12 October 2024

USAHA YUAN & MING MENCENGKRAM JAWA Yuan adalah dinasti yang dibangun Mongol di Cina. Dinasti inilah yang menyerbu Jawa karena utusannya dipotong telinganya oleh Raja Jawa (Singasari). Nah kalau Ming itu juga dinasti yang memerintah Cina, dinasti inilah yang menggulingkan Yuan. Tokoh terkenal orang-orang Ming ini ya Si Laksamana Cengho itu. Baik Yuan & Ming sebetulnya sama-sama liciknya, keduanya berambisi menaklukan Nusantara, cuma ganjalan dalam menaklukan Nusantara itu adalah Jawa. Jawa kala itu memang susah diatur, negeri ini lebih suka menjajah dibandingkan dengan menjadi vazal-nya Penjajah. Orang Jawa sudah berpengalaman menjajah sejak zaman Medang. Yuan dalam usaha mencengkram Jawa memakai cara kekerasan, mereka melakukan invasi ke Jawa, namun invasi ini selalu gagal. Untuk menghadapi dominasi Jawa di Nusantara, Yuan memelihara Negara boneka, diantara negara Boneka Yuan di Nusantara adalah Negeri-Negeri Semenanjung, Tumasik (Singapura) & Sumatra. Berbeda dengan Yuan yang menggunakan jalur militer, Ming dalam menaklukan Nusantara dengan teknik dagang, menyodorkan utang dan berlaga sok kaya. Teknik ini kebalikannya orang Yuan. Kalau orang Yuan datang ke negeri orang dan kemudian merampok kekayaan negeri-negeri yang didatangi, kalau Ming datang ke negeri orang menawarkan bantuan, memberikan hadiah kepada raja-raja yang dikunjungi bahkan juga memberikan hutang. Teknik yang dimainkan Ming itu berhasil menaklukkan Negeri-Negeri Nusantara, utamanya negeri-negeri lemah yang mata Duitan di Sumatra dan Semenanjung. Mereka nantinya kirim Upeti ke Ming. Selain itu, Ming juga hampir menghabisi Jawa, Ming menjadi salah satu pendukung dan pemodal Penguasa Jawa (Bre Pamotan) yang membangkang pada Majapahit, tapi untungya Negeri yang didukung Ming itu dikalahkan Majapahit.

 USAHA YUAN & MING MENCENGKRAM JAWA


Yuan adalah dinasti yang dibangun Mongol di Cina. Dinasti inilah yang menyerbu Jawa karena utusannya dipotong telinganya oleh Raja Jawa (Singasari). 



Nah kalau Ming itu juga dinasti yang memerintah Cina, dinasti inilah yang menggulingkan Yuan. Tokoh terkenal orang-orang Ming ini ya Si Laksamana Cengho itu. 


Baik Yuan & Ming sebetulnya sama-sama liciknya, keduanya berambisi menaklukan Nusantara, cuma ganjalan dalam menaklukan Nusantara itu adalah Jawa. 


Jawa kala itu memang susah diatur, negeri ini lebih suka menjajah dibandingkan dengan menjadi vazal-nya Penjajah. Orang Jawa sudah berpengalaman menjajah sejak zaman Medang.


Yuan dalam usaha mencengkram Jawa  memakai cara kekerasan, mereka melakukan invasi ke Jawa, namun invasi ini selalu gagal. Untuk menghadapi dominasi Jawa di Nusantara, Yuan memelihara Negara boneka, diantara negara Boneka Yuan di Nusantara adalah Negeri-Negeri Semenanjung, Tumasik (Singapura) & Sumatra. 


Berbeda dengan Yuan yang menggunakan jalur militer, Ming dalam menaklukan Nusantara dengan teknik dagang, menyodorkan utang dan berlaga sok kaya. Teknik ini kebalikannya orang Yuan. 


Kalau orang Yuan datang ke negeri orang dan kemudian merampok kekayaan negeri-negeri yang didatangi, kalau Ming datang ke negeri orang menawarkan bantuan, memberikan hadiah kepada raja-raja yang dikunjungi bahkan juga memberikan hutang. 


Teknik yang dimainkan Ming itu berhasil menaklukkan Negeri-Negeri Nusantara, utamanya negeri-negeri lemah yang mata Duitan di Sumatra dan Semenanjung. Mereka nantinya kirim Upeti ke Ming. 


Selain itu, Ming juga hampir menghabisi Jawa, Ming menjadi salah satu pendukung dan pemodal Penguasa Jawa (Bre Pamotan) yang membangkang pada Majapahit, tapi untungya Negeri yang didukung Ming itu dikalahkan Majapahit.

KEKUATAN PRAJURIT & ARMADA KERAJAAN MAJAPAHIT & SRIWIJAYA KERAJAAN MAJAPAHIT (1293–1500-an M) Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar di Nusantara yang mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-14 di bawah kekuasaan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Kekuatannya meliputi aspek militer darat dan laut, yang sangat penting untuk menjaga kekuasaan dan pengaruhnya di wilayah maritim Asia Tenggara. KEKUATAN DARAT Pasukan darat Majapahit terdiri dari berbagai elemen yang dilatih secara khusus untuk mempertahankan wilayah daratan yang luas serta untuk menaklukkan daerah-daerah lain. Struktur pasukan Majapahit dibagi menjadi beberapa komponen: 1. Infanteri: Infanteri Majapahit merupakan tulang punggung utama pasukan darat. Mereka dilengkapi dengan senjata seperti tombak, keris, parang, dan pedang. Prajurit infanteri terlibat dalam pertempuran frontal serta operasi penguasaan wilayah yang sulit dijangkau seperti pegunungan dan hutan-hutan lebat di Pulau Jawa. 2. Kavaleri: Meski kuda tidak banyak ditemukan di Nusantara, Majapahit memiliki pasukan kavaleri yang terbatas, namun sangat efektif. Kuda-kuda ini diperoleh dari perdagangan dengan pedagang luar, terutama dari India dan Arab. Kavaleri digunakan dalam serangan cepat atau untuk mengepung musuh di medan terbuka. 3. Pasukan Pemanah: Pasukan pemanah Majapahit memainkan peran penting dalam pertempuran, terutama ketika bertempur di daerah terbuka dan dalam perang jarak jauh. Mereka menggunakan busur tradisional dan panah beracun untuk melemahkan musuh sebelum melakukan serangan darat. 4. Senjata Artileri: Meskipun artileri seperti meriam masih sangat sederhana pada masa itu, Majapahit mulai mengadopsi teknologi senjata api dari luar, terutama dari India dan Tiongkok. Penggunaan meriam yang dinamakan cetbang dan senjata api mulai terlihat dalam pertahanan benteng dan kapal perang Majapahit di akhir masa kejayaannya. 5. Pasukan Elit: Majapahit memiliki pasukan khusus yang dikenal sebagai Bhayangkara, yang berfungsi sebagai penjaga pribadi raja dan pejabat tinggi kerajaan. Mereka dilatih untuk melakukan tugas pengamanan dan pengawalan di dalam istana, tetapi juga dapat ditugaskan untuk misi-misi militer yang lebih kompleks. ARMADA LAUT Sebagai kerajaan maritim, Majapahit menyadari betul pentingnya mengendalikan jalur perdagangan dan melindungi pantai serta kepulauan di Nusantara. Kekuatan laut Majapahit didukung oleh armada yang kuat, yang terutama digunakan untuk ekspansi dan pengawasan wilayah kekuasaan maritim. 1. Kapal Perang Jong: Kapal terbesar yang digunakan oleh armada laut Majapahit adalah jong, sebuah kapal layar besar yang dirancang untuk membawa banyak prajurit, senjata, dan perbekalan. Jong bisa mencapai panjang lebih dari 30 meter dan mampu mengangkut hingga 100 prajurit. Jong dilengkapi dengan senjata-senjata seperti tombak dan panah serta meriam pada masanya. 2. Kapal Cepat (Penjajap): Selain jong, Majapahit juga memiliki kapal kecil yang lebih cepat, yang disebut penjajap atau ghurab. Kapal ini digunakan untuk patroli cepat dan pengintaian, serta untuk melakukan serangan mendadak ke kapal-kapal musuh. 3. Perdagangan dan Ekspansi Maritim: Kekuatan maritim Majapahit tidak hanya digunakan untuk perang, tetapi juga untuk mengendalikan perdagangan internasional. Armada lautnya melindungi jalur perdagangan yang melintasi Selat Malaka dan Laut Jawa, serta memfasilitasi perdagangan dengan wilayah Asia lainnya seperti Tiongkok, India, dan Timur Tengah. 4. Pertempuran Laut Terkenal: Armada laut Majapahit terlibat dalam berbagai pertempuran penting untuk mempertahankan wilayah maritimnya. Salah satu pertempuran laut terkenal adalah pertempuran di perairan Pasai ketika Majapahit berhasil menghancurkan kekuatan armada laut Kesultanan Pasai. KERAJAAN SRIWIJAYA (650–1377 M) Sriwijaya merupakan kerajaan maritim yang mendominasi jalur perdagangan di Asia Tenggara pada abad ke-7 hingga abad ke-14. Sriwijaya adalah salah satu kerajaan terbesar yang menguasai perdagangan maritim, terutama di Selat Malaka dan Laut Jawa, menjadikannya kekuatan laut yang tak tertandingi di Nusantara pada masa kejayaannya. KEKUATAN DARAT Meskipun Sriwijaya dikenal sebagai kekuatan maritim, mereka juga memiliki kekuatan darat yang digunakan untuk mempertahankan wilayah di daratan Sumatra dan semenanjung Melayu. 1. Infanteri: Prajurit darat Sriwijaya terdiri dari infanteri yang dilengkapi dengan senjata-senjata tradisional seperti tombak, pedang, dan panah. Kekuatan infanteri Sriwijaya dikerahkan untuk menjaga ibu kota dan pusat-pusat perdagangan utama mereka di darat. 2. Pertahanan Benteng: Kerajaan ini memiliki benteng pertahanan yang kuat di sepanjang jalur perdagangan strategis, terutama di Selat Malaka dan sekitar Sungai Musi di Palembang. Benteng-benteng ini dilindungi oleh pasukan darat yang siap mempertahankan posisi strategis dari serangan luar. ARMADA LAUT Sriwijaya dikenal sebagai salah satu kerajaan maritim terbesar yang mendominasi jalur perdagangan internasional di Asia Tenggara. Armada laut Sriwijaya sangat terkenal dalam sejarah karena kekuatannya yang mengendalikan rute perdagangan dari Tiongkok hingga India. 1. Kapal-Kapal Besar: Armada laut Sriwijaya terdiri dari kapal-kapal besar yang mampu berlayar di perairan internasional. Salah satu kapal terbesar yang digunakan adalah kapal jong, yang juga digunakan untuk perdagangan dan perang. Kapal ini dirancang untuk membawa muatan besar dan mampu bertahan dalam perjalanan jauh di lautan. 2. Penguasaan Jalur Perdagangan: Sriwijaya menguasai Selat Malaka, salah satu jalur perdagangan terpenting di dunia, yang menghubungkan India dan Tiongkok. Kekuatan lautnya memungkinkan mereka untuk mengendalikan dan melindungi jalur ini, serta memungut pajak dari kapal-kapal yang melintas. 3. Kapal Perang dan Patroli Laut: Armada laut Sriwijaya dilengkapi dengan kapal perang yang siap menjaga perairan Nusantara dari ancaman bajak laut maupun invasi dari kerajaan lain. Kapal-kapal perang ini digunakan untuk menegakkan hukum maritim Sriwijaya dan melindungi kapal dagang dari perompak. 4. Ekspansi Maritim: Sriwijaya melakukan berbagai ekspansi maritim untuk menguasai wilayah-wilayah strategis di Asia Tenggara. Mereka menaklukkan beberapa wilayah seperti Semenanjung Malaya, Jawa bagian barat, dan beberapa pulau di sekitar Selat Sunda dan Selat Malaka. Ekspansi ini menambah kekuatan armada laut Sriwijaya dalam mempertahankan hegemoni maritimnya. 5. Perang Laut Terkenal: Sriwijaya juga terlibat dalam berbagai konflik laut, termasuk melawan Dinasti Chola dari India Selatan pada abad ke-11, yang mengakibatkan invasi ke ibu kota Sriwijaya di Palembang. Meski mengalami kekalahan di beberapa pertempuran, kekuatan maritim Sriwijaya tetap dihormati dan mampu bertahan hingga abad ke-14. Baik Majapahit maupun Sriwijaya menunjukkan superioritas dalam hal militer darat dan laut, meski dengan penekanan yang berbeda. Majapahit lebih fokus pada kekuatan darat yang mendukung ekspansi wilayah daratan di Nusantara, sementara Sriwijaya lebih dikenal sebagai kekuatan maritim yang mengendalikan perdagangan internasional dan laut di Asia Tenggara. Referensi: 1. Cล“dรจs, George. The Indianized States of Southeast Asia. University of Hawaii Press, 1968. 2. Manguin, Pierre-Yves. Southeast Asian Kingdoms and the Maritime Silk Route. National University of Singapore Press, 2016. 3. Munoz, Paul Michel. Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Editions Didier Millet, 2006.

 KEKUATAN PRAJURIT & ARMADA KERAJAAN MAJAPAHIT & SRIWIJAYA


KERAJAAN MAJAPAHIT (1293–1500-an M)

Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar di Nusantara yang mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-14 di bawah kekuasaan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Kekuatannya meliputi aspek militer darat dan laut, yang sangat penting untuk menjaga kekuasaan dan pengaruhnya di wilayah maritim Asia Tenggara.


KEKUATAN DARAT

Pasukan darat Majapahit terdiri dari berbagai elemen yang dilatih secara khusus untuk mempertahankan wilayah daratan yang luas serta untuk menaklukkan daerah-daerah lain. Struktur pasukan Majapahit dibagi menjadi beberapa komponen:




1. Infanteri: Infanteri Majapahit merupakan tulang punggung utama pasukan darat. Mereka dilengkapi dengan senjata seperti tombak, keris, parang, dan pedang. Prajurit infanteri terlibat dalam pertempuran frontal serta operasi penguasaan wilayah yang sulit dijangkau seperti pegunungan dan hutan-hutan lebat di Pulau Jawa.

2. Kavaleri: Meski kuda tidak banyak ditemukan di Nusantara, Majapahit memiliki pasukan kavaleri yang terbatas, namun sangat efektif. Kuda-kuda ini diperoleh dari perdagangan dengan pedagang luar, terutama dari India dan Arab. Kavaleri digunakan dalam serangan cepat atau untuk mengepung musuh di medan terbuka.

3. Pasukan Pemanah: Pasukan pemanah Majapahit memainkan peran penting dalam pertempuran, terutama ketika bertempur di daerah terbuka dan dalam perang jarak jauh. Mereka menggunakan busur tradisional dan panah beracun untuk melemahkan musuh sebelum melakukan serangan darat.

4. Senjata Artileri: Meskipun artileri seperti meriam masih sangat sederhana pada masa itu, Majapahit mulai mengadopsi teknologi senjata api dari luar, terutama dari India dan Tiongkok. Penggunaan meriam yang dinamakan cetbang dan senjata api mulai terlihat dalam pertahanan benteng dan kapal perang Majapahit di akhir masa kejayaannya.

5. Pasukan Elit: Majapahit memiliki pasukan khusus yang dikenal sebagai Bhayangkara, yang berfungsi sebagai penjaga pribadi raja dan pejabat tinggi kerajaan. Mereka dilatih untuk melakukan tugas pengamanan dan pengawalan di dalam istana, tetapi juga dapat ditugaskan untuk misi-misi militer yang lebih kompleks.


ARMADA LAUT

Sebagai kerajaan maritim, Majapahit menyadari betul pentingnya mengendalikan jalur perdagangan dan melindungi pantai serta kepulauan di Nusantara. Kekuatan laut Majapahit didukung oleh armada yang kuat, yang terutama digunakan untuk ekspansi dan pengawasan wilayah kekuasaan maritim.

1. Kapal Perang Jong: Kapal terbesar yang digunakan oleh armada laut Majapahit adalah jong, sebuah kapal layar besar yang dirancang untuk membawa banyak prajurit, senjata, dan perbekalan. Jong bisa mencapai panjang lebih dari 30 meter dan mampu mengangkut hingga 100 prajurit. Jong dilengkapi dengan senjata-senjata seperti tombak dan panah serta meriam pada masanya.

2. Kapal Cepat (Penjajap): Selain jong, Majapahit juga memiliki kapal kecil yang lebih cepat, yang disebut penjajap atau ghurab. Kapal ini digunakan untuk patroli cepat dan pengintaian, serta untuk melakukan serangan mendadak ke kapal-kapal musuh.

3. Perdagangan dan Ekspansi Maritim: Kekuatan maritim Majapahit tidak hanya digunakan untuk perang, tetapi juga untuk mengendalikan perdagangan internasional. Armada lautnya melindungi jalur perdagangan yang melintasi Selat Malaka dan Laut Jawa, serta memfasilitasi perdagangan dengan wilayah Asia lainnya seperti Tiongkok, India, dan Timur Tengah.

4. Pertempuran Laut Terkenal: Armada laut Majapahit terlibat dalam berbagai pertempuran penting untuk mempertahankan wilayah maritimnya. Salah satu pertempuran laut terkenal adalah pertempuran di perairan Pasai ketika Majapahit berhasil menghancurkan kekuatan armada laut Kesultanan Pasai.


KERAJAAN SRIWIJAYA (650–1377 M)


Sriwijaya merupakan kerajaan maritim yang mendominasi jalur perdagangan di Asia Tenggara pada abad ke-7 hingga abad ke-14. Sriwijaya adalah salah satu kerajaan terbesar yang menguasai perdagangan maritim, terutama di Selat Malaka dan Laut Jawa, menjadikannya kekuatan laut yang tak tertandingi di Nusantara pada masa kejayaannya.


KEKUATAN DARAT

Meskipun Sriwijaya dikenal sebagai kekuatan maritim, mereka juga memiliki kekuatan darat yang digunakan untuk mempertahankan wilayah di daratan Sumatra dan semenanjung Melayu.


1. Infanteri: Prajurit darat Sriwijaya terdiri dari infanteri yang dilengkapi dengan senjata-senjata tradisional seperti tombak, pedang, dan panah. Kekuatan infanteri Sriwijaya dikerahkan untuk menjaga ibu kota dan pusat-pusat perdagangan utama mereka di darat.

2. Pertahanan Benteng: Kerajaan ini memiliki benteng pertahanan yang kuat di sepanjang jalur perdagangan strategis, terutama di Selat Malaka dan sekitar Sungai Musi di Palembang. Benteng-benteng ini dilindungi oleh pasukan darat yang siap mempertahankan posisi strategis dari serangan luar.


ARMADA LAUT

Sriwijaya dikenal sebagai salah satu kerajaan maritim terbesar yang mendominasi jalur perdagangan internasional di Asia Tenggara. Armada laut Sriwijaya sangat terkenal dalam sejarah karena kekuatannya yang mengendalikan rute perdagangan dari Tiongkok hingga India.

1. Kapal-Kapal Besar: Armada laut Sriwijaya terdiri dari kapal-kapal besar yang mampu berlayar di perairan internasional. Salah satu kapal terbesar yang digunakan adalah kapal jong, yang juga digunakan untuk perdagangan dan perang. Kapal ini dirancang untuk membawa muatan besar dan mampu bertahan dalam perjalanan jauh di lautan.

2. Penguasaan Jalur Perdagangan: Sriwijaya menguasai Selat Malaka, salah satu jalur perdagangan terpenting di dunia, yang menghubungkan India dan Tiongkok. Kekuatan lautnya memungkinkan mereka untuk mengendalikan dan melindungi jalur ini, serta memungut pajak dari kapal-kapal yang melintas.

3. Kapal Perang dan Patroli Laut: Armada laut Sriwijaya dilengkapi dengan kapal perang yang siap menjaga perairan Nusantara dari ancaman bajak laut maupun invasi dari kerajaan lain. Kapal-kapal perang ini digunakan untuk menegakkan hukum maritim Sriwijaya dan melindungi kapal dagang dari perompak.

4. Ekspansi Maritim: Sriwijaya melakukan berbagai ekspansi maritim untuk menguasai wilayah-wilayah strategis di Asia Tenggara. Mereka menaklukkan beberapa wilayah seperti Semenanjung Malaya, Jawa bagian barat, dan beberapa pulau di sekitar Selat Sunda dan Selat Malaka. Ekspansi ini menambah kekuatan armada laut Sriwijaya dalam mempertahankan hegemoni maritimnya.

5. Perang Laut Terkenal: Sriwijaya juga terlibat dalam berbagai konflik laut, termasuk melawan Dinasti Chola dari India Selatan pada abad ke-11, yang mengakibatkan invasi ke ibu kota Sriwijaya di Palembang. Meski mengalami kekalahan di beberapa pertempuran, kekuatan maritim Sriwijaya tetap dihormati dan mampu bertahan hingga abad ke-14.


Baik Majapahit maupun Sriwijaya menunjukkan superioritas dalam hal militer darat dan laut, meski dengan penekanan yang berbeda. Majapahit lebih fokus pada kekuatan darat yang mendukung ekspansi wilayah daratan di Nusantara, sementara Sriwijaya lebih dikenal sebagai kekuatan maritim yang mengendalikan perdagangan internasional dan laut di Asia Tenggara.


Referensi:

1.  Cล“dรจs, George. The Indianized States of Southeast Asia. University of Hawaii Press, 1968.

2.  Manguin, Pierre-Yves. Southeast Asian Kingdoms and the Maritime Silk Route. National University of Singapore Press, 2016.

3.  Munoz, Paul Michel. Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Editions Didier Millet, 2006.

Ayu Lembah, Permaisuri Raja yang Kepergok Slingkuh Ayu Lembah adalah seorang Permaisuri dari Kesultanan Kertasura Mataram, ia sendiri merupakan putri Pangeran Puger, permaisuri ini dikisahkan wafat tragis sebab kepergok slingkuh dengan seorang laki-laki muda anak Patih Sindureja. Perselingkuhan Ayu Lembah dengan anak Patih Kerajaannya ini dikisahkan dalam babad tanah Jawi. Kisah perselingkuhan dimulai ketika suaminya tidak memusakan secara ranjang. Oleh: Sejarah Cirebon

 Ayu Lembah, Permaisuri Raja yang Kepergok Slingkuh


Ayu Lembah adalah seorang Permaisuri dari Kesultanan Kertasura Mataram, ia sendiri merupakan putri Pangeran Puger, permaisuri ini dikisahkan wafat tragis sebab kepergok slingkuh dengan seorang laki-laki muda anak Patih Sindureja. Perselingkuhan Ayu Lembah dengan anak Patih Kerajaannya ini dikisahkan dalam babad tanah Jawi. Kisah perselingkuhan dimulai ketika suaminya tidak memusakan secara ranjang.



Oleh: Sejarah Cirebon

11 October 2024

Berikut adalah daftar 20 kerajaan di Indonesia beserta informasi tentang raja saat kejayaan, tahun kejayaan, dan tahun kehancuran: 1. **Kerajaan Kutai (Abad ke-4 - Abad ke-16)** - Raja pertama: Kudungga - Raja saat kejayaan: Mulawarman - Tahun Kejayaan: Abad ke-4 - Tahun kehancuran: Abad ke-16 2. **Kerajaan Tarumanagara (358 M - 669 M)** - Raja saat kejayaan: Purnawarman - Tahun Kejayaan: 395-434 M - Tahun kehancuran: 669 M 3. **Kerajaan Kalingga (Abad ke-6 - Abad ke-7)** - Ratu saat kejayaan: Shima - Tahun Kejayaan: 674-695 M - Tahun kehancuran: Abad ke-7 4. **Kerajaan Sriwijaya (683 M - 1178 M)** - Raja saat kejayaan: Balaputradewa - Tahun Kejayaan: Abad ke-9 - Tahun kehancuran: 1178 M 5. **Kerajaan Mataram Kuno (732 M - 1007 M)** - Raja saat kejayaan: Dyah Balitung - Tahun Kejayaan: 898-910 M - Tahun kehancuran: 1007 M 6. **Kerajaan Medang (732 M - 1016 M)** - Raja saat kejayaan: Mpu Sendok - Tahun Kejayaan: Abad ke-10 - Tahun kehancuran: 1016 M 7. **Kerajaan Padjajaran (923 M - 1597 M)** - Raja saat kejayaan: Prabu Siliwangi - Tahun Kejayaan: Abad ke-15 - Tahun kehancuran: 1597 M 8. **Kerajaan Kahuripan (1019 M - 1049 M)** - Raja saat kejayaan: Airlangga - Tahun Kejayaan: 1028-1049 M - Tahun kehancuran: 1049 M 9. **Kerajaan Kediri (1045 M - 1222 M)** - Raja saat kejayaan: Jayabaya - Tahun Kejayaan: 1135-1157 M - Tahun kehancuran: 1222 M 10. **Kerajaan Tidore (1081 M - 1805 M)** - Raja saat kejayaan: Sultan Nuku - Tahun Kejayaan: 1797-1805 M - Tahun kehancuran: 1805 M 11. **Kerajaan Singasari (1222 M - 1292 M)** - Raja saat kejayaan: Kertanegara - Tahun Kejayaan: 1268-1292 M - Tahun kehancuran: 1292 M 12. **Kerajaan Ternate (1257 M - 1683 M)** - Raja saat kejayaan: Sultan Baabullah - Tahun Kejayaan: 1570-1583 M - Tahun kehancuran: 1683 M 13. **Kerajaan Samudera Pasai (1267 M - 1517 M)** - Raja saat kejayaan: Sultan Malik Al-Saleh - Tahun Kejayaan: Abad ke-13 - Tahun kehancuran: 1517 M 14. **Kerajaan Majapahit (1293 M - 1478 M)** - Raja saat kejayaan: Hayam Wuruk - Tahun Kejayaan: 1350-1389 M - Tahun kehancuran: 1478 M 15. **Kerajaan Gowa-Tallo (1320 M - 1667 M)** - Raja saat kejayaan: Sultan Hasanuddin - Tahun Kejayaan: 1653-1669 M - Tahun kehancuran: 1667 M 16. **Kerajaan Demak (1478 M - 1546 M)** - Raja saat kejayaan: Sultan Trenggana - Tahun Kejayaan: 1521-1546 M - Tahun kehancuran: 1546 M 17. **Kerajaan Aceh (1496 M - 1903 M)** - Raja saat kejayaan: Sultan Iskandar Muda - Tahun Kejayaan: 1607-1636 M - Tahun kehancuran: 1903 M 18. **Kerajaan Banten (1525 M - 1813 M)** - Raja saat kejayaan: Sultan Ageng Tirtayasa - Tahun Kejayaan: 1651-1682 M - Tahun kehancuran: 1813 M 19. **Kerajaan Pajang (1568 M - 1587 M)** - Raja saat kejayaan: Sultan Hadiwijaya - Tahun Kejayaan: 1549-1582 M - Tahun kehancuran: 1587 M 20. **Kerajaan Mataram Islam (1582 M - 1755 M)** - Raja saat kejayaan: Sultan Agung - Tahun Kejayaan: 1613-1645 M - Tahun kehancuran: 1755 M #KerajaanKutai #RajaMulawarman #SejarahKutai #KerajaanTarumanagara #RajaPurnawarman #SejarahTarumanagara #KerajaanKalingga #RatuShima #SejarahKalingga #KerajaanSriwijaya #Balaputradewa #SejarahSriwijaya #KerajaanMataramKuno #DyahBalitung #SejarahMataramKuno #KerajaanMedang #MpuSendok #SejarahMedang #KerajaanPadjajaran #PrabuSiliwangi #SejarahPadjajaran #KerajaanKahuripan #Airlangga #SejarahKahuripan #KerajaanKediri #Jayabaya #SejarahKediri #KerajaanTidore #SultanNuku #SejarahTidore

 Berikut adalah daftar 20 kerajaan di Indonesia beserta informasi tentang raja saat kejayaan, tahun kejayaan, dan tahun kehancuran:



1. **Kerajaan Kutai (Abad ke-4 - Abad ke-16)**

   - Raja pertama: Kudungga

   - Raja saat kejayaan: Mulawarman

   - Tahun Kejayaan: Abad ke-4

   - Tahun kehancuran: Abad ke-16


2. **Kerajaan Tarumanagara (358 M - 669 M)**

   - Raja saat kejayaan: Purnawarman

   - Tahun Kejayaan: 395-434 M

   - Tahun kehancuran: 669 M


3. **Kerajaan Kalingga (Abad ke-6 - Abad ke-7)**

   - Ratu saat kejayaan: Shima

   - Tahun Kejayaan: 674-695 M

   - Tahun kehancuran: Abad ke-7


4. **Kerajaan Sriwijaya (683 M - 1178 M)**

   - Raja saat kejayaan: Balaputradewa

   - Tahun Kejayaan: Abad ke-9

   - Tahun kehancuran: 1178 M


5. **Kerajaan Mataram Kuno (732 M - 1007 M)**

   - Raja saat kejayaan: Dyah Balitung

   - Tahun Kejayaan: 898-910 M

   - Tahun kehancuran: 1007 M


6. **Kerajaan Medang (732 M - 1016 M)**

   - Raja saat kejayaan: Mpu Sendok

   - Tahun Kejayaan: Abad ke-10

   - Tahun kehancuran: 1016 M


7. **Kerajaan Padjajaran (923 M - 1597 M)**

   - Raja saat kejayaan: Prabu Siliwangi

   - Tahun Kejayaan: Abad ke-15

   - Tahun kehancuran: 1597 M


8. **Kerajaan Kahuripan (1019 M - 1049 M)**

   - Raja saat kejayaan: Airlangga

   - Tahun Kejayaan: 1028-1049 M

   - Tahun kehancuran: 1049 M


9. **Kerajaan Kediri (1045 M - 1222 M)**

   - Raja saat kejayaan: Jayabaya

   - Tahun Kejayaan: 1135-1157 M

   - Tahun kehancuran: 1222 M


10. **Kerajaan Tidore (1081 M - 1805 M)**

    - Raja saat kejayaan: Sultan Nuku

    - Tahun Kejayaan: 1797-1805 M

    - Tahun kehancuran: 1805 M


11. **Kerajaan Singasari (1222 M - 1292 M)**

    - Raja saat kejayaan: Kertanegara

    - Tahun Kejayaan: 1268-1292 M

    - Tahun kehancuran: 1292 M


12. **Kerajaan Ternate (1257 M - 1683 M)**

    - Raja saat kejayaan: Sultan Baabullah

    - Tahun Kejayaan: 1570-1583 M

    - Tahun kehancuran: 1683 M


13. **Kerajaan Samudera Pasai (1267 M - 1517 M)**

    - Raja saat kejayaan: Sultan Malik Al-Saleh

    - Tahun Kejayaan: Abad ke-13

    - Tahun kehancuran: 1517 M


14. **Kerajaan Majapahit (1293 M - 1478 M)**

    - Raja saat kejayaan: Hayam Wuruk

    - Tahun Kejayaan: 1350-1389 M

    - Tahun kehancuran: 1478 M


15. **Kerajaan Gowa-Tallo (1320 M - 1667 M)**

    - Raja saat kejayaan: Sultan Hasanuddin

    - Tahun Kejayaan: 1653-1669 M

    - Tahun kehancuran: 1667 M


16. **Kerajaan Demak (1478 M - 1546 M)**

    - Raja saat kejayaan: Sultan Trenggana

    - Tahun Kejayaan: 1521-1546 M

    - Tahun kehancuran: 1546 M


17. **Kerajaan Aceh (1496 M - 1903 M)**

    - Raja saat kejayaan: Sultan Iskandar Muda

    - Tahun Kejayaan: 1607-1636 M

    - Tahun kehancuran: 1903 M


18. **Kerajaan Banten (1525 M - 1813 M)**

    - Raja saat kejayaan: Sultan Ageng Tirtayasa

    - Tahun Kejayaan: 1651-1682 M

    - Tahun kehancuran: 1813 M


19. **Kerajaan Pajang (1568 M - 1587 M)**

    - Raja saat kejayaan: Sultan Hadiwijaya

    - Tahun Kejayaan: 1549-1582 M

    - Tahun kehancuran: 1587 M


20. **Kerajaan Mataram Islam (1582 M - 1755 M)**

    - Raja saat kejayaan: Sultan Agung

    - Tahun Kejayaan: 1613-1645 M

    - Tahun kehancuran: 1755 M


#KerajaanKutai  

#RajaMulawarman  

#SejarahKutai  

#KerajaanTarumanagara  

#RajaPurnawarman  

#SejarahTarumanagara  

#KerajaanKalingga  

#RatuShima  

#SejarahKalingga  

#KerajaanSriwijaya  

#Balaputradewa  

#SejarahSriwijaya  

#KerajaanMataramKuno  

#DyahBalitung  

#SejarahMataramKuno  

#KerajaanMedang  

#MpuSendok  

#SejarahMedang  

#KerajaanPadjajaran  

#PrabuSiliwangi  

#SejarahPadjajaran  

#KerajaanKahuripan  

#Airlangga  

#SejarahKahuripan  

#KerajaanKediri  

#Jayabaya  

#SejarahKediri  

#KerajaanTidore  

#SultanNuku  

#SejarahTidore

Jawara Betawi yang cukup terkenal adalah Sabeni. Pria kelahiran 1860 ini dibesarkan di Kebon Pala, Tanah Abang. Namanya melejit ketika ia berhasil mengalahkan salah satu jagoan dari Kemayoran. Ia juga pernah mengalahkan Jago Kuntau dari China yang didatangkan oleh pejabat Belanda bernama Tuan Danu. Hingga usia 83 tahun Sabeni masih tetap lincah dan menguasi seni bela dirinya dengan baik. Bahkan ketika usianya sudah tua ia masih mampu mengalahkan jago-jago beladiri Yudo dan Karate dari Jepang dan membuat kelimpungan pemerintah colonial Belanda. Sabeni meninggal dunia pada usia 85 tahun, dua hari sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia yakni pada 15 Agustus 1945.

 Jawara Betawi yang cukup terkenal adalah Sabeni. Pria kelahiran 1860 ini dibesarkan di Kebon Pala, Tanah Abang. Namanya melejit ketika ia berhasil mengalahkan salah satu jagoan dari Kemayoran. Ia juga pernah mengalahkan Jago Kuntau dari China yang didatangkan oleh pejabat Belanda bernama Tuan Danu.



Hingga usia 83 tahun Sabeni masih tetap lincah dan menguasi seni bela dirinya dengan baik. Bahkan ketika usianya sudah tua ia masih mampu mengalahkan jago-jago beladiri Yudo dan Karate dari Jepang dan membuat kelimpungan pemerintah colonial Belanda. Sabeni meninggal dunia pada usia 85 tahun, dua hari sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia yakni pada 15 Agustus 1945.

Makna Filosofi Blangkon, Simbol Kebijaksanaan Pria Jawa Blangkon merupakan penutup kepala yang terbuat dari kain batik dan digunakan oleh kalangan pria sebagai kelengkapan dari pakaian tradisional Jawa. Selain sebagai penutup kepala, blangkon yang dipakai juga menunjukkan strata sosial pemakainya di kalangan masyarakat. Konon, blangkon digunakan sebagai simbol untuk membedakan antara kaum bangsawan keraton dan masyarakat biasa yang umumnya hanya menggunakan iket sebagai penutup kepala. Orang Jawa beranggapan jika kaum laki-laki memiliki arti penting, sehingga pelindung kepala pria menjadi yang diutamakan. Lantas apa makna filosofi dari blangkon dalam penggunaan sehari-hari? Simak penjabarannya berikut ini. Sejarah Blangkon Blangkon menjadi simbol tersendiri bagi kaum pria yang hidup di Jawa. Di balik bentuknya yang sederhana, blangkon memiliki makna yang tinggi. Makna keindahan dari blangkon itu sendiri, makna etika yang dapat dilihat dari kepribadian masyarakat Jawa pada masa itu. Asal-usul nama blangkon berasal dari kata blangko yang berarti mencetak kosong, suatu nama yang diberikan pada berbagai jenis yang telah dicetak. Tidak ada catatan sejarah pasti kapan asal muasal dari keberadaan blangkon."

 Makna Filosofi Blangkon, Simbol Kebijaksanaan Pria Jawa


Blangkon merupakan penutup kepala yang terbuat dari kain batik dan digunakan oleh kalangan pria sebagai kelengkapan dari pakaian tradisional Jawa. Selain sebagai penutup kepala, blangkon yang dipakai juga menunjukkan strata sosial pemakainya di kalangan masyarakat.

Konon, blangkon digunakan sebagai simbol untuk membedakan antara kaum bangsawan keraton dan masyarakat biasa yang umumnya hanya menggunakan iket sebagai penutup kepala. Orang Jawa beranggapan jika kaum laki-laki memiliki arti penting, sehingga pelindung kepala pria menjadi yang diutamakan.


Lantas apa makna filosofi dari blangkon dalam penggunaan sehari-hari? Simak penjabarannya berikut ini.



Sejarah Blangkon


Blangkon menjadi simbol tersendiri bagi kaum pria yang hidup di Jawa. Di balik bentuknya yang sederhana, blangkon memiliki makna yang tinggi. Makna keindahan dari blangkon itu sendiri, makna etika yang dapat dilihat dari kepribadian masyarakat Jawa pada masa itu.


Asal-usul nama blangkon berasal dari kata blangko yang berarti mencetak kosong, suatu nama yang diberikan pada berbagai jenis yang telah dicetak. Tidak ada catatan sejarah pasti kapan asal muasal dari keberadaan blangkon."

SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO IX Dan Si Mbok Bakul Beras Suatu saat Sri Sultan pagi-pagi pulang dari Kaliurang dengan mengendarai Mobil Jeepnya sendiri. Sampai di sekitar Pakem, Sleman beliau di stop oleh perempuan tua, seorang Bakul Beras. Sri Sultan pun segera memberhentikan mobilnya, seraya menyapa dengan ramah: “Ada apa mbok..?” “Tolong mas.., angkatkan beras ini saya mau ke Jogja”, ujar mbok bakul beras sok bersahabat. Dengan senyum-senyum Sri Sultan turun dari mobilnya, dan mengangkat beras itu ke dalam mobilnya sendirian. Tanpa dipersilahkan masuk si mbok bakul beras itu pun segera membuka pintu dan duduk di samping sopir, sebagaimana kebiasaan dia setiap hari dengan sopir-sopir yang lain. Ceritera kesana kemari, sambil makan sirih si mbok disambut dengan ramah oleh Sri Sultan sepanjang perjalanan. Tanpa terasa sampailah kendaraan yang disopiri seorang “Raja” ini di depan Pasar Beringharjo, Jogjakarta. Si mbok pun bergegas menyuruh Sri Sultan menurunkan beras itu, dan dengan tetap menunjukkan sikap yang sopan Sri Sultan pun menurunkan beras itu dengan baik. Kini tiba gilirannya si mbok bakul beras mencari uangnya yang dibundel di selendang atau ujung setagennya. Ketika si mbok mengulurkan uang ongkos transportnya, sang Sopir istimewa tadi menolak dengan halus, "Terimakasih Mbok, tidak usah" dan mobil pun segera meluncur. Apa yang terjadi dengan si mbok bakul beras..? Ia justru malah ngomel-ngomel: “Sopir ini bagaimana tow, lhawong dikasih ongkos kok ndak mau langsung bablas pergi, kalau kurang mbok yaow ngomong, apa saya dikira ndak punya uang pow?!!” Ketika sedang sibuk ngomel, datanglah seorang Polisi yang sedang berjaga di pos, menghampiri si mbok bakul, seraya bertanya: “Mbok ada apa,..? kok sepertinya mboke marah-marah..? Mbok ketemu beliau di mana?" Si mbok tak menjawab keseluruhan pertanyaan pak Polisi, tetapi rada khawatir juga, dia menyatakan bahwa ia ngasih ongkos kok ditolak, “Itu tadi lho pak, ...Si pak Sopir tadi kok malah nylonong saja, ...Saya itu mau bayar, tapi entah kurang bayarannya kok terus pergi begitu saja, saya kan malu,.. sama orang-orang yang jualan di sini,..! Jawab pak Polisi: “Mbok., tadi yang si mbok tumpangi itu bukan Sopir,.. tetapi Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono,.. lihat tadi mobilnya kan AB 1” Spontan mbok bakul beras terperanjat, bagaikan disambar geledek. Kekagetan yang luar biasa yang tak pernah dialami sepanjang hidupnya, kemudian ia berteriak histeris: “Aduuuh Gustiiiii, ...” Selanjutnya badannya gontai dan terus jatuh pingsan. Dia merasakan RAJA-nya yang selama ini; ~ sangat dihormati,.. ~ sangat dicintai,.. ~ senantiasa diagung-agungkan,.. ~ kenapa disuruh ngangkat beras,.. ~ tambahan.., kenapa beliau mau saja,.. ~ kenapa beliau tidak marah,.. ~ kenapa tidak membentaknya.. Ini yang menjadikan penyesalan mendalam sang mbok bakul beras sehingga pingsan...!! Sesuatu yang perlu kita pertanyakan kepada diri kita adalah: ▪️Apakah dengan berbuat seperti itu Sri Sultan turun derajadnya..? ▪️Apakah dengan berbuat seperti itu kecintaan rakyat Jogja terhadap Sri Sultan luntur..? ▪️Apakah perbuatan Sri Sultan membantu orang kecil.., miskin.., menjadi terhina..? ▪️Mutiara sekalipun dimasukkan ke dalam lumpur tetap bersinar cemerlang..! Semoga bermanfaat Asep Joko Raharjo

 SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO IX Dan Si Mbok Bakul Beras


Suatu saat Sri Sultan pagi-pagi pulang dari Kaliurang dengan mengendarai Mobil Jeepnya sendiri.



Sampai di sekitar Pakem, Sleman beliau di stop oleh perempuan tua, seorang Bakul Beras.


Sri Sultan pun segera memberhentikan mobilnya, seraya menyapa dengan ramah:

“Ada apa mbok..?”


“Tolong mas.., angkatkan beras ini saya mau ke Jogja”, ujar mbok bakul beras sok bersahabat.


Dengan senyum-senyum Sri Sultan turun dari mobilnya, dan mengangkat beras itu ke dalam mobilnya sendirian.


Tanpa dipersilahkan masuk si mbok bakul beras itu pun segera membuka pintu dan duduk di samping sopir, sebagaimana kebiasaan dia setiap hari dengan sopir-sopir yang lain.


Ceritera kesana kemari, sambil makan sirih si mbok disambut dengan ramah oleh Sri Sultan sepanjang perjalanan.


Tanpa terasa sampailah kendaraan yang disopiri seorang “Raja” ini di depan Pasar Beringharjo, Jogjakarta.


Si mbok pun bergegas menyuruh Sri Sultan menurunkan beras itu, dan dengan tetap menunjukkan sikap yang sopan Sri Sultan pun menurunkan beras itu dengan baik.


Kini tiba gilirannya si mbok bakul beras mencari uangnya yang dibundel di selendang atau ujung setagennya.


Ketika si mbok mengulurkan uang ongkos transportnya, sang Sopir istimewa tadi menolak dengan halus, "Terimakasih Mbok, tidak usah" dan mobil pun segera meluncur.


Apa yang terjadi dengan si mbok bakul beras..?


Ia justru malah ngomel-ngomel:

“Sopir ini bagaimana tow, lhawong dikasih ongkos kok ndak mau langsung bablas pergi, kalau kurang mbok yaow ngomong, apa saya dikira ndak punya uang pow?!!”


Ketika sedang sibuk ngomel, datanglah seorang Polisi yang sedang berjaga di pos, menghampiri si mbok bakul, seraya bertanya:

“Mbok ada apa,..? kok sepertinya mboke marah-marah..? Mbok ketemu beliau di mana?"


Si mbok tak menjawab keseluruhan pertanyaan pak Polisi, tetapi rada khawatir juga, dia menyatakan bahwa ia ngasih ongkos kok ditolak,


“Itu tadi lho pak, ...Si pak Sopir tadi kok malah nylonong saja, ...Saya itu mau bayar, tapi entah kurang bayarannya kok terus pergi begitu saja, saya kan malu,.. sama orang-orang yang jualan di sini,..!


Jawab pak Polisi: “Mbok., tadi yang si mbok tumpangi itu bukan Sopir,.. tetapi Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono,.. lihat tadi mobilnya kan AB 1”


Spontan mbok bakul beras terperanjat, bagaikan disambar geledek.


Kekagetan yang luar biasa yang tak pernah dialami sepanjang hidupnya, kemudian ia berteriak histeris: “Aduuuh Gustiiiii, ...”


Selanjutnya badannya gontai dan terus jatuh pingsan.


Dia merasakan RAJA-nya yang selama ini;

~ sangat dihormati,..

~ sangat dicintai,..

~ senantiasa diagung-agungkan,..

~ kenapa disuruh ngangkat beras,..

~ tambahan.., kenapa beliau mau saja,..

~ kenapa beliau tidak marah,..

~ kenapa tidak membentaknya..


Ini yang menjadikan penyesalan mendalam sang mbok bakul beras sehingga pingsan...!!


Sesuatu yang perlu kita pertanyakan kepada diri kita adalah:


▪️Apakah dengan berbuat seperti itu Sri Sultan turun derajadnya..?


▪️Apakah dengan berbuat seperti itu kecintaan rakyat Jogja terhadap Sri Sultan luntur..?


▪️Apakah perbuatan Sri Sultan membantu orang kecil.., miskin.., menjadi terhina..?


▪️Mutiara sekalipun dimasukkan ke dalam lumpur tetap bersinar cemerlang..!


Semoga bermanfaat


Asep Joko Raharjo

10 October 2024

“Ratu Boko: Jejak Kejayaan Keraton di Atas Bukit yang Menawan” Situs Ratu Boko, atau yang dikenal juga sebagai Istana Raja Baka, merupakan peninggalan arkeologis yang menawarkan pesona unik berupa sisa-sisa kompleks bangunan kuno. Lokasinya hanya sekitar 3 km di selatan Candi Prambanan, 18 km di timur Kota Yogyakarta, atau 50 km di barat daya Kota Surakarta, tepatnya di Kalurahan Bokoharjo, Kapanรฉwon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdiri di atas bukit setinggi 196 meter dari permukaan laut, situs ini memiliki luas mencapai 25 hektare. Nama dan Asal Usul Ratu Boko, yang berarti “Raja Bangau” dalam bahasa Jawa, erat kaitannya dengan legenda setempat tentang tokoh Ratu Boko, ayah dari Loro Jonggrang, yang juga menjadi nama candi utama di Candi Prambanan. Meski menyandang nama “Ratu”, situs ini bukanlah tempat religius seperti candi, melainkan lebih menyerupai istana atau keraton yang dulunya dikelilingi oleh benteng dan parit, menunjukkan fungsinya sebagai pusat kekuasaan sekaligus pertahanan. Sejarah dan Penemuan Situs Ratu Boko pertama kali dilaporkan oleh Van Boeckholzt pada tahun 1790. Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh FDK Bosch pada akhir abad ke-19, yang menyimpulkan bahwa reruntuhan ini merupakan sisa-sisa keraton. Dari prasasti Abhayagiri Wihara yang ditemukan di lokasi, diketahui bahwa situs ini sudah ada pada abad ke-8 dan berhubungan dengan Rakai Panangkaran dari Kerajaan Medang, yang mendirikan sebuah wihara di bukit ini. Arsitektur dan Fungsi Tidak seperti situs Jawa Kuno lainnya yang umumnya berupa bangunan keagamaan, Ratu Boko menampilkan nuansa profan. Kompleks ini dilengkapi dengan gerbang masuk megah, pendopo, paseban, kolam pemandian, hingga pagar pelindung. Selain itu, di dalam situs ini juga terdapat sisa-sisa bangunan lainnya seperti Pringgitan, keputren, dan gua-gua yang diduga digunakan sebagai tempat meditasi. Lokasi Strategis di Atas Bukit Salah satu daya tarik utama Ratu Boko adalah posisinya di atas bukit yang memberikan pemandangan alam spektakuler ke arah Gunung Merapi. Di samping keindahan visual, letak yang tinggi juga menjadi strategi pertahanan alami yang menjadikan kompleks ini lebih sulit diserang. Pembangunan situs di bukit yang berbatu juga menunjukkan keterampilan luar biasa para pekerja zaman dulu dalam mengolah material batu untuk membangun struktur megah ini. Keistimewaan Lain Keunikan lainnya adalah adanya tempat yang disebut “tempat kremasi” di sebelah kiri gapura utama, yang diduga kuat merupakan lokasi upacara atau tempat untuk kegiatan tertentu. Meski masih perlu penelitian lebih lanjut, tempat ini memberikan petunjuk bahwa situs Ratu Boko bukan hanya berfungsi sebagai istana, tetapi juga mungkin digunakan untuk ritual tertentu. Transformasi sebagai Taman Wisata Kini, situs Ratu Boko dikelola oleh PT Taman Wisata Candi bersama dengan Candi Borobudur dan Prambanan, yang telah diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO. Berbagai fasilitas modern, seperti restoran, plaza terbuka untuk acara, dan paket wisata edukatif, turut melengkapi daya tarik situs ini. Dengan panorama yang menawan dan nuansa sejarah yang mendalam, Ratu Boko kini menjadi destinasi wisata edukatif dan budaya yang menarik bagi para wisatawan. #RatuBokoHeritage #JejakKeraton #WisataSejarah #KeindahanRatuBoko #ExploreYogyakarta

 “Ratu Boko: Jejak Kejayaan Keraton di Atas Bukit yang Menawan”


Situs Ratu Boko, atau yang dikenal juga sebagai Istana Raja Baka, merupakan peninggalan arkeologis yang menawarkan pesona unik berupa sisa-sisa kompleks bangunan kuno. Lokasinya hanya sekitar 3 km di selatan Candi Prambanan, 18 km di timur Kota Yogyakarta, atau 50 km di barat daya Kota Surakarta, tepatnya di Kalurahan Bokoharjo, Kapanรฉwon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdiri di atas bukit setinggi 196 meter dari permukaan laut, situs ini memiliki luas mencapai 25 hektare.



Nama dan Asal Usul

Ratu Boko, yang berarti “Raja Bangau” dalam bahasa Jawa, erat kaitannya dengan legenda setempat tentang tokoh Ratu Boko, ayah dari Loro Jonggrang, yang juga menjadi nama candi utama di Candi Prambanan. Meski menyandang nama “Ratu”, situs ini bukanlah tempat religius seperti candi, melainkan lebih menyerupai istana atau keraton yang dulunya dikelilingi oleh benteng dan parit, menunjukkan fungsinya sebagai pusat kekuasaan sekaligus pertahanan.


Sejarah dan Penemuan

Situs Ratu Boko pertama kali dilaporkan oleh Van Boeckholzt pada tahun 1790. Penelitian lebih lanjut dilakukan oleh FDK Bosch pada akhir abad ke-19, yang menyimpulkan bahwa reruntuhan ini merupakan sisa-sisa keraton. Dari prasasti Abhayagiri Wihara yang ditemukan di lokasi, diketahui bahwa situs ini sudah ada pada abad ke-8 dan berhubungan dengan Rakai Panangkaran dari Kerajaan Medang, yang mendirikan sebuah wihara di bukit ini.


Arsitektur dan Fungsi

Tidak seperti situs Jawa Kuno lainnya yang umumnya berupa bangunan keagamaan, Ratu Boko menampilkan nuansa profan. Kompleks ini dilengkapi dengan gerbang masuk megah, pendopo, paseban, kolam pemandian, hingga pagar pelindung. Selain itu, di dalam situs ini juga terdapat sisa-sisa bangunan lainnya seperti Pringgitan, keputren, dan gua-gua yang diduga digunakan sebagai tempat meditasi.


Lokasi Strategis di Atas Bukit

Salah satu daya tarik utama Ratu Boko adalah posisinya di atas bukit yang memberikan pemandangan alam spektakuler ke arah Gunung Merapi. Di samping keindahan visual, letak yang tinggi juga menjadi strategi pertahanan alami yang menjadikan kompleks ini lebih sulit diserang. Pembangunan situs di bukit yang berbatu juga menunjukkan keterampilan luar biasa para pekerja zaman dulu dalam mengolah material batu untuk membangun struktur megah ini.


Keistimewaan Lain

Keunikan lainnya adalah adanya tempat yang disebut “tempat kremasi” di sebelah kiri gapura utama, yang diduga kuat merupakan lokasi upacara atau tempat untuk kegiatan tertentu. Meski masih perlu penelitian lebih lanjut, tempat ini memberikan petunjuk bahwa situs Ratu Boko bukan hanya berfungsi sebagai istana, tetapi juga mungkin digunakan untuk ritual tertentu.


Transformasi sebagai Taman Wisata

Kini, situs Ratu Boko dikelola oleh PT Taman Wisata Candi bersama dengan Candi Borobudur dan Prambanan, yang telah diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO. Berbagai fasilitas modern, seperti restoran, plaza terbuka untuk acara, dan paket wisata edukatif, turut melengkapi daya tarik situs ini. Dengan panorama yang menawan dan nuansa sejarah yang mendalam, Ratu Boko kini menjadi destinasi wisata edukatif dan budaya yang menarik bagi para wisatawan.


#RatuBokoHeritage

#JejakKeraton

#WisataSejarah

#KeindahanRatuBoko

#ExploreYogyakarta

09 October 2024

SRI SULTAN HAMENGKUBUWANA VI Dilahirkan dengan nama Gusti Raden Mas (GRM) Mustojo pada tanggal 10 Agustus 1821, beliau adalah putera dari Sri Sultan Hamengku Buwono IV dari permaisuri Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Kencono. Pada tahun 1839 ketika sudah berganti nama menjadi Pangeran Adipati Mangkubumi beliau mendapat pangkat Letnan Kolonel dari pemerintah Hindia Belanda. Kelak pangkat beliau naik menjadi Kolonel pada tahun 1847. Sri Sultan Hamengku Buwono V wafat dalam kondisi belum meninggalkan putera. Mengatasi kondisi tersebut, pemerintah kolonial Hindia Belanda menetapkan Pangeran Adipati Mangkubumi sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono VI yang dinobatkan pada tanggal 5 Juli 1855. Menginjak usia 27 tahun, beliau menikah dengan GKR Kencono yang merupakan puteri dari Susuhunan Paku Buwono VIII dari Surakarta. Sebagai permaisuri Sultan Hamengku Buwono VI, Ratu Kencono bergelar GKR Hamengku Buwono. Pernikahan tersebut menjadi sejarah terjalinnya kembali hubungan baik di antara Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta yang sejak Perjanjian Giyanti sering terjadi ketegangan. Hubungan baik dengan kerajaan lain juga semakin terjalin setelah Sri Sultan Hamengku Buwono VI menikahi puteri dari Kerajaan Brunei. Pola pemerintahan yang dilaksanakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VI pada dasarnya melanjutkan model yang dijalankan oleh kakaknya, perang pasif. Hal ini cukup berbeda dengan sikap beliau sebelum naik tahta, dimana beliau cukup keras menentang sikap sang kakak. Perubahan sikap ini kiranya yang menimbulkan kekecewaan dan akhirnya memunculkan gejolak di Kasultanan. Adalah kebetulan beliau didampingi oleh Patih Danurejo V yang terkenal pandai dalam hal siasat, sehingga banyak masalah pelik dapat terselesaikan. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI, terjadi bencana alam yang memilukan. Gempa dengan kekuatan dahsyat menggoncang bumi Yogyakarta pada tanggal 10 Juni 1867. Tercatat gempa 6,8 SR Pada tanggal 20 Juli 1877 (9 Rejeb 1806 TJ), ketika beliau menginjak usia 56 tahun, Sri Sultan Hamengku Buwono VI tutup usia. Beliau dimakamkan di Astana Besiyaran, Pajimatan Imogiri. Peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono VI Sri Sultan Hamengku Buwono VI meninggalkan dua buah karya seni tari, yaitu tari Bedhaya Babar Layar dan Srimpi Endra Wasesa. Di masa beliau pula, dipesan kereta Kyai Wimono Putro yang nantinya menjadi kereta yang dipergunakan ketika diadakan upacara pelantikan putra mahkota menjadi sultan. Adapun kereta kebesaraan beliau sendiri, yang nantinya dipakai hingga sekarang, adalah Kyai Kanjeng Garudho Yakso. Sri Sultan Hamengku Buwana VI memiliki 2 permaisuri dan 8 selir serta 23 putra putri, yaitu : A. Ada dua (2) istri Permaisuri dari Sri Sultan Hamengku Buwana VI (Raja keenam dari Kraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat), yaitu : 1. Gusti Kanjeng Ratu Kencana adalah putri dari Sri Susuhunan Paku Buwana VIII (Raja kedelapan dari Kraton Kesunanan Surakarta). 2. Gusti Kanjeng Ratu Sultan adalah putri dari Ki Ageng Prawirarejasa. B. Ada delapan (8) istri Selir dari Sri Sultan Hamengku Buwana VI, yaitu : 1. Bendara Raden Ayu Tejaningrum. 2. Bendara Raden Ayu Pujaratna. 3. Bendara Raden Ayu Ratnaningdia. 4. Bendara Raden Ayu Sasmitaningrum. 5. Bendara Raden Ayu Puspitaningrum. 6. Bendara Raden Ayu Murtiningrum. 7. Bendara Raden Ayu Ratna Adiningrum. 8. Bendara Raden Ayu Dewaningrum. C. Ada dua puluh tiga (23) putra putri dari Sri Sultan Hamengku Buwana VI, yaitu : 1. Gusti Raden Mas Murteja atau Gusti Pangeran Harya Hangabehi atau Sri Sultan Hamengku Buwana VII (Raja ketujuh dari Kraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat). Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan. 2. Bendara Raden Mas Sulaiman, meninggal muda. Lahir dari Ibu Selir yang bernama BRAy Pujaratna. 3. Bendara Pangeran Harya Purbaya. Lahir dari Ibu Selir yang bernama BRAy Ratnaningdia. 4. Gusti Pangeran Harya Surya Mataram. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan. 5. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan. Pangeran Mangkubumi adalah kakek dari Sri Sultan Hamengku Buwana IX dari pihak ibu. 6. Bendara Pangeran Harya Hadiwinata. Lahir dari Ibu Selir yang bernama BRAy Puspitaningrum. 7. Bendara Pangeran Harya Hadiwijaya. Lahir dari Ibu Selir yang bernama BRAy Ratna Adiningrum. 8. Gusti Pangeran Harya Buminata. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan. 9. Gusti Pangeran Harya Puger. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan. 10. Gusti Pangeran Harya Suryaputra. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan. 11. Gusti Pangeran Harya Anom. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan. 12. Bendara Raden Ajeng Samilah, meninggal muda. Lahir dari Ibu Selir yang bernama BRAy Tejaningrum. 13. Gusti Kanjeng Ratu Hangger. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan. GKR Hangger menikah dengan Kanjeng Raden Adipati Danureja VI, Patih Kesultanan Ngayogyakarta. 14. Gusti Kanjeng Ratu Pembayun. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan. GKR Pembayun menikah dengan Kanjeng Raden Adipati Danureja V, Patih Kesultanan Ngayogyakarta. 15. Gusti Kanjeng Ratu Anom. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan. GKR Anom menikah dengan Kanjeng Raden Tumenggung Danuningrat. 16. Bendara Raden Ayu Purwadiningrat. Lahir dari Ibu Selir yang bernama BRAy Sasmitaningrum. BRAy Purwadiningrat menikah dengan Kanjeng Raden Tumenggung Purwadiningrat. 17. Gusti Kanjeng Ratu Hayu. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan. GKR Hayu menikah dengan Sri Paduka Paku Alam IV, lalu bercerai, kemudian menikah lagi dengan Raden Mas Adipati Harya Hadiningrat atau Kanjeng Pangeran Harya Candranegara IV, Bupati Demak. GKR Hayu adalah nenek dari Raden Ajeng Kartini dari pihak ayah. 18. Gusti Kanjeng Ratu Bendara. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan. GKR Bendara menikah dengan Kanjeng Raden Tumenggung Wijil. 19. Gusti Raden Ajeng Kusdilah, meninggal muda. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Kencana. 20. Gusti Kanjeng Ratu Sasi. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Kencana. GKR Sasi menikah dengan Kanjeng Bendara Pangeran Harya Suryaning Ngalaga (putra dari Sri Sultan Hamengkubuwana V), kemudian bercerai, lalu GKR Sasi menikah lagi dengan Kanjeng Raden Tumenggung Suryadirja atau Kanjeng Raden Tumenggung Jayawinata. 21. Bendara Raden Ayu Natayuda. Lahir dari Ibu Selir yang bernama BRAy Murtiningrum. BRAy Natayuda menikah dengan Kanjeng Raden Tumenggung Natayuda. 22. Bendara Raden Ayu Mangkuyuda. Lahir dari Ibu Selir yang bernama BRAy Ratna Adiningrum. BRAy Mangkuyuda menikah dengan Kanjeng Raden Tumenggung Mangkuyuda. 23. Bendara Raden Ayu Suryamurcita. Lahir dari Ibu Selir yang bernama BRAy Dewaningrum. BRAy Suryamurcita menikah dengan Kanjeng Raden Tumenggung Suryamurcita.

 SRI SULTAN HAMENGKUBUWANA VI


Dilahirkan dengan nama Gusti Raden Mas (GRM) Mustojo pada tanggal 10 Agustus 1821, beliau adalah putera dari Sri Sultan Hamengku Buwono IV dari permaisuri Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Kencono. Pada tahun 1839 ketika sudah berganti nama menjadi Pangeran Adipati Mangkubumi beliau mendapat pangkat Letnan Kolonel dari pemerintah Hindia Belanda. Kelak pangkat beliau naik menjadi Kolonel pada tahun 1847.



Sri Sultan Hamengku Buwono V wafat dalam kondisi belum meninggalkan putera.  Mengatasi kondisi tersebut, pemerintah kolonial Hindia Belanda menetapkan Pangeran Adipati Mangkubumi sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono VI yang dinobatkan pada tanggal 5 Juli 1855.


Menginjak usia 27 tahun, beliau menikah dengan GKR Kencono yang merupakan puteri dari Susuhunan Paku Buwono VIII dari Surakarta. Sebagai permaisuri Sultan Hamengku Buwono VI, Ratu Kencono bergelar GKR Hamengku Buwono. Pernikahan tersebut menjadi sejarah terjalinnya kembali hubungan baik di antara Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta yang sejak Perjanjian Giyanti sering terjadi ketegangan. Hubungan baik dengan kerajaan lain juga semakin terjalin setelah Sri Sultan Hamengku Buwono VI menikahi puteri dari Kerajaan Brunei.


Pola pemerintahan yang dilaksanakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VI pada dasarnya melanjutkan model yang dijalankan oleh kakaknya, perang pasif. Hal ini cukup berbeda dengan sikap beliau sebelum naik tahta, dimana beliau cukup keras menentang sikap sang kakak. Perubahan sikap ini kiranya yang menimbulkan kekecewaan dan akhirnya memunculkan gejolak di Kasultanan. Adalah kebetulan beliau didampingi oleh Patih Danurejo V yang terkenal pandai dalam hal siasat, sehingga banyak masalah pelik dapat terselesaikan.


Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VI, terjadi bencana alam yang memilukan. Gempa dengan kekuatan dahsyat menggoncang bumi Yogyakarta pada tanggal 10 Juni 1867. Tercatat gempa 6,8 SR  


Pada tanggal 20 Juli 1877 (9 Rejeb 1806 TJ), ketika beliau menginjak usia 56 tahun, Sri Sultan Hamengku Buwono VI tutup usia. Beliau dimakamkan di Astana Besiyaran, Pajimatan Imogiri. 


Peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono VI

Sri Sultan Hamengku Buwono VI meninggalkan dua buah karya seni tari, yaitu tari Bedhaya Babar Layar dan Srimpi Endra Wasesa.


Di masa beliau pula, dipesan kereta Kyai Wimono Putro yang nantinya menjadi kereta yang dipergunakan ketika diadakan upacara pelantikan putra mahkota menjadi sultan. Adapun kereta kebesaraan beliau sendiri, yang nantinya dipakai hingga sekarang, adalah Kyai Kanjeng Garudho Yakso.


Sri Sultan Hamengku Buwana VI memiliki 2 permaisuri dan 8 selir serta 23 putra putri, yaitu :


A. Ada dua (2) istri Permaisuri dari Sri Sultan Hamengku Buwana VI (Raja keenam dari Kraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat), yaitu :


1. Gusti Kanjeng Ratu Kencana adalah putri dari Sri Susuhunan Paku Buwana VIII (Raja kedelapan dari Kraton Kesunanan Surakarta).


2. Gusti Kanjeng Ratu Sultan adalah putri dari Ki Ageng Prawirarejasa.


B. Ada delapan (8) istri Selir dari Sri Sultan Hamengku Buwana VI, yaitu :


1. Bendara Raden Ayu Tejaningrum.


2. Bendara Raden Ayu Pujaratna.


3. Bendara Raden Ayu Ratnaningdia.


4. Bendara Raden Ayu Sasmitaningrum.


5. Bendara Raden Ayu Puspitaningrum.


6. Bendara Raden Ayu Murtiningrum.


7. Bendara Raden Ayu Ratna Adiningrum.


8. Bendara Raden Ayu Dewaningrum.


C. Ada dua puluh tiga (23) putra putri dari Sri Sultan Hamengku Buwana VI, yaitu :


1. Gusti Raden Mas Murteja atau Gusti Pangeran Harya Hangabehi atau Sri Sultan Hamengku Buwana VII (Raja ketujuh dari Kraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat). Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan.


2. Bendara Raden Mas Sulaiman, meninggal muda. Lahir dari Ibu Selir yang bernama BRAy Pujaratna.


3. Bendara Pangeran Harya Purbaya. Lahir dari Ibu Selir yang bernama BRAy Ratnaningdia.


4. Gusti Pangeran Harya Surya Mataram. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan.


5. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkubumi. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan. Pangeran Mangkubumi adalah kakek dari Sri Sultan Hamengku Buwana IX dari pihak ibu.


6. Bendara Pangeran Harya Hadiwinata. Lahir dari Ibu Selir yang bernama BRAy Puspitaningrum.


7. Bendara Pangeran Harya Hadiwijaya. Lahir dari Ibu Selir yang bernama BRAy Ratna Adiningrum.


8. Gusti Pangeran Harya Buminata. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan.


9. Gusti Pangeran Harya Puger. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan.


10. Gusti Pangeran Harya Suryaputra. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan.


11. Gusti Pangeran Harya Anom. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan.


12. Bendara Raden Ajeng Samilah, meninggal muda. Lahir dari Ibu Selir yang bernama BRAy Tejaningrum.


13. Gusti Kanjeng Ratu Hangger. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan. GKR Hangger menikah dengan Kanjeng Raden Adipati Danureja VI, Patih Kesultanan Ngayogyakarta.


14. Gusti Kanjeng Ratu Pembayun. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan. GKR Pembayun menikah dengan Kanjeng Raden Adipati Danureja V, Patih Kesultanan Ngayogyakarta.


15. Gusti Kanjeng Ratu Anom. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan. GKR Anom menikah dengan Kanjeng Raden Tumenggung Danuningrat.


16. Bendara Raden Ayu Purwadiningrat. Lahir dari Ibu Selir yang bernama BRAy Sasmitaningrum. BRAy Purwadiningrat menikah dengan Kanjeng Raden Tumenggung Purwadiningrat.


17. Gusti Kanjeng Ratu Hayu. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan. GKR Hayu menikah dengan Sri Paduka Paku Alam IV, lalu bercerai, kemudian menikah lagi dengan Raden Mas Adipati Harya Hadiningrat atau Kanjeng Pangeran Harya Candranegara IV, Bupati Demak. GKR Hayu adalah nenek dari Raden Ajeng Kartini dari pihak ayah.


18. Gusti Kanjeng Ratu Bendara. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Sultan. GKR Bendara menikah dengan Kanjeng Raden Tumenggung Wijil.


19. Gusti Raden Ajeng Kusdilah, meninggal muda. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Kencana.


20. Gusti Kanjeng Ratu Sasi. Lahir dari Ibu Permaisuri yang bernama GKR Kencana. GKR Sasi menikah dengan Kanjeng Bendara Pangeran Harya Suryaning Ngalaga (putra dari Sri Sultan Hamengkubuwana V), kemudian bercerai, lalu GKR Sasi menikah lagi dengan Kanjeng Raden Tumenggung Suryadirja atau Kanjeng Raden Tumenggung Jayawinata.


21. Bendara Raden Ayu Natayuda. Lahir dari Ibu Selir yang bernama BRAy Murtiningrum. BRAy Natayuda menikah dengan Kanjeng Raden Tumenggung Natayuda.


22. Bendara Raden Ayu Mangkuyuda. Lahir dari Ibu Selir yang bernama BRAy Ratna Adiningrum. BRAy Mangkuyuda menikah dengan Kanjeng Raden Tumenggung Mangkuyuda.


23. Bendara Raden Ayu Suryamurcita. Lahir dari Ibu Selir yang bernama BRAy Dewaningrum. BRAy Suryamurcita menikah dengan Kanjeng Raden Tumenggung Suryamurcita.

RATU SHIMA semula adalah istri dari Kartikeyasinga yang menjadi Raja Kalingga sejak tahun 648 hingga 674. Mereka mempunyai dua orang anak, yaitu Parwati dan Narayana atau Iswara. Ayah Kartikeyasinga adalah Raja Kalingga yang memerintah antara tahun 632 sampai dengan 648. Sementara ibunya berasal dari Kerajaan Melayu Sribuja yang beribukota di Palembang. Kerajaan inilah yang dikalahkan Sriwijaya pada tahun 683 M. Menghadapi ancaman Sriwijaya yang bersekutu dengan Tarumanegara di Sunda, Kalingga menggandeng Kerajaan Galuh Purba dan menguatkannya menjodohkan anaknya Parwati dengan putra bungsu Raja Galuh Wretikandayun yang bernama Mandiminyak. Perkawinan tersebut melahirkan anak perempuan bernama Sanaha pada tahun 661 M. Sanaha inilah yang kelak mempunyai anak bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja pertama di Medang dan bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Ketika Kartikeyasinga mangkat pada tahun 674, Ratu Shima dinobatkan menggantikan suaminya sebagai raja sampai dengan tahun 695 M sekaligus memakai gelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara. Selama masa pemerintahannya itu, Ratu Shima mengangkat Mandiminyak sebagai pembantunya, sementara tata kelola di kutaraja didelegasikan kepada 4 orang menteri yang mengatur negara dan 28 negara taklukan yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketika Ratu Shima dinobatkan, di bawah Sri Jayanasa Sriwijaya kala itu tengah gencar-gencarnya melakukan ekspansi. Selain menduduki Melayu Sribuja, Jayanasa juga mengincar Kalingga. Jayanasa sempat meminang Ratu Shima namun ditolak yang memicu rencana penyerangan Sriwijaya ke Kalingga pada tahun 686 M. #sejarahkahuripan #kahuripan #jenggala #kerajaanjenggala #panjalu #tarumanegara #negarakertabumi #kerajaanpanjalu #kediri #singasari #majapahit #jawakuno #akitirem #sansekerta #hindu #budha #airlangga #tunggadewi #kerajaankahuripan #medangkahuripan #fyp #sejarah #sejarahkerajaan #sejarahjawa #jawa #sunda #kerajaanjawatimur #ratushima #kalingga #sriwijaya

 RATU SHIMA 


semula adalah istri dari Kartikeyasinga yang menjadi Raja Kalingga sejak tahun 648 hingga 674. Mereka mempunyai dua orang anak, yaitu Parwati dan Narayana atau Iswara.



Ayah Kartikeyasinga adalah Raja Kalingga yang memerintah antara tahun 632 sampai dengan 648. Sementara ibunya berasal dari Kerajaan Melayu Sribuja yang beribukota di Palembang. Kerajaan inilah yang dikalahkan Sriwijaya pada tahun 683 M.


Menghadapi ancaman Sriwijaya yang bersekutu dengan Tarumanegara di Sunda, Kalingga menggandeng Kerajaan Galuh Purba dan menguatkannya menjodohkan anaknya Parwati dengan putra bungsu Raja Galuh Wretikandayun yang bernama Mandiminyak.


Perkawinan tersebut melahirkan anak perempuan bernama Sanaha pada tahun 661 M. Sanaha inilah yang kelak mempunyai anak bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja pertama di Medang dan bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.


Ketika Kartikeyasinga mangkat pada tahun 674, Ratu Shima dinobatkan menggantikan suaminya sebagai raja sampai dengan tahun 695 M sekaligus memakai gelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara.


Selama masa pemerintahannya itu, Ratu Shima mengangkat Mandiminyak sebagai pembantunya, sementara tata kelola di kutaraja didelegasikan kepada 4 orang menteri yang mengatur negara dan 28 negara taklukan yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur.


Ketika Ratu Shima dinobatkan, di bawah Sri Jayanasa Sriwijaya kala itu tengah gencar-gencarnya melakukan ekspansi. Selain menduduki Melayu Sribuja, Jayanasa juga mengincar Kalingga. Jayanasa sempat meminang Ratu Shima namun ditolak yang memicu rencana penyerangan Sriwijaya ke Kalingga pada tahun 686 M.  


#sejarahkahuripan #kahuripan #jenggala #kerajaanjenggala #panjalu #tarumanegara #negarakertabumi #kerajaanpanjalu #kediri #singasari #majapahit #jawakuno #akitirem #sansekerta #hindu #budha #airlangga #tunggadewi #kerajaankahuripan #medangkahuripan #fyp #sejarah #sejarahkerajaan #sejarahjawa #jawa #sunda #kerajaanjawatimur 

#ratushima #kalingga #sriwijaya

Simpang shopping, Pasar (Gede) Rejowinangun, Magelang (1980) Lalu lintasnya semrawut tapi kok syahdu ya... ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ“ท : Arsip Kota Sumber/Penulis : Cahyono Edo Santosa

 

Simpang shopping, Pasar (Gede) Rejowinangun, Magelang (1980)



Lalu lintasnya semrawut tapi kok syahdu ya... 

๐Ÿ“ท : Arsip Kota
Sumber/Penulis : Cahyono Edo Santosa

08 October 2024

Fakta Fakta sejarah Harta karun Majapahit Sering kali menjadi subjek legenda dan cerita rakyat di Indonesia. Majapahit adalah salah satu kerajaan terbesar dan paling makmur dalam sejarah Indonesia, yang berdiri dari abad ke-13 hingga abad ke-16. Cerita tentang harta karun Majapahit menggambarkan kekayaan luar biasa yang dimiliki oleh kerajaan ini. Namun, keberadaan harta karun ini sebagai entitas fisik yang masih ada hingga saat ini belum dapat dipastikan dan sering kali berada dalam ranah spekulasi dan mitos. Faktor yang Mendukung Keberadaan Harta Karun Majapahit Kemakmuran Kerajaan: Majapahit dikenal sebagai kerajaan yang sangat makmur dengan pengaruh besar di seluruh Nusantara. Kerajaan ini terlibat dalam perdagangan internasional, sehingga kekayaan kerajaan, termasuk emas, perak, dan barang berharga lainnya, sangat besar. Artefak dan Temuan Arkeologis: Banyak peninggalan arkeologis dari era Majapahit yang telah ditemukan, termasuk candi, patung, dan peralatan dari logam mulia. Temuan ini menunjukkan bahwa kerajaan ini memiliki kekayaan material yang signifikan. Faktor yang Membuat Keberadaan Harta Karun Diragukan Kurangnya Bukti Fisik: Hingga saat ini, tidak ada bukti konkret atau penemuan besar yang mengkonfirmasi keberadaan harta karun Majapahit seperti yang digambarkan dalam legenda. Banyak cerita tentang harta karun ini berasal dari tradisi lisan dan kurang didukung oleh bukti arkeologis. Plundering dan Kehancuran: Seiring dengan kejatuhan Majapahit, kekayaan kerajaan kemungkinan besar dijarah atau tersebar. Invasi, perang, dan penjarahan bisa menyebabkan harta kerajaan berpindah tangan atau hilang. Mitos dan Legenda: Seperti halnya banyak kerajaan kuno lainnya, legenda harta karun sering kali diperbesar oleh cerita rakyat dan mitos. Ini membuat sulit untuk membedakan antara fakta dan fiksi. Kesimpulan Harta karun Majapahit, seperti yang sering digambarkan dalam cerita rakyat dan legenda, masih belum ditemukan dan keberadaannya tidak dapat dipastikan. Meskipun Majapahit adalah kerajaan yang sangat kaya, bukti fisik dari harta karun yang besar dan tersembunyi belum ditemukan oleh para arkeolog atau peneliti. Cerita-cerita ini lebih mungkin menjadi bagian dari warisan budaya yang mencerminkan kekayaan dan kemegahan Majapahit daripada harta yang benar-benar ada yang menunggu untuk ditemukan. #majapahit #sejarahmajapahit #hartakarunmajapahit #hartakarun

 Fakta Fakta sejarah Harta karun Majapahit 


Sering kali menjadi subjek legenda dan cerita rakyat di Indonesia. Majapahit adalah salah satu kerajaan terbesar dan paling makmur dalam sejarah Indonesia, yang berdiri dari abad ke-13 hingga abad ke-16. Cerita tentang harta karun Majapahit menggambarkan kekayaan luar biasa yang dimiliki oleh kerajaan ini. Namun, keberadaan harta karun ini sebagai entitas fisik yang masih ada hingga saat ini belum dapat dipastikan dan sering kali berada dalam ranah spekulasi dan mitos.



Faktor yang Mendukung Keberadaan Harta Karun Majapahit

Kemakmuran Kerajaan:


Majapahit dikenal sebagai kerajaan yang sangat makmur dengan pengaruh besar di seluruh Nusantara. Kerajaan ini terlibat dalam perdagangan internasional, sehingga kekayaan kerajaan, termasuk emas, perak, dan barang berharga lainnya, sangat besar.

Artefak dan Temuan Arkeologis:


Banyak peninggalan arkeologis dari era Majapahit yang telah ditemukan, termasuk candi, patung, dan peralatan dari logam mulia. Temuan ini menunjukkan bahwa kerajaan ini memiliki kekayaan material yang signifikan.


Faktor yang Membuat Keberadaan Harta Karun Diragukan

Kurangnya Bukti Fisik:


Hingga saat ini, tidak ada bukti konkret atau penemuan besar yang mengkonfirmasi keberadaan harta karun Majapahit seperti yang digambarkan dalam legenda. Banyak cerita tentang harta karun ini berasal dari tradisi lisan dan kurang didukung oleh bukti arkeologis.

Plundering dan Kehancuran:


Seiring dengan kejatuhan Majapahit, kekayaan kerajaan kemungkinan besar dijarah atau tersebar. Invasi, perang, dan penjarahan bisa menyebabkan harta kerajaan berpindah tangan atau hilang.


Mitos dan Legenda:

Seperti halnya banyak kerajaan kuno lainnya, legenda harta karun sering kali diperbesar oleh cerita rakyat dan mitos. Ini membuat sulit untuk membedakan antara fakta dan fiksi.

Kesimpulan


Harta karun Majapahit, seperti yang sering digambarkan dalam cerita rakyat dan legenda, masih belum ditemukan dan keberadaannya tidak dapat dipastikan. Meskipun Majapahit adalah kerajaan yang sangat kaya, bukti fisik dari harta karun yang besar dan tersembunyi belum ditemukan oleh para arkeolog atau peneliti. 


Cerita-cerita ini lebih mungkin menjadi bagian dari warisan budaya yang mencerminkan kekayaan dan kemegahan Majapahit daripada harta yang benar-benar ada yang menunggu untuk ditemukan.


#majapahit #sejarahmajapahit #hartakarunmajapahit #hartakarun

Tahun 50an bus Jogja - Imogiri

 Tahun 50an bus Jogja - Imogiri



KRATON KILEN PRABASANA Pembangunan Karaton Kilen berawal sebuah ramalan bahwa Karaton Surakarta hanya akan berumur 200 tahun. Setelah mendapat petunjuk gaib jika Kraton Surakarta akan langgeng jika Susuhunan Pakubuwana X membuat bangunan baru di area Kraton Surakarta. Maka pada tahun 1927 dibangunlah Dalem Ageng / Kraton baru yang diberi nama Keraton Kilen ing Prabasana. Dahulu pada masa Sunan Pakubuwana III ada sebuah bangunan Dalem Ageng lengkap dengan pendapa yang bernama Dalem Ageng Maduretnan. Bangunan tersebut terletak di sebelah barat Argopuro. Kemudian Sunan Pakubuwana X berkenan memindahkan Bangunan Dalem Ageng Maduretnan berikut pendapanya bergeser ke barat tepatnya dilingkungan Keputren / Kradenayon sebelah utara, sebelah utara Panti Rukmi. Dalem Ageng tersebut diposisikan menghadap ke timur. Dan diberi nama " Karaton Kilen Prabasana Dalem Ageng Prabasana berdhapur loji dengan pendhapa depan dan belakang. Dalem Ageng berdhapur limasan jubungan, pendhapanya dhapur joglo pedaringan kebak Sebelah timur pendhapa depan posisi ditengah tengah ada kolam mata air yang sekelilingnya ada halaman yang dihias dengan batu batuan juga ditanami berbagai tanaman bunga. Disebelah utara pendhapa timur ada Bangsal Pagongan yang bernama Sengganiyasa. Di timur dibatasi dengan pagar cepuri pancaksuji tosan Dibarat pendhapa belakang juga ada taman yang indah yang ditanami rerumputan dan aneka tanaman bunga. Disamping itu disana sudah banyak pepohonan rindang yang membuat suasana menjadi sejuk. Disebelah selatan barat pendhapa belakang juga ada bangunan rumah yang panjang, digunakan untuk para abdi dalem ketika menghadap raja di Prabasana. Disebelah barat taman ada bangsal yang dinamakan Bangsal Pracimanadi Pada tahun 1933 M dibangun pintu gerbang baru yang menghubungkan Kraton Kilen Prabasana langsung keluar istana tanpa melewati kori Kamandungan. Diatas gerbang luar ditulis sbb : "Pambabaring Yasan Dalem gapura ing Kraton Kulon Prabasana, amarengi ing dinten Jumuwah Kliwon tanggal kaping 22 Jumadilakir. Sinengkalan Pakartining Pangrengga Samadyaning Prabasana, 1864 utawi Tri Uninga Gapuraning Ratu, 1933." Makna Kraton Kilen Prabasana Kraton Kilen sering disebut dengan Kraton Kilen ing Prabasana. Makna simbolisme pada kata prabasana adalah suatu penerang yang memancarkan kesegaran yang alami sebagai alam tumbuh-tumbuhan (tetuwuhan) terutama tanaman padi, warna hijau sebagai lambang kasih sayang atau kecintaan antar keluarga Sri Sunan dan cinta Sri Sunan sebagai pengayoman rakyat, yang merujuk pada makna dasar pertumbuhan suatu keturunan keraton yang diharapkan akan memancarkan sinar secara alami yang memiliki kekuatan dan keastian/percaya diri secara seimbang. Pada gilirannya, para Sunan yang kelak memimpin kerajaan diharapkan memiliki ketegaran dan teguh pendirian dalam menjalankan cita-cita luhur keraton. Dalem Ageng Prabasana sampai saat ini adalah salah satu bangunan yang sakral dan wingit. Konon Sinuwun Pakubuwana IX dan Sinuwun Pakubuwana X masih sering " rawuh " dan nuwun sewu penulis pernah mengalaminya ketika sowan di Dalem Ageng tersebut. Ditulis oleh K.R.T Koes Sajid Jayaningrat. Foto Kraton Kilen Prabasana Foto koleksi pribadi dan Mas Nuky Mahendranata

 KRATON KILEN PRABASANA


Pembangunan Karaton Kilen berawal sebuah ramalan bahwa Karaton Surakarta hanya akan berumur 200 tahun. Setelah mendapat petunjuk gaib jika Kraton Surakarta akan langgeng jika Susuhunan Pakubuwana X membuat bangunan baru di area Kraton Surakarta. Maka pada tahun 1927 dibangunlah Dalem Ageng / Kraton baru yang diberi nama Keraton Kilen ing Prabasana.



Dahulu pada masa Sunan Pakubuwana III ada sebuah bangunan Dalem Ageng lengkap dengan pendapa yang bernama Dalem Ageng Maduretnan. Bangunan tersebut terletak di sebelah barat Argopuro.

Kemudian Sunan Pakubuwana X berkenan memindahkan Bangunan Dalem Ageng Maduretnan berikut pendapanya bergeser ke barat tepatnya dilingkungan Keputren / Kradenayon sebelah utara, sebelah utara Panti Rukmi. Dalem Ageng tersebut diposisikan menghadap ke timur. Dan diberi nama " Karaton Kilen Prabasana

Dalem Ageng Prabasana berdhapur loji dengan pendhapa depan dan belakang. Dalem Ageng berdhapur limasan jubungan, pendhapanya dhapur joglo pedaringan kebak

Sebelah timur pendhapa depan posisi ditengah tengah ada kolam mata air yang sekelilingnya ada halaman yang dihias dengan batu batuan juga ditanami berbagai tanaman bunga.

Disebelah utara pendhapa timur ada Bangsal Pagongan yang bernama Sengganiyasa. Di timur dibatasi dengan pagar cepuri pancaksuji tosan


Dibarat pendhapa belakang juga ada taman yang indah yang ditanami rerumputan dan aneka tanaman bunga. Disamping itu disana sudah banyak pepohonan rindang yang membuat suasana menjadi sejuk.

Disebelah selatan barat pendhapa belakang juga ada bangunan rumah yang panjang, digunakan untuk para abdi dalem ketika menghadap raja di Prabasana.

Disebelah barat taman ada bangsal yang dinamakan Bangsal Pracimanadi


Pada tahun 1933 M dibangun pintu gerbang baru yang menghubungkan Kraton Kilen Prabasana langsung keluar istana tanpa melewati kori Kamandungan.

Diatas gerbang luar ditulis sbb :


"Pambabaring Yasan Dalem gapura ing Kraton Kulon Prabasana, amarengi ing dinten Jumuwah Kliwon tanggal kaping 22 Jumadilakir. Sinengkalan Pakartining Pangrengga Samadyaning Prabasana, 1864 utawi Tri Uninga Gapuraning Ratu, 1933."


Makna Kraton Kilen Prabasana

Kraton Kilen sering disebut dengan Kraton Kilen ing Prabasana.

Makna simbolisme pada kata prabasana adalah suatu penerang yang memancarkan kesegaran yang alami sebagai alam tumbuh-tumbuhan (tetuwuhan) terutama tanaman padi, warna hijau sebagai lambang kasih sayang atau kecintaan antar keluarga Sri Sunan dan cinta Sri Sunan sebagai pengayoman rakyat, yang merujuk pada makna dasar pertumbuhan suatu keturunan keraton yang diharapkan akan memancarkan sinar secara alami yang memiliki kekuatan dan keastian/percaya diri secara seimbang. Pada gilirannya, para Sunan yang kelak memimpin kerajaan diharapkan memiliki ketegaran dan teguh pendirian dalam menjalankan cita-cita luhur keraton.


Dalem Ageng Prabasana sampai saat ini adalah salah satu bangunan yang sakral dan wingit. Konon Sinuwun Pakubuwana IX dan Sinuwun Pakubuwana X masih sering " rawuh " dan nuwun sewu penulis pernah mengalaminya ketika sowan di Dalem Ageng tersebut.


Ditulis oleh K.R.T Koes Sajid Jayaningrat.

Foto Kraton Kilen Prabasana

Foto koleksi pribadi dan Mas Nuky Mahendranata

Siapa arsitek Borobudur ⁉️ **Arsitek Candi Borobudur** adalah sosok yang masih diselimuti misteri. Hingga saat ini, tidak ada bukti sejarah yang secara pasti menyebutkan siapa arsitek di balik kemegahan Candi Borobudur. Namun, dalam legenda Jawa, sosok arsitek Candi Borobudur dikenal dengan nama **Gunadharma**. Dikisahkan bahwa Gunadharma adalah seorang arsitek legendaris yang berasal dari Afrika. Meskipun kisahnya terkesan mistis, Gunadharma diyakini memiliki peran penting dalam merancang dan membangun Candi Borobudur. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa pembangunan Candi Borobudur dimulai pada masa pemerintahan Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra sekitar tahun 824 M. Proses pembangunannya memakan waktu yang lama, yaitu sekitar 75 tahun, dan baru selesai pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dan Pramodawardhani di paruh kedua abad ke-9. Kemegahan Candi Borobudur menjadi bukti nyata kecanggihan arsitektur dan teknik pembangunan pada masa itu. Meskipun identitas arsiteknya masih menjadi misteri, Candi Borobudur tetap menjadi warisan budaya yang tak ternilai bagi Indonesia dan dunia. **Beberapa sumber yang menyebutkan Gunadharma sebagai arsitek Candi Borobudur:** * **Legenda Jawa:** Kisah Gunadharma sebagai arsitek Candi Borobudur telah lama diceritakan secara turun-temurun dalam masyarakat Jawa. * **Nagarakertagama:** Karya sastra kuno ini menyinggung tentang pembangunan Candi Borobudur dan menyebut nama Gunadharma sebagai arsiteknya. * **Prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan:** Prasasti-prasasti ini menyebutkan tentang Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra sebagai pendiri Candi Borobudur, namun tidak secara eksplisit menyebut nama arsiteknya. Meskipun masih banyak pertanyaan tentang Gunadharma, kisah dan legendanya tetap menjadi bagian penting dari sejarah Candi Borobudur. Sosoknya melambangkan kehebatan arsitektur dan teknik pembangunan pada masa lampau, dan menjadi pengingat bahwa Candi Borobudur adalah hasil karya manusia yang luar biasa. #candiborobudur #sejarahcandiborobudur #candiborobudur

 Siapa arsitek Borobudur ⁉️


**Arsitek Candi Borobudur** adalah sosok yang masih diselimuti misteri. 


Hingga saat ini, tidak ada bukti sejarah yang secara pasti menyebutkan siapa arsitek di balik kemegahan Candi Borobudur. 

Namun, dalam legenda Jawa, sosok arsitek Candi Borobudur dikenal dengan nama **Gunadharma**. 



Dikisahkan bahwa Gunadharma adalah seorang arsitek legendaris yang berasal dari Afrika. 

Meskipun kisahnya terkesan mistis, Gunadharma diyakini memiliki peran penting dalam merancang dan membangun Candi Borobudur. 


Bukti arkeologi menunjukkan bahwa pembangunan Candi Borobudur dimulai pada masa pemerintahan Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra sekitar tahun 824 M. 


Proses pembangunannya memakan waktu yang lama, yaitu sekitar 75 tahun, dan baru selesai pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dan Pramodawardhani di paruh kedua abad ke-9. 

Kemegahan Candi Borobudur menjadi bukti nyata kecanggihan arsitektur dan teknik pembangunan pada masa itu. 


Meskipun identitas arsiteknya masih menjadi misteri, Candi Borobudur tetap menjadi warisan budaya yang tak ternilai bagi Indonesia dan dunia. 


**Beberapa sumber yang menyebutkan Gunadharma sebagai arsitek Candi Borobudur:**


* **Legenda Jawa:** Kisah Gunadharma sebagai arsitek Candi Borobudur telah lama diceritakan secara turun-temurun dalam masyarakat Jawa.

* **Nagarakertagama:** Karya sastra kuno ini menyinggung tentang pembangunan Candi Borobudur dan menyebut nama Gunadharma sebagai arsiteknya.

* **Prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan:** Prasasti-prasasti ini menyebutkan tentang Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra sebagai pendiri Candi Borobudur, namun tidak secara eksplisit menyebut nama arsiteknya.


Meskipun masih banyak pertanyaan tentang Gunadharma, kisah dan legendanya tetap menjadi bagian penting dari sejarah Candi Borobudur. 


Sosoknya melambangkan kehebatan arsitektur dan teknik pembangunan pada masa lampau, dan menjadi pengingat bahwa Candi Borobudur adalah hasil karya manusia yang luar biasa.


#candiborobudur #sejarahcandiborobudur #candiborobudur

Kho Ping Hoo adalah seorang penulis legendaris dalam dunia sastra Indonesia, terutama dalam genre silat. Dia dikenal karena kisah-kisahnya yang penuh dengan aksi, intrik, dan nilai-nilai moral. Cara dia mengarang buku hingga menghasilkan cerita bagus biasanya melibatkan penelitian yang mendalam tentang budaya, sejarah, dan tradisi Tionghoa-Indonesia, serta kemampuan untuk menggabungkan unsur-unsur tersebut ke dalam cerita yang menarik. Keahlian utamanya terletak pada kemampuannya membangun karakter yang kompleks, plot yang mengalir, dan konflik yang menarik, semuanya disampaikan dengan gaya bahasa yang khas. Ko ping ho lahir di sragen lalu pindah ke surakarta..

 Kho Ping Hoo adalah seorang penulis legendaris dalam dunia sastra Indonesia, terutama dalam genre silat. Dia dikenal karena kisah-kisahnya yang penuh dengan aksi, intrik, dan nilai-nilai moral. Cara dia mengarang buku hingga menghasilkan cerita bagus biasanya melibatkan penelitian yang mendalam tentang budaya, sejarah, dan tradisi Tionghoa-Indonesia, serta kemampuan untuk menggabungkan unsur-unsur tersebut ke dalam cerita yang menarik. Keahlian utamanya terletak pada kemampuannya membangun karakter yang kompleks, plot yang mengalir, dan konflik yang menarik, semuanya disampaikan dengan gaya bahasa yang khas.


Ko ping ho lahir di sragen lalu pindah ke surakarta..



05 October 2024

**The Sin Nio ( Dibaca : The Sinyo)** **Beliau dijuluki Mulan nya Indonesia** Sin Nio adalah satu-satunya tentara wanita di Kompi 1 Batalion 4 Resimen 18 Untuk urusan nyali, jangan ditanya. Sin Nio walau Cuma dengan modal golok, tombak atau bambu runcing untuk bergerilya. Dia baru memiliki sebuah senjata api type Lee-Enfield (LE) yang merupakan hasil rampasannya dari pasukan Belanda. Asal mulanya dia ikut membantu di bagian logistik, membantu menyediakan makan untuk prajurit-prajurit. Jadi coba berbaur dengan orang-orang pribumi untuk membantu perbekalannya Namun, tampaknya Sin Nio tidak puas hanya mengambil peran di dapur, sementara para pejuang lainnya mengadu nyawa melawan Belanda Dia memotong rambutnya dan merubah penampilannya selayaknya prajurit laki-laki.

 **The Sin Nio  ( Dibaca : The Sinyo)**


**Beliau dijuluki Mulan nya Indonesia**


Sin Nio adalah satu-satunya tentara wanita di Kompi 1 Batalion 4 Resimen 18



Untuk urusan nyali, jangan ditanya. Sin Nio walau Cuma dengan modal golok, tombak atau bambu runcing untuk bergerilya. Dia baru memiliki sebuah senjata api type Lee-Enfield (LE) yang merupakan  hasil rampasannya dari pasukan Belanda.


Asal mulanya dia ikut membantu di bagian logistik, membantu menyediakan makan untuk prajurit-prajurit. Jadi coba berbaur dengan orang-orang pribumi untuk membantu perbekalannya


Namun, tampaknya Sin Nio tidak puas hanya mengambil peran di dapur, sementara para pejuang lainnya mengadu nyawa melawan Belanda


Dia memotong rambutnya dan merubah penampilannya selayaknya prajurit laki-laki.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Majapahit Dalam sejarah, kerajaan Majapahit dianggap sebagai salah satu kerajaan terbesar, di mana wilayahnya mencakup hampir seluruh nusantara. Sebagai informasi, Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Budha terakhir di Nusantara, yang eksis di antara abad ke-13 dan ke-16. Majapahit didirikan pada tahun 1293 oleh Raden Wijaya, menantu Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singasari. Di bawah pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit berhasil menaklukkan Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) dan beberapa pulau Filipina. Kerajaan juga memiliki hubungan dengan Kampa, Kamboja, Siam, Burma selatan, Vietnam dan Cina.Sumber sejarah kerajaan Majapahit dapat ditemukan dalam kitab Negarakertagama, Pararaton, kitab Kidung, prasasti dan berita Cina.Ingin tahu lebih lanjut tentang sejarah berdirinya Majapahit? Simak selengkapnya berikut ini. Sejarah Singkat Kerajaan Majapahit Konon, awal mula Majapahit berdiri setelah runtuhnya Kerajaan Singasari akibat Pemberontakan Jayakatwang pada tahun 1292 masehi. Cucu Kartanegara (raja Singosari dikalahkan Jayakatwang) yang berada di bawah tekanan, yaitu Raden Wijaya kemudian melarikan diri. Selama pelariannya, ia menerima bantuan dari Arya Wiraja. Kemudian, Raden Wijaya membuat desa kecil di hutan Trowulan dan diberi nama desa Majapahit. Adapun nama Majapahit diambil dari nama buah Maja yang tumbuh di hutan namun memiliki rasa pahit. Seiring berjalannya waktu, desa itu berkembang dan Raden Wijaya diam-diam dikuatkan dengan merebut hati penduduk dari Tumapel dan Daha. Niat balas dendam Raden Wijaya terbantu lebih cepat ketika pasukan Khubilai Khan tiba pada tahun 1293. Setelah mengalahkan Jayakatwang, Raden Wijaya menyerang pasukan Khubilai Khan karena tidak mau tunduk pada kekuasaan kaisar Mongol. Penobatannya sebagai raja pada tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 atau pada tanggal 10 November 1293 merupakan cikal bakal lahirnya kerajaan Majapahit. Sebagai raja, Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawardhana. Nama Raden Wijaya telah disematkan untuk menghormati pamannya, pendiri Kerajaan Singasari, serta untuk menghormati leluhurnya di Singasari. Masa Kejayaan Kerajaan Majapahit Meskipun sering memberontak pada tahap awal, Majapahit tumbuh menjadi kerajaan terbesar di Nusantara. Masa kejayaan kerajaan datang ketika dipimpin oleh Hayam Wuruk (1350-1389 M). Kejayaan Majapahit tak luput dari peran Gajah Mada, sang mahapatih yang berhasil menumpas segala pemberontakan dan bersumpah untuk menyatukan nusantara. Selama 39 tahun berkuasa, Hayam Wuruk dan Gajah Mada telah berhasil membuat panji Majapahit terlihat di seluruh nusantara bahkan semenanjung Malaka. Sumpah Palapa yang dikeluarkan oleh Gajah Mada dilaksanakan, dengan wilayah Majapahit meliputi Sumatera, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, serta Tumasik (Singapura) dan sebagian Kepulauan Filipina. Selain itu, kerajaan ini juga menjalin hubungan dengan Campa (Thailand), Kamboja, Siam, Burma selatan, Vietnam dan Cina. Majapahit juga memiliki armada laut yang tangguh di bawah pimpinan Mpu Nala. Berkat kekuatan dan strategi militernya, Majapahit mampu menciptakan stabilitas di wilayahnya. Dari segi ekonomi, Majapahit telah menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara dengan ekspor lada, garam, dan lengkeng. Raja-raja Kerajaan Majapahit 1 Raden Wijaya, tahun (1293-1309 M) 2 Sri Jayanagara, tahun (1309-1328 M) 3 Tribhuwana, Tunggadewi tahun (1328-1350 M) 4 Hayam Wuruk, tahun (1350-1389 M) 5 Wikramawardhana, tahun (1389-1429 M) 6 Dyah Ayu Kencana Wungu, tahun (1429-1447 M) 7 Prabu Brawijaya 1, tahun (1447-1451 M) 8 Prabu Brawijaya 2, tahun (1451-1453 M) 9 Prabu Brawijaya 3, tahun (1456-1466 M) 10 Prabu Brawijaya 4, tahun (1466-1468 M) 11 Prabu Brawijaya 5, tahun (1468 -1478 M) 12 Prabu Brawijaya 6, tahun (1478-1489 M) 13 Prabu Brawijaya 7, tahun(1489-1527 M) Pusat Kerajaan MajapahitSebagai kerajaan besar saat ini, Majapahit tercatat telah tiga kali pindah pusat pemerintahan. Tiga pusat pemerintahan tetap berada di wilayah Jawa Timur. 1. Mojokerto Pusat pemerintahan atau ibu kota Majapahit yang pertama terletak di kota Mojokerto. Saat itu ibu kota diperintah oleh raja pertama, diyakini Kertarajasa Jayawardhana atau Raden Wijaya. Lokasi pusat pemerintahan tersebut konon berada di tepi Sungai Brantas. 2. Trowulan Pusat pemerintahan kemudian berpindah mengikuti masa kepimimpinan Sri Jayanegara, raja kedua Majapahit. Jayanegara memindahkan pusat pemerintahan ke Trowulan.Pada masa kini, kota tersebut berjarak 12 km dari Mojokerto. Pusat pemerintahan di Trowulan berjalan cukup lama. 3. Daha Daha yang saat ini disebut Kediri merupakan kota ketiga dari pusat pemerintahan Majapahit. Kepindahan pusat pemerintahan Majapahit ke Daha berkaitan erat dengan masalah internal di kerajaan dan ancaman dari kerajaan Islam, kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Keruntuhan Kerajaan Majapahit Majapahit mulai mengalami kemunduran setelah wafatnya Gajah Mada dan Hayam Wuruk.Sejak saat itu, para penerusnya tidak ada yang cakap dalam mengelola luasnya kekuasaan Majapahit.Selain itu, terdapat beberapa faktor yang mendorong runtuhnya Majapahit, di antaranya: 1 Banyak wilayah taklukkan yang melepaskan diri 2 Terdapat konflik perebutan takhta 3 Meletusnya Perang Paregreg 4 Semakin berkembangnya pengaruh Islam di Jawa Kekuasaan Majapahit benar-benar berakhir pada 1527, setelah ditaklukkan oleh pasukan Sultan Trenggana dari Kesultanan Demak.Sejak saat itu, wilayahnya yang tersisa diambil alih oleh Kesultanan Demak. Peninggalan Kerajaan Majapahit Meski telah runtuh beberapa abad lalu, hingga kini masyarakat modern tetap dapat menyaksikan sisa-sisa peninggalan Majapahit. Saksi bisu kejayaan Majapahit muncul dalam berbagai rupa seperti situs, candi, kitab, dan arsitektur. 1. Situs Trowulan Sebagai salah satu pusat pemerintahan, kerajaan Majapahit banyak meninggalkan warisannya seperti prasasti Wurare, Kudadu, Sukamerta, Balawi, Prapancasapura, Parung, Canggu, Biluluk, Karang Bogem, Katiden. 2. Candi Ada berbagai perninggalan dari Majapahit yang berupa candi, di antaranya seperti Candi Tikus, Candi Bajang Ratu, Candi Wringin Lawang, Candi Brahu, Candi Pari, Candi Penataran, Candi Jabung, Candi Sukuh, Candi Cetho, Candi Wringin Branjang, Candi Surawana Candi Minak Jinggo, Candi Rimbi, Candi Kedaton, dan Candi Sumberjati. 3. Prasasti Begitu pula ada juga peninggalan prasasti, seperti Prasasti Kudadu, Prasasti Sukamerta, Prasasti Prapancasapura, Prasasti Wringin Pitu, Prasasti Wurare, Prasasti Balawi, Prasasti Parung, Prasasti Biluluk, Prasasti Karang Bogem, Prasasti Katiden, dan Prasasti Canggu Prasasti Jiwu. Nah, itulah sejarah berdirinya Majapahit, beserta raja yang pernah memimpin, masa kejayaan, keruntuhan, hingga peninggalannya. Majapahit merupakan salah stau kerajaan terbesar di Indonesia yang memainkan peran penting dalam perkembangan sejarah dan kebudayaan Indonesia. Meskipun mengalami keruntuhan, warisan Majapahit tetap memengaruhi perjalanan sejarah dan identitas budaya Indonesia hingga saat ini. Semoga informasi tentang kerajaan Majapahit ini bermanfaat untuk menambah wawasanmu terkait sejarah Indonesia. sumber Media Indonesia

 Sejarah Berdirinya Kerajaan Majapahit


Dalam sejarah, kerajaan Majapahit dianggap sebagai salah satu kerajaan terbesar, di mana wilayahnya mencakup hampir  seluruh nusantara.

Sebagai informasi, Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Budha terakhir di Nusantara, yang eksis di antara abad ke-13 dan ke-16.

Majapahit didirikan pada tahun 1293  oleh Raden Wijaya, menantu Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singasari.



Di bawah pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit berhasil menaklukkan Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi,  Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) dan beberapa pulau Filipina.


Kerajaan juga memiliki hubungan dengan Kampa, Kamboja, Siam, Burma selatan, Vietnam dan Cina.Sumber sejarah kerajaan Majapahit dapat ditemukan dalam kitab Negarakertagama, Pararaton, kitab Kidung, prasasti dan berita Cina.Ingin tahu lebih lanjut tentang sejarah berdirinya Majapahit? Simak selengkapnya berikut ini.


Sejarah Singkat Kerajaan Majapahit


Konon, awal mula Majapahit berdiri  setelah runtuhnya Kerajaan Singasari akibat Pemberontakan Jayakatwang pada tahun 1292 masehi.

Cucu Kartanegara (raja Singosari dikalahkan Jayakatwang) yang berada di bawah tekanan, yaitu Raden Wijaya kemudian melarikan diri.

Selama pelariannya, ia menerima bantuan dari  Arya Wiraja. Kemudian, Raden Wijaya membuat desa kecil di hutan Trowulan dan diberi nama desa Majapahit.

Adapun nama Majapahit diambil dari nama buah Maja yang tumbuh  di hutan namun memiliki rasa  pahit. Seiring berjalannya waktu, desa itu berkembang dan Raden Wijaya diam-diam dikuatkan dengan merebut hati penduduk  dari Tumapel dan Daha.


Niat balas dendam Raden Wijaya terbantu lebih cepat ketika pasukan Khubilai Khan tiba pada tahun 1293. Setelah  mengalahkan Jayakatwang, Raden Wijaya menyerang pasukan Khubilai Khan karena tidak mau tunduk pada kekuasaan kaisar Mongol.

Penobatannya sebagai raja pada tanggal 15 bulan Kartika tahun 1215 atau pada tanggal 10 November 1293 merupakan cikal bakal lahirnya kerajaan Majapahit. 

Sebagai raja, Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawardhana.

Nama Raden Wijaya telah disematkan untuk menghormati pamannya,  pendiri Kerajaan Singasari, serta untuk menghormati  leluhurnya di Singasari.


Masa Kejayaan Kerajaan Majapahit


Meskipun sering memberontak pada tahap awal, Majapahit tumbuh menjadi kerajaan terbesar di Nusantara. Masa kejayaan kerajaan datang ketika dipimpin oleh Hayam Wuruk (1350-1389 M). Kejayaan Majapahit tak luput dari peran Gajah Mada, sang mahapatih yang berhasil menumpas segala pemberontakan dan bersumpah untuk menyatukan  nusantara.


Selama 39 tahun berkuasa, Hayam Wuruk dan Gajah Mada telah berhasil membuat panji Majapahit terlihat di seluruh nusantara bahkan semenanjung Malaka. Sumpah Palapa yang dikeluarkan oleh Gajah Mada dilaksanakan, dengan wilayah Majapahit meliputi Sumatera, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, serta Tumasik (Singapura) dan sebagian Kepulauan Filipina.

Selain itu, kerajaan ini juga menjalin hubungan dengan Campa (Thailand), Kamboja, Siam, Burma selatan, Vietnam dan Cina.

Majapahit juga memiliki armada  laut yang tangguh di bawah pimpinan Mpu Nala. Berkat kekuatan  dan strategi militernya, Majapahit mampu menciptakan stabilitas di wilayahnya. Dari segi ekonomi, Majapahit telah menjadi pusat perdagangan di Asia Tenggara dengan ekspor  lada, garam, dan lengkeng.


Raja-raja Kerajaan Majapahit

1 Raden Wijaya, tahun (1293-1309 M)

2 Sri Jayanagara, tahun (1309-1328 M)

3 Tribhuwana, Tunggadewi tahun (1328-1350 M)

4 Hayam Wuruk, tahun (1350-1389 M)

5 Wikramawardhana, tahun (1389-1429 M)

6 Dyah Ayu Kencana Wungu, tahun (1429-1447 M)

7 Prabu Brawijaya 1, tahun (1447-1451 M)

8  Prabu Brawijaya 2, tahun (1451-1453 M)

9 Prabu Brawijaya 3, tahun (1456-1466 M)

10 Prabu Brawijaya 4, tahun (1466-1468 M)

11 Prabu Brawijaya 5, tahun (1468 -1478 M)

12 Prabu Brawijaya 6, tahun (1478-1489 M)

13 Prabu Brawijaya 7, tahun(1489-1527 M)


Pusat Kerajaan MajapahitSebagai kerajaan besar saat ini, Majapahit tercatat telah tiga kali pindah pusat pemerintahan.

Tiga pusat pemerintahan tetap berada di wilayah Jawa Timur.


1. Mojokerto


Pusat pemerintahan atau ibu kota Majapahit yang pertama terletak di kota Mojokerto. 

Saat itu ibu kota diperintah oleh raja pertama, diyakini Kertarajasa Jayawardhana atau Raden Wijaya. Lokasi pusat pemerintahan tersebut konon berada di tepi Sungai Brantas.


2. Trowulan


Pusat pemerintahan kemudian berpindah mengikuti masa kepimimpinan Sri Jayanegara, raja kedua Majapahit.

Jayanegara memindahkan pusat pemerintahan ke Trowulan.Pada masa kini, kota tersebut berjarak 12 km dari Mojokerto. Pusat pemerintahan di Trowulan berjalan cukup lama.


3. Daha


Daha yang saat ini disebut Kediri merupakan kota ketiga dari pusat pemerintahan Majapahit.

Kepindahan pusat pemerintahan Majapahit ke Daha berkaitan erat dengan masalah internal di kerajaan dan ancaman dari kerajaan Islam, kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa.


Keruntuhan Kerajaan Majapahit


Majapahit mulai mengalami kemunduran setelah wafatnya Gajah Mada dan Hayam Wuruk.Sejak saat itu, para penerusnya tidak ada yang cakap dalam mengelola luasnya kekuasaan Majapahit.Selain itu, terdapat beberapa faktor yang mendorong runtuhnya Majapahit, di antaranya:

1 Banyak wilayah taklukkan yang melepaskan diri

2 Terdapat konflik perebutan takhta

3 Meletusnya Perang Paregreg

4 Semakin berkembangnya pengaruh Islam di Jawa


Kekuasaan Majapahit benar-benar berakhir pada 1527, setelah ditaklukkan oleh pasukan Sultan Trenggana dari Kesultanan Demak.Sejak saat itu, wilayahnya yang tersisa diambil alih oleh Kesultanan Demak.


Peninggalan Kerajaan Majapahit


Meski telah runtuh beberapa abad lalu, hingga kini masyarakat modern tetap dapat menyaksikan sisa-sisa peninggalan Majapahit. 

Saksi bisu kejayaan Majapahit muncul dalam berbagai rupa seperti situs, candi, kitab, dan arsitektur.


1. Situs Trowulan

Sebagai salah satu pusat pemerintahan, kerajaan Majapahit banyak meninggalkan warisannya seperti prasasti Wurare, Kudadu, Sukamerta, Balawi, Prapancasapura, Parung, Canggu, Biluluk, Karang Bogem, Katiden.


2. Candi

Ada berbagai perninggalan dari Majapahit yang berupa candi, di antaranya seperti Candi Tikus, Candi Bajang Ratu, Candi Wringin Lawang, Candi Brahu, Candi Pari, Candi Penataran, Candi Jabung, Candi Sukuh, Candi Cetho, Candi Wringin Branjang, Candi Surawana Candi Minak Jinggo, Candi Rimbi, Candi Kedaton, dan Candi Sumberjati.


3. Prasasti

Begitu pula ada juga peninggalan prasasti, seperti Prasasti Kudadu, Prasasti Sukamerta, Prasasti Prapancasapura, Prasasti Wringin Pitu, Prasasti Wurare, Prasasti Balawi, Prasasti Parung, Prasasti Biluluk, Prasasti Karang Bogem, Prasasti Katiden, dan Prasasti Canggu Prasasti Jiwu.


Nah, itulah sejarah berdirinya Majapahit, beserta raja yang pernah memimpin, masa kejayaan, keruntuhan, hingga peninggalannya. 


Majapahit merupakan salah stau kerajaan terbesar di Indonesia yang  memainkan peran penting dalam perkembangan sejarah dan kebudayaan Indonesia. Meskipun mengalami keruntuhan, warisan Majapahit tetap memengaruhi perjalanan sejarah dan identitas budaya Indonesia hingga saat ini.


Semoga informasi tentang kerajaan Majapahit ini bermanfaat untuk menambah wawasanmu terkait sejarah Indonesia.


sumber Media Indonesia

04 October 2024

Jejak Asal-Usul Gajah Mada: Dari Mitologi ke Fakta Sejarah ==================================== Asal-usul Gajah Mada adalah topik yang penuh dengan berbagai versi dan spekulasi, karena sumber-sumber sejarah mengenai dirinya sangat terbatas dan sebagian besar berasal dari tradisi lisan atau babad yang ditulis beberapa abad setelah masa hidupnya. Berikut adalah beberapa versi dan interpretasi tentang asal-usul Gajah Mada yang sering muncul dalam naskah-naskah dan tulisan para sejarawan: 1. **Versi Bali**: Dalam *Babad Bali* dan *Kitab Usana Jawa*, disebutkan bahwa Gajah Mada berasal dari Bali. Versi ini cukup populer di kalangan masyarakat Bali dan dianggap sebagai salah satu kemungkinan asal usul sang Mahapatih. 2. **Versi Sumatra**: Sejarawan terkenal, Muhamad Yamin, dalam karyanya mengemukakan teori bahwa Gajah Mada berasal dari Sumatra. Yamin mengaitkan Gajah Mada dengan Sumatra berdasarkan kebesarannya yang seolah-olah mencerminkan pengaruh luar Jawa, meskipun bukti-bukti konkret mengenai hal ini sangat minim. 3. **Versi Jawa**: Penemuan Prasasti Singasari atau Prasasti Gajah Mada, yang dibuat oleh Gajah Mada sendiri pada tahun 1214 Saka (1351 M), memberikan petunjuk bahwa Gajah Mada mungkin memiliki hubungan darah dengan keturunan raja Singasari, Kertanegara. Prasasti ini menyebutkan penghormatan Gajah Mada kepada leluhur Majapahit, yang diyakini para ahli sebagai bukti bahwa Gajah Mada adalah keturunan bangsawan. Beberapa tafsir menyebutkan bahwa Gajah Mada adalah anak dari Gajah Pagon, yang merupakan cucu Prabu Kertanegara dari Singasari, membuat Gajah Mada dan Tribhuawana Tunggadewi (Ratu Majapahit) memiliki hubungan darah. Dengan hubungan darah kerajaan ini, bisa dikatakan bahwa perjuangan Gajah Mada untuk mencapai posisinya bukan sepenuhnya dimulai dari nol, karena ia memiliki latar belakang sebagai anggota keluarga kerajaan (darah biru). Kariernya sebagai prajurit Bhayangkara mungkin dimulai karena koneksi ini, walaupun kemudian ia membuktikan dirinya dengan kemampuan dan kepemimpinan yang luar biasa. Menurut beberapa sumber, saat peristiwa pelarian Jayanegara, Gajah Mada baru berusia sekitar 20 tahun, yang berarti ia mulai berkarier sebagai prajurit Bhayangkara sekitar usia 15-16 tahun, dengan jabatan sebagai bekel atau kepala regu. Fakta ini menunjukkan bahwa meskipun nepotisme mungkin memainkan peran awal dalam kariernya, Gajah Mada dengan cepat membuktikan dirinya sebagai seorang pemimpin yang berbakat dan memiliki visi besar bagi Majapahit. #AsalUsulGajahMada #MisteriGajahMada #LegendaMajapahit #SejarahNusantara #GajahMadaDarahBiru #MajapahitLegacy #JejakGajahMada #KisahSangMahapatih #HBNusantara_

 Jejak Asal-Usul Gajah Mada: Dari Mitologi ke Fakta Sejarah

====================================

Asal-usul Gajah Mada adalah topik yang penuh dengan berbagai versi dan spekulasi, karena sumber-sumber sejarah mengenai dirinya sangat terbatas dan sebagian besar berasal dari tradisi lisan atau babad yang ditulis beberapa abad setelah masa hidupnya. Berikut adalah beberapa versi dan interpretasi tentang asal-usul Gajah Mada yang sering muncul dalam naskah-naskah dan tulisan para sejarawan:



1. **Versi Bali**: Dalam *Babad Bali* dan *Kitab Usana Jawa*, disebutkan bahwa Gajah Mada berasal dari Bali. Versi ini cukup populer di kalangan masyarakat Bali dan dianggap sebagai salah satu kemungkinan asal usul sang Mahapatih. 


2. **Versi Sumatra**: Sejarawan terkenal, Muhamad Yamin, dalam karyanya mengemukakan teori bahwa Gajah Mada berasal dari Sumatra. Yamin mengaitkan Gajah Mada dengan Sumatra berdasarkan kebesarannya yang seolah-olah mencerminkan pengaruh luar Jawa, meskipun bukti-bukti konkret mengenai hal ini sangat minim.


3. **Versi Jawa**: Penemuan Prasasti Singasari atau Prasasti Gajah Mada, yang dibuat oleh Gajah Mada sendiri pada tahun 1214 Saka (1351 M), memberikan petunjuk bahwa Gajah Mada mungkin memiliki hubungan darah dengan keturunan raja Singasari, Kertanegara. Prasasti ini menyebutkan penghormatan Gajah Mada kepada leluhur Majapahit, yang diyakini para ahli sebagai bukti bahwa Gajah Mada adalah keturunan bangsawan. Beberapa tafsir menyebutkan bahwa Gajah Mada adalah anak dari Gajah Pagon, yang merupakan cucu Prabu Kertanegara dari Singasari, membuat Gajah Mada dan Tribhuawana Tunggadewi (Ratu Majapahit) memiliki hubungan darah.


Dengan hubungan darah kerajaan ini, bisa dikatakan bahwa perjuangan Gajah Mada untuk mencapai posisinya bukan sepenuhnya dimulai dari nol, karena ia memiliki latar belakang sebagai anggota keluarga kerajaan (darah biru). Kariernya sebagai prajurit Bhayangkara mungkin dimulai karena koneksi ini, walaupun kemudian ia membuktikan dirinya dengan kemampuan dan kepemimpinan yang luar biasa.


Menurut beberapa sumber, saat peristiwa pelarian Jayanegara, Gajah Mada baru berusia sekitar 20 tahun, yang berarti ia mulai berkarier sebagai prajurit Bhayangkara sekitar usia 15-16 tahun, dengan jabatan sebagai bekel atau kepala regu. Fakta ini menunjukkan bahwa meskipun nepotisme mungkin memainkan peran awal dalam kariernya, Gajah Mada dengan cepat membuktikan dirinya sebagai seorang pemimpin yang berbakat dan memiliki visi besar bagi Majapahit.


#AsalUsulGajahMada

#MisteriGajahMada

#LegendaMajapahit

#SejarahNusantara

#GajahMadaDarahBiru

#MajapahitLegacy

#JejakGajahMada

#KisahSangMahapatih

#HBNusantara_

Masa sulit kala itu di era kolonial belanda, pribumi yang sebelumnya bekerja menjadi petani beralih menjadi kecu/bandit orang belanda menyebutnya. Sumber. Historia ๐Ÿ“ท KITLV #bandit #probolinggo #tempodulu #fotojadul #klepus @penggemar berat

 Masa sulit kala itu di era kolonial belanda, pribumi yang sebelumnya bekerja menjadi petani beralih menjadi kecu/bandit orang belanda menyebutnya. 



Sumber. Historia

๐Ÿ“ท KITLV 

#bandit #probolinggo #tempodulu #fotojadul #klepus @penggemar berat

ASAL-USUL PRABU JAYA NEGARA DALAM BEBERAPA VERSI Menurut Pararaton, nama asli Jayanagara adalah Kalagemet putra Wijaya dan Dara Petak. Ibunya ini berasal dari Kerajaan Dharmasraya di Pulau Sumatra. Ia dibawa Kebo Anabrang ke tanah Jawa sepuluh hari setelah pengusiran pasukan Mongol oleh pihak Majapahit. Wijaya yang sebelumnya telah memiliki dua orang istri putri Kertanagara, kemudian menjadikan Dara Petak sebagai istri Tinuheng Pura, atau "istri yang dituakan di istana". Menurut Pararaton, pengusiran pasukan Mongol dan berdirinya Kerajaan Majapahit terjadi pada tahun 1294. Sedangkan menurut kronik Cina dari dinasti Yuan, pasukan yang dipimpin oleh Ike Mese itu meninggalkan Jawa tanggal 24 April 1293. Naskah Nagarakretagama juga menyebut angka tahun 1293. Sehingga, jika berita-berita di atas dipadukan, maka kedatangan Kebo Anabrang dan Dara Petak dapat diperkirakan terjadi pada tanggal 4 Mei 1293, dan kelahiran Jayanagara terjadi dalam tahun 1294. Nama Dara Petak tidak dijumpai dalam Nagarakretagama dan prasasti-prasasti peninggalan Majapahit. Menurut Nagarakretagama, Wijaya bukan hanya menikahi dua, tetapi empat orang putri Kertanagara, yaitu Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri. Sedangkan Jayanagara dilahirkan dari istri yang bernama Indreswari. Hal ini menimbulkan dugaan kalau Indreswari adalah nama lain Dara Petak.

 ASAL-USUL PRABU JAYA NEGARA DALAM BEBERAPA VERSI


Menurut Pararaton, nama asli Jayanagara adalah Kalagemet putra Wijaya dan Dara Petak. Ibunya ini berasal dari Kerajaan Dharmasraya di Pulau Sumatra. Ia dibawa Kebo Anabrang ke tanah Jawa sepuluh hari setelah pengusiran pasukan Mongol oleh pihak Majapahit. Wijaya yang sebelumnya telah memiliki dua orang istri putri Kertanagara, kemudian menjadikan Dara Petak sebagai istri Tinuheng Pura, atau "istri yang dituakan di istana".



Menurut Pararaton, pengusiran pasukan Mongol dan berdirinya Kerajaan Majapahit terjadi pada tahun 1294. Sedangkan menurut kronik Cina dari dinasti Yuan, pasukan yang dipimpin oleh Ike Mese itu meninggalkan Jawa tanggal 24 April 1293. Naskah Nagarakretagama juga menyebut angka tahun 1293. Sehingga, jika berita-berita di atas dipadukan, maka kedatangan Kebo Anabrang dan Dara Petak dapat diperkirakan terjadi pada tanggal 4 Mei 1293, dan kelahiran Jayanagara terjadi dalam tahun 1294.


Nama Dara Petak tidak dijumpai dalam Nagarakretagama dan prasasti-prasasti peninggalan Majapahit. Menurut Nagarakretagama, Wijaya bukan hanya menikahi dua, tetapi empat orang putri Kertanagara, yaitu Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri. Sedangkan Jayanagara dilahirkan dari istri yang bernama Indreswari. Hal ini menimbulkan dugaan kalau Indreswari adalah nama lain Dara Petak.

Teknologi leluhur karya era Majapahit "KAPAL JUNG MAJAPAHIT" Kapal Jung adalah sejenis kapal layar, yang banyak terdapat di perairan Asia Tenggara sampai ke pantai timur Afrika. Djong (juga disebut jong atau jung) adalah jenis kapal layar kuno yang berasal dari Jawa, dan digunakan secara umum oleh pelaut Jawa dan Melayu. Djong digunakan terutama sebagai kapal penumpang dan kapal kargo, dapat mencapai Ghana atau bahkan Brazil di zaman kuno. Bobot muatan rata-rata adalah 4-500 ton, dengan kisaran 85-700 ton. Pada zaman Majapahit kapal jenis ini digunakan sebagai kapal perang, tetapi masih dominan sebagai kapal angkut. Anthony Reid menyebutkan, istilah Jung dipakai pertama kali dalam catatan-catatan Rahib Odorico, John de Marignolli, dan Ibn Battuta pada abad ke 14. Asal usul kata “jung” menurut Manguin adalah dari bahasa Jawa sebagai sebutan kapal, hal ini dapat ditelusuri dalam sebuah prasasti Jawa kuno abad ke 9. Tatkala pelaut Portugis mencapai perairan Asia Tenggara pada awal tahun 1500-an mereka menemukan kawasan ini didominasi kapal-kapal Jung Jawa. Kapal dagang milik orang Jawa ini menguasai jalur rempah rempah yang sangat vital, antara Maluku, Jawa, dan Malaka. Kota pelabuhan Malaka pada waktu itu praktis menjadi kota orang Jawa. Di sana banyak saudagar dan nakhoda kapal Jawa yang menetap, dan sekaligus mengendalikan perdagangan internasional. Tukang-tukang kayu Jawa yang terampil membangun galangan kapal di kota pelabuhan terbesar di Asia Tenggara itu. Bukti kepiawaian orang Jawa dalam bidang perkapalan juga ditemukan pada relief Candi Borobudur yang memvisualkan perahu bercadik - belakangan disebut sebagai "Kapal Borobudur". Konstruksi perahu Nusantara sangat unik. Lambung perahu dibentuk sebagai menyambungkan papan-papan pada lunas kapal. Kemudian disambungkan pada pasak kayu tanpa menggunakan kerangka, baut, atau paku besi. Ujung haluan dan buritan kapal berbentuk lancip. Kapal ini dilengkapi dengan dua batang kemudi yang menyerupai dayung, serta layar berbentuk segi empat (layar tanja) atau layar lateen dengan sekat bambu (layar jung). Kapal jung Jawa dibuat menggunakan kayu jati pada saat laporan ini (1512), pada waktu itu jung Cina masih menggunakan kayu lunak sebagai bahan utamanya. Lambung kapal Jawa dibentuk dengan menggabungkan papan ke lunas dan kemudian ke satu sama lain dengan semat kayu, tanpa menggunakan rangka (kecuali untuk penguat berikutnya), maupun baut atau paku besi. Papannya dilubangi oleh bor tangan dan dimasukkan pasak ke dalam papan-papan itu, tidak terlihat dari luar. Kapal itu juga sama-sama lancip pada kedua ujungnya, dan membawa dua kemudi yang mirip dayung dan layar lateen. Ini sangat berbeda dari kapal Cina, yang lambungnya diikat oleh tali dan paku besi ke rangka dan ke sekat yang membagi ruang kargo. Kapal Cina memiliki kemudi tunggal di buritan, dan (kecuali di Fujian dan Guangdong) mereka memiliki bagian bawah yang rata tanpa lunas. Jung Jawa yang pertama kali digambarkan oleh Portugis adalah sebuah kapal yang mereka tawan pada tahun 1511. Orang-orang Portugis mengenali Jawa sebagai asal jung-jung raksasa tersebut. Dari Kerajaan Jawa datang kapal-kapal Jung raksasa ke kota Malaka. Bentuknya amat berbeda dibandingkan dengan kapal-kapal kita, terbuat dari kayu yang sangat tebal, sehingga apabila kayu ini menua maka papan-papan baru dapat dilapiskan kembali di atasnya. Ukuran dan konstruksi jung Jawa membutuhkan keahlian dan material yang belum tentu terdapat di banyak tempat, oleh karena itu jung Jawa raksasa hanya di produksi di 2 tempat di sekitar Jawa. Tempat itu adalah di pantai utara Jawa, di sekitar Cirebon dan Rembang-Demak (di selat Muria yang memisahkan gunung Muria dengan pulau Jawa), dan juga di pesisir Selatan Kalimantan, terutama di Banjarmasin dan pulau-pulau sekitarnya. Tempat ini sama-sama memiliki hutan jati, tetapi galangan kapal di Kalimantan tetap mendatangkan kayu jati dari Jawa, sedangkan Kalimantan sendiri menjadi pemasok kayu ulin. Pegu (sekarang Bago), yang merupakan pelabuhan besar pada abad ke-16, juga memproduksi jong, oleh orang Jawa yang menetap disana. Buku abad ke-3 berjudul "Hal-Hal Aneh dari Selatan" (ๅ—ๅทž็•ฐ็‰ฉๅฟ—) karya Wan Chen (่ฌ้œ‡) mendeskripsikan sebuah kapal yang mampu membawa 700 orang bersama dengan lebih dari 10.000 "ๆ–›" kargo (menurut berbagai interpretasi, berarti 250-1000 ton). Kapal ini bukan berasal dari Cina, namun mereka berasal dari K'un-lun (berarti "kepulauan di bawah angin" atau "negeri Selatan"). Kapal-kapal yang disebut K'un-lun po (atau K'un-lun bo), yang besar lebih dari 50 meter panjangnya dan tingginya di atas air 4-7 meter. Dia menjelaskan desain kapal sebagai berikut: Keempat layar itu tidak menghadap ke depan secara langsung, tetapi diatur secara miring, dan diatur sedemikian rupa sehingga semuanya dapat diatur ke arah yang sama, untuk menerima angin dan mengarahkannya. Layar-layar yang berada di belakang angin paling banyak menerima tekanan angin, melewatkannya dari satu sisi ke sisi yang lain, sehingga layar dapat memanfaatkan kekuatan angin. Jika sedang badai, (para pelaut) mengurangi atau memperbesar permukaan layar sesuai dengan kondisi. Layar miring ini, yang memungkinkan layar untuk menerima angin dari satu dan lainnya, menghindarkan kecemasan yang terjadi ketika memiliki tiang tinggi. Dengan demikian kapal-kapal ini berlayar tanpa menghindari angin kencang dan ombak besar, dengan itu mereka dapat mencapai kecepatan tinggi. — Wan Chen, Pada 1178 M, petugas bea cukai Guangzhou, Zhou Qufei, menulis dalam Lingwai Daida tentang kapal-kapal negeri Selatan: Kapal yang berlayar di laut Selatan (laut Natuna Utara) dan Selatannya lagi (Samudera Hindia) seperti rumah raksasa. Ketika layarnya mengembang mereka seperti awan besar di langit. Kemudi mereka panjangnya mencapai puluhan kaki. Sebuah kapal dapat membawa beberapa ratus orang, dan bekal beras untuk setahun. Babi diberi makan di dalamnya dan anggur difermentasikan saat berlayar. Tidak ada laporan dari orang yang masih hidup atau sudah meninggal, bahwa mereka tidak akan kembali ke daratan saat mereka sudah berlayar ke lautan yang biru. Pada 1322 M, rahib Odoric dari Pordenone melaporkan bahwa kapal Nusantara dari tipezunc[um] membawa sekitar 700 orang, baik pelaut maupun pedagang. Kerajaan Majapahit menggunakan jong secara besar-besaran sebagai kekuatan lautnya. Tidak diketahui berapa tepatnya jumlah total jong yang digunakan oleh Majapahit, tetapi mereka dikelompokkan menjadi 5 armada. Jumlah terbesar jong yang dikerahkan dalam sebuah ekspedisi adalah sekitar 400 jong yang disertai dengan malangbang dan kelulus yang tak terhitung banyaknya, yakni ketika Majapahit menyerang Pasai. Setiap kapal berukuran panjang sekitar 70 meter, berat muatan sekitar 500 ton dan dapat membawa 600 orang. Kapal ini dipersenjatai meriam sepanjang 3 meter, dan banyak cetbang berukuran kecil. Sebelum tragedi Bubat tahun 1357, Raja Sunda dan keluarganya datang di Majapahit setelah berlayar di laut Jawa menggunakan kapal-kapal jong hibrida Cina-Asia tenggara bertingkat sembilan (Bahasa Jawa kuno:Jong Sasanga Wagunan ring Tatarnagari tiniru). Kapal hibrida ini mencampurkan teknik China dalam pembuatannya, yaitu menggunakan paku besi selain menggunakan pasak kayu dan juga pembuatan buritan tumpul/datar (transom stern). Niccolรฒ da Conti dalam perjalanannya di Asia tahun 1419-1444, mendeskripsikan kapal yang jauh lebih besar dari kapal Eropa, yang mampu mencapai berat 2.000 ton, dengan lima layar dan tiang. Bagian bawah dibangun dengan tiga lapis papan, untuk menahan kekuatan badai. Kapal tersebut dibangun dengan kompartemen, sehingga jika satu bagian hancur, bagian lainnya tetap utuh untuk menyelesaikan pelayaran. Gambaran tentang jung Jawa secara spesifik dilaporkan Alfonso de Albuquerque, komandan armada Portugis yang menduduki Malaka pada 1511. Orang Portugis mengenali Jawa sebagai asal usul jung-jung terbesar. Kapal jenis ini digunakan angkatan laut kerajaan Jawa (Demak) untuk menyerang armada Portugis. Disebutkan, jung Jawa memiliki empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat serta mampu menahan tembakan meriam kapal kapal Portugis. Bobot muatan jung rata-rata sekitar 600 ton, melebihi kapal perang Portugis. Jung terbesar dari Kerajaan Demak bobot muatannya mencapai 1.000 ton yang digunakan sebagai pengangkut pasukan Jawa untuk menyerang armada Portugis di Malaka pada 1513. Pada Januari 1513 Pati Unus mencoba mengejutkan Malaka, membawa sekitar 100 kapal dengan 5.000 tentara Jawa dari Jepara dan Palembang. Sekitar 30 dari mereka adalah jung besar seberat 350-600 ton (pengecualian untuk kapal utama Pati Unus), sisanya adalah kapal jenis lancaran,penjajap, dan kelulus. Kapal-kapal itu membawa banyak artileri yang dibuat di Jawa. Meskipun dikalahkan, Patih Unus berlayar pulang dan mendamparkan kapal perangnya sebagai monumen perjuangan melawan orang-orang yang disebutnya paling berani di dunia. Ini memenangkannya beberapa tahun kemudian dalam tahta Demak. Dalam sebuah surat kepada Alfonso de Albuquerque, dari Cannanore, 22 Februari 1513, Fernรฃo Pires de Andrade, Kapten armada yang diarahkan Pate Unus, mengatakan: "Jung milik Pati Unus adalah yang terbesar yang dilihat oleh orang-orang dari daerah ini. Ia membawa seribu orang tentara di kapal, dan Yang Mulia dapat mempercayaiku ... bahwa itu adalah hal yang sangat luar biasa untuk dilihat, karena Anunciada di dekatnya tidak terlihat seperti sebuah kapal sama sekali. Kami menyerangnya dengan bombard, tetapi bahkan tembakan yang terbesar tidak menembusnya di bawah garis air, dan (tembakan) esfera (meriam besar Portugis) yang saya miliki di kapal saya berhasil masuk tetapi tidak tembus; kapal itu memiliki tiga lapisan logam, yang semuanya lebih dari satu koin tebalnya. Dan kapal itu benar-benar sangat mengerikan bahkan tidak ada orang yang pernah melihat sejenisnya. Butuh waktu tiga tahun untuk membangunnya, Yang Mulia mungkin pernah mendengar cerita di Malaka tentang Pati Unus, yang membuat armada ini untuk menjadi raja Malaka." — Fernao Peres de Andrade, Suma Oriental. Ketika orang Portugis menguasai Malaka, mereka mendapat sebuah peta dari kapten Jawa, yang mana Albuquerque mengatakan: "... peta besar seorang Nahkoda Jawa, yang berisi Tanjung Harapan, Portugal dan tanah Brazil, Laut Merah dan Laut Persia, Kepulauan Cengkih, navigasi orang Cina dan Gom, dengan garis rhumb dan rute langsung yang bisa ditempuh oleh kapal, dan dataran gigir (hinterland), dan bagaimana kerajaan berbatasan satu sama lain. Bagiku, Tuan, ini adalah hal terbaik yang pernah saya lihat, dan Yang Mulia akan sangat senang melihatnya memiliki nama-nama dalam tulisan Jawa, tetapi saya punya saya orang Jawa yang bisa membaca dan menulis, saya mengirimkan karya ini kepada Yang Mulia, yang ditelusuri Francisco Rodrigues dari yang lain, di mana Yang Mulia dapat benar-benar melihat di mana orang Cina dan Gore (Jepang) datang, dan tentu saja kapal Anda harus pergi ke Kepulauan Cengkih, dan di mana tambang emas ada, pulau Jawa dan Banda, tindakan seperiodenya, dari siapa pun sezamannya, dan tampaknya sangat mungkin bahwa apa yang dia katakan adalah benar..." — Alfonso de Albuquerque, Surat untuk raja Manuel I dari Portugal, April 1512. Takjub akan kekuatan kapal ini, Albuquerque mempekerjakan 60 tukang kayu dan arsitek kapal Jawa untuk bekerja di Malaka. Setidaknya 1 jong dibawa ke Portugal, untuk digunakan sebagai kapal penjaga pantai di Sacavem dibawah perintah raja John III. Giovanni da Empoli (pedagang Florentine) mengatakan bahwa di tanah Jawa, jung tidak berbeda kekuatannya dibanding benteng, karena ia memiliki tiga dan empat lapis papan, satu di atas yang lain, yang tidak dapat dirusak dengan artileri. Mereka berlayar bersama dengan wanita, anak-anak, dan keluarga mereka, dan semua orang menjaga kamarnya sendiri. Hanya saja jung Jawa raksasa ini, menurut Tome Pires, lamban bergerak saat bertempur dengan kapal-kapal portugis yang lebih ramping dan lincah. Dengan begitu, armada Portugis bisa menghalau jung Jawa dari perairan Malaka. Tome Pires pada 1515 diberitahukan bahwa penguasa Kanton (sekarang Guangzhou) membuat hukum yang mewajibkan kapal asing berlabuh di sebuah pulau di tepi pantai. Dia bilang orang China membuat hukum tentang pelarangan masuknya kapal ke Kanton ini karena mereka takut akan orang Jawa dan Melayu, karena mereka yakin satu buah kapal jong milik Jawa atau Melayu bisa mengalahkan 20 kapal jung China. China mempunyai lebih dari 1000 jung, tetapi satu kapal jong berukuran 400 ton dapat menghancurkan Kanton, dan penghancuran ini akan membawa kerugian besar bagi China. Orang China takut jika kota itu dirampas dari mereka, karena Kanton adalah salah satu kota terkaya di China. Pada 1574, ratu Kalinyamat dari Jepara menyerang Melaka Portugis dengan 300 kapal, yang meliputi 80 jong dengan tonase 400 ton dan 220 kelulus. Penyerangan dihentikan setelah perbekalan menipis dan Portugis berhasil membakar 30 jong. Perlu dicatat bahwa pada saat itu kapal-kapal Eropa telah berkembang menjadi galleon seberat 400-500 ton. Jung pada abad ke-15 hingga ke-16 tidak hanya digunakan pada pelaut Jawa. Para pelaut Melayu dan Tionghoa juga menggunakan kapal layar jenis ini. Jung memegang peranan penting dalam perdagangan Asia Tenggara masa lampau. Ia menyatukan jalur perdagangan Asia Tengara yang meliputi Campa (ujung selatan Vietnam), Ayutthaya (Thailand), Aceh, Malaka dan Makassar. Dalam kata pengantar antologi cerpen berjudul jung Jawa oleh Rendra Fatrisna Kurniawan yang diterbitkan Babel Publishing tahun 2009, disebutkan hilangnya tradisi maritim Jawa tersebut adalah akibat kebijakan kerajaan Jawa sendiri setelah kekalahan mereka terhadap Portugis dalam penyerbuan Malaka, yang kemudian lebih memusatkan pada kekuatan angkatan darat. Serta, sikap represif Amangkurat I dari Mataram terhadap kota kota pesisir utara Jawa. Amangkurat I memerintahkan agar pelabuhan ditutup dan kapal-kapal dihancurkan agar mencegah kota-kota pesisir menjadi kuat dan memberontak. Ini menghancurkan ekonomi Jawa dan kekuatan maritimnya yang dibangun sejak zaman Singhasari dan Majapahit, dan Mataram berubah menjadi negara agraris. Hilangnya selat Muria juga menjadi faktor hilangnya Jung Jawa. Galangan kapal besar sepanjang Rembang-Demak menjadi "terdampar" di tengah daratan tanpa akses ke laut. Pada tahun 1657 Tumenggung Pati mengusulkan penggalian jalur air baru dari Demak ke Juwana, tetapi sepertinya tidak dilakukan. Ini membuktikan bahwa pada saat itu selat Muria sudah hilang atau sudah mengecil. Kantor Maskapai Perdagangan Hindia Belanda (VOC) di Batavia melaporkan pada 1677 bahwa orang-orang Mataram di Jawa Tengah tidak lagi memiliki kapal-kapal besar dan tidak lagi memiliki galangan kapal besar. Ketika VOC mendapatkan pijakan di Jawa, mereka melarang penduduk setempat untuk membangun kapal dengan tonase lebih dari 50 ton, dan menugaskan pengawas Eropa ke setiap galangan kapal. 1. Nugroho, Irawan Djoko. 2011. "Majapahit Peradaban Maritim." Suluh Nuswantara 2. Bakti.Reid, Anthony. 2012. "Anthony Reid and the Study of Southeast Asian Past." Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. 3. Manguin, Pierre-Yves. 1993. "Trading Ships of the South China Sea." Journal of the Economic and Social History of the Orient. 253-280. 4. Cartas de Afonso de Albuquerque, Volume 1, p. 64, April 1, 1512 5. IbnBatutaTravel, Saudi Aramco world. 6. Majapahit Kerajaan Maritim. Suluh Nuswantara Bakti.

 Teknologi leluhur karya era Majapahit


"KAPAL JUNG MAJAPAHIT"


Kapal Jung adalah sejenis kapal layar, yang banyak terdapat di perairan Asia Tenggara sampai ke pantai timur Afrika. Djong (juga disebut  jong atau jung) adalah jenis kapal layar kuno yang berasal dari Jawa, dan digunakan secara umum oleh pelaut Jawa dan Melayu. 



Djong digunakan terutama sebagai kapal penumpang dan kapal kargo, dapat mencapai Ghana atau bahkan Brazil di zaman kuno. Bobot muatan rata-rata adalah 4-500 ton, dengan kisaran 85-700 ton. Pada zaman Majapahit kapal jenis ini digunakan sebagai kapal perang, tetapi masih dominan sebagai kapal angkut.


Anthony Reid menyebutkan, istilah Jung dipakai pertama kali dalam catatan-catatan Rahib Odorico, John de Marignolli, dan Ibn Battuta pada abad ke 14. Asal usul kata “jung” menurut Manguin adalah dari bahasa Jawa sebagai sebutan kapal, hal ini dapat ditelusuri dalam sebuah prasasti Jawa kuno abad ke 9.


Tatkala pelaut Portugis mencapai perairan Asia Tenggara pada awal tahun 1500-an mereka menemukan kawasan ini didominasi kapal-kapal Jung Jawa. Kapal dagang milik orang Jawa ini menguasai jalur rempah rempah yang sangat vital, antara Maluku, Jawa, dan Malaka. Kota pelabuhan Malaka pada waktu itu praktis menjadi kota orang Jawa.


Di sana banyak saudagar dan nakhoda kapal Jawa yang menetap, dan sekaligus mengendalikan perdagangan internasional. Tukang-tukang kayu Jawa yang terampil membangun galangan kapal di kota pelabuhan terbesar di Asia Tenggara itu. 


Bukti kepiawaian orang Jawa dalam bidang perkapalan juga ditemukan pada relief Candi Borobudur yang memvisualkan perahu bercadik - belakangan disebut sebagai "Kapal Borobudur".


Konstruksi perahu Nusantara sangat unik. Lambung perahu dibentuk sebagai menyambungkan papan-papan pada lunas kapal. Kemudian disambungkan pada pasak kayu tanpa menggunakan kerangka, baut, atau paku besi. Ujung haluan dan buritan kapal berbentuk lancip. Kapal ini dilengkapi dengan dua batang kemudi yang menyerupai dayung, serta layar berbentuk segi empat (layar tanja) atau layar lateen dengan sekat bambu (layar jung). 


Kapal jung Jawa dibuat menggunakan kayu jati pada saat laporan ini (1512), pada waktu itu jung Cina masih menggunakan kayu lunak sebagai bahan utamanya. Lambung kapal Jawa dibentuk dengan menggabungkan papan ke lunas dan kemudian ke satu sama lain dengan semat kayu, tanpa menggunakan rangka (kecuali untuk penguat berikutnya), maupun baut atau paku besi. 


Papannya dilubangi oleh bor tangan dan dimasukkan pasak ke dalam papan-papan itu, tidak terlihat dari luar. Kapal itu juga sama-sama lancip pada kedua ujungnya, dan membawa dua kemudi yang mirip dayung dan layar lateen. 


Ini sangat berbeda dari kapal Cina, yang lambungnya diikat oleh tali dan paku besi ke rangka dan ke sekat yang membagi ruang kargo. Kapal Cina memiliki kemudi tunggal di buritan, dan (kecuali di Fujian dan Guangdong) mereka memiliki bagian bawah yang rata tanpa lunas. 


Jung Jawa yang pertama kali digambarkan oleh Portugis adalah sebuah kapal yang mereka tawan pada tahun 1511. Orang-orang Portugis mengenali Jawa sebagai asal jung-jung raksasa tersebut. 


Dari Kerajaan Jawa datang kapal-kapal Jung raksasa ke kota Malaka. Bentuknya amat berbeda dibandingkan dengan kapal-kapal kita, terbuat dari kayu yang sangat tebal, sehingga apabila kayu ini menua maka papan-papan baru dapat dilapiskan kembali di atasnya.


Ukuran dan konstruksi jung Jawa membutuhkan keahlian dan material yang belum tentu terdapat di banyak tempat, oleh karena itu jung Jawa raksasa hanya di produksi di 2 tempat di sekitar Jawa. Tempat itu adalah di pantai utara Jawa, di sekitar Cirebon dan Rembang-Demak (di selat Muria yang memisahkan gunung Muria dengan pulau Jawa), dan juga di pesisir Selatan Kalimantan, terutama di Banjarmasin dan pulau-pulau sekitarnya. 


Tempat ini sama-sama memiliki hutan jati, tetapi galangan kapal di Kalimantan tetap mendatangkan kayu jati dari Jawa, sedangkan Kalimantan sendiri menjadi pemasok kayu ulin.  Pegu (sekarang Bago), yang merupakan pelabuhan besar pada abad ke-16, juga memproduksi jong, oleh orang Jawa yang menetap disana.


Buku abad ke-3 berjudul "Hal-Hal Aneh dari Selatan" (ๅ—ๅทž็•ฐ็‰ฉๅฟ—) karya Wan Chen (่ฌ้œ‡) mendeskripsikan sebuah kapal yang mampu membawa 700 orang bersama dengan lebih dari 10.000 "ๆ–›" kargo (menurut berbagai interpretasi, berarti 250-1000 ton). 


Kapal ini bukan berasal dari Cina, namun mereka berasal dari K'un-lun (berarti "kepulauan di bawah angin" atau "negeri Selatan"). Kapal-kapal yang disebut K'un-lun po (atau K'un-lun bo), yang besar lebih dari 50 meter panjangnya dan tingginya di atas air 4-7 meter. Dia menjelaskan desain kapal sebagai berikut:


 Keempat layar itu tidak menghadap ke depan secara langsung, tetapi diatur secara miring, dan diatur sedemikian rupa sehingga semuanya dapat diatur ke arah yang sama, untuk menerima angin dan mengarahkannya. Layar-layar yang berada di belakang angin paling banyak menerima tekanan angin, melewatkannya dari satu sisi ke sisi yang lain, sehingga layar dapat memanfaatkan kekuatan angin. 


Jika sedang badai, (para pelaut) mengurangi atau memperbesar permukaan layar sesuai dengan kondisi. Layar miring ini, yang memungkinkan layar untuk menerima angin dari satu dan lainnya, menghindarkan kecemasan yang terjadi ketika memiliki tiang tinggi. Dengan demikian kapal-kapal ini berlayar tanpa menghindari angin kencang dan ombak besar, dengan itu mereka dapat mencapai kecepatan tinggi. — Wan Chen, 


Pada 1178 M, petugas bea cukai Guangzhou, Zhou Qufei, menulis dalam Lingwai Daida tentang kapal-kapal negeri Selatan:


Kapal yang berlayar di laut Selatan (laut Natuna Utara) dan Selatannya lagi (Samudera Hindia) seperti rumah raksasa. Ketika layarnya mengembang mereka seperti awan besar di langit. Kemudi mereka panjangnya mencapai puluhan kaki. Sebuah kapal dapat membawa beberapa ratus orang, dan bekal beras untuk setahun. 


Babi diberi makan di dalamnya dan anggur difermentasikan saat berlayar. Tidak ada laporan dari orang yang masih hidup atau sudah meninggal, bahwa mereka tidak akan kembali ke daratan saat mereka sudah berlayar ke lautan yang biru. 


Pada 1322 M, rahib Odoric dari Pordenone melaporkan bahwa kapal Nusantara dari tipezunc[um] membawa sekitar 700 orang, baik pelaut maupun pedagang. Kerajaan Majapahit menggunakan jong secara besar-besaran sebagai kekuatan lautnya. 


Tidak diketahui berapa tepatnya jumlah total jong yang digunakan oleh Majapahit, tetapi mereka dikelompokkan menjadi 5 armada. Jumlah terbesar jong yang dikerahkan dalam sebuah ekspedisi adalah sekitar 400 jong yang disertai dengan malangbang dan kelulus yang tak terhitung banyaknya, yakni ketika Majapahit menyerang Pasai. 


Setiap kapal berukuran panjang sekitar 70 meter, berat muatan sekitar 500 ton dan dapat membawa 600 orang. Kapal ini dipersenjatai meriam sepanjang 3 meter, dan banyak cetbang berukuran kecil. 


Sebelum tragedi Bubat tahun 1357, Raja Sunda dan keluarganya datang di Majapahit setelah berlayar di laut Jawa menggunakan kapal-kapal jong hibrida Cina-Asia tenggara bertingkat sembilan (Bahasa Jawa kuno:Jong Sasanga Wagunan ring Tatarnagari tiniru). 


Kapal hibrida ini mencampurkan teknik China dalam pembuatannya, yaitu menggunakan paku besi selain menggunakan pasak kayu dan juga pembuatan buritan tumpul/datar (transom stern).


Niccolรฒ da Conti dalam perjalanannya di Asia tahun 1419-1444, mendeskripsikan kapal yang jauh lebih besar dari kapal Eropa, yang mampu mencapai berat 2.000 ton, dengan lima layar dan tiang. Bagian bawah dibangun dengan tiga lapis papan, untuk menahan kekuatan badai. Kapal tersebut dibangun dengan kompartemen, sehingga jika satu bagian hancur, bagian lainnya tetap utuh untuk menyelesaikan pelayaran.


Gambaran tentang jung Jawa secara spesifik dilaporkan Alfonso de Albuquerque, komandan armada Portugis yang menduduki Malaka pada 1511. Orang Portugis mengenali Jawa sebagai asal usul jung-jung terbesar. Kapal jenis ini digunakan angkatan laut kerajaan Jawa (Demak) untuk menyerang armada Portugis.


Disebutkan, jung Jawa memiliki empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat serta mampu menahan tembakan meriam kapal kapal Portugis. Bobot muatan jung rata-rata sekitar 600 ton, melebihi kapal perang Portugis. Jung terbesar dari Kerajaan Demak bobot muatannya mencapai 1.000 ton yang digunakan sebagai pengangkut pasukan Jawa untuk menyerang armada Portugis di Malaka pada 1513.


Pada Januari 1513 Pati Unus mencoba mengejutkan Malaka, membawa sekitar 100 kapal dengan 5.000 tentara Jawa dari Jepara dan Palembang. Sekitar 30 dari mereka adalah jung besar seberat 350-600 ton (pengecualian untuk kapal utama Pati Unus), sisanya adalah kapal jenis lancaran,penjajap, dan kelulus. Kapal-kapal itu membawa banyak artileri yang dibuat di Jawa. 


Meskipun dikalahkan, Patih Unus berlayar pulang dan mendamparkan kapal perangnya sebagai monumen perjuangan melawan orang-orang yang disebutnya paling berani di dunia. Ini memenangkannya beberapa tahun kemudian dalam tahta Demak. Dalam sebuah surat kepada Alfonso de Albuquerque, dari Cannanore, 22 Februari 1513, Fernรฃo Pires de Andrade, Kapten armada yang diarahkan Pate Unus, mengatakan:


 "Jung milik Pati Unus adalah yang terbesar yang dilihat oleh orang-orang dari daerah ini. Ia membawa seribu orang tentara di kapal, dan Yang Mulia dapat mempercayaiku ... bahwa itu adalah hal yang sangat luar biasa untuk dilihat, karena Anunciada di dekatnya tidak terlihat seperti sebuah kapal sama sekali. 


Kami menyerangnya dengan bombard, tetapi bahkan tembakan yang terbesar tidak menembusnya di bawah garis air, dan (tembakan) esfera (meriam besar Portugis) yang saya miliki di kapal saya berhasil masuk tetapi tidak tembus; kapal itu memiliki tiga lapisan logam, yang semuanya lebih dari satu koin tebalnya. Dan kapal itu benar-benar sangat mengerikan bahkan tidak ada orang yang pernah melihat sejenisnya. 


Butuh waktu tiga tahun untuk membangunnya, Yang Mulia mungkin pernah mendengar cerita di Malaka tentang Pati Unus, yang membuat armada ini untuk menjadi raja Malaka." — Fernao Peres de Andrade, Suma Oriental.


Ketika orang Portugis menguasai Malaka, mereka mendapat sebuah peta dari kapten Jawa, yang mana Albuquerque mengatakan:


 "... peta besar seorang Nahkoda Jawa, yang berisi Tanjung Harapan, Portugal dan tanah Brazil, Laut Merah dan Laut Persia, Kepulauan Cengkih, navigasi orang Cina dan Gom, dengan garis rhumb dan rute langsung yang bisa ditempuh oleh kapal, dan dataran gigir (hinterland), dan bagaimana kerajaan berbatasan satu sama lain. Bagiku, Tuan, ini adalah hal terbaik yang pernah saya lihat, dan Yang Mulia akan sangat senang melihatnya memiliki nama-nama dalam tulisan Jawa, tetapi saya punya saya orang Jawa yang bisa membaca dan menulis, saya mengirimkan karya ini kepada Yang Mulia, yang ditelusuri Francisco Rodrigues dari yang lain, di mana Yang Mulia dapat benar-benar melihat di mana orang Cina dan Gore (Jepang) datang, dan tentu saja kapal Anda harus pergi ke Kepulauan Cengkih, dan di mana tambang emas ada, pulau Jawa dan Banda, tindakan seperiodenya, dari siapa pun sezamannya, dan tampaknya sangat mungkin bahwa apa yang dia katakan adalah benar..." — Alfonso de Albuquerque, Surat untuk raja Manuel I dari Portugal, April 1512.


Takjub akan kekuatan kapal ini, Albuquerque mempekerjakan 60 tukang kayu dan arsitek kapal Jawa untuk bekerja di Malaka. Setidaknya 1 jong dibawa ke Portugal, untuk digunakan sebagai kapal penjaga pantai di Sacavem dibawah perintah raja John III.


Giovanni da Empoli (pedagang Florentine) mengatakan bahwa di tanah Jawa, jung tidak berbeda kekuatannya dibanding benteng, karena ia memiliki tiga dan empat lapis papan, satu di atas yang lain, yang tidak dapat dirusak dengan artileri. Mereka berlayar bersama dengan wanita, anak-anak, dan keluarga mereka, dan semua orang menjaga kamarnya sendiri.


Hanya saja jung Jawa raksasa ini, menurut Tome Pires, lamban bergerak saat bertempur dengan kapal-kapal portugis yang lebih ramping dan lincah. Dengan begitu, armada Portugis bisa menghalau jung Jawa dari perairan Malaka. 


Tome Pires pada 1515 diberitahukan bahwa penguasa Kanton (sekarang Guangzhou) membuat hukum yang mewajibkan kapal asing berlabuh di sebuah pulau di tepi pantai. Dia bilang orang China membuat hukum tentang pelarangan masuknya kapal ke Kanton ini karena mereka takut akan orang Jawa dan Melayu, karena mereka yakin satu buah kapal jong milik Jawa atau Melayu bisa mengalahkan 20 kapal jung China. 


China mempunyai lebih dari 1000 jung, tetapi satu kapal jong berukuran 400 ton dapat menghancurkan Kanton, dan penghancuran ini akan membawa kerugian besar bagi China. Orang China takut jika kota itu dirampas dari mereka, karena Kanton adalah salah satu kota terkaya di China.


Pada 1574, ratu Kalinyamat dari Jepara menyerang Melaka Portugis dengan 300 kapal, yang meliputi 80 jong dengan tonase 400 ton dan 220 kelulus. Penyerangan dihentikan setelah perbekalan menipis dan Portugis berhasil membakar 30 jong. Perlu dicatat bahwa pada saat itu kapal-kapal Eropa telah berkembang menjadi galleon seberat 400-500 ton.


Jung pada abad ke-15 hingga ke-16 tidak hanya digunakan pada pelaut Jawa. Para pelaut Melayu dan Tionghoa juga menggunakan kapal layar jenis ini. Jung memegang peranan penting dalam perdagangan Asia Tenggara masa lampau. Ia menyatukan jalur perdagangan Asia Tengara yang meliputi Campa (ujung selatan Vietnam), Ayutthaya (Thailand), Aceh, Malaka dan Makassar.


Dalam kata pengantar antologi cerpen berjudul jung Jawa oleh Rendra Fatrisna Kurniawan yang diterbitkan Babel Publishing tahun 2009, disebutkan hilangnya tradisi maritim Jawa tersebut adalah akibat kebijakan kerajaan Jawa sendiri setelah kekalahan mereka terhadap Portugis dalam penyerbuan Malaka, yang kemudian lebih memusatkan pada kekuatan angkatan darat. 


Serta, sikap represif Amangkurat I dari Mataram terhadap kota kota pesisir utara Jawa. Amangkurat I memerintahkan agar pelabuhan ditutup dan kapal-kapal dihancurkan agar mencegah kota-kota pesisir menjadi kuat dan memberontak. Ini menghancurkan ekonomi Jawa dan kekuatan maritimnya yang dibangun sejak zaman Singhasari dan Majapahit, dan Mataram berubah menjadi negara agraris.


Hilangnya selat Muria juga menjadi faktor hilangnya Jung Jawa. Galangan kapal besar sepanjang Rembang-Demak menjadi "terdampar" di tengah daratan tanpa akses ke laut. Pada tahun 1657 Tumenggung Pati mengusulkan penggalian jalur air baru dari Demak ke Juwana, tetapi sepertinya tidak dilakukan. 


Ini membuktikan bahwa pada saat itu selat Muria sudah hilang atau sudah mengecil. Kantor Maskapai Perdagangan Hindia Belanda (VOC) di Batavia melaporkan pada 1677 bahwa orang-orang Mataram di Jawa Tengah tidak lagi memiliki kapal-kapal besar dan tidak lagi memiliki galangan kapal besar. 


Ketika VOC mendapatkan pijakan di Jawa, mereka melarang penduduk setempat untuk membangun kapal dengan tonase lebih dari 50 ton, dan menugaskan pengawas Eropa ke setiap galangan kapal.


1. Nugroho, Irawan Djoko. 2011. "Majapahit Peradaban Maritim." Suluh Nuswantara 


2. Bakti.Reid, Anthony. 2012. "Anthony Reid and the Study of Southeast Asian Past." Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. 


3. Manguin, Pierre-Yves. 1993. "Trading Ships of the South China Sea." Journal of the Economic and Social History of the Orient. 253-280.


4. Cartas de Afonso de Albuquerque, Volume 1, p. 64, April 1, 1512


5.  IbnBatutaTravel, Saudi Aramco world.


6. Majapahit Kerajaan Maritim. Suluh Nuswantara Bakti.

Roekiah Bintang Film Tercantik Pertama yang Menjadi Pondasi Perfilman Indonesia Roekiah adalah ikon perfilman Indonesia yang kecantikannya memikat dan bakatnya tak terbantahkan. Lahir di Bandung pada 31 Desember 1917, Roekiah tumbuh dalam keluarga seniman sandiwara yang membawa pengaruh besar dalam kehidupannya di dunia seni. Orang tuanya yang aktif di Opera Poesi Indra Bangsawan, membuka jalan bagi Roekiah untuk mencintai dunia akting dan musik sejak kecil. Sejak awal, ia kerap tampil menyanyi di pentas keluarganya, hingga akhirnya bertemu Kartolo, pria yang kemudian menjadi suaminya pada tahun 1934. Roekiah memulai debutnya di dunia perfilman pada tahun 1937 lewat film Terang Boelan, sebuah karya yang disutradarai oleh Albert Balink. Dalam film ini, ia beradu akting dengan Rd Mochtar dan sukses meraup keuntungan besar, mencapai 200 ribu Dolar Selat. Keberhasilan ini menempatkannya di puncak popularitas sebagai bintang film paling bersinar di era Hindia Belanda. Setelah kesuksesan tersebut, Roekiah dan Kartolo mendirikan Terang Boelan Troupe untuk terus berkarya. Mereka kemudian bergabung dengan Tan’s Film, di mana Roekiah kembali mencuri perhatian dalam film Fatima (1938), sekali lagi bersama Rd Mochtar. Kombinasi keduanya menjadi fenomena di dunia perfilman kolonial, menjadikan mereka pasangan selebriti pertama di Indonesia yang dielu-elukan oleh pers internasional. Roekiah tidak hanya dikenang karena kecantikannya, tetapi juga sebagai simbol penting dalam perkembangan industri film Indonesia. Fb. Cinema Indonesia Celana murmer: https://s.shopee.co.id/2AvxE53ZBq https://s.shopee.co.id/5ppFasnr31

 Roekiah

Bintang Film Tercantik Pertama yang Menjadi Pondasi Perfilman Indonesia



Roekiah adalah ikon perfilman Indonesia yang kecantikannya memikat dan bakatnya tak terbantahkan. Lahir di Bandung pada 31 Desember 1917, Roekiah tumbuh dalam keluarga seniman sandiwara yang membawa pengaruh besar dalam kehidupannya di dunia seni. Orang tuanya yang aktif di Opera Poesi Indra Bangsawan, membuka jalan bagi Roekiah untuk mencintai dunia akting dan musik sejak kecil. Sejak awal, ia kerap tampil menyanyi di pentas keluarganya, hingga akhirnya bertemu Kartolo, pria yang kemudian menjadi suaminya pada tahun 1934.


Roekiah memulai debutnya di dunia perfilman pada tahun 1937 lewat film Terang Boelan, sebuah karya yang disutradarai oleh Albert Balink. Dalam film ini, ia beradu akting dengan Rd Mochtar dan sukses meraup keuntungan besar, mencapai 200 ribu Dolar Selat. Keberhasilan ini menempatkannya di puncak popularitas sebagai bintang film paling bersinar di era Hindia Belanda.


Setelah kesuksesan tersebut, Roekiah dan Kartolo mendirikan Terang Boelan Troupe untuk terus berkarya. Mereka kemudian bergabung dengan Tan’s Film, di mana Roekiah kembali mencuri perhatian dalam film Fatima (1938), sekali lagi bersama Rd Mochtar. Kombinasi keduanya menjadi fenomena di dunia perfilman kolonial, menjadikan mereka pasangan selebriti pertama di Indonesia yang dielu-elukan oleh pers internasional.


Roekiah tidak hanya dikenang karena kecantikannya, tetapi juga sebagai simbol penting dalam perkembangan industri film Indonesia.


Fb. Cinema Indonesia 

Celana murmer:

https://s.shopee.co.id/2AvxE53ZBq

https://s.shopee.co.id/5ppFasnr31

Suku Osing, Banyuwangi! Suku Osing atau biasa diucapkan Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi atau juga disebut sebagai Laros (akronim daripada Lare Osing) atau Wong Blambangan merupakan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Orang Osing Mengunakan Bahasa Osing yang merupakan pengaruh dari bahasa Bali turunan langsung dari bahasa jawa turunan sebagai bahasa sehari - hari mereka. Tepatnya di sekitar Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur; Suku Osing mempunyai Bahasa Osing yang merupakan pengaruh dari bahasa Bali dan sedikit pengaruh dari bahasa jawa kuno. Pada awal terbentuknya masyarakat Osing kepercayaan utama suku Osing adalah Hindu-Budha seperti halnya Majapahit. Namun berkembangnya kerajaan islam di pantura menyebabkan agama islam dengan cepat menyebar dikalangan suku Osing. Berkembangnya islam dan pengaruh luar lain didalam masyarakat Osing juga dipengaruhi oleh usaha VOC dalam menguasai daerah blambangan. Masyarakat Osing mempunyai tradisi puputan, seperti halnya masyarakat Bali. Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebagai usaha terakhir Mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M. Kesenian Suku Osing sangat unik dan banyak mengandung unsur mistik seperti kerabatnya Suku Bali dan Suku Tengger. Kesenian utamanya antara lain Gendrung, Patrol, Seblangkuntulan, Kendang Kempul, Janger, Jaranan, jaran Kincak, Angklung Caruk dan Jedor.. Rahayu Mulyaning Jagad! ๐Ÿ™

 Suku Osing, Banyuwangi!


Suku Osing atau biasa diucapkan Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi atau juga disebut sebagai Laros (akronim daripada Lare Osing) atau Wong Blambangan merupakan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. 



Orang Osing Mengunakan Bahasa Osing yang merupakan pengaruh dari bahasa Bali turunan langsung dari bahasa jawa turunan sebagai bahasa sehari - hari mereka. 


Tepatnya di sekitar Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur; Suku Osing mempunyai Bahasa Osing yang merupakan pengaruh dari bahasa Bali dan sedikit pengaruh dari bahasa jawa kuno.


Pada awal terbentuknya masyarakat Osing kepercayaan utama suku Osing adalah Hindu-Budha seperti halnya Majapahit. 

Namun berkembangnya kerajaan islam di pantura menyebabkan agama islam dengan cepat menyebar dikalangan suku Osing.

Berkembangnya islam dan pengaruh luar lain didalam masyarakat Osing juga dipengaruhi oleh usaha VOC  dalam menguasai daerah blambangan. 


Masyarakat Osing mempunyai tradisi puputan, seperti halnya masyarakat Bali. Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebagai usaha terakhir 

Mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M.


Kesenian Suku Osing sangat unik dan banyak mengandung unsur mistik seperti kerabatnya Suku Bali dan Suku Tengger. Kesenian utamanya antara lain Gendrung, Patrol, Seblangkuntulan, Kendang Kempul, Janger, Jaranan, jaran Kincak, Angklung Caruk dan Jedor..


Rahayu Mulyaning Jagad!


๐Ÿ™

03 October 2024

SILSILAH KELUARGA RAJA DEMAK BINTORO Raden Patah, Adipati Demak Bintoro bertahta di Kraton Glagah Wangi dengan gelar : " Syah Alam Akbar Senopati Jimbun Sirrolah Kalifatul Rasul Ammirilmukminin Tajudin Ngabdulhamidhah " Beliau juga disebut sebagai Sultan Ngadil Surya I. Bertahta tahun Jimawal Sinangkalan Mantri Tunggal Catur Aji ( th 1413 ) beliau jumeneng Nata 27 Tahun. A. RADEN PATAH RAJA DEMAK I Raden Djoko Probo atau Raden Patah adalah Putra dari Raja Majapahit Brawijaya V, Beliau menikah dengan Ratu Panggung putri Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manilo Menurunkan : 1. Raden Suryo atau Pangeran Sabrang Lor atau Adipati Unus ( Raja Demak II ) 2. Raden Songko atau Pangeran Adipati Anom atau Pangeran Sekar Sedo Lepen 3. Raden Trenggono 4. Raden Ayu Kirana atau Ratu Mas Purnamasidi menikah dengan Panembahan Banten 5. Raden Ayu Wulan atau Ratu Mas Nyowo menikah dengan Panembahan Cirebon 6. Raden Tangkowo atau Pangeran Kundurawan menjadi Tumenggung di Sumenep 7. Raden Jaladara , meninggal muda 8. Raden Tedjo , Pangeran Pamekasan Madura 9. Raden Alit atau Pangeran Sekar atau Pangeran Ragil ( leluhur Ki Ageng Karang Lo ) B. RADEN SONGKO, PANGERAN SEKAR SEDO LEPEN Raden Songko bergelar Pangeran Adipati Anom atau Pangeran Sekar Sedo Lepen atau Pangeran Sekar yang wafat di sungai. Menurunkan : 1. Pangeran Haryo Jipang atau Haryo Panangsang menikah dengan Putri Sunan Kudus 2. Ratu Timoer menikah dengan Panembahan Timur Bupati Madiun I 3. Pangeran Haryo Mataram C. SULTAN TRENGGONO RAJA DEMAK III Sultan Trenggono adalah Raja Demak ke tiga, Beliau adalah putra Raden Patah raja Demak I dari istri nya yang bernama Asyikah atau Ratu Panggung .Ratu Asyikah adalah Putri Sunan Ampel. Wafat pada tahun 1546 Memerintah Kraton Demak pada tahun Alip sinangkalan Banyu Suci Dadi Nabi ( th 1417) Sultan Trenggono mempunyai dua istri yaitu Kanjeng Ratu Pembayun ( Putri Sunan Kalijaga ) dan Putri Nyai Ageng Maloko. Dari Putri Nyai Ageng Maloko menurunkan : 1. Ratu Pembayun 2. Sunan Prawoto 3. Ratu Mas Pemancingan menikah dengan Panembahan Jogorogo ing Pemancingan 4. Retno Kencana ( Ratu Kalinyamat ) menikah dengan Pangeran Hadiri ( Penguasa Jepara ) 5. Ratu Mas Ayu menikah dengan Pangeran Orang Ayu putra Pangeran Wonokromo 6. Ratu Mas Kumambang Dari Kanjeng Ratu Pembayun ( Putri Sunan Kalijaga ) menurunkan : 7. Pangeran Timur , Panembahan Madiun , Bupati I Kadipaten Madiun 8. Ratu Mas Cempaka , menjadi Permaisuri Sultan Hadiwijaya Pajang bergelar Ratu Mas Pajang. 9. Pangeran Tg Mangkurat ( dari Garwa Pangrembe ) Sumber data : Soejarah Jawa oleh Pujangga Hartati #sejarah #kerajaan #demak #nusantara #foryou #fyp #viral

 SILSILAH KELUARGA  RAJA DEMAK BINTORO



Raden Patah, Adipati Demak Bintoro bertahta di Kraton Glagah Wangi dengan gelar :


" Syah Alam Akbar Senopati Jimbun Sirrolah Kalifatul Rasul Ammirilmukminin Tajudin Ngabdulhamidhah " 

Beliau juga disebut sebagai Sultan Ngadil Surya I. 

Bertahta tahun Jimawal Sinangkalan Mantri Tunggal Catur Aji ( th 1413 ) beliau jumeneng Nata 27 Tahun. 


A. RADEN PATAH RAJA DEMAK I

Raden Djoko Probo atau  Raden Patah adalah Putra dari Raja Majapahit Brawijaya V, Beliau menikah dengan Ratu Panggung  putri  Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manilo

Menurunkan :

1. Raden  Suryo  atau  Pangeran Sabrang Lor atau Adipati Unus ( Raja Demak II )

2. Raden Songko atau Pangeran Adipati  Anom atau Pangeran Sekar Sedo Lepen

3. Raden Trenggono

4. Raden Ayu Kirana  atau Ratu Mas Purnamasidi menikah dengan Panembahan Banten

5. Raden Ayu Wulan atau Ratu Mas Nyowo  menikah dengan Panembahan Cirebon

6. Raden Tangkowo atau Pangeran Kundurawan  menjadi Tumenggung di Sumenep

7. Raden Jaladara , meninggal muda

8. Raden Tedjo , Pangeran Pamekasan Madura 

9. Raden Alit atau Pangeran Sekar atau Pangeran Ragil ( leluhur  Ki Ageng Karang Lo )


B. RADEN SONGKO, PANGERAN SEKAR SEDO LEPEN

Raden Songko bergelar Pangeran Adipati Anom atau Pangeran Sekar Sedo Lepen atau Pangeran Sekar yang wafat di sungai. 

Menurunkan :

1. Pangeran Haryo Jipang atau Haryo Panangsang menikah dengan Putri Sunan Kudus

2. Ratu Timoer menikah dengan Panembahan Timur  Bupati Madiun I

3. Pangeran Haryo Mataram


C. SULTAN TRENGGONO  RAJA DEMAK III

Sultan Trenggono adalah Raja Demak ke tiga, Beliau adalah putra Raden Patah raja Demak I dari istri nya yang bernama Asyikah atau Ratu Panggung .Ratu  Asyikah adalah Putri Sunan Ampel.

Wafat  pada tahun 1546

Memerintah Kraton Demak pada tahun Alip sinangkalan Banyu Suci Dadi Nabi ( th 1417)

Sultan Trenggono mempunyai dua istri yaitu Kanjeng Ratu Pembayun ( Putri Sunan Kalijaga ) dan Putri  Nyai Ageng Maloko. 


Dari  Putri Nyai  Ageng Maloko  menurunkan :

1. Ratu Pembayun 

2. Sunan Prawoto

3. Ratu Mas Pemancingan  menikah dengan Panembahan Jogorogo ing Pemancingan

4. Retno Kencana ( Ratu Kalinyamat ) menikah dengan Pangeran Hadiri ( Penguasa Jepara )

5. Ratu Mas Ayu menikah dengan Pangeran  Orang Ayu putra Pangeran Wonokromo 

6. Ratu Mas Kumambang


Dari Kanjeng Ratu Pembayun ( Putri Sunan Kalijaga ) menurunkan : 

7. Pangeran Timur , Panembahan Madiun ,  Bupati I Kadipaten Madiun

8. Ratu Mas Cempaka , menjadi Permaisuri Sultan Hadiwijaya Pajang bergelar Ratu Mas Pajang.

9. Pangeran Tg Mangkurat ( dari Garwa Pangrembe  )


Sumber data : Soejarah Jawa oleh Pujangga Hartati


#sejarah #kerajaan #demak #nusantara 

#foryou #fyp #viral