19 August 2026

"Hatta dikenal pula sebagai orang yang dengan ketat menjaga anak-anaknya agar berbahasa Indonesia secara benar. Kata Halida "Ayah tidak mengerti kalau saya berbahasa gaya sekarang." Tapi ia menyebut suatu kejadian. Ketika mereka sedang berkumpul, Halida menggoda ayahnya dengan bertanya: "Ayah, siapa yang barusan habis bercukur?" Sang ayah lantas menjawab: "Gua," sambil tertawa." Bung Hatta sering menonton drama-drama Rendra. Meskipun dari 10.000 buku koleksinya hanya terdapat satu novel Gone With The Wind, menurut Meutia, sang putri, "ayah menyukai War and Peace-nya Leo Tolstoi." BUNG HATTA 77 TAHUN (TEMPO, No. 25, Th. IX, 18 Agustus 1979, “Pokok & Tokoh”) Suatu pagi di sebuah apartemen di Hawaii tahun 1968. Dua orang mahasiswa Indonesia datang bertamu menemui tuan rumah yang terdiri dari ayah dan seorang anak perempuan. Si Ayah lalu membuat kopi untuk dirinya dan untuk para tamu yang menjadi kikuk dan salah tingkah, "Meutia, kenapa ayah sendiri yang disuruh membuat kopi?" bisik salah seorang pada si anak perempuan. Dr. Mohammad Hatta si pembuat kopi, 12 Agustus kemarin selamat menggenapkan usianya 77 tahun. Dikenal sebagai orang yang selalu mengerjakan segala sesuatunya sendirian saja. Bahkan ketika hendak berangkat ke RS Cipto Mangunkusumo ‒ untuk opname seminggu lebih ‒ pertengahan Juli lalu, ia mengatur koponya sendiri. "Saya hanya menunggui sambil membiarkannya menikmati pekerjaannya," ujar Meutia Farida Hatta, 32 tahun, puteri pertama yang sejak 1973 menjadi Ny. Dr Sri-Edi Swasono (39). Asbak Keluar dari rumah sakit, Bung Hatta masih dijaga orang suster di bawah pengawasan satu tim dokter. Menurut puteri ke-3 alias si bungsu, Halida Nuriah Hatta (23), ayahnya diharuskan banyak istirahat di samping diet yang keras dengan makanan yang musti diukur. "Sayalah yang mengatur menu," katanya Halida menyebut sayur-mayur merupakan lauk kegemaran tokoh kelahiran Bukittinggi ini, sehingga giginya sampai sekarang masih utuh. "Tak satupun berlubang," tambahnya. Lalu Gemala Rabi'ah Hatta (27), puteri ke-2 yang cantik dan sejak 1976 menjadi isteri drs. Mohd. Chlil Jaridjambek (39), menyebut sayur pare yang pahit sebagai kegemaran ayahnya, "sejak ayah terserang malaria, dulu." Ketiga puterinya punya penilaian yang sama terhadap sang ayah yang menikah pada usia 43 tahun itu (dengan gadis Jawa Aceh yang dibesar kan di Bandung, Rahmi Rachim, ketika itu berusia 19 tahun, dan pernikahan itu dicomblangi Bung Karno). Meutia mengatakan "Ayah memiliki toleransi yang tinggi terhadap orang lain." Contoh kecil: meski tak merokok, Bung Hatta menaruh asbak di meja kerjanya, untuk para tamu perokok. "Bung Hatta selalu melihat sesuatu dalam proporsi yang besar," kata Sri-Edi Swasono, menantunya, ex Pembantu Rektor III bidang Kemahasiswaan Ul, asal Delanggu, Ja/Teng. "Bung Hatta merupakan pribadi yang unik," kata menantu kedua, Chalil Baridjambek, Direktur Pacto Ltd. dan Daha Motor, "Kukuh dalam mempertahankan pendapat, tapi mentolerir pendapat yang berbeda tanpa mengomentari aspek negatifnya. Mertuanya itu juga "seorang yang relijius dan strict: selalu berusaha shalat pada waktunya, puasa, memberi zakat, dan qurban." Dalam kondisi sehat, Bung Hatta bangun jam 4.20 pagi. Lalu sembahyang subuh. Sesudah mandi dan mencukur janggut, melakukan orhiba (olah raga hidup baru). Makan pagi jam 6, mendengarkan warta berita RRI ‒ tanpa pernah ketinggalan ‒ dan membaca koran. Jam 8.00 kedua sekretarisnya, Wangsa Widjaja, orang Sumedang Ja-Bar dan Hutabarat, Batak Protestan, datang. Kesibukan dimulai di kamar kerja dengan membaca surat-surat dan langsung membalasnya dalam bahasa dari mana surat itu datang. Bahasa yang dikuasai Bung Hatta: Belanda, Perancis, Inggeris dan Jerman. Ketika tinggal di Yogya dulu, ia ingin belajar bahasa Jawa. "Tetapi karena Bung Karno melarang orang bicara dalam bahasa Jawa, sampai sekarang Ayah belum bisa berbahasa Jawa," demikian tuturnya kepada Meutia. Selesai membalas surat-surat, ia menulis. Buku yang sedang diselesaikannya, Memorium jilid II. Dulu ia mengetik sendiri seluruh naskahnya, tapi sekarang tidak. la menulis dengan tulisan tangan untuk kemudian ditik oleh Pak Wangsa (68, sekretaris sejak 1946). Jika sudah mulai menulis, tak ada lagi batas waktu. "Kalau lagi senang, berhari-hari pun ia betah di ruang kerja," tutur Halida. Jam 13.00 tetap ditepati sebagai waktu makan siang bersama. Ketika Meutia dan Gemala bersuami, yang tinggal menemani hanya Halida, yang sebentar lagi pun akan bersuami dengan orang Sunda. "Karena saya tahu ayah menunggu, saya jarang sekali makan di luar," tutur Halida. Gemala melukiskan, meja makan merupakan "forum demokrasi" tempat semua anggota keluarga menceritakan segala sesuatu yang dialami, juga uneg-uneg. Bung Hatta tak punya pilihan khusus terhadap rasa manis, asam atau pedas. Ia makan semata untuk kesehatan. Larangan-larangan dokter dipatuhi dengan disiplin yang tinggi ‒ padahal sebenarnya ia sangat suka rendang hati atau daging. Juga termasuk orang yang tak begitu memperhatikan pakaian. Tidak ada pula warna kesayangan. Biasanya pilihan disesuaikan dengan waktu pemakaian: warna terang untuk siang, warna gelap untuk malam. Dan pakaian bekasnya? "Diberikan kepada pelayan atau tukang kebun," ujar Meutia. Ia memelihara barang-barangnya dengan baik. "Ada sepasang sepatu yang meskipun usianya lebih tua dari adik saya, Halida, tetap dipakainya dan terawat baik," tutur Meutia. Ketika akan pergi ke RSCM di pertengahan Juli itu, Meutia dan Halida yang membantu memakaikan sepatu tadi, berucap, "Ayah, bila ada yang meminta barang barang Ayah untuk disimpan di museum, pasti kita akan memilih sepatu ini lebih dahulu! Sang Ayah tertawa geli, lalu berkata, "O, itu pasti . . . !” Dikenal juga sebagai orang yang tak pernah marah, tidak pernah memukul anak-anak dan tidak pernah menegur dengan suara keras. Bung Hatta disebut Gemala sebagai "orang tanpa ekspresi". Selalu diam. Selalu sangat tenang. Sehingga ketika suatu kali ia kelihatan sangat panik dan gugup, Gemala mencatat hal itu sebagai hal yang tak bisa dilupakan. Keluarga Hatta memiliki rumah ‒selain yang di Jalan Diponegoro ‒ di Megamendung, Puncak. "Dibeli dengan uang tabungan ayah ketika 11 tahun belajar di Belanda dulu," kata Gemala. Suatu hari, bocah Gemala dipanggul ayahnya di pundak, berjalan jalan di sekitar rumah di Megamendung itu. Tiba-tiba Bung Hatta tersandung batu dan jatuh, sehingga si kecil Gemala terlempar beberapa meter. Bung Hatta pun sibuk memeriksa keadaan anaknya yang, untunglah, terlempar ke tumpukan alang-alang. Pinjaman Gemala menilai lagi: "Ayah adalah orang yang tak pernah menggugat. Ayah selalu menerima apa yang ada dan apa yang diberikan kepadanya." Digambarkannya masa masa sulit waktu lalu, di mana keluarga itu harus berdiri di atas uang pensiun se orang bekas wakil presiden yang ternyata tak seberapa. Tapi tak sepatah pun tergetar keluhan dari bibirnya." Untunglah belakangan ada keringanan dalam hal pembayaran listrik dan ledeng. Jatah beras yang terus diterima juga ikut meringankan beban. Selebihnya adalah kehidupan yang amat bersahaja. Dan sedikit hiburan jika ada undangan dari pemerintah asing atau sebuah organisasi kepada Bung Hatta sebagai penceramah, tamu atau sebagai sahabat ‒ yang berarti adanya sekedar uang imbalan dan kesempatan ke luar negeri. "Tanpa undangan, pergi ke Singapura saja pun tak mungkin bisa," kata Gemala. "Sebab ayah dahulu berhenti dari jabatannya sebagai wakil presiden tanpa membawa uang sepeser pun dan tanpa memiliki saham di berbagai perusahaan." Dan mobil Mercy serta Fiat itu? "Yang bernomor 17845, dari pemerintah. Yang lain itu dipinjami." Sambil mengenang masa lalunya, puteri kedua yang sejak 1970 kuliah di Fakultas Kedokteran Ul dan 1½ tahun lalu memperoleh bea siswa belajar di Australia sampai memperoleh gelar MRA itu, mengatakan bahwa ayahnya tak pernah menunjuk tokoh tertentu untuk dijadikan model bagi anak-anaknya. "Kita dibiarkan tumbuh dan diberi kebebasan memilih sendiri." Kalaupun ada yang ditekankan juga bukan dipaksa ialah agar anak-anaknya belajar mengaji dan rajin sembahyang. "Ayah sendiri yang mengajari kami membaca alif bata. Sesudah khatam barulah dipanggil guru mengaji." Dan ketika masih sehat, Bung Hatta bersembahyang Jum'at di Mesjid Matraman yang tak jauh dari rumah. Pernahkah Hatta yang "serius" itu nonton film? "Bila ada film yang baik ‒ menurut rekomendasi Ibu atau Halida," ujar Meutia, yang sehari-harinya dosen di Fakultas Sastra Ul. "Ayah senang film sejarah." Ia pun menggemari musik Bach, Mozart dan Strauss. "Kalau mBak Soerti Soewandi menyanyi diiringi piano oleh Pak BJ. Supardi pada ulang tahun ayah, ayah minta mBak Soerti menyanyikan Nyiur Melambai," ujar Meutia lagi. Lagu-lagu perjuangan yang disukainya ialah Halo-halo Bandung dan Dari Barat Sampai ke Timur. "Ayah juga suka menonton dan menyukai drama-drama Rendra. Dan Rendra selalu memberi undangan pada ayah," kata Gemala. Tapi, benarkah Bung Hatta tak pernah membaca novel sehingga Sutan Sjahrir konon pernah menyebutnya sebagai orang yang "kering"? Di perpustakaan pribadinya yang menyimpan sekitar 10.000 buku, memang tak terselip novel, apalagi buku saku. "Saya hanya pernah melihat satu saja ‒ yaitu Gone With The Wind," kata Gemala. Tapi menurut Meutia, sewaktu masih di Belanda dulu, "ayah rajin membaca novel." Waktu kembali ke Indonesia, sebagian besar novelnya dibagi-bagikan kepada teman-temannya yang masih tinggal di sana. "Sebab buku-buku ilmiah yang musti dibawanya pulang sudah enambelas peti." Tapi ketika dibuang ke Digul dan Bandaneira, ia juga membaca novel. Sesudah itu tidak lagi, "karena kesibukan dalam tugas ilmunya." Menurut Meutia lagi, "ayah menyukai War and Peace-nya Leo Tolstoi." Hatta dikenal pula sebagai orang yang dengan ketat menjaga anak-anaknya agar berbahasa Indonesia secara benar. Kata Halida "Ayah tidak mengerti kalau saya berbahasa gaya sekarang." Tapi ia menyebut suatu kejadian. Ketika mereka sedang berkumpul, Halida menggoda ayahnya dengan bertanya: "Ayah, siapa yang barusan habis bercukur?" Sang ayah lantas menjawab: "Gua," sambil tertawa. Bung Hatta tak pernah membaca majalah hiburan. Yang dibacanya Prisma, Time dan Foreign Affairs yang lengkap dikoleksinya sejak terbitan 1932. Juga punya hampir semua nomor The Economist sejak terbitan 1852. Kedua majalah yang disebut terakhir itu masih dilangganinya sampai sekarang. Olah raga yang disukainya, selagi muda, sepak bola dan berenang. Sekitar awal 1957 mulai bermain golf. Kemudian, sejak 1972 ber-orhiba. "Kata ayah, agar punya cadangan tenaga jika sakit." Disiplin dan ketepatannya mengenai waktu sudah bukan rahasia. Tak heran jika banyak orang menghadiahkan arloji kepadanya. Cindy Adams, penulis biografi Sukarno, pernah ditolaknya karena terlambat datang. Dan "sebuah jam Omega pernah diberikan kepada suami saya karena jam itu terlambat satu menit," kata Meutia. Ketika ditanya mengenai rencana pemerintah untuk membuat patung Bung Hatta, Meutia bilang tak tahu-menahu. Namun menurut Gemala, "ayah tidak menolak, meski tidak menginginkannya." Lalu apakah peranan Pak Wangsa yang hadir di tengah keluarga itu berpuluh-puluh tahun? Kata Gemala: "Pak Wangsa bagi kami sudah merupakan ayah kedua." Meutia sendiri merasa sulit melukiskan betapa dekat hubungan ayah dari 4 anak dan kakek dari 14 cucu itu, dengan keluarganya. Bahkan, "Pak Wangsa juga ikut memberi penilaian terhadap calon-calon menantu. Dan dalam hal-hal tertentu saya mengeluh kepadanya, sebelum kepada ayah.” Ucapan Nyonya Wangsa barangkali lebih menggambarkan hubungan itu: "Kami terpaksa membatalkan niat untuk menikmati pensiun di kampung. Tak tega meninggalkan Bung Hatta, sebab Bung Hattalah yang membesarkan suami saya," ujarnya. Emil Salim dan Prof. Widjojo mungkin punya kenangan lain semasa dulu "kuliah" di rumah Bung Hatta di Jalan Merdeka Selatan nomor 13 dengan bersepeda. "Kami semua sayang kepada ayah, karena ayah satu-satunya lelaki di rumah," ujar Halida. Apakah peranan ibu? "Jika ayah adalah pembuat aturan, maka ibu dan Pak Wangsa adalah polisinya," kata Gemala. Tapi mengapa Bung Hatta sampai bisa kenal dan bahkan pernah berpotret bersama dengan Sawito? "Itu lantaran Orhiba," Meutia menjelaskan."Sawito selalu datang pada saat-saat tak terduga. Misalnya, dia tiba-tiba saja muncul di pintu. Atau sewaktu kami sedang makan, dia datang. Kami tak mungkin menolaknya." Sumber: TEMPO, No. 25, Th. IX, 18 Agustus 1979

 "Hatta dikenal pula sebagai orang yang dengan ketat menjaga anak-anaknya agar berbahasa Indonesia secara benar. Kata Halida "Ayah tidak mengerti kalau saya berbahasa gaya sekarang." Tapi ia menyebut suatu kejadian. Ketika mereka sedang berkumpul, Halida menggoda ayahnya dengan bertanya: "Ayah, siapa yang barusan habis bercukur?" Sang ayah lantas menjawab: "Gua," sambil tertawa."


Bung Hatta sering menonton drama-drama Rendra. Meskipun dari 10.000 buku koleksinya hanya terdapat satu novel Gone With The Wind, menurut Meutia, sang putri, "ayah menyukai War and Peace-nya Leo Tolstoi." 



BUNG HATTA 77 TAHUN


(TEMPO, No. 25, Th. IX, 18 Agustus 1979, “Pokok & Tokoh”)


Suatu pagi di sebuah apartemen di Hawaii tahun 1968. Dua orang mahasiswa Indonesia datang bertamu menemui tuan rumah yang terdiri dari ayah dan seorang anak perempuan. Si Ayah lalu membuat kopi untuk dirinya dan untuk para tamu yang menjadi kikuk dan salah tingkah, "Meutia, kenapa ayah sendiri yang disuruh membuat kopi?" bisik salah seorang pada si anak perempuan.


Dr. Mohammad Hatta si pembuat kopi, 12 Agustus kemarin selamat menggenapkan usianya 77 tahun. Dikenal sebagai orang yang selalu mengerjakan segala sesuatunya sendirian saja. Bahkan ketika hendak berangkat ke RS Cipto Mangunkusumo ‒ untuk opname seminggu lebih ‒ pertengahan Juli lalu, ia mengatur koponya sendiri. "Saya hanya menunggui sambil membiarkannya menikmati pekerjaannya," ujar Meutia Farida Hatta, 32 tahun, puteri pertama yang sejak 1973 menjadi Ny. Dr Sri-Edi Swasono (39).


Asbak


Keluar dari rumah sakit, Bung Hatta masih dijaga orang suster di bawah pengawasan satu tim dokter. Menurut puteri ke-3 alias si bungsu, Halida Nuriah Hatta (23), ayahnya diharuskan banyak istirahat di samping diet yang keras dengan makanan yang musti diukur. "Sayalah yang mengatur menu," katanya Halida menyebut sayur-mayur merupakan lauk kegemaran tokoh kelahiran Bukittinggi ini, sehingga giginya sampai sekarang masih utuh. "Tak satupun berlubang," tambahnya. Lalu Gemala Rabi'ah Hatta (27), puteri ke-2 yang cantik dan sejak 1976 menjadi isteri drs. Mohd. Chlil Jaridjambek (39), menyebut sayur pare yang pahit sebagai kegemaran ayahnya, "sejak ayah terserang malaria, dulu."


Ketiga puterinya punya penilaian yang sama terhadap sang ayah yang menikah pada usia 43 tahun itu (dengan gadis Jawa Aceh yang dibesar kan di Bandung, Rahmi Rachim, ketika itu berusia 19 tahun, dan pernikahan itu dicomblangi Bung Karno). Meutia mengatakan "Ayah memiliki toleransi yang tinggi terhadap orang lain." Contoh kecil: meski tak merokok, Bung Hatta menaruh asbak di meja kerjanya, untuk para tamu perokok.


"Bung Hatta selalu melihat sesuatu dalam proporsi yang besar," kata Sri-Edi Swasono, menantunya, ex Pembantu Rektor III bidang Kemahasiswaan Ul, asal Delanggu, Ja/Teng. "Bung Hatta merupakan pribadi yang unik," kata menantu kedua, Chalil Baridjambek, Direktur Pacto Ltd. dan Daha Motor, "Kukuh dalam mempertahankan pendapat, tapi mentolerir pendapat yang berbeda tanpa mengomentari aspek negatifnya. Mertuanya itu juga "seorang yang relijius dan strict: selalu berusaha shalat pada waktunya, puasa, memberi zakat, dan qurban."


Dalam kondisi sehat, Bung Hatta bangun jam 4.20 pagi. Lalu sembahyang subuh. Sesudah mandi dan mencukur janggut, melakukan orhiba (olah raga hidup baru). Makan pagi jam 6, mendengarkan warta berita RRI ‒ tanpa pernah ketinggalan ‒ dan membaca koran. Jam 8.00 kedua sekretarisnya, Wangsa Widjaja, orang Sumedang Ja-Bar dan Hutabarat, Batak Protestan, datang.


Kesibukan dimulai di kamar kerja dengan membaca surat-surat dan langsung membalasnya dalam bahasa dari mana surat itu datang. Bahasa yang dikuasai Bung Hatta: Belanda, Perancis, Inggeris dan Jerman. Ketika tinggal di Yogya dulu, ia ingin belajar bahasa Jawa. "Tetapi karena Bung Karno melarang orang bicara dalam bahasa Jawa, sampai sekarang Ayah belum bisa berbahasa Jawa," demikian tuturnya kepada Meutia.


Selesai membalas surat-surat, ia menulis. Buku yang sedang diselesaikannya, Memorium jilid II. Dulu ia mengetik sendiri seluruh naskahnya, tapi sekarang tidak. la menulis dengan tulisan tangan untuk kemudian ditik oleh Pak Wangsa (68, sekretaris sejak 1946). Jika sudah mulai menulis, tak ada lagi batas waktu. "Kalau lagi senang, berhari-hari pun ia betah di ruang kerja," tutur Halida.


Jam 13.00 tetap ditepati sebagai waktu makan siang bersama. Ketika Meutia dan Gemala bersuami, yang tinggal menemani hanya Halida, yang sebentar lagi pun akan bersuami dengan orang Sunda. "Karena saya tahu ayah menunggu, saya jarang sekali makan di luar," tutur Halida. Gemala melukiskan, meja makan merupakan "forum demokrasi" tempat semua anggota keluarga menceritakan segala sesuatu yang dialami, juga uneg-uneg. 


Bung Hatta tak punya pilihan khusus terhadap rasa manis, asam atau pedas. Ia makan semata untuk kesehatan. Larangan-larangan dokter dipatuhi dengan disiplin yang tinggi ‒ padahal sebenarnya ia sangat suka rendang hati atau daging. 


Juga termasuk orang yang tak begitu memperhatikan pakaian. Tidak ada pula warna kesayangan. Biasanya pilihan disesuaikan dengan waktu pemakaian: warna terang untuk siang, warna gelap untuk malam. Dan pakaian bekasnya? "Diberikan kepada pelayan atau tukang kebun," ujar Meutia.


Ia memelihara barang-barangnya dengan baik. "Ada sepasang sepatu yang meskipun usianya lebih tua dari adik saya, Halida, tetap dipakainya dan terawat baik," tutur Meutia. Ketika akan pergi ke RSCM di pertengahan Juli itu, Meutia dan Halida yang membantu memakaikan sepatu tadi, berucap, "Ayah, bila ada yang meminta barang barang Ayah untuk disimpan di museum, pasti kita akan memilih sepatu ini lebih dahulu! Sang Ayah tertawa geli, lalu berkata, "O, itu pasti . . . !”


Dikenal juga sebagai orang yang tak pernah marah, tidak pernah memukul anak-anak dan tidak pernah menegur dengan suara keras. Bung Hatta disebut Gemala sebagai "orang tanpa ekspresi". Selalu diam. Selalu sangat tenang. Sehingga ketika suatu kali ia kelihatan sangat panik dan gugup, Gemala mencatat hal itu sebagai hal yang tak bisa dilupakan. 


Keluarga Hatta memiliki rumah ‒selain yang di Jalan Diponegoro ‒ di Megamendung, Puncak. "Dibeli dengan uang tabungan ayah ketika 11 tahun belajar di Belanda dulu," kata Gemala. Suatu hari, bocah Gemala dipanggul ayahnya di pundak, berjalan jalan di sekitar rumah di Megamendung itu. Tiba-tiba Bung Hatta tersandung batu dan jatuh, sehingga si kecil Gemala terlempar beberapa meter. Bung Hatta pun sibuk memeriksa keadaan anaknya yang, untunglah, terlempar ke tumpukan alang-alang.


Pinjaman


Gemala menilai lagi: "Ayah adalah orang yang tak pernah menggugat. Ayah selalu menerima apa yang ada dan apa yang diberikan kepadanya." Digambarkannya masa masa sulit waktu lalu, di mana keluarga itu harus berdiri di atas uang pensiun se orang bekas wakil presiden yang ternyata tak seberapa. Tapi tak sepatah pun tergetar keluhan dari bibirnya." 


Untunglah belakangan ada keringanan dalam hal pembayaran listrik dan ledeng. Jatah beras yang terus diterima juga ikut meringankan beban. Selebihnya adalah kehidupan yang amat bersahaja. Dan sedikit hiburan jika ada undangan dari pemerintah asing atau sebuah organisasi kepada Bung Hatta sebagai penceramah, tamu atau sebagai sahabat ‒ yang berarti adanya sekedar uang imbalan dan kesempatan ke luar negeri.


"Tanpa undangan, pergi ke Singapura saja pun tak mungkin bisa," kata Gemala. "Sebab ayah dahulu berhenti dari jabatannya sebagai wakil presiden tanpa membawa uang sepeser pun dan tanpa memiliki saham di berbagai perusahaan." Dan mobil Mercy serta Fiat itu? "Yang bernomor 17845, dari pemerintah. Yang lain itu dipinjami." 


Sambil mengenang masa lalunya, puteri kedua yang sejak 1970 kuliah di Fakultas Kedokteran Ul dan 1½ tahun lalu memperoleh bea siswa belajar di Australia sampai memperoleh gelar MRA itu, mengatakan bahwa ayahnya tak pernah menunjuk tokoh tertentu untuk dijadikan model bagi anak-anaknya. "Kita dibiarkan tumbuh dan diberi kebebasan memilih sendiri."


Kalaupun ada yang ditekankan juga bukan dipaksa ialah agar anak-anaknya belajar mengaji dan rajin sembahyang. "Ayah sendiri yang mengajari kami membaca alif bata. Sesudah khatam barulah dipanggil guru mengaji." Dan ketika masih sehat, Bung Hatta bersembahyang Jum'at di Mesjid Matraman yang tak jauh dari rumah.


Pernahkah Hatta yang "serius" itu nonton film? "Bila ada film yang baik ‒ menurut rekomendasi Ibu atau Halida," ujar Meutia, yang sehari-harinya dosen di Fakultas Sastra Ul. "Ayah senang film sejarah." Ia pun menggemari musik Bach, Mozart dan Strauss. "Kalau mBak Soerti Soewandi menyanyi diiringi piano oleh Pak BJ. Supardi pada ulang tahun ayah, ayah minta mBak Soerti menyanyikan Nyiur Melambai," ujar Meutia lagi. Lagu-lagu perjuangan yang disukainya ialah Halo-halo Bandung dan Dari Barat Sampai ke Timur.


"Ayah juga suka menonton dan menyukai drama-drama Rendra. Dan Rendra selalu memberi undangan pada ayah," kata Gemala. Tapi, benarkah Bung Hatta tak pernah membaca novel sehingga Sutan Sjahrir konon pernah menyebutnya sebagai orang yang "kering"? Di perpustakaan pribadinya yang menyimpan sekitar 10.000 buku, memang tak terselip novel, apalagi buku saku. "Saya hanya pernah melihat satu saja ‒ yaitu Gone With The Wind," kata Gemala.


Tapi menurut Meutia, sewaktu masih di Belanda dulu, "ayah rajin membaca novel." Waktu kembali ke Indonesia, sebagian besar novelnya dibagi-bagikan kepada teman-temannya yang masih tinggal di sana. "Sebab buku-buku ilmiah yang musti dibawanya pulang sudah enambelas peti." Tapi ketika dibuang ke Digul dan Bandaneira, ia juga membaca novel. Sesudah itu tidak lagi, "karena kesibukan dalam tugas ilmunya." Menurut Meutia lagi, "ayah menyukai War and Peace-nya Leo Tolstoi."


Hatta dikenal pula sebagai orang yang dengan ketat menjaga anak-anaknya agar berbahasa Indonesia secara benar. Kata Halida "Ayah tidak mengerti kalau saya berbahasa gaya sekarang." Tapi ia menyebut suatu kejadian. Ketika mereka sedang berkumpul, Halida menggoda ayahnya dengan bertanya: "Ayah, siapa yang barusan habis bercukur?" Sang ayah lantas menjawab: "Gua," sambil tertawa.


Bung Hatta tak pernah membaca majalah hiburan. Yang dibacanya Prisma, Time dan Foreign Affairs yang lengkap dikoleksinya sejak terbitan 1932. Juga punya hampir semua nomor The Economist sejak terbitan 1852. Kedua majalah yang disebut terakhir itu masih dilangganinya sampai sekarang.


Olah raga yang disukainya, selagi muda, sepak bola dan berenang. Sekitar awal 1957 mulai bermain golf. Kemudian, sejak 1972 ber-orhiba. "Kata ayah, agar punya cadangan tenaga jika sakit."


Disiplin dan ketepatannya mengenai waktu sudah bukan rahasia. Tak heran jika banyak orang menghadiahkan arloji kepadanya. Cindy Adams, penulis biografi Sukarno, pernah ditolaknya karena terlambat datang. Dan "sebuah jam Omega pernah diberikan kepada suami saya karena jam itu terlambat satu menit," kata Meutia.


Ketika ditanya mengenai rencana pemerintah untuk membuat patung Bung Hatta, Meutia bilang tak tahu-menahu. Namun menurut Gemala, "ayah tidak menolak, meski tidak menginginkannya."


Lalu apakah peranan Pak Wangsa yang hadir di tengah keluarga itu berpuluh-puluh tahun? Kata Gemala: "Pak Wangsa bagi kami sudah merupakan ayah kedua." Meutia sendiri merasa sulit melukiskan betapa dekat hubungan ayah dari 4 anak dan kakek dari 14 cucu itu, dengan keluarganya. Bahkan, "Pak Wangsa juga ikut memberi penilaian terhadap calon-calon menantu. Dan dalam hal-hal tertentu saya mengeluh kepadanya, sebelum kepada ayah.”


Ucapan Nyonya Wangsa barangkali lebih menggambarkan hubungan itu: "Kami terpaksa membatalkan niat untuk menikmati pensiun di kampung. Tak tega meninggalkan Bung Hatta, sebab Bung Hattalah yang membesarkan suami saya," ujarnya. Emil Salim dan Prof. Widjojo mungkin punya kenangan lain semasa dulu "kuliah" di rumah Bung Hatta di Jalan Merdeka Selatan nomor 13 dengan bersepeda. "Kami semua sayang kepada ayah, karena ayah satu-satunya lelaki di rumah," ujar Halida. Apakah peranan ibu? "Jika ayah adalah pembuat aturan, maka ibu dan Pak Wangsa adalah polisinya," kata Gemala.


Tapi mengapa Bung Hatta sampai bisa kenal dan bahkan pernah berpotret bersama dengan Sawito? "Itu lantaran  Orhiba," Meutia menjelaskan."Sawito selalu datang pada saat-saat tak terduga. Misalnya, dia tiba-tiba saja muncul di pintu. Atau sewaktu kami sedang makan, dia datang. Kami tak mungkin menolaknya."


Sumber: TEMPO, No. 25, Th. IX, 18 Agustus 1979

No comments:

Post a Comment