Dahulu kala, terdapat sebuah rawa besar bernama Rawa Wawar yang terhampar di antara perbatasan Kabupaten Kebumen dan Purworejo. Terbentuknya Rawa Wawar dipengaruhi oleh keberadaan bentangan bukit pasir di selatannya yang dikenal sebagai Urut Sewu. Hal ini menyebabkan sejumlah sungai di utaranya tidak dapat mengalirkan airnya langsung ke laut dan menggenang menjadi sebuah rawa. Saat sebuah jalan yang menghubungkan Kutoarjo dan Kebumen pada tahun 1830, Residen Bagelen pertama, Valck, menyebut jika jalan tersebut tampak seperti sebuah tanggul.
__
Pada tahun 1834, sebuah muara baru digali di Truntung sehingga air dari Sungai Luk Ulo dapat langsung mengalir ke laut. Sebagian hamparan rawa mengering dan akhirnya menjadi dataran baru yang dapat digunakan untuk kegiatan pertanian. Namun hal tersebut menyisakan masalah lain karena saat musim hujan dataran tersebut akhirnya kerap tergenang banjir. Salah satu yang paling parah terjadi pada tahun 1861. Oleh karena itu, antara tahun 1861 dan 1870, sejumlah upaya dilakukan untuk membenahi sistem drainase di sana dengan merekayasa pembuangan air. Misalnya dengan membuat bendung di Sungai Kedungbener dan menggali saluran penghubung dari sungai itu ke Sungai Lok Ulo pada tahun 1861.
Sumber : Van Doorn. 1926. Schets van de economische ontwikkeling der afdeeling Poerworedjo. Weltevreden : G. Kolff & Co.
Sumber : Lengkong Sanggar Ginaris

No comments:
Post a Comment