. Pada akhir 1946, 120 orang dari pasukan khusus DST dan komandannya, Westerling, dikirim ke Makassar.


Mereka tiba dengan kapal pada 5 Desember 1946. Mereka ditugasi untuk menumpas pemberontak, yang adalah kelompok nasionalis atau republikein yang revolusioner dan mendukung kemerdekaan Republik Indonesia.


Maarten Hidskes, putra Piet Hidskes, anggota DST, menuturkan kisah perang yang selama ini ditutupi ayahnya. Dia menulis kekejaman Belanda dalam buku Di Belanda Tak Seorang Pun Mempercayai Saya: Korban Metode Westerling di Sulawesi Selatan 1946-1947 (2018).


Maarten menceritakan Westerling memulai operasinya pada 11 Desember 1946. Sesampai di Makassar, dia membangun kamp di Mattoangin.


Pagi pagi hari, dari kamp, mereka bergerak ke kampung Batua. Warga dari kampung sekitar yakni Borong, Patunuang, Parang, dan Baray juga dibariskan di lapangan rumput. Di depan keluarga, mereka disiksa sebelum akhirnya ditembaki. Rumah-rumah dibakar dan diledakkan dengan granat.


Kemudian pada 1 Februari, DST dan KNIL menggelar operasinya di Galung Lombok. Sebanyak 364 orang tewas.


Operasi Westerling berlangsung selama lebih dari tiga bulan, dari 5 Desember 1946 hingga 21 Februari 1947. Sedikitnya 40.000 orang tewas dibantai Westerling dan pasukannya.


Pihak Belanda justru menyelamatkan Westerling ketika hendak diadili. Westerling kabur ke Singapura dan Belgia sebelum pulang ke kampung halamannya di Belanda.


Upaya ekstradisi sejak tahun 1950-an tak membuahkan hasil. Westerling hanya sempat dipenjara selama beberapa minggu di Singapura dan Belanda.


Pada 1954, Dewan menteri menyatakan bahwa Westerling dan komandan perang lainnya tak dituntut. Di Belanda, ia dipuja-puja bak pahlawan. Jumlah korban yang diakui Belanda hanya 2.000.


Belanda sendiri baru mengakui dan meminta maaf atas kejahatan itu 67 tahun setelahnya. Pada 12 September 2013, Pemerintah Belanda lewat Duta Besarnya Tjeerd de Zwaan meminta maaf untuk semua eksekusi-eksekusi tanpa pengadilan di seluruh Nusantara pada periode 1945-1950.


Di tahun 2013, 10 janda yang suaminya menjadi korban eksekusi di Sulawesi Selatan mendapat ganti rugi sebesar 20.000 euro (Rp 296 juta). Namun tidak semua mendapat ganti rugi karena terbentur status dan masa gugatan.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/033864697/indonesia-menyebut-sosok-ini-sebagai-penjahat-perang-brutal-putrinya-mati-matian-membersihkan-namanya


#westerling #penjahatperang #perangkemerdekaan #Bersiap #perangrevolusi

Ringkasan mengenai pangkat militer di Jawa. Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penyampaiannya 🙏🙏 Jika ada fakta menarik tentang kemiliteran di Jawa. Silahkan coment dan share, terimakasih 🙏🙏🙏

 Ringkasan mengenai pangkat militer di Jawa.



Peradaban-Peradaban yang Namanya Berubah 1. Mesopotamia menjadi Irak Latar Belakang Sejarah: Mesopotamia, sering disebut sebagai "Tempat Lahir Peradaban," terletak di antara sungai Tigris dan Eufrat, yang sekarang menjadi wilayah negara Irak. Daerah ini merupakan rumah bagi beberapa peradaban manusia paling awal, seperti Sumeria, Akkadia, Babilonia, dan Asyur. Wilayah ini dikenal karena perkembangan tulisan, urbanisasi (kota-kota awal), dan masyarakat kompleks. Seiring waktu, wilayah ini menjadi bagian dari berbagai kekaisaran, seperti Kekaisaran Persia dan kemudian Kekhalifahan Islam. Nama "Irak" mulai digunakan pada abad ke-6 selama Kekaisaran Sassania, dan menjadi nama resmi negara modern setelah runtuhnya Kekaisaran Ottoman di awal abad ke-20. 2. Lembah Indus menjadi Pakistan Latar Belakang Sejarah: Peradaban Lembah Indus adalah salah satu budaya urban paling awal di dunia, berkembang sekitar tahun 2600–1900 SM di wilayah yang kini menjadi Pakistan dan India bagian barat laut. Dikenal karena kota-kotanya yang maju seperti Mohenjo-Daro dan Harappa, peradaban ini mengembangkan sistem tulisan awal, arsitektur, dan organisasi sosial. Setelah peradaban ini runtuh, wilayah tersebut dikuasai oleh berbagai kerajaan dan kekaisaran, termasuk Kekaisaran Maurya dan Gupta, lalu oleh Kekhalifahan Islam. Pada tahun 1947, setelah Inggris meninggalkan India, wilayah ini menjadi negara merdeka bernama Pakistan, yang mencerminkan identitas Islam bangsa tersebut. 3. Kekaisaran Romawi menjadi Italia Latar Belakang Sejarah: Kekaisaran Romawi, yang mencapai puncaknya pada tahun 117 Masehi, meliputi sebagian besar Eropa, Afrika Utara, dan Timur Tengah. Kota Roma adalah pusat kekaisaran ini, yang meninggalkan warisan besar dalam bidang hukum, pemerintahan, arsitektur, dan bahasa. Setelah Kekaisaran Romawi Barat runtuh pada tahun 476 Masehi, wilayah ini terpecah menjadi berbagai kerajaan kecil. Negara modern Italia bersatu kembali pada abad ke-19, namun warisan Romawi tetap menjadi bagian penting dari budaya dan identitas nasionalnya. 4. Persia menjadi Iran Latar Belakang Sejarah: Persia, dikenal karena sejarah panjang kekaisaran seperti Achaemenid, Parthia, dan Sassania, adalah salah satu peradaban kuno paling penting, memberikan kontribusi besar dalam seni, ilmu pengetahuan, dan pemerintahan. Nama "Persia" digunakan oleh orang Barat selama berabad-abad, diambil dari wilayah "Pars." Namun, nama asli yang digunakan rakyatnya adalah "Iran," yang berarti "Tanah Bangsa Arya." Pada tahun 1935, Reza Shah meminta dunia internasional untuk menggunakan nama "Iran," agar sesuai dengan sebutan lokal yang sudah digunakan selama ribuan tahun. thanks untuk jempol dan shernya

 Peradaban-Peradaban yang Namanya Berubah





1. Mesopotamia menjadi Irak

Latar Belakang Sejarah:

Mesopotamia, sering disebut sebagai "Tempat Lahir Peradaban," terletak di antara sungai Tigris dan Eufrat, yang sekarang menjadi wilayah negara Irak. Daerah ini merupakan rumah bagi beberapa peradaban manusia paling awal, seperti Sumeria, Akkadia, Babilonia, dan Asyur. Wilayah ini dikenal karena perkembangan tulisan, urbanisasi (kota-kota awal), dan masyarakat kompleks. Seiring waktu, wilayah ini menjadi bagian dari berbagai kekaisaran, seperti Kekaisaran Persia dan kemudian Kekhalifahan Islam. Nama "Irak" mulai digunakan pada abad ke-6 selama Kekaisaran Sassania, dan menjadi nama resmi negara modern setelah runtuhnya Kekaisaran Ottoman di awal abad ke-20.


2. Lembah Indus menjadi Pakistan

Latar Belakang Sejarah:

Peradaban Lembah Indus adalah salah satu budaya urban paling awal di dunia, berkembang sekitar tahun 2600–1900 SM di wilayah yang kini menjadi Pakistan dan India bagian barat laut. Dikenal karena kota-kotanya yang maju seperti Mohenjo-Daro dan Harappa, peradaban ini mengembangkan sistem tulisan awal, arsitektur, dan organisasi sosial. Setelah peradaban ini runtuh, wilayah tersebut dikuasai oleh berbagai kerajaan dan kekaisaran, termasuk Kekaisaran Maurya dan Gupta, lalu oleh Kekhalifahan Islam. Pada tahun 1947, setelah Inggris meninggalkan India, wilayah ini menjadi negara merdeka bernama Pakistan, yang mencerminkan identitas Islam bangsa tersebut.


3. Kekaisaran Romawi menjadi Italia

Latar Belakang Sejarah:

Kekaisaran Romawi, yang mencapai puncaknya pada tahun 117 Masehi, meliputi sebagian besar Eropa, Afrika Utara, dan Timur Tengah. Kota Roma adalah pusat kekaisaran ini, yang meninggalkan warisan besar dalam bidang hukum, pemerintahan, arsitektur, dan bahasa. Setelah Kekaisaran Romawi Barat runtuh pada tahun 476 Masehi, wilayah ini terpecah menjadi berbagai kerajaan kecil. Negara modern Italia bersatu kembali pada abad ke-19, namun warisan Romawi tetap menjadi bagian penting dari budaya dan identitas nasionalnya.


4. Persia menjadi Iran

Latar Belakang Sejarah:

Persia, dikenal karena sejarah panjang kekaisaran seperti Achaemenid, Parthia, dan Sassania, adalah salah satu peradaban kuno paling penting, memberikan kontribusi besar dalam seni, ilmu pengetahuan, dan pemerintahan. Nama "Persia" digunakan oleh orang Barat selama berabad-abad, diambil dari wilayah "Pars." Namun, nama asli yang digunakan rakyatnya adalah "Iran," yang berarti "Tanah Bangsa Arya." Pada tahun 1935, Reza Shah meminta dunia internasional untuk menggunakan nama "Iran," agar sesuai dengan sebutan lokal yang sudah digunakan selama ribuan tahun.


thanks untuk jempol dan shernya

 Presiden Soekarno bersama istri tercinta, Hartini saat menerima kunjungan Mick Shann, Duta Besar Australia untuk Indonesia di Istana Bogor, Juli 1964.


Hartini (1924-2002) perempuan berparas ayu, putri seorang pejabat Departemen Kehutanan era Orde Lama asal Ponorogo, Jawa Timur yang sering berpindah tugas kedinasan. 



Ketika Presiden Soekarno menikahi Hartini di Istana Cipanas, 7 Juli 1953,   Fatmawati yang tak mau di madu memilih keluar dari istana dan menetap di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.


Pada tahun 1964 Hartini yang tidak pernah di anggap sebagai Ibu Negara itu pindah ke salah satu paviliun di Istana Bogor.

 Di Istana Bogor, Hartini ikut mendampingi berbagai acara kenegaraan Presiden Soekarno. Salah satunya menerima kunjungan Ho Chi Minh, Norodom Sihanouk dan Kaisar Hirohito


Sejarah mencatat bahwa Hartini lah satu-satunya istri yang paling lama menemani Presiden Soekarno dalam suka maupun duka serta pahit getirnya kehidupan. 

Sejak Presiden Soekarno masih berkuasa hingga pemimpin yang sangat di segani dan di hormati di berbagai belahan dunia itu tergolek lemah tak berdaya di Wisma Yaso (sekarang Museum Satria Mandala), dalam status tahanan politik oleh penguasa militer Jenderal Soeharto. Bahkan hingga Proklamator itu berpulang pada tanggal 21 Juni 1970 di RSPAD, Hartini lah yang tak pernah lelah menjaga dan menemani nya ..


👉Mohon maaf jika ada kekeliruan dan bila berkenan silahkan di lengkapi (kekurangan) informasi nya...


Sumber : #MedySaragih

Referensi : #hitamputih

                    #palingujung

21 June 2025

Operasi Penembakan Misterius (Petrus) 1982–1985: Ketika Negara Menjadi Algojo --- * Prolog: Malam Penuh Mayat Tanpa Nama Tahun 1982, Indonesia di bawah kekuasaan Presiden Soeharto tampak berjalan stabil. Media dikuasai, aparat militer mendominasi ruang-ruang sosial dan politik. Namun, di balik stabilitas semu itu, ketakutan gelap mulai menyusup diam-diam. Mayat-mayat bertato dengan tangan terikat ke belakang dan luka tembak di kepala mulai ditemukan di pinggir jalan, sungai, selokan, hingga kebun kosong. Tak ada pengakuan resmi, tak ada penjelasan. Hanya bisik-bisik di warung kopi dan lorong-lorong pasar tentang operasi rahasia: Petrus singkatan dari Penembakan Misterius. Orang-orang tahu apa yang sedang terjadi, tapi tak ada yang berani bersuara. --- * Awal Mula: Ketika Preman Jadi Musuh Negara Di awal 1980-an, premanisme di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang memang mulai marak. Orang-orang bertato yang kala itu dijuluki “gali” (gabungan anak liar) kerap dianggap perusak ketertiban umum. Pemerintah menganggap para preman ini ancaman serius bagi keamanan dan ketertiban sosial. Namun, di balik narasi itu, ada kegelisahan rezim Orde Baru terhadap potensi perlawanan rakyat. Preman-preman itu, meski dianggap kriminal, sesungguhnya juga bagian dari masyarakat bawah yang sewaktu-waktu bisa jadi alat atau ancaman politik. Akhirnya diputuskan, bukan lewat pengadilan atau rehabilitasi sosial — tapi dengan peluru. --- * Operasi Tanpa Nama, Tapi Sangat Sistematis Operasi Petrus digerakkan oleh aparat militer di bawah koordinasi sejumlah Kodam dan Kodim. Mereka bergerak diam-diam, tanpa surat perintah pengadilan, tanpa prosedur hukum. Daftar nama target disusun: mulai dari preman jalanan, tukang parkir liar, bahkan pemuda biasa yang kebetulan bertato. Orang-orang bertato menjadi buruan. Siapa saja yang memiliki tato meski hanya simbol kecil di lengan berisiko ditembak mati tanpa pengadilan. Korban umumnya ditangkap malam hari. Diculik, diinterogasi, lalu dibawa ke lokasi eksekusi. Tubuh mereka ditemukan keesokan harinya di pinggir jalan, sungai, atau semak-semak. Mulut disumpal, tangan diikat ke belakang, dan luka tembak di kepala atau dada. Kadang ada mayat yang sengaja dibiarkan tergeletak beberapa jam di jalan, sebagai pesan peringatan bagi yang lain. --- * Kisah Kentus: Lari Dari Maut, Terjebak Dalam Sistem Salah satu kisah nyata yang paling dikenal dari Operasi Petrus adalah kasus Kentus, seorang pemuda dari Yogyakarta yang bertato dan dikenal sebagai preman kecil. Tahun 1983, saat gelombang Petrus mulai membara di Yogyakarta, Kentus merasa nyawanya dalam ancaman. Ia dan dua rekannya melarikan diri ke Jakarta, berharap bisa selamat di kota besar. Di sana, mereka mengadu ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. LBH yang saat itu masih berani menangani kasus-kasus sensitif mencoba bernegosiasi dengan Kodim Yogyakarta, meminta jaminan keselamatan bagi Kentus. Kodim memberi jaminan tertulis. Namun kenyataannya, seminggu kemudian Kentus ditangkap di Jakarta. Ia dibawa kembali ke Yogyakarta, diinterogasi berhari-hari tanpa pengacara, lalu dipindahkan ke Poltabes. Setelah itu, namanya hilang. Tak pernah ditemukan. Banyak yang meyakini Kentus telah dieksekusi, mayatnya dibuang ke kuburan massal tanpa identitas di pinggiran kota. --- * Ketakutan Massal: Tato Dianggap Dosa Operasi Petrus menciptakan ketakutan luar biasa di tengah masyarakat. Studio tato gulung tikar. Orang-orang berbondong-bondong menghapus tatonya dengan benda panas atau asam. Preman-preman kecil bersembunyi di desa-desa atau hutan. Bahkan, ada orang-orang yang sebenarnya bukan kriminal tapi sekadar bertato karena seni atau budaya, ikut menjadi korban. Warga tak berani keluar malam. Di beberapa kampung kota, anak-anak dilarang bermain di luar setelah magrib. Di warung-warung kopi, nama-nama korban Petrus hanya dibisikkan, karena siapa pun bisa saja diawasi. Ironisnya, kasus salah sasaran kerap terjadi. Dendam pribadi, persaingan bisnis, hingga kecemburuan antar preman dimanfaatkan untuk menyingkirkan lawan dengan cara memasukkan nama mereka ke daftar target Petrus. --- * Negara Diam, Media Bungkam Selama bertahun-tahun, pemerintah Orde Baru tak pernah mengakui secara resmi adanya Operasi Petrus. Media-media dilarang memberitakan secara terbuka. Jika ada laporan tentang mayat misterius, aparat selalu menyebutnya sebagai korban “perkelahian antar preman.” Namun, para jurnalis bawah tanah, aktivis HAM, dan pegiat hukum tahu persis apa yang sedang terjadi. Tapi membongkar Petrus di masa itu berarti mempertaruhkan nyawa. --- * Akhir yang Tertunda: Pengakuan Puluhan Tahun Kemudian Operasi Petrus mereda sekitar tahun 1985, setelah ribuan korban tewas. Jumlah pasti korban tak pernah diumumkan. Diperkirakan antara 2.000 hingga 10.000 jiwa. Baru pada 11 Januari 2023, dalam pidato resminya, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa Operasi Petrus merupakan bagian dari pelanggaran HAM berat di Indonesia. Ia menyebut peristiwa itu bersama 11 peristiwa kelam lainnya. Namun, meski diakui, hingga kini tak ada satu pun pelaku eksekusi, komandan operasi, atau pejabat militer Orde Baru yang diadili. Kuburan massal korban Petrus pun masih banyak yang tak diketahui letaknya. --- * Epilog: Luka Yang Tak Pernah Ditutup Petrus bukan sekadar tragedi hukum atau kekerasan jalanan. Ia adalah luka sejarah yang menyimpan ironi: ketika negara yang seharusnya melindungi, justru menjadi algojo rakyatnya sendiri. Teror Petrus membuktikan betapa kekuasaan bisa menggunakan ketakutan sebagai senjata untuk membungkam perlawanan sosial. Hingga kini, keluarga korban masih menunggu keadilan yang tak kunjung datang. Sementara banyak nama yang hilang dalam sejarah, tubuh yang terkubur tanpa nisan, dan trauma yang diwariskan dari generasi ke generasi. --- Ditulis oleh : Dunia Sejarah --- Sumber Referensi: - Asvi Warman Adam, Melacak Kekerasan Negara Orde Baru, 2006 - Komnas HAM RI, Laporan Dugaan Pelanggaran HAM Berat Operasi Petrus, 2012 - Tempo, Preman, Petrus, dan Negara, Edisi Khusus, 2012 - Kompas, Jokowi Akui Pelanggaran HAM Berat, Termasuk Petrus, 11 Januari 2023 #OperasiPetrus #SejarahKelamIndonesia #HAMIndonesia #Preman1980an #KentusYogyakarta #OrdeBaru #PelanggarnHAM #Jokowi2023 #SejarahIndonesia #TragediPetrus

 Operasi Penembakan Misterius (Petrus) 1982–1985: Ketika Negara Menjadi Algojo


---


* Prolog: Malam Penuh Mayat Tanpa Nama


Tahun 1982, Indonesia di bawah kekuasaan Presiden Soeharto tampak berjalan stabil. Media dikuasai, aparat militer mendominasi ruang-ruang sosial dan politik. Namun, di balik stabilitas semu itu, ketakutan gelap mulai menyusup diam-diam. Mayat-mayat bertato dengan tangan terikat ke belakang dan luka tembak di kepala mulai ditemukan di pinggir jalan, sungai, selokan, hingga kebun kosong.



Tak ada pengakuan resmi, tak ada penjelasan. Hanya bisik-bisik di warung kopi dan lorong-lorong pasar tentang operasi rahasia: Petrus singkatan dari Penembakan Misterius.


Orang-orang tahu apa yang sedang terjadi, tapi tak ada yang berani bersuara.


---


* Awal Mula: Ketika Preman Jadi Musuh Negara


Di awal 1980-an, premanisme di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang memang mulai marak. Orang-orang bertato yang kala itu dijuluki “gali” (gabungan anak liar) kerap dianggap perusak ketertiban umum. Pemerintah menganggap para preman ini ancaman serius bagi keamanan dan ketertiban sosial.


Namun, di balik narasi itu, ada kegelisahan rezim Orde Baru terhadap potensi perlawanan rakyat. Preman-preman itu, meski dianggap kriminal, sesungguhnya juga bagian dari masyarakat bawah yang sewaktu-waktu bisa jadi alat atau ancaman politik.


Akhirnya diputuskan, bukan lewat pengadilan atau rehabilitasi sosial — tapi dengan peluru.


---


* Operasi Tanpa Nama, Tapi Sangat Sistematis


Operasi Petrus digerakkan oleh aparat militer di bawah koordinasi sejumlah Kodam dan Kodim. Mereka bergerak diam-diam, tanpa surat perintah pengadilan, tanpa prosedur hukum. Daftar nama target disusun: mulai dari preman jalanan, tukang parkir liar, bahkan pemuda biasa yang kebetulan bertato.


Orang-orang bertato menjadi buruan. Siapa saja yang memiliki tato meski hanya simbol kecil di lengan berisiko ditembak mati tanpa pengadilan.


Korban umumnya ditangkap malam hari. Diculik, diinterogasi, lalu dibawa ke lokasi eksekusi. Tubuh mereka ditemukan keesokan harinya di pinggir jalan, sungai, atau semak-semak. Mulut disumpal, tangan diikat ke belakang, dan luka tembak di kepala atau dada.


Kadang ada mayat yang sengaja dibiarkan tergeletak beberapa jam di jalan, sebagai pesan peringatan bagi yang lain.


---


* Kisah Kentus: Lari Dari Maut, Terjebak Dalam Sistem


Salah satu kisah nyata yang paling dikenal dari Operasi Petrus adalah kasus Kentus, seorang pemuda dari Yogyakarta yang bertato dan dikenal sebagai preman kecil. Tahun 1983, saat gelombang Petrus mulai membara di Yogyakarta, Kentus merasa nyawanya dalam ancaman.


Ia dan dua rekannya melarikan diri ke Jakarta, berharap bisa selamat di kota besar. Di sana, mereka mengadu ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta. LBH yang saat itu masih berani menangani kasus-kasus sensitif mencoba bernegosiasi dengan Kodim Yogyakarta, meminta jaminan keselamatan bagi Kentus.


Kodim memberi jaminan tertulis. Namun kenyataannya, seminggu kemudian Kentus ditangkap di Jakarta. Ia dibawa kembali ke Yogyakarta, diinterogasi berhari-hari tanpa pengacara, lalu dipindahkan ke Poltabes.


Setelah itu, namanya hilang. Tak pernah ditemukan. Banyak yang meyakini Kentus telah dieksekusi, mayatnya dibuang ke kuburan massal tanpa identitas di pinggiran kota.


---


* Ketakutan Massal: Tato Dianggap Dosa


Operasi Petrus menciptakan ketakutan luar biasa di tengah masyarakat. Studio tato gulung tikar. Orang-orang berbondong-bondong menghapus tatonya dengan benda panas atau asam. Preman-preman kecil bersembunyi di desa-desa atau hutan. Bahkan, ada orang-orang yang sebenarnya bukan kriminal tapi sekadar bertato karena seni atau budaya, ikut menjadi korban.


Warga tak berani keluar malam. Di beberapa kampung kota, anak-anak dilarang bermain di luar setelah magrib. Di warung-warung kopi, nama-nama korban Petrus hanya dibisikkan, karena siapa pun bisa saja diawasi.


Ironisnya, kasus salah sasaran kerap terjadi. Dendam pribadi, persaingan bisnis, hingga kecemburuan antar preman dimanfaatkan untuk menyingkirkan lawan dengan cara memasukkan nama mereka ke daftar target Petrus.


---


* Negara Diam, Media Bungkam


Selama bertahun-tahun, pemerintah Orde Baru tak pernah mengakui secara resmi adanya Operasi Petrus. Media-media dilarang memberitakan secara terbuka. Jika ada laporan tentang mayat misterius, aparat selalu menyebutnya sebagai korban “perkelahian antar preman.”


Namun, para jurnalis bawah tanah, aktivis HAM, dan pegiat hukum tahu persis apa yang sedang terjadi. Tapi membongkar Petrus di masa itu berarti mempertaruhkan nyawa.


---


* Akhir yang Tertunda: Pengakuan Puluhan Tahun Kemudian


Operasi Petrus mereda sekitar tahun 1985, setelah ribuan korban tewas. Jumlah pasti korban tak pernah diumumkan. Diperkirakan antara 2.000 hingga 10.000 jiwa.


Baru pada 11 Januari 2023, dalam pidato resminya, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa Operasi Petrus merupakan bagian dari pelanggaran HAM berat di Indonesia. Ia menyebut peristiwa itu bersama 11 peristiwa kelam lainnya.


Namun, meski diakui, hingga kini tak ada satu pun pelaku eksekusi, komandan operasi, atau pejabat militer Orde Baru yang diadili. Kuburan massal korban Petrus pun masih banyak yang tak diketahui letaknya.


---


* Epilog: Luka Yang Tak Pernah Ditutup


Petrus bukan sekadar tragedi hukum atau kekerasan jalanan. Ia adalah luka sejarah yang menyimpan ironi: ketika negara yang seharusnya melindungi, justru menjadi algojo rakyatnya sendiri. Teror Petrus membuktikan betapa kekuasaan bisa menggunakan ketakutan sebagai senjata untuk membungkam perlawanan sosial.


Hingga kini, keluarga korban masih menunggu keadilan yang tak kunjung datang. Sementara banyak nama yang hilang dalam sejarah, tubuh yang terkubur tanpa nisan, dan trauma yang diwariskan dari generasi ke generasi.


---

Ditulis oleh : Dunia Sejarah 

---

Sumber Referensi:

- Asvi Warman Adam, Melacak Kekerasan Negara Orde Baru, 2006

- Komnas HAM RI, Laporan Dugaan Pelanggaran HAM Berat Operasi Petrus, 2012

- Tempo, Preman, Petrus, dan Negara, Edisi Khusus, 2012

- Kompas, Jokowi Akui Pelanggaran HAM Berat, Termasuk Petrus, 11 Januari 2023


#OperasiPetrus #SejarahKelamIndonesia #HAMIndonesia #Preman1980an #KentusYogyakarta #OrdeBaru #PelanggarnHAM #Jokowi2023 #SejarahIndonesia #TragediPetrus

20 June 2025

TUSUK KONDE BU TIEN,SALAH SATU RAHASIA KEKUATAN PAK HARTO Pasangan mendiang Presiden RI kedua HM Soeharto dan Fatimah Siti Hartinah yang akrab dipanggil Ibu Tien, dikenal oleh masyarakat luas sebagai pasangan supranutaral. Banyak orang mempercayai bahwa Bu Tien yang merupakan keluarga besar Keraton Kasunanan Surakarta, Solo Jawa Tengah itu merupakan sumber kewibawaan dan pamor Pak Harto. Maka banyak orang juga percaya ketika Bu Tien wafat mendahului Pak Harto pada 1996, pamor dan kewibawaan Pak Harto turut surut dan berujung pada lengsernya Presiden kedua RI itu pada bulan Mei 1998. Tentang wibawa dan ‘’kesaktian’’ Bu Tien yang sangat berpengaruh kepada Pak Harto, menurut seorang penerbang helikopter TNI AU yang tak mau disebut namanya, kesaktian Bu Tien konon terletak pada tusuk konde rambutnya. Menurut mantan pilot helikopter yang jabatan terakhirnya adalah jenderal bintang tiga (Marsekal Masdya), ketika dirinya masih berpangkat Mayor dan kerap menerbangkan heli Puma VVIP, suatu ketika penumpangnya adalah Bu Tien dan para pengawalnya. Sebagai pilot heli yang memiliki kemampuan istimewa dan sering mengangkut para penumpang VVIP seperti Presiden dan keluarganya, pilot heli berpangkat Mayor itu juga berusaha menunjukkan loyalitas yang tinggi. Sebelum seluruh penumpang VVIP masuk ke kabin heli, pilot dan kopilot heli mendampingi dulu para penumpang serta baru siap menerbangkannya heli setelah penumpang dalam kondisi on board. Ketika sedang mendampingi Bu Tien yang akan masuk heli itulah, tusuk konde yang dikenakan Bu Tien tersenggol pintu dan jatuh. Secara spontan dan sekaligus menunjukkan kesigapan sebagai tentara, pilot helikopter berpangkat Mayor itu bermaksud mengambil tusuk konde dan ingin menyerahkannya kepada Bu Tien. Tapi belum sampai tangan si pilot heli menyentuh tusuk konde, para pengawal BuTien yang lebih sigap terlebih dahulu menampar pilot bersangkutan sambil menghadrik. Pilot heli berpangkat Mayor itu sangat terkejut tapi karena yang bereaksi personel Paspampres, ia hanya diam saja. Pilot heli itu baru menyadari jika untuk mengambil tusuk konde Bu Tien perlu ‘’ritual’’ tertentu dan tidak boleh dipungut begitu saja. Pasalnya personel Paspampres yang mengambilnya , terlebih dahulu menyembah tusuk konde itu sambil komat-kamit, kemudian dengan takzim menyerahkannya kepada Ibu Tien. Mungkin di antara Presiden RI yang pernah menjabat hanya Soeharto yang memiliki spiritualise Jawa yang kenthal demi menopang stabilitas kekuasaannya. Soeharto juga bisa digolongkan sebagai penganut Islam-Kejawen seperti cara beragama para leluhur Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat (Mataram) yang telah berhasil ‘’mengawinkan’’ Islam-Kejawen sejak Pemerintahan Raja Sultan Agung (1613-1645). (intisari)

 TUSUK KONDE BU TIEN,SALAH SATU RAHASIA KEKUATAN PAK HARTO


Pasangan mendiang Presiden RI kedua HM Soeharto dan Fatimah Siti Hartinah yang akrab dipanggil Ibu Tien, dikenal oleh masyarakat luas sebagai pasangan supranutaral.





Banyak orang mempercayai bahwa Bu Tien yang merupakan keluarga besar Keraton Kasunanan Surakarta, Solo Jawa Tengah itu merupakan sumber kewibawaan dan pamor Pak Harto.


Maka banyak orang juga percaya ketika Bu Tien wafat mendahului Pak Harto pada 1996, pamor dan kewibawaan Pak Harto turut surut dan berujung pada lengsernya Presiden kedua RI itu pada bulan Mei 1998.


Tentang wibawa dan ‘’kesaktian’’ Bu Tien yang sangat berpengaruh kepada Pak Harto, menurut seorang penerbang helikopter TNI AU yang tak mau disebut namanya, kesaktian Bu Tien konon terletak pada tusuk konde rambutnya.


Menurut mantan pilot helikopter yang jabatan terakhirnya adalah jenderal bintang tiga (Marsekal Masdya), ketika dirinya masih berpangkat Mayor dan kerap menerbangkan heli Puma VVIP, suatu ketika penumpangnya adalah Bu Tien dan para pengawalnya.


Sebagai pilot heli yang memiliki kemampuan istimewa dan sering mengangkut para penumpang VVIP seperti Presiden dan keluarganya, pilot heli berpangkat Mayor itu juga berusaha menunjukkan loyalitas yang tinggi.

Sebelum seluruh penumpang VVIP masuk ke kabin heli, pilot dan kopilot heli mendampingi dulu para penumpang serta baru siap menerbangkannya heli setelah penumpang dalam kondisi on board.


Ketika sedang mendampingi Bu Tien yang akan masuk heli itulah, tusuk konde yang dikenakan Bu Tien tersenggol pintu dan jatuh.

Secara spontan dan sekaligus menunjukkan kesigapan sebagai tentara, pilot helikopter berpangkat Mayor itu bermaksud mengambil tusuk konde dan ingin menyerahkannya kepada Bu Tien.

Tapi belum sampai tangan si pilot heli menyentuh tusuk konde, para pengawal BuTien yang lebih sigap terlebih dahulu menampar pilot bersangkutan sambil menghadrik.

Pilot heli berpangkat Mayor itu sangat terkejut tapi karena yang bereaksi personel Paspampres, ia hanya diam saja.

Pilot heli itu baru menyadari jika untuk mengambil tusuk konde Bu Tien perlu ‘’ritual’’ tertentu dan tidak boleh dipungut begitu saja.


Pasalnya personel Paspampres yang mengambilnya , terlebih dahulu menyembah tusuk konde itu sambil komat-kamit, kemudian dengan takzim menyerahkannya kepada Ibu Tien.


Mungkin di antara Presiden RI yang pernah menjabat hanya Soeharto yang memiliki spiritualise Jawa yang kenthal demi menopang stabilitas kekuasaannya.


Soeharto juga bisa digolongkan sebagai penganut Islam-Kejawen seperti cara beragama para leluhur Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat (Mataram) yang telah berhasil ‘’mengawinkan’’ Islam-Kejawen sejak Pemerintahan Raja Sultan Agung (1613-1645).

(intisari)

19 June 2025

Gerhana Matahari Total di Indonesia tgl 11 Juni 1983. Saat itu masyarakat tidak boleh melihat langsung,tidak boleh keluar rumah & hanya melihat siaran langsung di TVRI. #jadul_nostalgia

 Gerhana Matahari Total di Indonesia tgl 11 Juni 1983.

Saat itu masyarakat tidak boleh melihat langsung,tidak boleh keluar rumah & hanya melihat siaran langsung di TVRI.



#jadul_nostalgia

16 June 2025

“Raja Willem III mengunjungi ayah Jenderal Köhler, yang terbunuh di Aceh, 1873 Raja Willem III mengunjungi ayah dari Jenderal Johan HR Köhler, yang terbunuh di Aceh, 18 Mei 1873. Raja bersama dua perwira di rumah sang ayah, yang ditemani oleh tiga anak laki-laki (cucu laki-laki) dan seorang wanita (janda?). Köhler terbunuh pada tanggal 14 April 1873 di Mesigit (masjid) selama Ekspedisi Aceh Pertama. ——— Cc: Adi Fa #sejarahaceh #acehpungo

 “Raja Willem III mengunjungi ayah Jenderal Köhler, yang terbunuh di Aceh, 1873



Raja Willem III mengunjungi ayah dari Jenderal Johan HR Köhler, yang terbunuh di Aceh, 18 Mei 1873. Raja bersama dua perwira di rumah sang ayah, yang ditemani oleh tiga anak laki-laki (cucu laki-laki) dan seorang wanita (janda?). Köhler terbunuh pada tanggal 14 April 1873 di Mesigit (masjid) selama Ekspedisi Aceh Pertama.

———

Cc: Adi Fa


#sejarahaceh #acehpungo

Wayang Orang atau Pangeran Mankoe Negoro, Surakarta (Solo) , Ca;1880 _________ @Sorotan @Publik @Semuaorang

 Wayang Orang atau Pangeran Mankoe Negoro, Surakarta (Solo) , Ca;1880


_________



@Sorotan

@Publik

@Semuaorang

Cinta Terlarang di Keraton Yogyakarta: Kisah Nyi Ageng Serang Muda Di lereng perbukitan Serang, Jawa Tengah, sekitar tahun 1752, lahirlah seorang anak perempuan dari keturunan bangsawan Mataram. Namanya Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. Sejak kecil, hidupnya tak biasa. Ayahnya, Pangeran Notodiningrat, bukan hanya seorang adipati, tapi juga keturunan langsung dari Sunan Kalijaga. Di usianya yang masih belia, saat anak perempuan lain belajar menari atau menumbuk padi, Raden Ajeng sudah akrab dengan peta-peta jalur perang dan strategi pertempuran. Ia belajar menggunakan tombak, keris, bahkan mengatur barisan prajurit desa. Semua itu diwariskan dari sang kakek buyut, Ki Ageng Serang, pemimpin karismatik Mataram pada zamannya. * Cinta di Balik Dinding Keraton Ketika beranjak remaja, kecantikan dan kecerdasannya tersiar hingga ke telinga Keraton Yogyakarta. Suatu waktu, ia dipanggil ke keraton dan di sanalah benih cinta tumbuh. Seorang bangsawan keraton terpikat kepadanya. Sayangnya, hubungan itu terlarang. Selain perbedaan umur yang jauh, situasi politik di dalam keraton pun tak kondusif. Hubungan itu harus dijalani sembunyi-sembunyi, karena bisa mengancam posisi keluarga keduanya. Di balik kemewahan keraton, Raden Ajeng mulai merasakan kegelisahan. Ia melihat ketidakadilan. Rakyat menderita karena pajak dan kekuasaan kolonial yang makin mencengkeram. Sementara para bangsawan lebih sibuk memperebutkan kekuasaan daripada memikirkan rakyat. Raden Ajeng sadar, cinta asmara yang dikejarnya tak sebanding dengan cinta kepada rakyatnya. * Meninggalkan Cinta, Memilih Rakyat Dalam sebuah malam sunyi, ditemani suara kentongan ronda dan desir angin di halaman keraton, Raden Ajeng membuat keputusan paling berat dalam hidupnya. Ia meninggalkan keraton, meninggalkan cinta terlarang itu, dan kembali ke Desa Serang. Di sana, ia menggalang kekuatan rakyat. Ia menikahi Pangeran Kusumowijoyo, seorang bangsawan lokal yang juga pejuang, bukan demi status, tapi sebagai bagian dari perjuangan menyatukan rakyat. * Berperang di Usia Senja Tahun 1825, Perang Diponegoro pecah. Saat itu, usianya telah lebih dari 70 tahun. Tapi semangatnya tak pernah padam. Di usia senjanya, Nyi Ageng Serang memimpin sendiri pasukan rakyat. Karena tak lagi bisa berjalan jauh, ia memimpin dari atas tandu. Di sinilah ia menunjukkan strategi legendaris: "Daun Lumbu". Pasukannya berkamuflase di ladang talas, menutupi tubuh mereka dengan daun lebar, menyergap pasukan Belanda yang tak menyangka ada serangan dari arah itu. Taktik ini beberapa kali berhasil membuat tentara kolonial kewalahan. * Akhir Hidup yang Terhormat Setelah bertahun-tahun berperang, di tahun 1828, Nyi Ageng Serang wafat di usia 76 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Bukit Beku, Kulon Progo, Yogyakarta. Ia dikenang bukan hanya sebagai pejuang, tapi juga sebagai perempuan yang rela mengorbankan cinta pribadi demi cintanya kepada rakyat dan tanah air. Pada 13 Desember 1974, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional untuknya. Namanya abadi dalam catatan sejarah Indonesia. Sumber Referensi: - Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta - Kompas : Kisah Nyi Ageng Serang, Pahlawan Perempuan dari Yogyakarta - Wikipedia Indonesia: Nyi Ageng Serang - Buku Perempuan-Perempuan Perkasa Nusantara (2019) 📸 Foto Sudah di Restorasi Berwarna Nyi Ageng Serang (Sumber: Dinas Kebudayaan Yogyakarta) #NyiAgengSerang #PahlawanNasional #SejarahIndonesia #PerempuanPejuang #PerangDiponegoro #CeritaTempoDulu #KeratonYogyakarta #EmansipasiPerempuan #PahlawanWanita

 Cinta Terlarang di Keraton Yogyakarta: Kisah Nyi Ageng Serang Muda


Di lereng perbukitan Serang, Jawa Tengah, sekitar tahun 1752, lahirlah seorang anak perempuan dari keturunan bangsawan Mataram. Namanya Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. Sejak kecil, hidupnya tak biasa. Ayahnya, Pangeran Notodiningrat, bukan hanya seorang adipati, tapi juga keturunan langsung dari Sunan Kalijaga.



Di usianya yang masih belia, saat anak perempuan lain belajar menari atau menumbuk padi, Raden Ajeng sudah akrab dengan peta-peta jalur perang dan strategi pertempuran. Ia belajar menggunakan tombak, keris, bahkan mengatur barisan prajurit desa. Semua itu diwariskan dari sang kakek buyut, Ki Ageng Serang, pemimpin karismatik Mataram pada zamannya.


* Cinta di Balik Dinding Keraton


Ketika beranjak remaja, kecantikan dan kecerdasannya tersiar hingga ke telinga Keraton Yogyakarta. Suatu waktu, ia dipanggil ke keraton dan di sanalah benih cinta tumbuh. Seorang bangsawan keraton terpikat kepadanya. Sayangnya, hubungan itu terlarang. Selain perbedaan umur yang jauh, situasi politik di dalam keraton pun tak kondusif. Hubungan itu harus dijalani sembunyi-sembunyi, karena bisa mengancam posisi keluarga keduanya.


Di balik kemewahan keraton, Raden Ajeng mulai merasakan kegelisahan. Ia melihat ketidakadilan. Rakyat menderita karena pajak dan kekuasaan kolonial yang makin mencengkeram. Sementara para bangsawan lebih sibuk memperebutkan kekuasaan daripada memikirkan rakyat.


Raden Ajeng sadar, cinta asmara yang dikejarnya tak sebanding dengan cinta kepada rakyatnya.


* Meninggalkan Cinta, Memilih Rakyat


Dalam sebuah malam sunyi, ditemani suara kentongan ronda dan desir angin di halaman keraton, Raden Ajeng membuat keputusan paling berat dalam hidupnya. Ia meninggalkan keraton, meninggalkan cinta terlarang itu, dan kembali ke Desa Serang.


Di sana, ia menggalang kekuatan rakyat. Ia menikahi Pangeran Kusumowijoyo, seorang bangsawan lokal yang juga pejuang, bukan demi status, tapi sebagai bagian dari perjuangan menyatukan rakyat.


* Berperang di Usia Senja


Tahun 1825, Perang Diponegoro pecah. Saat itu, usianya telah lebih dari 70 tahun. Tapi semangatnya tak pernah padam. Di usia senjanya, Nyi Ageng Serang memimpin sendiri pasukan rakyat. Karena tak lagi bisa berjalan jauh, ia memimpin dari atas tandu. Di sinilah ia menunjukkan strategi legendaris: "Daun Lumbu".


Pasukannya berkamuflase di ladang talas, menutupi tubuh mereka dengan daun lebar, menyergap pasukan Belanda yang tak menyangka ada serangan dari arah itu. Taktik ini beberapa kali berhasil membuat tentara kolonial kewalahan.


* Akhir Hidup yang Terhormat


Setelah bertahun-tahun berperang, di tahun 1828, Nyi Ageng Serang wafat di usia 76 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Bukit Beku, Kulon Progo, Yogyakarta. Ia dikenang bukan hanya sebagai pejuang, tapi juga sebagai perempuan yang rela mengorbankan cinta pribadi demi cintanya kepada rakyat dan tanah air.


Pada 13 Desember 1974, pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional untuknya. Namanya abadi dalam catatan sejarah Indonesia.


Sumber Referensi:

- Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta

- Kompas : Kisah Nyi Ageng Serang, Pahlawan Perempuan dari Yogyakarta

- Wikipedia Indonesia: Nyi Ageng Serang

- Buku Perempuan-Perempuan Perkasa Nusantara (2019)


📸 Foto Sudah di Restorasi Berwarna Nyi Ageng Serang (Sumber: Dinas Kebudayaan Yogyakarta)


#NyiAgengSerang #PahlawanNasional #SejarahIndonesia #PerempuanPejuang #PerangDiponegoro #CeritaTempoDulu #KeratonYogyakarta #EmansipasiPerempuan #PahlawanWanita

Inilah budaya jawa asli yang sudah di tinggalkan oleh penerusnya jawa di masa sekarang. Tampak para wanita jawa saling berlomba makan kutu di daerah JOGJA sekitahan tahun 1920. Pada masa itu makan kutu jadi cemilan bagi wanita jawa mengingat makanan lain tidak ada karna penjajahan belanda, jika pun mereka mau makanan yang lebih layak harus jadi pemuas napsu belanda. Sungguh kasian jawa di masa lalu. Sekarang mereka sudah kaya dan berkuasa menjadi penjajah jilid ke 2 dengan halus alam pulau jajahan nya

 Inilah budaya jawa asli yang sudah di tinggalkan oleh penerusnya jawa di masa sekarang.



   Tampak para wanita jawa saling berlomba makan kutu di daerah JOGJA sekitahan tahun 1920. Pada masa itu makan kutu jadi cemilan bagi wanita jawa mengingat makanan lain tidak ada karna penjajahan belanda, jika pun mereka mau makanan yang lebih layak harus jadi pemuas napsu belanda. Sungguh kasian jawa di masa lalu. Sekarang mereka sudah kaya dan berkuasa menjadi penjajah jilid ke 2 dengan halus alam pulau jajahan nya

15 June 2025

Potret penyabung Ayam pada jaman Hindia Belanda, sekitar tahun 1925.

 Potret penyabung Ayam pada jaman Hindia Belanda, sekitar tahun 1925.



Rekap Pejuang seroja yang gugur dari tahun 1975 S.D 1999, Al-fatihah. Sumber tiktok aspers99 #seroja #opsseroja #timortimur #timtim #dili #timorleste #pejuang #veteran #veteranseroja #abri #tni #tniad #tnial #tniau #polri

 Rekap Pejuang seroja yang gugur dari tahun 1975 S.D 1999, Al-fatihah. 



Sumber tiktok aspers99


#seroja #opsseroja #timortimur #timtim #dili #timorleste #pejuang #veteran #veteranseroja #abri #tni #tniad #tnial #tniau #polri

Peristiwa nahas itu terjadi pada Senin, 24 Agustus 1981 silam. Kecelakaan adu banteng itu melibatkan Mitsubishi Colt Station atau Colt T berwarna merah dari arah Magelang dengan Bus Sumber Waras rombongan pengantin dari arah jogja. Kondisi jalan di Blondo, Magelang, yang itu masih sempit membuat tabrakan kedua kendaraan itu tak terelakkan, Akibat kejadian itu, Colt T itu rusak parah sedangkan bus jatuh ke Sungai Elo. Dalam tragedi itu total 35 orang tew*s, 32 orang luka berat, dan 20 orang luka ringan. Dari korban meninggal, 7 di antaranya merupakan penumpang Colt T yang total berpenumpang 14 orang. setelah kejadian kecelakaan maut itu berjarak 200 meter dari lokasi dibangun sebuah monumen untuk menghormati para korban. Colt warna merah yang terlibat kecelakaan pun dipajang sebagai pengingat agar pengendara berhati-hati. Kini monumen itu sudah tidak ada , dibongkar untuk pelebaran jalan . #peristiwa #foto #blondo #kecelakaan #tragedi #pilu #fbpro #postinganberanda #kisah #cerita #facebook #narasi

 Peristiwa nahas itu terjadi pada Senin, 24 Agustus 1981 silam. Kecelakaan adu banteng itu melibatkan Mitsubishi Colt Station atau Colt T berwarna merah dari arah Magelang dengan Bus Sumber Waras rombongan pengantin dari arah jogja.



Kondisi jalan di Blondo, Magelang, yang itu masih sempit membuat tabrakan kedua kendaraan itu tak terelakkan, Akibat kejadian itu, Colt T itu rusak parah sedangkan bus jatuh ke Sungai Elo.


Dalam tragedi itu total 35 orang tew*s, 32 orang luka berat, dan 20 orang luka ringan. Dari korban meninggal, 7 di antaranya merupakan penumpang Colt T yang total berpenumpang 14 orang.


setelah kejadian kecelakaan maut itu berjarak 200 meter dari lokasi dibangun sebuah monumen untuk menghormati para korban. Colt warna merah yang terlibat kecelakaan pun dipajang sebagai pengingat agar pengendara berhati-hati.


Kini monumen itu sudah tidak ada , dibongkar untuk pelebaran jalan .


#peristiwa #foto #blondo #kecelakaan #tragedi #pilu #fbpro #postinganberanda #kisah #cerita #facebook #narasi