31 July 2026

Migrasi Etnis Jawa Tondano (Jaton) ke Gorontalo (1829–1925): Dari Pengasingan Kolonial hingga Pembentukan Desa Reksonegoro Akar Historis dan Pembentukan Etnis Jaton (1829–1830) ​Keputusan Pengasingan Kolonial (Besluit): Berdasarkan dokumen Algemeen Rijksarchief (Arsip Nasional Belanda di Den Haag), pasca-Perang Jawa (1825–1830), Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengeluarkan surat keputusan pengasingan (Besluit). Kyai Modjo (panglima perang sekaligus penasihat spiritual Pangeran Diponegoro) ditangkap dan diasingkan ke Minahasa, Sulawesi Utara. Oleh : Alffian Walukow Menurut penelusuran sejarawan Minahasa Adrianus Kojongian, rombongan Kyai Modjo tiba di Minahasa pada akhir tahun 1829 hingga awal tahun 1830. Rombongan awal ini berjumlah 63 orang—seluruhnya laki-laki—yang ditempatkan oleh pejabat kolonial di wilayah tepi Danau Tondano. ​Akulturasi Budaya dan Demografi: Karena rombongan pengasingan tidak membawa wanita, para pahlawan asal Jawa ini menikahi wanita-wanita lokal Minahasa (khususnya dari Tondano, Tonsea, dan Kakas) yang bersedia memeluk agama Islam. Pernikahan silang ini melahirkan etnis baru bernama Jawa Tondano (Jaton) yang memadukan kultur Islam-Jawa dengan bahasa dan tradisi Minahasa Tondano. Gelombang Migrasi ke Gorontalo (1904, 1910, dan 1925) ​Seiring melonjaknya populasi warga Jaton di Kampung Jawa Tondano pada awal abad ke-20, ketersediaan lahan pertanian semakin terbatas. Hal ini memicu gelombang migrasi swakarsa menuju wilayah Residensi Gorontalo (Assistent-Residentie Gorontalo). ​Gelombang Pertama (1904) & Kedua (1910): Diawali oleh survei lahan oleh tokoh perintis seperti Tawakal Kiai Wonopatih dan Abdul Nawas Kiai Modjo. Rombongan awal ini berhasil membuka wilayah baru dan mendirikan Desa Yosonegoro pada tahun 1904. ​Gelombang Ketiga / Terbesar (1925): Merupakan puncak transmigrasi swakarsa yang dipimpin oleh Guru Amal Modjo (Amal Limojo)—seorang pendidik lulusan sekolah kolonial MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs)—bersama para pemuka agama, ahli keagrariaan, dan petani terampil. Rombongan ini menempuh jalur darat yang ekstrem menyusuri pesisir utara Sulawesi menggunakan kuda (beruda) serta berjalan kaki. ​Pembentukan Desa Reksonegoro dan Daftar Nama Perintis (1925) ​Setelah menembus hutan di wilayah Kabupaten Gorontalo (sekarang Kecamatan Tibawa), rombongan membuka pemukiman baru yang diberi nama Desa Reksonegoro (reksa = menjaga/memelihara, negara = negeri). ​Berdasarkan dokumen arsip migrasi Kampung Jawa Tondano ke Reksonegoro tahun 1925 (catatan Arifin KD), terdata 60 Kepala Keluarga (KK) pendiri awal beserta rombongan susulan: ​Daftar 60 KK Penduduk Kampung Jawa Tondano yang Pindah ke Reksonegoro (1925): ​Abdul Nawas Kiai Modjo ​Atkio Kiai Wonopati (Montong) ​Tawakal Kiai Wonopati (kembali ke Tondano) ​Doko As Ad (kembali ke Tondano) ​RM. Saekan Danupoyo ​Taslim Kiai Pulukadang (kembali ke Tondano) ​Moman (Meman) Kiai Wonopati ​Iman Kiai Modjo ​Abdul Hadji Ali ​Slamet Hadji Ali ​Slamet Kal ​Bukhari Kal ​Ajik Pulukadang ​Ahmad Wasir ​Djasmadi Maspeke ​Saman Asmu ​Eri H. Eksan ​Ahmad Djahuno ​Nasran Pulukadang ​Zainal Hadji Ali ​Salim Tumenggung Mayang ​Saleh Kaunang ​Kandar Melangi ​Djafar Djahuno ​Abdurahman Suronoto (Aja) ​Slamet (Tole) Suratinoyo ​Wang Hasyim (kembali ke Tondano) ​Djayadi Nurkamiden ​Usman Hadji Ali + Rasmia Modjo ​Da'em Kal ​Takem Banteng ​Salim Suratinoyo ​Slamet (Najiden) Suratinoyo ​Kadon Djahuno ​Jaola Suronoto ​Taher Kal ​H. Rejo Banteng ​Djunae' Rifai ​Hasan Suratinoyo ​Ahmad Pulukadang ​Asro Djahuno ​Abas Pulukadang ​Saleh Djahuno (Ayah dari Mbok Adeng) ​Salim Asmu (Ayah dari Abd. Rahman Asmu) ​Yahya Rifai ​Taslim Rifai ​Pondjak Pulukadang ​Esam Nurkamiden ​Suleman Tombokan ​Salim Banteng ​Sake Mertosono ​Manik Karinda ​Sami'un Asmu ​Djamel Suronoto ​Adjis Pulukadang ​Sabdan Wasir ​Ongken Karinda ​Sambe' Mertosono ​Madi Zees ​Usman Tombuku ​Rombongan Menyusul (Beberapa Tahun Kemudian): ​Aspan Suratinoyo ​Ahmad Baderan ​Usman Sataruno ​Karmiyo Kiai Demak ​Asir Abusalam (dari Saronsong) ​Menhat Modjo (dari Yosonegoro) Implikasi Sosio-Kultural dan Warisan Tekno-Agraris ​Inovasi Pertanian: Para perintis Jaton ini membawa keahlian pertukangan besi (pandai besi) dan sistem irigasi teknis sawah lahan basah yang mengubah lanskap agraris Gorontalo. ​Bahasa Jaton: Terbentuknya bahasa kreol Jaton yang menyintesiskan kosakata Jawa Ngoko/Kuno dengan struktur tata bahasa Tondano, yang kemudian berakulturasi secara harmonis dengan masyarakat asli Gorontalo. ​Tradisi Lebaran Ketupat: Tradisi Bakdo Ketupat (digelar seminggu setelah Idulfitri) yang dibawa warga Jaton kini berkembang menjadi salah satu pesta rakyat dan festival wisata budaya-religi terbesar di Provinsi Gorontalo. ​Daftar Pustaka ​Arifin KD. (2026). Lampiran 1. Daftar 60 KK Penduduk Kampung Jawa Tondano yang Pindah ke Reksonegoro Gorontalo Tahun 1925. Dokumen Arsip/Dokumentasi Sejarah Jaton. ​Babcock, T. G. (1989). Kampung Jawa Tondano: Religion and Cultural Identity in Minahasa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. ​Kojongian, Adrianus. (2014). Kyai Modjo dan Pengasingan Jawa Tondano di Minahasa (1829–1830). Manado: Catatan Historis & Monograf Lokal Minahasa. ​Mointi, Sri Lestiya. (2018). Migrasi Etnik Jawa Tondano ke Gorontalo Tahun 1925. Skripsi, Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Gorontalo. ​Nani, S. (2011). Sejarah Pembentukan Desa-Desa Jaton di Gorontalo: Yosonegoro dan Reksonegoro. Gorontalo: Ideas Publishing. ​Nationaal Archief Den Haag (Koloniën). Besluit van den Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indië mengenai Pengasingan Pengikut Diponegoro ke Minahasa (1829–1830). ​Pulubuhu, F. (2009). Dinamika Masyarakat Jawa Tondano di Sulawesi Utara dan Gorontalo. Makassar: Rayhan Intermedia. Migrasi Etnis Jawa Tondano (Jaton) ke Gorontalo (1829–1925): Dari Pengasingan Kolonial hingga Pembentukan Desa Reksonegoro Oleh : Alffian Walukow Migrasi Etnis Jawa Tondano (Jaton) ke Gorontalo (1829–1925): Dari Pengasingan Kolonial hingga Pembentukan Desa Reksonegoro

 Migrasi Etnis Jawa Tondano (Jaton) ke Gorontalo (1829–1925): Dari Pengasingan Kolonial hingga Pembentukan Desa Reksonegoro

Akar Historis dan Pembentukan Etnis Jaton (1829–1830)

​Keputusan Pengasingan Kolonial (Besluit): Berdasarkan dokumen Algemeen Rijksarchief (Arsip Nasional Belanda di Den Haag), pasca-Perang Jawa (1825–1830), Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengeluarkan surat keputusan pengasingan (Besluit). Kyai Modjo (panglima perang sekaligus penasihat spiritual Pangeran Diponegoro) ditangkap dan diasingkan ke Minahasa, Sulawesi Utara.


Oleh : Alffian Walukow 


Menurut penelusuran sejarawan Minahasa Adrianus Kojongian, rombongan Kyai Modjo tiba di Minahasa pada akhir tahun 1829 hingga awal tahun 1830. Rombongan awal ini berjumlah 63 orang—seluruhnya laki-laki—yang ditempatkan oleh pejabat kolonial di wilayah tepi Danau Tondano.



​Akulturasi Budaya dan Demografi: 

Karena rombongan pengasingan tidak membawa wanita, para pahlawan asal Jawa ini menikahi wanita-wanita lokal Minahasa (khususnya dari Tondano, Tonsea, dan Kakas) yang bersedia memeluk agama Islam. Pernikahan silang ini melahirkan etnis baru bernama Jawa Tondano (Jaton) yang memadukan kultur Islam-Jawa dengan bahasa dan tradisi Minahasa Tondano.


Gelombang Migrasi ke Gorontalo (1904, 1910, dan 1925)

​Seiring melonjaknya populasi warga Jaton di Kampung Jawa Tondano pada awal abad ke-20, ketersediaan lahan pertanian semakin terbatas. Hal ini memicu gelombang migrasi swakarsa menuju wilayah Residensi Gorontalo (Assistent-Residentie Gorontalo).


​Gelombang Pertama (1904) & Kedua (1910): Diawali oleh survei lahan oleh tokoh perintis seperti Tawakal Kiai Wonopatih dan Abdul Nawas Kiai Modjo. Rombongan awal ini berhasil membuka wilayah baru dan mendirikan Desa Yosonegoro pada tahun 1904.


​Gelombang Ketiga / Terbesar (1925): Merupakan puncak transmigrasi swakarsa yang dipimpin oleh Guru Amal Modjo (Amal Limojo)—seorang pendidik lulusan sekolah kolonial MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs)—bersama para pemuka agama, ahli keagrariaan, dan petani terampil. Rombongan ini menempuh jalur darat yang ekstrem menyusuri pesisir utara Sulawesi menggunakan kuda (beruda) serta berjalan kaki.


​Pembentukan Desa Reksonegoro dan Daftar Nama Perintis (1925)

​Setelah menembus hutan di wilayah Kabupaten Gorontalo (sekarang Kecamatan Tibawa), rombongan membuka pemukiman baru yang diberi nama Desa Reksonegoro (reksa = menjaga/memelihara, negara = negeri).


​Berdasarkan dokumen arsip migrasi Kampung Jawa Tondano ke Reksonegoro tahun 1925 (catatan Arifin KD), terdata 60 Kepala Keluarga (KK) pendiri awal beserta rombongan susulan:


​Daftar 60 KK Penduduk Kampung Jawa Tondano yang Pindah ke Reksonegoro (1925):

​Abdul Nawas Kiai Modjo

​Atkio Kiai Wonopati (Montong)

​Tawakal Kiai Wonopati (kembali ke Tondano)

​Doko As Ad (kembali ke Tondano)

​RM. Saekan Danupoyo

​Taslim Kiai Pulukadang (kembali ke Tondano)

​Moman (Meman) Kiai Wonopati

​Iman Kiai Modjo

​Abdul Hadji Ali

​Slamet Hadji Ali

​Slamet Kal

​Bukhari Kal

​Ajik Pulukadang

​Ahmad Wasir

​Djasmadi Maspeke

​Saman Asmu

​Eri H. Eksan

​Ahmad Djahuno

​Nasran Pulukadang

​Zainal Hadji Ali

​Salim Tumenggung Mayang

​Saleh Kaunang

​Kandar Melangi

​Djafar Djahuno

​Abdurahman Suronoto (Aja)

​Slamet (Tole) Suratinoyo

​Wang Hasyim (kembali ke Tondano)

​Djayadi Nurkamiden

​Usman Hadji Ali + Rasmia Modjo

​Da'em Kal

​Takem Banteng

​Salim Suratinoyo

​Slamet (Najiden) Suratinoyo

​Kadon Djahuno

​Jaola Suronoto

​Taher Kal

​H. Rejo Banteng

​Djunae' Rifai

​Hasan Suratinoyo

​Ahmad Pulukadang

​Asro Djahuno

​Abas Pulukadang

​Saleh Djahuno (Ayah dari Mbok Adeng)

​Salim Asmu (Ayah dari Abd. Rahman Asmu)

​Yahya Rifai

​Taslim Rifai

​Pondjak Pulukadang

​Esam Nurkamiden

​Suleman Tombokan

​Salim Banteng

​Sake Mertosono

​Manik Karinda

​Sami'un Asmu

​Djamel Suronoto

​Adjis Pulukadang

​Sabdan Wasir

​Ongken Karinda

​Sambe' Mertosono

​Madi Zees

​Usman Tombuku


​Rombongan Menyusul (Beberapa Tahun Kemudian):

​Aspan Suratinoyo

​Ahmad Baderan

​Usman Sataruno

​Karmiyo Kiai Demak

​Asir Abusalam (dari Saronsong)

​Menhat Modjo (dari Yosonegoro)


Implikasi Sosio-Kultural dan Warisan Tekno-Agraris

​Inovasi Pertanian: Para perintis Jaton ini membawa keahlian pertukangan besi (pandai besi) dan sistem irigasi teknis sawah lahan basah yang mengubah lanskap agraris Gorontalo.

​Bahasa Jaton: Terbentuknya bahasa kreol Jaton yang menyintesiskan kosakata Jawa Ngoko/Kuno dengan struktur tata bahasa Tondano, yang kemudian berakulturasi secara harmonis dengan masyarakat asli Gorontalo.

​Tradisi Lebaran Ketupat: Tradisi Bakdo Ketupat (digelar seminggu setelah Idulfitri) yang dibawa warga Jaton kini berkembang menjadi salah satu pesta rakyat dan festival wisata budaya-religi terbesar di Provinsi Gorontalo.


​Daftar Pustaka

​Arifin KD. (2026). Lampiran 1. Daftar 60 KK Penduduk Kampung Jawa Tondano yang Pindah ke Reksonegoro Gorontalo Tahun 1925. Dokumen Arsip/Dokumentasi Sejarah Jaton.


​Babcock, T. G. (1989). Kampung Jawa Tondano: Religion and Cultural Identity in Minahasa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.


​Kojongian, Adrianus. (2014). Kyai Modjo dan Pengasingan Jawa Tondano di Minahasa (1829–1830). Manado: Catatan Historis & Monograf Lokal Minahasa.


​Mointi, Sri Lestiya. (2018). Migrasi Etnik Jawa Tondano ke Gorontalo Tahun 1925. Skripsi, Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Gorontalo.


​Nani, S. (2011). Sejarah Pembentukan Desa-Desa Jaton di Gorontalo: Yosonegoro dan Reksonegoro. Gorontalo: Ideas Publishing.


​Nationaal Archief Den Haag (Koloniën). Besluit van den Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indië mengenai Pengasingan Pengikut Diponegoro ke Minahasa (1829–1830).


​Pulubuhu, F. (2009). Dinamika Masyarakat Jawa Tondano di Sulawesi Utara dan Gorontalo. Makassar: Rayhan Intermedia.

Migrasi Etnis Jawa Tondano (Jaton) ke Gorontalo (1829–1925): Dari Pengasingan Kolonial hingga Pembentukan Desa Reksonegoro


Oleh : Alffian Walukow


Migrasi Etnis Jawa Tondano (Jaton) ke Gorontalo (1829–1925): Dari Pengasingan Kolonial hingga Pembentukan Desa Reksonegoro


No comments:

Post a Comment