30 July 2026

1996 Tadi pagi saya mendapat kiriman foto lama ini dari Bung Sudrajat, kawan dan reporter saya, saat saya menjadi redaktur bidang politik dan hukum di Koran Tempo, 2000-2003 lalu. Menurut dia foto ini salah satu yang ditampilkan dalam Pameran Kudatuli, Kerusuhan 27 Juli 1996, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Wah, senang juga, karena ada wajah saya di foto itu. Seingat saya foto itu mengabadikan konferensi Pers Panglima ABRI Jenderal Feisal Tandjung dan Menkopolkam Soesilo Soedarman di Kantor Menkopolkam pasca Kerusuhan 27 Juli 1996. Dalam paparannya Jenderal Feisal Tandjung mengatakan bahwa tidak ada korban jiwa. Ini berbeda dengan klaim LSM yang mengatakan ada 4i korban jiwa dalam penyerbuan kantor DPP PDI itu. 27 Juli 1996 saya masih menjadi reporter di Majalah Forum Keadilan. Saya datang ke konferensi pers itu setelah mendapat informasi dari lapangan bahwa ada seorang warga bernama Sariwan yang tewas setelah tertembak mati akibat peluru aparat di dekat pasar Pramuka. Karena itu, setelah konferensi pers ini, saya menempel Pak Feisal untuk menanyakan soal terbunuhnya Sariwan. Namanya wartawan majalah, pesan Bang Karni Ilyas, pemred Forum ketika itu, bagaimana pun caranya harus dapat kutipan eksklusif. Saya pun sudah beberapa kali berjumpa dan mewawancarai Jenderal dari Tapanuli itu, jadi saya merasa percaya diri untuk bertanya kepadanya. Maka ketika Jenderal dengan kumis sangar itu melangkah keluar dari Kantor Menko Polkam, saya langsung bertanya, "Pak, kami dapat info, kalau ada warga meninggal tertembak peluru aparat di dekat Pasar Pramuka. Gimana Pak?" Saat itu ada Mujianto, reporter dari Republika, adik kelas saya di IPB juga ikut mencegat dia. "Nggak ada itu!" sergah Feisal setengah membentak. "Ada, Pak. Namanya Sariwan," jawab saya nekat. Lalu sambil melotot ke arah saya, suara Jenderal kopassus itu makin meninggi.,"Tidak ada! Tidak ada Sariwan-Sariwan itu!" bentaknya dengan suara keras namun cadel. Karena Pak Feisal tidak bisa melafalkan huruf r dengan sempurna. Saya hampir tertawa, tapi ajudan Feisal, Mayor berbaret POM di belakang saya, sudah mendesak badan saya dengan lengan kekarnya. Maka saya pun mundur dan nyaris terjengkang..

 1996 


Tadi pagi saya mendapat kiriman foto lama ini dari Bung Sudrajat, kawan dan reporter saya, saat saya menjadi redaktur bidang politik dan hukum di Koran Tempo, 2000-2003 lalu. Menurut dia foto ini salah satu yang ditampilkan dalam Pameran Kudatuli, Kerusuhan 27 Juli 1996, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Wah, senang juga, karena ada wajah saya di foto itu. 



Seingat saya foto itu mengabadikan konferensi Pers Panglima ABRI Jenderal Feisal Tandjung dan Menkopolkam Soesilo Soedarman di Kantor Menkopolkam pasca Kerusuhan 27 Juli 1996. Dalam paparannya Jenderal Feisal Tandjung mengatakan bahwa tidak ada korban jiwa. Ini berbeda dengan klaim LSM yang mengatakan ada 4i korban jiwa dalam penyerbuan kantor DPP PDI itu. 


27 Juli 1996 saya masih menjadi reporter di Majalah Forum Keadilan. Saya datang ke konferensi pers itu setelah mendapat informasi dari lapangan bahwa ada seorang warga bernama Sariwan yang tewas setelah tertembak mati akibat peluru aparat di dekat pasar Pramuka. 


Karena itu, setelah konferensi pers ini, saya menempel Pak Feisal untuk menanyakan soal terbunuhnya Sariwan. Namanya wartawan majalah, pesan Bang Karni Ilyas, pemred Forum ketika itu, bagaimana pun caranya harus dapat kutipan eksklusif. Saya pun sudah beberapa kali berjumpa dan mewawancarai Jenderal dari Tapanuli itu, jadi saya merasa percaya diri untuk bertanya kepadanya. 


Maka ketika Jenderal dengan kumis sangar itu  melangkah keluar dari Kantor Menko Polkam, saya langsung bertanya, "Pak, kami dapat info, kalau ada warga meninggal tertembak peluru aparat di dekat Pasar Pramuka. Gimana Pak?"

Saat itu ada Mujianto, reporter dari Republika, adik kelas saya di IPB juga ikut mencegat dia. 

"Nggak ada itu!" sergah Feisal setengah membentak. 

"Ada, Pak. Namanya Sariwan," jawab saya nekat. 

Lalu sambil melotot ke arah saya, suara Jenderal kopassus itu makin meninggi.,"Tidak ada! Tidak ada Sariwan-Sariwan itu!" bentaknya dengan suara keras namun cadel. Karena Pak Feisal tidak bisa melafalkan huruf r dengan sempurna.


Saya hampir tertawa, tapi ajudan Feisal, Mayor berbaret POM di belakang saya, sudah mendesak badan saya dengan lengan kekarnya. Maka saya pun mundur dan nyaris terjengkang..

Sumber : Hanifa Wijayanta

No comments:

Post a Comment