31 July 2026

Kiai Haji Muhammad Siradj bin Abdurrasyid (dikenal sebagai Kiai Siroj Payaman atau Romo Agung) adalah seorang ulama kharismatik, pejuang kemerdekaan, dan tokoh penyebar agama Islam yang sangat dihormati dari Payaman, Secang, Magelang. Profil dan Garis Keturunan. Kelahiran: Lahir pada tahun 1878 di Desa Payaman, Magelang. Silsilah: Beliau adalah putra dari KH. Abdurrasyid, seorang ulama terkemuka. Dari garis ibu, silsilah beliau dapat dirunut hingga Joko Tingkir (Sultan Hadiwijaya dari Pajang). Wafat: Beliau wafat pada tahun 1958 dalam usia sekitar 70 tahun. Makamnya terletak di belakang Masjid Agung Payaman, Magelang, yang hingga kini selalu ramai diziarahi oleh umat Islam. Perjalanan Menuntut Ilmu. Kiai Siroj menempuh pendidikan agama yang sangat panjang dengan berguru kepada ulama-ulama besar: KH. Abdurrasyid: Belajar dasar-dasar ilmu agama pertama kali dari sang ayah. Pondok Pesantren di Temanggung: Melanjutkan pengembaraan ilmu ke daerah tetangga.KH. Maksum (Punduh, Tempuran, Magelang): Berguru kepada pamannya sendiri. Syaikhona Kholil Bangkalan (Madura): Menimba ilmu kepada salah satu maha guru ulama Nusantara.Makkah Al-Mukarramah: Beliau juga memperdalam ilmu agama di tanah suci dan menetap di sana selama 8 tahun. Perjuangan Melawan Penjajah. Kiai Siroj aktif memimpin perlawanan bersenjata maupun spiritual terhadap kolonialisme Belanda karena tidak tega melihat kekejaman penjajah terhadap rakyat. Akibat pergerakannya yang masif, beliau menjadi target utama intelijen Belanda dan sempat ditahan di Purworejo sebagai tahanan politik karena dianggap sebagai otak penggerak perlawanan. Tirakat dan Karomah (Kewalian). Di kalangan masyarakat dan dunia pesantren, Romo Agung Payaman dikenal luas memiliki derajat kewalian yang tinggi karena ketat dalam menjalankan riyadhah (tirakat). Tidak Tidur 10 Tahun: Semasa hidupnya, beliau menjalankan riyadhah ekstrem dengan tidak tidur malam selama 10 tahun yang diisi penuh dengan dzikir, istighfar, dan mendekatkan diri kepada Allah. Selamat dari Bom Pesawat Belanda: Saat agresi militer, pesawat Belanda membombardir Masjid Agung Payaman. Di tengah kepanikan jamaah, Kiai Siroj memerintahkan semua orang tetap tenang dan berdzikir. Keajaiban terjadi; bom-bom yang dijatuhkan tidak ada yang meledak di dalam area masjid, dan seluruh jamaah selamat tanpa ada korban jiwa. Pengakuan Ulama Lain: Kedalaman spiritualnya diakui oleh ulama besar lain. KH. Subchi Parakan (ulama peniup bambu runcing yang terkenal) bahkan pernah menyebut bahwa derajat kewalian Kiai Siroj Payaman dan KH. Dalhar Watucongol jauh lebih tinggi daripada dirinya. #sejarah

 Kiai Haji Muhammad Siradj bin Abdurrasyid (dikenal sebagai Kiai Siroj Payaman atau Romo Agung) adalah seorang ulama kharismatik, pejuang kemerdekaan, dan tokoh penyebar agama Islam yang sangat dihormati dari Payaman, Secang, Magelang.



Profil dan Garis Keturunan.


Kelahiran: Lahir pada tahun 1878 di Desa Payaman, Magelang.


Silsilah: Beliau adalah putra dari KH. Abdurrasyid, seorang ulama terkemuka. Dari garis ibu, silsilah beliau dapat dirunut hingga Joko Tingkir (Sultan Hadiwijaya dari Pajang).


Wafat: Beliau wafat pada tahun 1958 dalam usia sekitar 70 tahun. Makamnya terletak di belakang Masjid Agung Payaman, Magelang, yang hingga kini selalu ramai diziarahi oleh umat Islam.


Perjalanan Menuntut Ilmu.


Kiai Siroj menempuh pendidikan agama yang sangat panjang dengan berguru kepada ulama-ulama besar:


KH. Abdurrasyid: Belajar dasar-dasar ilmu agama pertama kali dari sang ayah.


Pondok Pesantren di Temanggung: Melanjutkan pengembaraan ilmu ke daerah tetangga.KH. Maksum (Punduh, Tempuran, Magelang): Berguru kepada pamannya sendiri.


Syaikhona Kholil Bangkalan (Madura): Menimba ilmu kepada salah satu maha guru ulama Nusantara.Makkah Al-Mukarramah: Beliau juga memperdalam ilmu agama di tanah suci dan menetap di sana selama 8 tahun.


Perjuangan Melawan Penjajah.


Kiai Siroj aktif memimpin perlawanan bersenjata maupun spiritual terhadap kolonialisme Belanda karena tidak tega melihat kekejaman penjajah terhadap rakyat. Akibat pergerakannya yang masif, beliau menjadi target utama intelijen Belanda dan sempat ditahan di Purworejo sebagai tahanan politik karena dianggap sebagai otak penggerak perlawanan.


Tirakat dan Karomah (Kewalian).


Di kalangan masyarakat dan dunia pesantren, Romo Agung Payaman dikenal luas memiliki derajat kewalian yang tinggi karena ketat dalam menjalankan riyadhah (tirakat).


Tidak Tidur 10 Tahun: Semasa hidupnya, beliau menjalankan riyadhah ekstrem dengan tidak tidur malam selama 10 tahun yang diisi penuh dengan dzikir, istighfar, dan mendekatkan diri kepada Allah.


Selamat dari Bom Pesawat Belanda: Saat agresi militer, pesawat Belanda membombardir Masjid Agung Payaman. Di tengah kepanikan jamaah, Kiai Siroj memerintahkan semua orang tetap tenang dan berdzikir. Keajaiban terjadi; bom-bom yang dijatuhkan tidak ada yang meledak di dalam area masjid, dan seluruh jamaah selamat tanpa ada korban jiwa.


Pengakuan Ulama Lain: Kedalaman spiritualnya diakui oleh ulama besar lain. KH. Subchi Parakan (ulama peniup bambu runcing yang terkenal) bahkan pernah menyebut bahwa derajat kewalian Kiai Siroj Payaman dan KH. Dalhar Watucongol jauh lebih tinggi daripada dirinya.

#sejarah

No comments:

Post a Comment