12 June 2026

Jalur Trem Uap Magelang-Ambal Sejauh ini, belum banyak yang mengetahui bahwa pada masa kolonial, sudah ada wacana untuk membuat jalur trem uap yang menghubugnkan antara Magelang dengan wilayah pesisir selatang Purworejo dan Kebumen. Ide tersebut pertama kali dicetuskan oleh seorang Belanda bernama H.W. van Dalfsen. Pada masa tersebut, setiap individu dapat mengajukan konsesi Pembangunan jalur kereta api kepada pemerintah dengan mengikuti aturan yang sudah ditentukan. Dalfsen sendiri mengajukan konsesi tersebut pada 4 Juli 1896 dengan rute sebagai berikut ; A. seksi pertama dari Salaman-Loano-Purworejo B. seksi kedua dari Salaman-Borobudur-Muntilan. C. Seksi ketiga dari Purworejo-Purwodadi-Jogoboyo-Ambal. D. Seksi keempat dari Purworejo-Kemiri-Pituruh E. Seksi kelima dari Kemiri-Kutoarjo-Ketawang F. Seksi keempat dari Ambal-Petanahan-Kebumen G. Seksi keenam dari Ambal-Puring. Jika melihat rencana yang diusulkan, terlihat bahwaw Dalfsen tampak begitu ambisius untuk dapat menghubungkan sejumlah tempat di Purworejo dan Kebumen dengan trem uap, terlebih saat itu trem uap sedang menjadi moda transportasi antar wilayah yang popular karena lebih efisien dibandingkan dengan kereta api regular. Pemerintah kolonial kemudian memberikan izin kepada Dalfsen dengan syarat bahwa jalur yang diajukan oleh Daflsen dapat terkoneksi dengan jalur kereta milik SS dan NISM. Selain itu, jalur kereta Purworejo-Magelang dan Salaman-Muntilan harus dapat dilalui oleh kereta api milik SS. Sayangnya, hingga Belanda sudah tidak lagi menjajah rencana yang dibuat oleh Dalfsen tidak jadi terwujud. Sumber : Bataviaasch nieuwsblad 16 Juni 1896 Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1901 Indische Spoorweg Politiek Deel VIII.

 Jalur Trem Uap Magelang-Ambal



Sejauh ini, belum banyak yang mengetahui bahwa pada masa kolonial, sudah ada wacana untuk membuat jalur trem uap yang menghubugnkan antara Magelang dengan wilayah pesisir selatang Purworejo dan Kebumen. Ide tersebut pertama kali dicetuskan oleh seorang Belanda bernama H.W. van Dalfsen. Pada masa tersebut, setiap individu dapat mengajukan konsesi Pembangunan jalur kereta api kepada pemerintah dengan mengikuti aturan yang sudah ditentukan. Dalfsen sendiri mengajukan konsesi tersebut pada 4 Juli 1896 dengan rute sebagai berikut ; 


A. seksi pertama dari Salaman-Loano-Purworejo

B. seksi kedua dari Salaman-Borobudur-Muntilan.

C. Seksi ketiga dari Purworejo-Purwodadi-Jogoboyo-Ambal.

D. Seksi keempat dari Purworejo-Kemiri-Pituruh

E. Seksi kelima dari Kemiri-Kutoarjo-Ketawang

F. Seksi keempat dari Ambal-Petanahan-Kebumen

G. Seksi keenam dari Ambal-Puring.


Jika melihat rencana yang diusulkan, terlihat bahwaw Dalfsen tampak begitu ambisius untuk dapat menghubungkan sejumlah tempat di Purworejo dan Kebumen dengan trem uap, terlebih saat itu trem uap sedang menjadi moda transportasi antar wilayah yang popular karena lebih efisien dibandingkan dengan kereta api regular.


Pemerintah kolonial kemudian memberikan izin kepada Dalfsen dengan syarat bahwa jalur yang diajukan oleh Daflsen dapat terkoneksi dengan jalur kereta milik SS dan NISM. Selain itu, jalur kereta Purworejo-Magelang dan Salaman-Muntilan harus dapat dilalui oleh kereta api milik SS. Sayangnya, hingga Belanda sudah tidak lagi menjajah rencana yang dibuat oleh Dalfsen tidak jadi terwujud. 


Sumber :


Bataviaasch nieuwsblad 16 Juni 1896

Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, 1901

Indische Spoorweg Politiek Deel VIII.


Sumber : Lengkong Sanggar Ginaris

No comments:

Post a Comment