Muhammad Yamin adalah seorang intelektual, sastrawan, dan tokoh pergerakan nasional berdarah Minang yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah pembentukan identitas Indonesia. Kekagumannnya yang mendalam terhadap kebudayaan Jawa dan kejayaan Majapahit membimbingnya memimpikan sebuah negara kesatuan yang luas, meliputi wilayah Nusantara hingga Semenanjung Malaya.
Muhammad Yamin memang dikenal sangat terpesona dengan kebudayaan Jawa, sastra klasik, dan sejarah Majapahit khususnya figur Gajah Mada. Konsep "Indonesia Raya" atau batas wilayah teritorial yang dicita-citakannya (meliputi Malaya, Kalimantan Utara, Timor Portugis, hingga Papua) merujuk langsung pada peta wilayah kekuasaan Majapahit dalam kitab Nagarakretagama.
Gagasan teritorial luas ini ia suarakan dengan vokal dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Konsep "Daerah yang Delapan": Dalam pidatonya di sidang BPUPKI pada 31 Mei 1945, Yamin memaparkan batas-batas teritorial negara Indonesia merdeka yang mencakup wilayah bekas jajahan Belanda (Hindia Belanda), ditambah Malaya (Semenanjung Malaya), Kalimantan Utara (Sarawak dan Sabah), serta Timor Portugis. Menurutnya, wilayah kepulauan Nusantara bagian timur pun termasuk pulau Timor secara keseluruhan dipandang sebagai satu kesatuan geopolitik.
Konsep wilayah luas yang digagas oleh Yamin ini mendapat dukungan kuat dari Soekarno, meskipun dalam sidang BPUPKI sendiri sempat terjadi perdebatan sengit karena sebagian tokoh lain (terutama Mohammad Hatta) lebih condong pada batas wilayah bekas Hindia Belanda saja untuk menghindari kesan imperialisme baru atau ekspansionisme.

No comments:
Post a Comment