Migrasi Etnis Jawa Tondano (Jaton) ke Gorontalo (1829–1925): Dari Pengasingan Kolonial hingga Pembentukan Desa Reksonegoro
Akar Historis dan Pembentukan Etnis Jaton (1829–1830)
Keputusan Pengasingan Kolonial (Besluit): Berdasarkan dokumen Algemeen Rijksarchief (Arsip Nasional Belanda di Den Haag), pasca-Perang Jawa (1825–1830), Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengeluarkan surat keputusan pengasingan (Besluit). Kyai Modjo (panglima perang sekaligus penasihat spiritual Pangeran Diponegoro) ditangkap dan diasingkan ke Minahasa, Sulawesi Utara.
Oleh : Alffian Walukow
Menurut penelusuran sejarawan Minahasa Adrianus Kojongian, rombongan Kyai Modjo tiba di Minahasa pada akhir tahun 1829 hingga awal tahun 1830. Rombongan awal ini berjumlah 63 orang—seluruhnya laki-laki—yang ditempatkan oleh pejabat kolonial di wilayah tepi Danau Tondano.
Akulturasi Budaya dan Demografi:
Karena rombongan pengasingan tidak membawa wanita, para pahlawan asal Jawa ini menikahi wanita-wanita lokal Minahasa (khususnya dari Tondano, Tonsea, dan Kakas) yang bersedia memeluk agama Islam. Pernikahan silang ini melahirkan etnis baru bernama Jawa Tondano (Jaton) yang memadukan kultur Islam-Jawa dengan bahasa dan tradisi Minahasa Tondano.
Gelombang Migrasi ke Gorontalo (1904, 1910, dan 1925)
Seiring melonjaknya populasi warga Jaton di Kampung Jawa Tondano pada awal abad ke-20, ketersediaan lahan pertanian semakin terbatas. Hal ini memicu gelombang migrasi swakarsa menuju wilayah Residensi Gorontalo (Assistent-Residentie Gorontalo).
Gelombang Pertama (1904) & Kedua (1910): Diawali oleh survei lahan oleh tokoh perintis seperti Tawakal Kiai Wonopatih dan Abdul Nawas Kiai Modjo. Rombongan awal ini berhasil membuka wilayah baru dan mendirikan Desa Yosonegoro pada tahun 1904.
Gelombang Ketiga / Terbesar (1925): Merupakan puncak transmigrasi swakarsa yang dipimpin oleh Guru Amal Modjo (Amal Limojo)—seorang pendidik lulusan sekolah kolonial MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs)—bersama para pemuka agama, ahli keagrariaan, dan petani terampil. Rombongan ini menempuh jalur darat yang ekstrem menyusuri pesisir utara Sulawesi menggunakan kuda (beruda) serta berjalan kaki.
Pembentukan Desa Reksonegoro dan Daftar Nama Perintis (1925)
Setelah menembus hutan di wilayah Kabupaten Gorontalo (sekarang Kecamatan Tibawa), rombongan membuka pemukiman baru yang diberi nama Desa Reksonegoro (reksa = menjaga/memelihara, negara = negeri).
Berdasarkan dokumen arsip migrasi Kampung Jawa Tondano ke Reksonegoro tahun 1925 (catatan Arifin KD), terdata 60 Kepala Keluarga (KK) pendiri awal beserta rombongan susulan:
Daftar 60 KK Penduduk Kampung Jawa Tondano yang Pindah ke Reksonegoro (1925):
Abdul Nawas Kiai Modjo
Atkio Kiai Wonopati (Montong)
Tawakal Kiai Wonopati (kembali ke Tondano)
Doko As Ad (kembali ke Tondano)
RM. Saekan Danupoyo
Taslim Kiai Pulukadang (kembali ke Tondano)
Moman (Meman) Kiai Wonopati
Iman Kiai Modjo
Abdul Hadji Ali
Slamet Hadji Ali
Slamet Kal
Bukhari Kal
Ajik Pulukadang
Ahmad Wasir
Djasmadi Maspeke
Saman Asmu
Eri H. Eksan
Ahmad Djahuno
Nasran Pulukadang
Zainal Hadji Ali
Salim Tumenggung Mayang
Saleh Kaunang
Kandar Melangi
Djafar Djahuno
Abdurahman Suronoto (Aja)
Slamet (Tole) Suratinoyo
Wang Hasyim (kembali ke Tondano)
Djayadi Nurkamiden
Usman Hadji Ali + Rasmia Modjo
Da'em Kal
Takem Banteng
Salim Suratinoyo
Slamet (Najiden) Suratinoyo
Kadon Djahuno
Jaola Suronoto
Taher Kal
H. Rejo Banteng
Djunae' Rifai
Hasan Suratinoyo
Ahmad Pulukadang
Asro Djahuno
Abas Pulukadang
Saleh Djahuno (Ayah dari Mbok Adeng)
Salim Asmu (Ayah dari Abd. Rahman Asmu)
Yahya Rifai
Taslim Rifai
Pondjak Pulukadang
Esam Nurkamiden
Suleman Tombokan
Salim Banteng
Sake Mertosono
Manik Karinda
Sami'un Asmu
Djamel Suronoto
Adjis Pulukadang
Sabdan Wasir
Ongken Karinda
Sambe' Mertosono
Madi Zees
Usman Tombuku
Rombongan Menyusul (Beberapa Tahun Kemudian):
Aspan Suratinoyo
Ahmad Baderan
Usman Sataruno
Karmiyo Kiai Demak
Asir Abusalam (dari Saronsong)
Menhat Modjo (dari Yosonegoro)
Implikasi Sosio-Kultural dan Warisan Tekno-Agraris
Inovasi Pertanian: Para perintis Jaton ini membawa keahlian pertukangan besi (pandai besi) dan sistem irigasi teknis sawah lahan basah yang mengubah lanskap agraris Gorontalo.
Bahasa Jaton: Terbentuknya bahasa kreol Jaton yang menyintesiskan kosakata Jawa Ngoko/Kuno dengan struktur tata bahasa Tondano, yang kemudian berakulturasi secara harmonis dengan masyarakat asli Gorontalo.
Tradisi Lebaran Ketupat: Tradisi Bakdo Ketupat (digelar seminggu setelah Idulfitri) yang dibawa warga Jaton kini berkembang menjadi salah satu pesta rakyat dan festival wisata budaya-religi terbesar di Provinsi Gorontalo.
Daftar Pustaka
Arifin KD. (2026). Lampiran 1. Daftar 60 KK Penduduk Kampung Jawa Tondano yang Pindah ke Reksonegoro Gorontalo Tahun 1925. Dokumen Arsip/Dokumentasi Sejarah Jaton.
Babcock, T. G. (1989). Kampung Jawa Tondano: Religion and Cultural Identity in Minahasa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Kojongian, Adrianus. (2014). Kyai Modjo dan Pengasingan Jawa Tondano di Minahasa (1829–1830). Manado: Catatan Historis & Monograf Lokal Minahasa.
Mointi, Sri Lestiya. (2018). Migrasi Etnik Jawa Tondano ke Gorontalo Tahun 1925. Skripsi, Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Gorontalo.
Nani, S. (2011). Sejarah Pembentukan Desa-Desa Jaton di Gorontalo: Yosonegoro dan Reksonegoro. Gorontalo: Ideas Publishing.
Nationaal Archief Den Haag (Koloniën). Besluit van den Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indië mengenai Pengasingan Pengikut Diponegoro ke Minahasa (1829–1830).
Pulubuhu, F. (2009). Dinamika Masyarakat Jawa Tondano di Sulawesi Utara dan Gorontalo. Makassar: Rayhan Intermedia.
Migrasi Etnis Jawa Tondano (Jaton) ke Gorontalo (1829–1925): Dari Pengasingan Kolonial hingga Pembentukan Desa Reksonegoro
Oleh : Alffian Walukow
Migrasi Etnis Jawa Tondano (Jaton) ke Gorontalo (1829–1925): Dari Pengasingan Kolonial hingga Pembentukan Desa Reksonegoro

No comments:
Post a Comment