27 May 2022

Sejarah Magelang - Muktamar NU di Magelang 1939

 Foto langka bersejarah, Muktamar NU di Magelang tahun 1939. Foto diambil di depan masjid Jami' Magelang. Diantaranya yang ada dalam foto adalah Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Sansuri (Jombang), KH. Asnawi, KH. Mahfudz (Kudus), KH. Baidowi (Lasem), KH. Dalhar, KH. Sirodj (Magelang).


Tampilan fashion poro kiai dan gus jaman dulu yang sudah cukup jarang ditemui hari-hari ini. Sarung dipadupadankan dengan jas. Sorbannya juga simpel minimalis, nyaris seperti blangkon. Ada juga peserta yang pakai setelan blangkon, beskap, dan jarik.












20 May 2022

Pasar rejowinangun magelang thn 1910

 Pasar rejowinangun magelang thn 1910




15 May 2022

Sejarah Magelang - Suasana sebelah selatan pasar Rejowinangun tahun 1980

 Selamat Berhari Minggu....


Foto suasana sebelah selatan pasar Rejowinangun tahun 1980an. Syahdu merayu...


:: Arsip Kota Magelang




14 May 2022

kartu iuran bulanan TVRI

 kartu iuran bulanan TVRI





Sejarah Magelang - Radio GKL FM 1991

 LEGENDA KOTA KITA.

Oleh : Bagus Priyana

Iklan Radio GKL FM tahun 1991.




12 May 2022

Sejarah Magelang - Armada Town Square (sekitar 2010-2011)

 Armada Town Square (sekitar 2010-2011) 


Oleh : Hamid Anwar


Foto diambil dari depan hotel Trio


Foto : hamidanwar.blogspot.com




06 May 2022

Sejarah Magelang - Legenda Magelang Bong Supit Moestam

 Legenda Kota Kita : BONG SUPIT MOESTAM

Oleh ; Cahyono Edo Santoso

Tempat paling membekas di ingatan mayoritas kaum Adam di Magelang. 

Foto (Alm.) Bp. Moestam (kiri) bersama temannya di depn rumah khitan Tengkon.


Foto : Poespo Adjie Wijaya




26 April 2022

Sejarah Magelang - Toko Bunga Art Floral Poncol Magelang

 Toko Bunga "ART FLORAL" Poncol, Magelang 


Oleh ; Cahyono Edo Santosa


Salah satu hal terindah di Magelang tentu saja adalah toko bunga dan pembibitan Dolle Chevalier yang terkenal di Grootenweg Noord 21. Toko bunga ini didirikan pada tahun 1904 oleh Ny. Chevalier. 

Berawal dari usaha kecil, tetapi melalui pengelolaan yang baik dengan pengiriman bunga yang sangat baik, bisnis ini memikat dan menarik perhatian masyarakat. Kemajuan besar terjadi saat Ny. Dolle, diajak Ny. Chevalier untuk bersama-sama mengelola toko bunga ini pada  bulan Juni 1934. 

Peresmian renovasi bangunan ruko yang diarsiteki oleh H. Pluyter dihadiri oleh pihak terkait dan masyarakat umum. 

Art Floral juga memiliki pembibitan sendiri di Trasan. Pembibitan  tersebut cukup banyak memasok bisnis bunga di Mageiang. 

Bisnis toko bunga ini sepenuhnya dikelola oleh pemiliknya sendiri, yaitu Ny. Dolle & Chevalier. Art Floral dikenal dengan pengiriman karya yang indah dan luar biasa, tapi dengan harga yang kompetitif!


Sumber : iklan kecik De Locomotief, 28 September 1934





25 April 2022

Sejarah Magelang - Jejak Tinggalsn Ratu Beatrx di Kota Magelang

 DE GEBOORTE PRINSES BEATRIX : Jejak Tinggalan Putri Beatrix di Kota Magelang (Bagian II)


Oleh : Chandra Wisnu zwardhana


Pesta kelahiran Putri Beatrix yang sudah mulai digelar sejak malam tanggal 31 Januari 1938 oleh Panitia Oranye, ternyata bukan perayaan satu-satunya yang diselenggarakan oleh pemerintah kota. Perayaan kelahiran calon pewaris tahkta Kerajaan Belanda tersebut justru adalah acara pembuka rangkaian acara lainnya. Disebutkan bahwa, sehari setelah kelahiran Sang Putri yaitu 1 Februari 1938, sebuah perayaan besar digelar oleh pihak Militer Magelang dengan mengadakan pesta musik di kompleks garnisun dan gelar pasukan KNIL pada pukul 7 pagi di lapangan garnisun (militaire kampementen). Dalam acara ini, seluruh serdadu yang ada di dalam garnisun berbaris dalam formasi sempurna yang siap menjadi penjaga marwah Kerajaan Belanda di Tanah Hindia.


Upacara dan gelar pasukan yang diselenggarakan oleh pihak militer ini dihadiri oleh seluruh pejabat regional dan lokal serta seluruh Komite Oranye selaku panitia perayaan. Diantara tamu kehormatan yang hadir pada acara tersebut adalah Komandan Divisi II (Commandant van Tweede Divisie) Kolonel Pesman, Komandan pasukan (Troepencommandant) Kolonel van Resteren selaku inspektur upacara. Dalam kesempatan ini, komandan divisi II, Kol. Pesman memberikan pidato singkat dan ditutup dengan sorakan "Hoera" sebanyak tiga kali kepada Putri yang baru lahir dan Pasangan Pangeran dan Keluarga Kerajaan Belanda. Setelah upacara selesai, pasukan KNIL dari garnisun kemudian berbaris dan berparade keliling kota. 


Setelah upacara dan parade militer usai, acara perayaan kemudian dilanjutkan dengan kebaktian diberbagai gereja seperti de Protestanche Kerk di Aloon-Aloon dan Gereformeerde Kerk pada pukul 10 pagi. Disaat yang sama, masyarakat muslim Magelang juga menggelar doa bersama di Masjid Agung Magelang untuk keselamatan sang putri.


Setelah acara doa selesai, Walikota Nessel van Lissa, selaku ketua Panitia Oranye, melakukan upacara seremonial penanaman pohon beringin (gedenkboom/waringin) di Badaanplein pada pukul 11.15 sebagai wujud simbolisme kebahagiaan atas kelahiran Putri Beatrix. Walikota Nessel dalam pidatonya juga memberi nama pohon beringin itu nama depan putri yang baru lahir, "BEATRIX". Dalam pidatonya, Nessel berkata, 


"Semoga dia (pohon beringin) berhasil menjadi pohon yang besar dan kuat, yang akan terbukti layak mendapatkan (gelar) Prinses van Oranje Nassau. Semoga putri kecil ini atau orang tuanya suatu saat nanti datang di kota ini dan melihat pohon itu, dan kemudian mengenali di dalamnya sedikit tanda cinta dan kasih penduduk Magelang terhadap keluarga kerajaan kita." 


Setelah sorakan "hoera" tiga kali yang ditujukan kepada anak Pangeran, upacara ditutup dengan pemutaran lagu kebangsaan Wilhelmus oleh Korps Resimen Musik (regimentsmuziekkorps). Pesta perayaan kelahiran Putri Beatrix tidak hanya berhenti di situ. Rangkaian agenda pesta rakyat di Magelang justru baru saja akan dimulai. Bersambung...


-Chandra Gusta Wisnuwardana - 






*kemankah pohon beringin Beatrix ini sekarang? Sungguh disayangkan, tidak nampak adanya jejak pohon beringin yang pernah ditanam dan tumbuh di Taman Badaan sekarang ini. Harapan dan doa walikota Nessel yang pernah diucapkan pada 1 Februari 1938, memang benar terwujud di kemudian hari. Putri Beatrix pada tahun 1995 benar-benar menjejakkan kakinya di Magelang. Namun sayang, ia tidak mampir ke Badaanplein dimana sebuah pohon beringin pernah didedikasikan untuk dirinya, melainkan ia bersama keluarga banya bertamasya di Candi Borobudur saja.

21 April 2022

Stasiun Muntilan

 Oleh : Cahyomo Edo Santosa


Foto dengan latar belakang Stasiun Muntilan tempo doeloe


Koleksi : Eko Budi Sulistya




20 April 2022

Sejarah Magelang - Dung Penanda Maghrib yang Ditunggu

 DUNG, PENANDA MAGRIB YANG DITUNGGU

Oleh : Bagus Priyana

Di era tahun 1980-an, setiap bulan ramadhan tiba, inilah momen yang ditunggu-tunggu setiap jelang buka puasa.


'Dung' begitu orang menyebutnya, berupa luncuran mercon ke udara di Alun2 Kota Magelang sebagai penanda jika magrib telah tiba.


Kolektif memori masyarakat usia dewasa masih mengingatnya dengan baik. Suaranya terdengar sampai puluhan kilometer. Luncuran mercon di udara selalu jadi tebakan.


SAVE PAHINGAN

 Oleh : Danu Sang Bintang


"Ini perintah walikota!" Bentak petugas itu kepada saya. 

"Suruh sini walikotanya!" Kata saya tak kalah sengit. Kami beradu muka sangat dekat sekali. Sementara seorang pedagang ketakutan di belakang saya. Saya balikkan badan, dan berkata, "Pak, sampeyan masuk halaman masjid saja." Saat petugas hendak mencegah, dan tetap bersikukuh membawa gerobak pedagang masuk truk, kembali saya beradu mulut. "Halaman masjid milik takmir dan warga Kauman. Pemkot tak berhak ikut campur!" Seru saya.  


Atas ijin kyai Miftah, ketua takmir, halaman masjid Jami' dan gang2 sempit kauman dijadikan tempat mereka berdagang hari itu. Hari itu adalah Minggu pahing, hari spesial umat muslim menyelenggarakan rutinan pengajian Pahingan. Mestinya, ribuan jemaah dari berbagai penjuru hadir di sini, dan puluhan pedagang menggelar dagangannya dengan riang gembira. Namun hari itu suasana sangat mencekam. Ratusan aparat yg terdiri dari TNI, polisi, satpol PP, linmas, bahkan hingga intel siap melaksanakan perintah walikota untuk merelokasi pasar Tiban Pahingan. Bbrp pedagang yg datang terlalu pagi sdh kadung diangkut truk dibawa ke CFD RINDAM. kami menyelamatkan sisanya. 


Pasar Pahingan dianggap melanggar aturan kawasan hijau alun2 dan perwal terkait aktivitas di kawasan itu tanpa ijin walikota. Padahal selama sekian rezim, pasar ini tak pernah diusik. Usianya yg lebih dari 60 tahun pun mestinya sdh layak disebut sebagai intangible heritage. Bagi kami, kehadirannya yg hanya 35 hari sekali itu tak sebanding dng kuliner tuin van java dan angkringan yg sama2 melanggar kawasan hijau setiap hari yg justru difasilitasi pemkot. Apalagi pedagang mainan di tengah lapangan yg saat itu pun kami tak yakin melakukan ijin sebelum berdagang. Karena saat pemkot diminta dokumen2 perijinan para pedagang kuliner, angkringan, dan mainan itu tidak bisa menunjukkannya. Ini bentuk ketidakadilan dan kami anggap ada maksud2 tersembunyi. 


Mungkin karena ndablegnya kami, akhirnya pemerintah menyerah dan meminta audiensi dng kami. Dicapailah kesepakatan tertentu terkait pasar Pahingan itu. Pasar boleh berdagang tetapi tidak di kawasan alun2, melainkan di jalan raya depan masjid, yg akan ditutup setengah hari. Tidak adil sebenarnya, tapi lebih baik drpd tidak sama sekali. Apalagi pedagang akan dijanjikan payung atau tenda untuk berteduh. Kami sepakat. Namun, urusan peneduh itu ternyata hingga hari ini hanya janji kosong belaka. 


Dan maksud tersembunyi itu ternyata semakin mewujud. Bangunan air mancur menari hadir di seberang masjid, tepat di mana para pedagang berjualan sebelumnya, merusak lansekap alun2. Kegilaan merubah fungsi alun2 dari lansekap sebagai taman di rejim itu memang sungguh terlalu. 


Saat itu, kami memang dihadapkan pada realita2 di mana mau tak mau kami harus penuh kecurigaan dng langkah2 pemkot. Termasuk ontran2 perebutan tampuk takmir yg disinyalir dilakukan kelompok radikal, aktivitas di masjid yg diam2 oleh mereka, dan lain sebagainya. Kami hanya ingin mempertahankan masjid ini sebagaimana adanya. Melestarikan bangunannya yg sdh ratusan tahun, aktivitas sosio kulturalnya, religinya, dan hal2 yg terkait padanya. Pengajian dan pasar Pahingan adalah ikonnya. Maka, dng segenap upaya pantas kami perjuangkan. 


12 orang kami berjuang melawan oligarki kekuasaan yg saat itu sedang jaya2nya. Tidak ada yg berani melawan selain kami. Bahkan DPRD pun secara lembaga yg mestinya menjadi penyambung lidah rakyat diam seribu bahasa. Pun banyak teman kami yg akhirnya memilih tiarap karena diancam ekonomi dan statusnya. Namun gelombang dukungan juga mengalir deras. Pers baik lokal maupun nasional hampir setiap saat menghubungi kami dan mewartakan. Jemaah gereja dan klenteng di sekeliling alun2 ikut mensupport dng bergabung dlm gerakan2 kami. Masyarakat ikut bergerak membagikan ulang postingan2 kami. Dan masih banyak lagi peran lainnya. 


Tidak ada perjuangan yg instan. Hampir setahun penuh kami berjuang. Banyak hal yg kami korbankan. Kami dijauhi teman, dikotakkan dari pekerjaan yg berhubungan dengan pemkot. Bahkan rumah om Bagus Priyana sempat juga kena molotov. Hingga saat berangkat di hari itu, saya ijin sama istri untuk didoakan yg terbaik. Jika ada apa2 mohon diikhlaskan karena kami akan menghadapi segala kemungkinan. Bisa bentrok fisik, diciduk, atau dikriminalkan. Atau mati. Entah. 


Kemarin petang, seperti kebiasaan kami 'mengeti' perjuangan itu, setiap akhir pekan hari Pahing di bulan ramadan, kami berkumpul. Berbuka puasa bersama, dan kangen2an. Kali ini tak bisa banyak yg hadir karena bebarengan dengan paskah. Banyak sedulur kristiani yg mengikuti ibadah sehingga tak bisa bergabung. Tak mengapa. Kami maklum dan justru meminta maaf karena mbareng2i. 


Pejuang pahingan ada 12 orang. Pakdhe MBilung Sarawita menyebutkan, kali ini ngepasi paskah. Murid Yesus juga ada 12 orang. Bedanya, di Pahingan tak ada yg mirip Yudas. Ya, kami memang benar2 liat dan percaya satu sama lain. Hubungan kami sudah seperti sekandung. Dan kami sungguh menghormati dan menyayangi orang2 yg berjuang bersama kami dulu sebagai saudara yg layak untuk saling melindungi. Spirit inilah yg layak dikabarkan kepada segenap warga hingga menjadi embrio toleransi. Toleransi inilah yg mestinya dibangun. Sebab saya lebih percaya bahwa Magelang sdh relijiyus sejak dulu meski tanpa gembar gembor, jauh sebelum pemerintah dng gagahnya menggelar program kota relijiyus. Tapi nggak papa juga, mungkin karena nggak punya ide lainnya yg lebih produktif. 





#kawandanu #savepahingan #magelang 


Muhammad Nafi Kang Adhang Legowo Paulus Agung Pramudyanto Iwan Maci Ady Saputra Katri Andriyanto Pangeran Arupadhatu Andritopo Senjoyo Pakdhe Wotok Jojok Sihab Yoko Sukoyok Glady Aleida Nurlaela Sukri Yoga Kurnianto Yoga Mboiz Reta Puspita Chandra Gusta Wisnuwardana Bambang Sarwo Wiedyas Cahyono Masyoga Cheng Cheng Phoo Bambang Eka Bep Sus Anggoro Christoporus Indrayanto Greg Wijaya Fransisca Nenny Genta Palugada

Tdar Sakti Magelang

Oleh : Tomo Lali Kadonyan

para legenda sepak bola ini tidar sakti Magelang




17 April 2022

Sejarah Magelang 1935

Oleh : chsndra Wisnu Wardhana 


Jejak serba - serbi serambi de Groote Moskee te Magelang yang bergaya Mughal (Moorsch - British India) hasil renovasi tahun 1935 karya arsitek H. Pluyter dan sentuhan akhir Hangelbroek atas inisiasi dan dukungan dari Raden Adipati Aryo Danoesoegondo selaku Bupati ke V Magelang, Pemerintah Kota Magelang (Stadsgemeente Magelang), Residen Kedoe dan masyarakat umum Magelang.




11 April 2022

PO Bis di Magelang

Oleh : Bagas Kara


 Di Magelang ada beberapa PO Bis yang beroperasi melayani berbagai jurusan. Kebanyakan melayani trayek lokal Semarang-Magelang -Jogja atau arah menuju Jakarta, Sumatra atau Jawa Timur, Bali, Lombok, termasuk ada juga bus Pariwisata. Yang khusus pariwisata yaitu bus Easy Trans (grup New Armada). Remaja, dan  Sanjaya.

Perusahaan Otobus yang ada di Magelang

Santoso

Ramayana

Easy Trans 

Sumber Waras Putra 

Handoyo 

Maju Makmur

Mustika 

Indo Trans 

Maranatha  

Remaja

Sanjaya




09 April 2022

SEJARAH MAGELANG - SEJARAH HARI JADI KOTA MAGELANG

 Oleh ; Danu Sang Bintang





"Dadi ngene. Jajal mok itungen. Magelang kuwi katulis kawiwitan tahun 907. Saiki tahun 2022. Piye matematikane kok isa 2022 dikurangi 907 ketemune 1116? Kan kudune 1115? Sing goblok aku apa sing kliru Muhammad bin Musa Al Khawarizmi?" 


Dimas Indra Muhammad Nafi Hudi Danu Wuryanto 


#kawandanu #lawasansaklawase #anakmudamembangunkota #omahganten

SEJARAH MAGELANG - SEJARAH PEMBENTUKAN HARI JADI KOTA MAGELANG

 1115 atau 1116????

Oleh : Liam Ang Ewoo


Pada suatu ketika, ada sebuah kerajaan besar pada masa itu. Kerajaan itu adalah Medang, juga disebut Mataram Kuno atau Mataram Hindu, adalah kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah pada abad 8. Pada waktu itu kerajaan sedang dipimpin oleh  Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung, kerajaan mengalami perkembangan pesat di berbagai bidang, baik pertanian, peternakan, perdagangan, keamanan, sosial, politik maupun peribadatan. Hal ini tak terlepas dari kerja keras dan pengabdian rakyatnya, serta kehidupan beragama yang terjaga. Pada suatu saat, di istana  berlangsung pertemuan antara Sang Raja dengan para ASN  yang membawahi masing masing wilayah.


Pada waktu itu kerajaan akan mengadakan pesta pernikahan. Undangan mulai disebar pada para tamu, namun masalah muncul disebuah desa Kuning, dimana para bandit sedang merajalela. Diduga, disinyalir, diperkirakan para bandit itu dapat menghambat acara yang akan dilaksanakan. Berita pernikahan Sang Raja cepat menyebar hingga pelosok desa. Sesuai perintah dari para patih, para kepala desa  mengadakan pertemuan.  Kepala Desa Pu Sna, Pu Kola, Pu Kara, Pu Punjeng, Pu Sudraka, memegang peranan penting dalam yang diadakan di rumah Pu Sna ini. Mereka berlima terkenal sangat baik dalam memimpin wilayahnya.  


Maka berkumpullah mereka untuk mengatur strategi gerilya setelah membaca buku Fundamentals of Guerrilla Warfare. Dengan panduan Buku tersebut, mereka melakukan Razia dadakan tanpa adanya pemberitahuan yang membuat masyarakat kalang kabut karena pada lupa bawa stnk gerobag arco mereka. Dan yang ditunggupun tiba, muncullah para bandit dengan muka imut nan menggemaskan mereka segera menghadang Razia tersebut. Adu mulutpun terjadi antara para bandit dan para patih sehingga karena tidak menemukan titik temu dari musyawarah untuk mufakat, terjadilah tawuran tak terelakkan. Tongkat, kayu dan batu jadi senjata tawuran, namun setelah half time kedudukan masih sama kuat 0-0 . 


Babak keduapun dimulai , serangan awal dari bek depan para bandit dengan tiki-takanya membuat strategi 3-5-2 catenaccio para patih terlihat biasa saja. Semakin diserang maka pertahanan para patih malah semakin kuat, hingga pada suatu ketika disaat para bandit mulai kelelahan akibat serangan beruntun tranpan henti membuat sebuah celah di sisi pertahanan para bandit. Para patih memulai serangan balik dengan sangat sigap, strategi catenaccio dipadukan dengan man to man marking membuat pertahanan para bandit kewalahan dan setelah beberapa saat hancurlah pertahanan para bandit. Para patih mulai menghujani serangan demi serangan dan luluh lantaklah para bandit. 

Para banditpun K.O setelah beberapa jab dan hook dari para patih menghujam penuh berkah. Para banditpun akhirnya ditawan, sebelum dibawa ke pihak berwajib tak lupa masyarakat yang ingin salam olahragapun ikut andil untuk urun sun sitik pada para bandit. Berita kemenangan itupun segera  menyebar kesegala penjuru. Seluruh laporan, telah dipelajari oleh penasehat kerajaan. Raja segera memerintahkan semua  pejabat untuk mempersiapkan perlengkapan. Dia akan  berkunjung ke desa Kuning, desa terparah karena serangan para bandit.


Tak lama kemudian , di desa Kuning, para kepala desa sekitar  turut  bekerja untuk menyambut kedatangan raja, terutama  Pu Sna, Pu Kola, Pu Kara, Pu Punjeng dan Pu Sudraka. 

Saat yang dinanti tiba. Di tanah lapang Desa Kuning, diatas mimbar, Sang Raja berdiri. Seluruh rakyat yang hadir terlihat hormat dan khidmat sambal ngantuk seperti anggota DPR sekarang, mendengarkan titah Sang Raja. Sang rajapun berterimakasih pada para patih Pu Sna, Pu Kola, Pu Kara, Pu Sudraka, dan Pu Punjeng.” Dengan isyarat tangan, Sang Raja memerintahkan  mereka mendekat. Mereka berlima berdiri, dan berjalan mendekat, menghadap Sang Raja.

Berkat jasa mereka berlima,  negara kembali aman. Karena pengabdian para patih selama ini, baik pada saat perkawinan kerajaan,  pengiriman pada kerajaan berupa hasil bumi yang melimpah, patuh pada perintah kerajaan, menjaga kebersihan tempat peribadatan, upacara keagamaan di Makangkuseswara, Puteswara, Kutusan, Silabhedeswara, Tuleswara, serta telah memberikan rasa aman terhadap warga, maka Kerajaan  memberikan  sebidang tanah perdikan yang akan kalian pimpin secara bergantian, masing masing dalam jangka waktu 3 tahun. 


Acara peresmian inipun dihadiri oleh banyak pihak yang ingin menonton ataupun dating demi sekedar amplopan. 

Selain itu terdapat pula wilayah atau daerah yang hadir sebagai saksi penetapan Sima (perdikan/otonom) yakni : 

wanua i miramiraḥ watak ayam tĕas 

wanua i paŋḍamuan sīma ayam tĕas 

wanua i waduŋ poḥ watak paṅkur poḥ ; 

wanua i kataṅguhan watĕk hamĕas. 

wanua i paṇḍamuan sīma wadihati

wanua i sumaṅka watak kaluŋ warak. 

wanua iŋ kabikuan iŋ wḍi taḍahaji paṅgul. 

wanua i sumaṅka watak taṅkil sugiḥ

Pejabat yang Hadir antara lain : 

• Juru di Ayam Tĕas ; Miraḥmiraḥ di Ayam Tĕas. wakilnya di Halaran desa di Paṇḍamuan sīma Ayam Tĕas 

• Juru di Makudur di Patalĕsan penduduk desa di Wadung Poh yang masuk wilayah Pangkur Poh, wakilnya di Wawaha penduduk desa di Katangguhan yang masuk wilayah Hamĕas, 

• (pejabat) Ayam Tĕas yang melakukan pembatasan (sīma) penduduk desa di Paṇḍamuan sīma milik Wadihati [sīma wadihati], 

• Makudur penduduk desa Sumangka yang masuk wilayah Kalungwarak, 

• Tiruan (pejabat) Patūngan penduduk desa di Kabikuan di Wḍi, 

• Taḍahaji di Panggul, 

• Juru dari Wadua Rarai di Patapān penduduk desa di Sumangka yang masuk wilayah Tangkil Sugih,

• Sang Juru di Patapan yaitu (pejabat) Matanda, (pejabat) Juru dari Lampuran (pejabat) Juru dari Kalula, (pejabat) Juru dari Mangrakat

• (pejabat) Patiḥ di (desa) Kayumwungan, di (desa) Sukun, (di desa), (pejabat) Wahuta Petir, (di desa) Paṇḍakyan 

• (pejabat) Wahuta Lampuran, (di desa) Paṇḍakyan 

• (pejabat) Parujar dari Patiḥ Kayumwungan, (di desa) Sukun, (di desa) Airbarangan, (pejabat) Kalima di Petir. (pejabat) Juru di Paṇḍakyan, (pejabat) Samwal

rāma i tpi siriŋ irikāŋ kāla (wilayah-wilayah yang menjadi batas sima (perdikan) dalam Prasasti Mantyasih : 

i muṇḍuan (Temanggung ada Prasastinya) ; i haji huma; i tulaṅair (Temanggung ada Prasastinya) ; i wariṅin ; i kayu hasam ;i pragaluh ; i wurut ; air hulu ; i sulaŋ kuniŋ ; i laṅka tañjuŋ ; i samalagi ; i wuṅkal tajam ; i hampran ;i kasugihan ; i puhunan ; i praktaha; i wa°atan; i turayun; i kalaṇḍiṅan; i kḍu; i pamaṇḍyan ; i tpusan (Temanggung ada Prasastinya).

Daerah-daerah ini sebagian besar ada di Kab. Temanggung.


Pada acara tersebut Pu Sna, Pu Kola, Pu Kara, Pu Sudraka, dan Pu Punjeng, tak dapat menyembunyikan perasaan mereka. Rasa haru, bangga, terhormat, dan rasa syukur tak dapat mereka tahan. Mereka serentak merendahkan diri, dan berdiri dengan lutut mereka. Rasa terimakasih tak terhingga mereka sampaikan pada Sang Raja. Para pejabat istana ikut merasa bangga dan haru. Sorak sorai kebahagiaan diiringi letupan long bumbung di Desa Kuning itu dilanjutkan dengan pesta rakyat selama 7 hari 7 malam. Semua bahagia, dari Sang Raja hingga seluruh warga di desa desa.


Begitulah kisah heroik para avenger jaman dahulu, 


Tamat


Rasah dianggep seriyess


Selamat hari Jadi Kota Magelang yang Ke 1116 opo 1115???

Mbuh lah sak bahagiane wae….

2022-907 = 1105



SEJARAH MAGELANG - EDI LONDO ORANG INDO MAGELANG

 Edi Londo dan Edi Londo, Orang Indo Magelang dalam bidikan TEMPO


Oleh : Bagus Priyana


Keduanya bernama sapaan yang sama, Edi Londo karena memiliki wajah yang mirip wong Londo (Belanda). Itu karena mereka memiliki darah Indo. Keduanya sama2 memiliki kesamaan hobi, mengendarai sepeda motor legendaris dari Amerika, Harley Davidson. 


Yang satu bernama Edi Sumardiman (90) yang lahir dari pasangan Sumardiman & Elizabeth Ani Vanhatten. Sumardiman jatuh cinta kala bertemu dengan Ani di sebuah tukang cukur di Jl. Pastoeran (kini Jl. Yos Sudarso) Kota Magelang.


Yang satunya bernama Jan Pieters Eddy Thomson alias Edi Susilo (70) yang lahir dari pasangan Lorensius Suhadi, seorang tentara BKR (Badan Keamanan Rakyat) dan Emiliana Francisca alias Siti Aminah. Emiliana Francisca merupakan wanita Indo yang lahir dari pasangan Gerardus Pardoen (seorang tentara KNIL) dan Kipoek dari Gombong.


Keduanya berdarah Indo, yang satu generasi ke 1 yang kedua generasi ke 2. Keduanya memiliki kisah hidup yang nyaris sama. Kesamaannya generasi di atasnya memilih tetap tinggal di Magelang, tidak eksodus ke Belanda kala masa bersiap antara tahun 1945-1949.


Keduanya bertempat tinggal berdekatan, masih 1 kelurahan yakni di kelurahan Magelang. Yang satu di Kampung Botton Nambangan dan yang satunya di Kampung Tulung. Dan saya tinggal di kampung di antara kedua kampung tersebut. 


Mereka 'sumringah' saat saya tunjukkan majalah Tempo yang memuat kisah hidup mereka. Mereka tak menyangka bahwa kisah hidupnya menjadi sebuah sajian artikel yang menarik untuk dibaca.


Kisah hidup mereka telah ditulis oleh majalah ternama Indonesia itu di edisi 6-13 feb 2022 lalu. Berikut link majalah tersebut.

https://majalah.tempo.co/read/selingan/165462/mengapa-banyak-warga-indo-dan-tentara-knil-memilih-indonesia






SEJARAH MAGELANG - SEJARAH LAHIRNYA HARI JADI KOTA MAGELANG

 ARSIP BUAT APA

Oleh : Muhamad Nafi

Sesorean ini, berempat kami berkunjung ke Kantor Depo Arsip di pojok Balaikota. Saya, sehabis kerja langsung meluncur ke sana begitu tahu teman-teman yang lain sudah berkumpul. Beberapa hal ingin kami ketahui dengan sungguh-sungguh sehingga hujan lebat pun kami terabas. Layanan dari ASN bidang arsip sungguh sangat kami apresiasi, mereka benar benar melayani masyarakat dan ramah dengan semua tamu yang berkunjung. Sayangnya, dari beberapa data dan arsip yang ingin kami ketahui tentang beberapa hal di Kota Magelang hanya satu yang bisa kami dapatkan. Mungkin karena mepetnya waktu atau mungkin karena katalog arsip yang belum sempat kami tanyakan.


Satu hal tersebut adalah tentang penentuan Hari Jadi Magelang. Semua tahu itu berangkat dari Prasasti Mantyasih I yang bertarikh 11 April 907 Masehi. Mantyasih sima/perdikan/wilayah yang yang dipercaya sekarang jadi Kampung Meteseh, kampung di ujung barat Kota Magelang. Di awal tahun 1989 di masa kepemimpinan Walikota Magelang Bapak Bagus Panuntun, salah satu walikota legendaris bagi Magelang, diinisiasi penentuan hari jadi melalui serangkaian kajian dan seminar oleh para pakar, akademisi, tokoh masyarakat dan ASN terkait waktu itu, beberapa saya kenal baik sampai sekarang. Ujungnya ditetapkanlah oleh DPRD Kota Magelang dalam sebuah Peraturan Daerah yang bertanggal 6 April 1989 tentang penentuan hari jadi. Yang didahului sebulan sebelumnya, tertanggal 6 Maret 1989, Pemerintah Kota Magelang melalui Surat Keputusan Walikota membentuk Panitia Peringatan Hari Jadi Magelang ke 1082 di Tahun 1989 dengan dasar yang sama yaitu Prasasti Mantyasih I hasil diskusi tim yang sama pula.


Anehnya, surat undangan dan mungkin juga publikasi tentang Peringatan Hari Jadi Magelang tersebut adalah sebagai peringatan yang ke 1083. Melihat keanehan ini menimbulkan banyak pertanyaan, antara lain; apakah itu merupakan ketidaksengajaan atau kelalaian dari panitia tersebut? atau apakah panitia mempunyai perhitungan lain yang bertentangan dengan keputusan  Walikota waktu itu?


Sebagaimana kita tahu, bisa dimengerti bahwa gesehnya penghitungan angka tahun hari jadi Magelang yang sekarang dikatakan peringatan ke 1113 bukannya 1112 secara ilmu hitung dari tahun 907, adalah dimulai karena peristiwa kegesehan ini.


Dalam arsip yang kami baca, setahu kami masih ada panitia yang masih hidup sampai sekarang, yaitu Bapak Alit Maryono yang bertempat tinggal di Kampung Ringinanom. Semoga kami bisa bertemu beliau untuk menanyakan tentang kesaksian beliau saat jadi panitia waktu itu. Beliau adalah salah satu guru kami dalam berkesenian dan berkebudayaan di Magelang ini. Salam takdzim dan doa sehat selalu untuk beliau.


Sebetulnya masih ada yang ingin saya tuliskan tetapi jari saya sudah pegel pegel, maklum saya termasuk anggota Komunitas Nunal Nunul Dalam Memakai HandPhone, disingkat KONNDAMAI HAP.


Selamat merayakan hari jadi Magelang dan salam hangat dari pinggir kali nggih...


MN

11/04/2019



















SEJARAH MAGELANG

 Oleh : Firsty Luvy

Waktu main ke rumah ibu saya, ada album foto keluarga jadul dan saya menemukan foto-foto ini. Dulu eyang buyut saya adalah kepala sekolah pendidikan guru agama di magelang, saat menjadi kepala sekolah, rumahnya persis di sebelah sekolah tersebut. 


Sekitar tahun 2018 saya sempat ke magelang dan mengunjungi tempat tersebut yg mana sekolahnya sudah menjadi cafe dan rumahnya menjadi tempat pencucian mobil tp saya lupa untuk mengambil foto,