23 September 2024

Taman Gua Sunyaragi, yang terletak di Cirebon, Jawa Barat, Indonesia, merupakan situs sejarah unik yang terkenal akan perpaduan keindahan alam dan makna budayanya. Taman ini merupakan rumah bagi Gua Sunyaragi, sebuah bangunan menarik yang memadukan unsur istana air dan gua. Gua ini dibangun pada abad ke-17 oleh Kesultanan Cirebon sebagai tempat meditasi dan istirahat bagi keluarga kerajaan. Arsitektur Gua Sunyaragi merupakan perpaduan menarik antara pengaruh Jawa, Cina, dan Eropa, yang menampilkan ukiran batu yang rumit, gua, dan patung. Situs ini dikelilingi oleh taman yang rimbun dan suasana yang tenang, menjadikannya tempat peristirahatan yang damai. Gua-gua tersebut terbuat dari batu koral dan batu bata, dan desainnya dikatakan memiliki makna spiritual, dengan berbagai ruangan dan lorong yang mewakili berbagai ide filosofis. Taman Gua Sunyaragi bukan hanya situs bersejarah tetapi juga tujuan wisata budaya, yang sering kali menyelenggarakan pertunjukan dan acara tradisional. Ini adalah tempat yang populer bagi wisatawan dan penduduk lokal yang tertarik menjelajahi kekayaan sejarah dan budaya Indonesia. . . . #nature #Holidays #indonesia #tourismireland #achievesuccess #naturelovers #naturephotography #growyouraudience #photography #tourismchallenge #bali #holiday #viralpost2024 #viral #discoverindonesia #baliindonesia #beauty #indonesiaviral #destination #inspiration #tourists #reachgoals #AchieveSuccess #explore #indonesianculture #indonesianbeauty #engaged #indonesian #trending #tours

 Taman Gua Sunyaragi, yang terletak di Cirebon, Jawa Barat, Indonesia, merupakan situs sejarah unik yang terkenal akan perpaduan keindahan alam dan makna budayanya. Taman ini merupakan rumah bagi Gua Sunyaragi, sebuah bangunan menarik yang memadukan unsur istana air dan gua. Gua ini dibangun pada abad ke-17 oleh Kesultanan Cirebon sebagai tempat meditasi dan istirahat bagi keluarga kerajaan. Arsitektur Gua Sunyaragi merupakan perpaduan menarik antara pengaruh Jawa, Cina, dan Eropa, yang menampilkan ukiran batu yang rumit, gua, dan patung. Situs ini dikelilingi oleh taman yang rimbun dan suasana yang tenang, menjadikannya tempat peristirahatan yang damai. Gua-gua tersebut terbuat dari batu koral dan batu bata, dan desainnya dikatakan memiliki makna spiritual, dengan berbagai ruangan dan lorong yang mewakili berbagai ide filosofis. Taman Gua Sunyaragi bukan hanya situs bersejarah tetapi juga tujuan wisata budaya, yang sering kali menyelenggarakan pertunjukan dan acara tradisional. Ini adalah tempat yang populer bagi wisatawan dan penduduk lokal yang tertarik menjelajahi kekayaan sejarah dan budaya Indonesia.

.

.


.

 #nature #Holidays #indonesia #tourismireland #achievesuccess #naturelovers #naturephotography #growyouraudience #photography #tourismchallenge #bali #holiday #viralpost2024 #viral #discoverindonesia #baliindonesia #beauty #indonesiaviral #destination #inspiration #tourists #reachgoals #AchieveSuccess #explore #indonesianculture #indonesianbeauty #engaged #indonesian #trending #tours

JAM GADANG BUKITTINGGI Jam Gadang adalah salah satu bangunan peninggalan Hindia Belanda, jam yang saat ini menjadi ikon kota Bukittinggi Sumatra Barat. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi). Jam Gadang selsai dibangun pada tahun 1926. Menelan dana 3000 Gukden, jam ini Arsitekturnya dirancang oleh orang Minangkabau, Yazid Abidin Rajo Mangkuto Sutan Gigi Ameh. Bangunan jam berbentuk menara setinggi 26 meter ini terdiri dari empat tingkat. Konstruksinya konon tanpa semen melainkan kapur, putih telur, dan pasir putih. Tingkat pertama menjadi ruangan petugas. Untuk tingkat kedua, menjadi tempat perangkat mekanik jam berupa dua bandul yang berfungsi pemberat jam. Lalu, pada tingkat ketiga, menjadi tempat dari mesin jam. Tingkat keempat merupakan puncak menara sekaligus lonceng jam ditempatkan. Pada lonceng di puncak tersebut tertera nama dari produsen mesin jam yakni Vortmann Recklinghausen, Jerman. Pada tingkat keempat juga terlihat jam ada pada empat sisi mata angin. Menariknya, jam yang melekat pada Jam Gadang adalah edisi terbatas yang diproduksi Vortmann Recklinghausen, yakni dua unit. Selain Jam Gadang, mesin jam ini juga menjadi penanda waktu pada Big Ben, Inggris. Angka empat berhuruf romawi juga menjadi ciri khas jam itu. DIRUBAH 3 KALI ATAPNYA Jam Gadang bukan hanya penanda waktu dalam arti sesungguhnya, melainkan juga penanda zaman. Meski mulanya hadiah untuk pribadi, ia menjadi simbol Bukittinggi dari masa ke masa. Ikonnya berupa tudung, selalu berubah sesuai jiwa zaman, siapa yang berkuasa. Pada masa Hindia Belanda, tudungnya berbentuk kubah kerucut bersegi khas Eropa, dimana dihiasi oleh ornamen Ayam Jantan. Pergantiaan kekuasaan ke tangan Jepang periode 1942-1945, berdampak pada Jam Gadang. Oleh Jepang, tudungnya pun diubah dengan bentuk seperti pagoda. Setelah kemerdekaan diraih, Jam Gadang kemudian berkopiahkan gonjong, arsitektur khas Minangkabau.

 JAM GADANG BUKITTINGGI


Jam Gadang adalah salah satu bangunan peninggalan Hindia Belanda, jam yang saat ini menjadi ikon kota Bukittinggi Sumatra Barat.


 Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau controleur Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi). Jam Gadang selsai dibangun pada tahun 1926. 


Menelan dana 3000 Gukden, jam ini Arsitekturnya dirancang oleh orang Minangkabau, Yazid Abidin Rajo Mangkuto Sutan Gigi Ameh. Bangunan jam berbentuk menara setinggi 26 meter ini  terdiri dari empat tingkat. Konstruksinya konon tanpa semen melainkan kapur, putih telur, dan pasir putih.



Tingkat pertama menjadi ruangan petugas. Untuk tingkat kedua, menjadi tempat perangkat mekanik jam berupa dua bandul yang berfungsi pemberat jam.


Lalu, pada tingkat ketiga, menjadi tempat dari mesin jam. Tingkat keempat merupakan puncak menara sekaligus lonceng jam ditempatkan. Pada lonceng di puncak tersebut tertera nama dari produsen mesin jam yakni Vortmann Recklinghausen, Jerman. Pada tingkat keempat juga terlihat jam ada pada empat sisi mata angin.


Menariknya, jam yang melekat pada Jam Gadang adalah edisi terbatas yang diproduksi Vortmann Recklinghausen, yakni dua unit. Selain Jam Gadang, mesin jam ini juga menjadi penanda waktu pada Big Ben, Inggris.


Angka empat berhuruf romawi juga menjadi ciri khas jam itu.


DIRUBAH 3 KALI ATAPNYA


Jam Gadang bukan hanya penanda waktu dalam arti sesungguhnya, melainkan juga penanda zaman. Meski mulanya hadiah untuk pribadi, ia menjadi simbol Bukittinggi dari masa ke masa. Ikonnya berupa tudung, selalu berubah sesuai jiwa zaman, siapa yang berkuasa.


Pada masa Hindia Belanda, tudungnya berbentuk kubah kerucut bersegi khas Eropa, dimana dihiasi oleh ornamen Ayam Jantan.


Pergantiaan kekuasaan ke tangan Jepang periode 1942-1945, berdampak pada Jam Gadang. Oleh Jepang, tudungnya pun diubah dengan bentuk seperti pagoda.


Setelah kemerdekaan diraih, Jam Gadang kemudian berkopiahkan gonjong, arsitektur khas Minangkabau.

MENGENANG SEJARAH NONGKOJAJAR,, Nongkojajar berasal dari bahasa jawa Nongko artinya pohon nangka dan jajar artinya berbaris Pada masa penjajahan belanda,ada sebuah motel/vila,yang di beri nama Motel Nongkojajar dan tepatnya vila itu didirikan di Dusun Ngadipuro. Konon di bagian taman vila di tanami pohon nangka yang diatur sejajar oleh para penjajah. Oleh sebab itu nama Desa Nongkojajar diambil dari vila itu Desa Nongkojajar juga terkenal sebagai desa penghasil buah apel, karena awal sejarah buah apel di tanam di indonesia,tepatnya pada desa Nongkojajar ini. Disamping suhunya yang ideal untuk tanaman apel dan tanahnya juga subur untuk bercocok tanam karena desa nongkojajar merupakan dataran tinggi. Kebanyakan masyarakat desa nongkojajar juga berternak sapi perah, jadi tak heran jika Nongkojajar menjadi penyuplai terbesar susu sapi untuk Nestle di area Jawa Timur serta juga terkenal sebagai desa lumbung susu.

 MENGENANG SEJARAH NONGKOJAJAR,,


Nongkojajar berasal dari bahasa jawa Nongko artinya pohon nangka dan jajar artinya berbaris



Pada masa penjajahan belanda,ada sebuah motel/vila,yang di beri nama Motel Nongkojajar dan tepatnya vila itu didirikan di Dusun Ngadipuro. Konon di bagian taman vila di tanami pohon nangka yang diatur sejajar oleh para penjajah. Oleh sebab itu nama Desa Nongkojajar diambil dari vila itu


Desa Nongkojajar juga terkenal sebagai desa penghasil buah apel, karena awal sejarah buah apel di tanam di indonesia,tepatnya pada desa Nongkojajar ini. Disamping suhunya yang ideal untuk tanaman apel dan tanahnya juga subur untuk bercocok tanam karena desa nongkojajar merupakan dataran tinggi. Kebanyakan masyarakat desa nongkojajar juga berternak sapi perah, jadi tak heran jika Nongkojajar menjadi penyuplai terbesar susu sapi untuk Nestle di area Jawa Timur serta juga terkenal sebagai desa lumbung susu.

GELAR 'ANDI': WARISAN KOLONIAL ATAU SIMBOL KEBANGSAWANAN BUGIS-MAKASSAR?" Apakah Anda pernah mendengar nama "Andi" di awal nama seseorang? Atau mungkin Anda memiliki teman dengan nama yang diawali oleh gelar ini? Di kalangan masyarakat Bugis-Makassar, gelar "Andi" bukanlah sekadar hiasan di depan nama—itu bisa menjadi simbol kebangsawanan, terutama saat dihubungkan dengan nominal Uang Panai’. Bagi sebagian besar masyarakat, apabila seorang perempuan Bugis memiliki gelar "Andi", maka Uang Panai’ yang harus disiapkan pun harus lebih tinggi dari biasanya. Namun, di balik tradisi yang telah begitu mendarah daging ini, ada sebuah kenyataan tersembunyi yang mungkin belum banyak diketahui. Gelar "Andi" sebenarnya bukanlah gelar kebangsawanan murni dari tradisi Bugis-Makassar. Lantas, bagaimana gelar ini muncul dan menjadi begitu penting? Asal-Usul Gelar "Andi" dalam Sejarah Bugis-Makassar Sejarah mencatat bahwa gelar "Andi" bukan berasal dari dalam adat Bugis-Makassar itu sendiri, melainkan hasil intervensi dari seorang misionaris Belanda di awal abad ke-20. Gelar ini mulai dikenal sekitar 100 tahun yang lalu, serupa dengan pemberian gelar "Haji" bagi umat Islam pada masa kolonial. Prof. Mattulada, seorang antropolog dari Unhas, menelusuri asal muasal gelar ini pada masa penjajahan Belanda. Di tahun 1930-an, setiap siswa yang ingin melanjutkan sekolah ke tingkat HIS atau sekolah pamong praja, harus menyertakan “stamboom” atau daftar silsilah keluarga bangsawan mereka. Dalam proses ini, gelar "Andi" digunakan untuk mengidentifikasi siswa yang berasal dari keluarga bangsawan, membedakannya dari masyarakat umum. Kisah seorang tokoh terkenal, Andi Matalatta, mengukuhkan sejarah ini. Pada tahun 1929, saat ia hendak melanjutkan sekolahnya di Openbare Schakelschool Makassar, namanya dibubuhi kata "Andi" di depan. Muhayyang Daeng Ngawing, yang kala itu menjabat sebagai kepala sekolah, menjelaskan bahwa penggunaan gelar ini bertujuan untuk memisahkan keturunan bangsawan dari orang biasa. Pemberian gelar "Andi" ini pertama kali diperkenalkan oleh B.F. Matthews, seorang misionaris Belanda yang juga kepala sekolah OSVIA. Bersama Colliq Pujie, Matthews adalah pelopor penulisan Sureq I Lagaligo, karya sastra legendaris Bugis-Makassar. Matthews memiliki ambisi besar—ia ingin menerapkan sistem Standen Stelsel di Sulawesi Selatan, seperti yang ada di Jawa. Maka, gelar "Andi" diberikan kepada semua bangsawan terdidik yang nantinya akan dipersiapkan untuk mengisi jabatan penting di pemerintahan kolonial Belanda. Sejak saat itu, para keturunan bangsawan mulai menyematkan gelar "Andi" di depan nama mereka, dan gelar ini bertahan hingga Indonesia merdeka, menjadi simbol status yang diwariskan turun-temurun. Strata Sosial dalam Masyarakat Bugis dan Makassar Sulawesi Selatan dikenal dengan keragaman etnisnya—terdapat suku Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, dan Sa’dan. Namun, suku Bugis dan Makassar menjadi mayoritas di wilayah ini, masing-masing dengan sistem strata sosial yang kaya akan tradisi. Di masyarakat Bugis, terdapat tiga strata sosial utama: Arung (bangsawan tertinggi), Ata (budak yang kini tak lagi berlaku), dan To Maradeka (masyarakat umum). Sementara di suku Makassar, ada empat strata sosial, yaitu Ata, Daeng (kalangan pengusaha), Karaeng (raja atau bangsawan), dan Kare (tokoh religius). Gelar kebangsawanan yang muncul dari kedua suku ini beragam, antara lain: Arung, Besse, Baso, Daeng, Datu, Karaeng, Opu, Petta, Sombayya, dan Tenri. Semua gelar ini memiliki akar sejarah dan makna yang mendalam, menunjukkan kekayaan budaya dan kebesaran kerajaan di Sulawesi Selatan. Namun, gelar "Andi" kini menjadi salah satu yang paling dikenali, bukan hanya karena status kebangsawanan yang diwakilinya, tapi juga karena sejarah panjang di balik pembentukannya—sebuah warisan kolonial yang akhirnya melekat kuat dalam identitas budaya Bugis-Makassar. SC FB FAKTA SEJARAH NUSANTARA

 GELAR 'ANDI': WARISAN KOLONIAL ATAU SIMBOL KEBANGSAWANAN BUGIS-MAKASSAR?"


Apakah Anda pernah mendengar nama "Andi" di awal nama seseorang? Atau mungkin Anda memiliki teman dengan nama yang diawali oleh gelar ini? Di kalangan masyarakat Bugis-Makassar, gelar "Andi" bukanlah sekadar hiasan di depan nama—itu bisa menjadi simbol kebangsawanan, terutama saat dihubungkan dengan nominal Uang Panai’. Bagi sebagian besar masyarakat, apabila seorang perempuan Bugis memiliki gelar "Andi", maka Uang Panai’ yang harus disiapkan pun harus lebih tinggi dari biasanya.



Namun, di balik tradisi yang telah begitu mendarah daging ini, ada sebuah kenyataan tersembunyi yang mungkin belum banyak diketahui. Gelar "Andi" sebenarnya bukanlah gelar kebangsawanan murni dari tradisi Bugis-Makassar. Lantas, bagaimana gelar ini muncul dan menjadi begitu penting?


Asal-Usul Gelar "Andi" dalam Sejarah Bugis-Makassar


Sejarah mencatat bahwa gelar "Andi" bukan berasal dari dalam adat Bugis-Makassar itu sendiri, melainkan hasil intervensi dari seorang misionaris Belanda di awal abad ke-20. Gelar ini mulai dikenal sekitar 100 tahun yang lalu, serupa dengan pemberian gelar "Haji" bagi umat Islam pada masa kolonial.


Prof. Mattulada, seorang antropolog dari Unhas, menelusuri asal muasal gelar ini pada masa penjajahan Belanda. Di tahun 1930-an, setiap siswa yang ingin melanjutkan sekolah ke tingkat HIS atau sekolah pamong praja, harus menyertakan “stamboom” atau daftar silsilah keluarga bangsawan mereka. Dalam proses ini, gelar "Andi" digunakan untuk mengidentifikasi siswa yang berasal dari keluarga bangsawan, membedakannya dari masyarakat umum.


Kisah seorang tokoh terkenal, Andi Matalatta, mengukuhkan sejarah ini. Pada tahun 1929, saat ia hendak melanjutkan sekolahnya di Openbare Schakelschool Makassar, namanya dibubuhi kata "Andi" di depan. Muhayyang Daeng Ngawing, yang kala itu menjabat sebagai kepala sekolah, menjelaskan bahwa penggunaan gelar ini bertujuan untuk memisahkan keturunan bangsawan dari orang biasa.


Pemberian gelar "Andi" ini pertama kali diperkenalkan oleh B.F. Matthews, seorang misionaris Belanda yang juga kepala sekolah OSVIA. Bersama Colliq Pujie, Matthews adalah pelopor penulisan Sureq I Lagaligo, karya sastra legendaris Bugis-Makassar. Matthews memiliki ambisi besar—ia ingin menerapkan sistem Standen Stelsel di Sulawesi Selatan, seperti yang ada di Jawa. Maka, gelar "Andi" diberikan kepada semua bangsawan terdidik yang nantinya akan dipersiapkan untuk mengisi jabatan penting di pemerintahan kolonial Belanda.


Sejak saat itu, para keturunan bangsawan mulai menyematkan gelar "Andi" di depan nama mereka, dan gelar ini bertahan hingga Indonesia merdeka, menjadi simbol status yang diwariskan turun-temurun.


Strata Sosial dalam Masyarakat Bugis dan Makassar


Sulawesi Selatan dikenal dengan keragaman etnisnya—terdapat suku Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, dan Sa’dan. Namun, suku Bugis dan Makassar menjadi mayoritas di wilayah ini, masing-masing dengan sistem strata sosial yang kaya akan tradisi.


Di masyarakat Bugis, terdapat tiga strata sosial utama: Arung (bangsawan tertinggi), Ata (budak yang kini tak lagi berlaku), dan To Maradeka (masyarakat umum). Sementara di suku Makassar, ada empat strata sosial, yaitu Ata, Daeng (kalangan pengusaha), Karaeng (raja atau bangsawan), dan Kare (tokoh religius).


Gelar kebangsawanan yang muncul dari kedua suku ini beragam, antara lain: Arung, Besse, Baso, Daeng, Datu, Karaeng, Opu, Petta, Sombayya, dan Tenri. Semua gelar ini memiliki akar sejarah dan makna yang mendalam, menunjukkan kekayaan budaya dan kebesaran kerajaan di Sulawesi Selatan.


Namun, gelar "Andi" kini menjadi salah satu yang paling dikenali, bukan hanya karena status kebangsawanan yang diwakilinya, tapi juga karena sejarah panjang di balik pembentukannya—sebuah warisan kolonial yang akhirnya melekat kuat dalam identitas budaya Bugis-Makassar.

SC FB FAKTA SEJARAH NUSANTARA

Orang-orang Eropa di stupa candi Borobudur, 1860-1880

 Orang-orang Eropa di stupa candi Borobudur, 1860-1880



PELAJARAN HIDUP DARI PENDIRI HONDA Di dunia otomotif, nama Honda identik dengan inovasi, ketangguhan, dan performa tinggi. Di balik merek yang mendunia ini ada sosok Soichiro Honda, seorang pria sederhana dengan mimpi besar. Dari bengkel kecil di Jepang hingga membangun sebuah kerajaan otomotif global, perjalanan hidup Soichiro Honda adalah kisah tentang keberanian, kegigihan, dan semangat tanpa henti untuk mencapai kesempurnaan. Awal dari Keterbatasan Lahir pada 17 November 1906, di sebuah desa kecil bernama Komyo, Jepang, Soichiro Honda berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang pandai besi yang juga mengelola bengkel sepeda, dan dari sinilah Honda kecil mulai mengenal dunia mesin dan perbaikan. Ketika masih kanak-kanak, Honda sudah terpesona dengan suara mesin dan bau minyak pelumas yang memenuhi udara di bengkel ayahnya. Keterbatasan ekonomi keluarganya tidak menghalangi rasa ingin tahunya yang besar terhadap teknologi dan inovasi. Saat masih muda, ia pernah berlari sejauh beberapa mil hanya untuk melihat sebuah mobil yang lewat di desanya. Bagi anak-anak di desanya, mobil adalah keajaiban, tapi bagi Honda, itu adalah mimpi yang harus diwujudkan. Dengan pendidikan formal yang minim, Honda memutuskan untuk mengejar mimpinya menjadi seorang mekanik di Tokyo. Di sinilah ia mengasah keahlian dan pengetahuannya tentang mesin, menyelami dunia mekanika dengan gairah yang menyala-nyala. Gagal, Bangkit, dan Menaklukkan Dunia Pada 1937, Honda mendirikan perusahaan pertamanya, Tokai Seiki, yang memproduksi ring piston untuk Toyota. Namun, proyek ini berakhir dengan kegagalan, karena kualitas produksinya yang buruk. Alih-alih menyerah, Honda kembali ke sekolah untuk mempelajari ilmu metalurgi dan memahami di mana kesalahannya. Setelah bertahun-tahun penelitian, ia akhirnya berhasil menciptakan ring piston berkualitas tinggi yang diterima oleh Toyota. Tapi, kisah sukses ini tidak bertahan lama. Perang Dunia II menghancurkan pabriknya, dan gempa bumi meluluhlantakkan upayanya yang tersisa. Meski semua tampak hilang, Honda tidak menyerah. Dalam keadaan yang hampir bangkrut, dia menjual sisa-sisa bisnisnya dan memulai lagi dari awal. Dengan sumber daya yang terbatas, Honda mulai membuat sepeda bermotor dengan mesin kecil yang dimodifikasi. Inovasi sederhana ini menjadi cikal bakal Honda Motor Co., Ltd. yang didirikan pada tahun 1948. Semangat Inovasi Tanpa Batas Honda segera memusatkan fokus pada sepeda motor dan memperkenalkan "Dream D-Type" pada tahun 1949. Sepeda motor ini menjadi simbol inovasi dan ketangguhan, mewakili visi Honda tentang kendaraan yang dapat diakses oleh semua orang. Semangat Honda untuk inovasi tidak mengenal batas; ia mendorong perusahaannya untuk terus bereksperimen, mencoba, gagal, dan mencoba lagi. Pada 1959, Honda berhasil menembus pasar Amerika Serikat dengan sepeda motor legendarisnya, Honda Super Cub. Iklan "You Meet the Nicest People on a Honda" memecahkan stigma bahwa sepeda motor hanya untuk para pemberontak. Ini adalah terobosan yang mengubah citra sepeda motor dan menjadikan Honda merek sepeda motor terlaris di dunia. Namun, Honda tidak berhenti di situ. Dia ingin lebih. Dia ingin masuk ke dunia balap, tempat di mana teknologi dan keberanian diuji hingga batas maksimal. Pada tahun 1964, Honda memasuki ajang Formula 1, sebuah langkah yang banyak dianggap nekat bagi sebuah perusahaan Jepang yang relatif muda. Dalam beberapa tahun, Honda berhasil memenangkan balapan F1, membuktikan bahwa kualitas Jepang bisa bersaing dengan yang terbaik di dunia. Pemimpin yang Berani Berbeda Berbeda dari banyak pemimpin lainnya, Honda dikenal sebagai seorang yang tidak takut menantang norma dan selalu memprioritaskan kreativitas. Ia sering mengatakan, "Keberhasilan terdiri dari 99% kegagalan." Ia tidak pernah takut gagal, karena bagi Honda, setiap kegagalan adalah pelajaran menuju sukses. Filosofi inilah yang membuat perusahaannya terus tumbuh dan menjadi salah satu perusahaan otomotif terbesar di dunia. Honda juga percaya bahwa perusahaan harus menghargai karyawannya sebagai manusia, bukan sekadar alat produksi. Dia mendorong inovasi di semua tingkat dan mengizinkan para insinyurnya untuk bereksperimen, bahkan jika itu berarti menghadapi kegagalan. Ia tidak percaya pada "meniru," tetapi pada penciptaan dan pengembangan ide-ide baru. Soichiro Honda pensiun pada tahun 1973, tetapi warisannya tetap hidup di setiap kendaraan yang membawa namanya. Dia meninggalkan perusahaan dengan landasan yang kokoh, didirikan di atas prinsip-prinsip inovasi, ketekunan, dan keberanian untuk bermimpi. Honda bukan sekadar merek; itu adalah simbol dari semangat tak kenal menyerah seorang pria yang berani bermimpi besar dan tidak pernah mundur dari tantangan. Hingga hari ini, Honda Motor Co., Ltd. terus berkembang dan berinovasi, dari mesin ramah lingkungan hingga mobil listrik dan robotik, semua didorong oleh semangat yang diwariskan oleh pendirinya. Soichiro Honda membuktikan kepada dunia bahwa mimpi bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dicapai jika seseorang memiliki keberanian untuk menghadapi kegagalan dan terus melangkah maju. "Soichiro Honda bukan hanya seorang pengusaha; ia adalah simbol dari keberanian untuk bermimpi besar dan semangat untuk mewujudkannya, apa pun rintangannya" #HONDA

 PELAJARAN HIDUP DARI PENDIRI HONDA


Di dunia otomotif, nama Honda identik dengan inovasi, ketangguhan, dan performa tinggi. Di balik merek yang mendunia ini ada sosok Soichiro Honda, seorang pria sederhana dengan mimpi besar. Dari bengkel kecil di Jepang hingga membangun sebuah kerajaan otomotif global, perjalanan hidup Soichiro Honda adalah kisah tentang keberanian, kegigihan, dan semangat tanpa henti untuk mencapai kesempurnaan.



Awal dari Keterbatasan


Lahir pada 17 November 1906, di sebuah desa kecil bernama Komyo, Jepang, Soichiro Honda berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang pandai besi yang juga mengelola bengkel sepeda, dan dari sinilah Honda kecil mulai mengenal dunia mesin dan perbaikan. Ketika masih kanak-kanak, Honda sudah terpesona dengan suara mesin dan bau minyak pelumas yang memenuhi udara di bengkel ayahnya. Keterbatasan ekonomi keluarganya tidak menghalangi rasa ingin tahunya yang besar terhadap teknologi dan inovasi.


Saat masih muda, ia pernah berlari sejauh beberapa mil hanya untuk melihat sebuah mobil yang lewat di desanya. Bagi anak-anak di desanya, mobil adalah keajaiban, tapi bagi Honda, itu adalah mimpi yang harus diwujudkan. Dengan pendidikan formal yang minim, Honda memutuskan untuk mengejar mimpinya menjadi seorang mekanik di Tokyo. Di sinilah ia mengasah keahlian dan pengetahuannya tentang mesin, menyelami dunia mekanika dengan gairah yang menyala-nyala.


Gagal, Bangkit, dan Menaklukkan Dunia


Pada 1937, Honda mendirikan perusahaan pertamanya, Tokai Seiki, yang memproduksi ring piston untuk Toyota. Namun, proyek ini berakhir dengan kegagalan, karena kualitas produksinya yang buruk. Alih-alih menyerah, Honda kembali ke sekolah untuk mempelajari ilmu metalurgi dan memahami di mana kesalahannya. Setelah bertahun-tahun penelitian, ia akhirnya berhasil menciptakan ring piston berkualitas tinggi yang diterima oleh Toyota. Tapi, kisah sukses ini tidak bertahan lama.


Perang Dunia II menghancurkan pabriknya, dan gempa bumi meluluhlantakkan upayanya yang tersisa. Meski semua tampak hilang, Honda tidak menyerah. Dalam keadaan yang hampir bangkrut, dia menjual sisa-sisa bisnisnya dan memulai lagi dari awal. Dengan sumber daya yang terbatas, Honda mulai membuat sepeda bermotor dengan mesin kecil yang dimodifikasi. Inovasi sederhana ini menjadi cikal bakal Honda Motor Co., Ltd. yang didirikan pada tahun 1948.


Semangat Inovasi Tanpa Batas


Honda segera memusatkan fokus pada sepeda motor dan memperkenalkan "Dream D-Type" pada tahun 1949. Sepeda motor ini menjadi simbol inovasi dan ketangguhan, mewakili visi Honda tentang kendaraan yang dapat diakses oleh semua orang. Semangat Honda untuk inovasi tidak mengenal batas; ia mendorong perusahaannya untuk terus bereksperimen, mencoba, gagal, dan mencoba lagi.


Pada 1959, Honda berhasil menembus pasar Amerika Serikat dengan sepeda motor legendarisnya, Honda Super Cub. Iklan "You Meet the Nicest People on a Honda" memecahkan stigma bahwa sepeda motor hanya untuk para pemberontak. Ini adalah terobosan yang mengubah citra sepeda motor dan menjadikan Honda merek sepeda motor terlaris di dunia.


Namun, Honda tidak berhenti di situ. Dia ingin lebih. Dia ingin masuk ke dunia balap, tempat di mana teknologi dan keberanian diuji hingga batas maksimal. Pada tahun 1964, Honda memasuki ajang Formula 1, sebuah langkah yang banyak dianggap nekat bagi sebuah perusahaan Jepang yang relatif muda. Dalam beberapa tahun, Honda berhasil memenangkan balapan F1, membuktikan bahwa kualitas Jepang bisa bersaing dengan yang terbaik di dunia.


Pemimpin yang Berani Berbeda


Berbeda dari banyak pemimpin lainnya, Honda dikenal sebagai seorang yang tidak takut menantang norma dan selalu memprioritaskan kreativitas. Ia sering mengatakan, "Keberhasilan terdiri dari 99% kegagalan." Ia tidak pernah takut gagal, karena bagi Honda, setiap kegagalan adalah pelajaran menuju sukses. Filosofi inilah yang membuat perusahaannya terus tumbuh dan menjadi salah satu perusahaan otomotif terbesar di dunia.


Honda juga percaya bahwa perusahaan harus menghargai karyawannya sebagai manusia, bukan sekadar alat produksi. Dia mendorong inovasi di semua tingkat dan mengizinkan para insinyurnya untuk bereksperimen, bahkan jika itu berarti menghadapi kegagalan. Ia tidak percaya pada "meniru," tetapi pada penciptaan dan pengembangan ide-ide baru.


Soichiro Honda pensiun pada tahun 1973, tetapi warisannya tetap hidup di setiap kendaraan yang membawa namanya. Dia meninggalkan perusahaan dengan landasan yang kokoh, didirikan di atas prinsip-prinsip inovasi, ketekunan, dan keberanian untuk bermimpi. Honda bukan sekadar merek; itu adalah simbol dari semangat tak kenal menyerah seorang pria yang berani bermimpi besar dan tidak pernah mundur dari tantangan.


Hingga hari ini, Honda Motor Co., Ltd. terus berkembang dan berinovasi, dari mesin ramah lingkungan hingga mobil listrik dan robotik, semua didorong oleh semangat yang diwariskan oleh pendirinya. Soichiro Honda membuktikan kepada dunia bahwa mimpi bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dicapai jika seseorang memiliki keberanian untuk menghadapi kegagalan dan terus melangkah maju. 


"Soichiro Honda bukan hanya seorang pengusaha; ia adalah simbol dari keberanian untuk bermimpi besar dan semangat untuk mewujudkannya, apa pun rintangannya"


#HONDA

21 September 2024

Sekelompok Pejuang pemuda di jawa 1945-1949. Dari postur tubuh dan raut wajahnya tampak bahwa mereka masih remaja, walaupun begitu mereka rela berkorban demi bangsa dan Tanah Air. Sumber : KITLV LEIDEN Posted: #TEMPODOELOE

 Sekelompok Pejuang pemuda di jawa 1945-1949. Dari postur tubuh dan raut wajahnya tampak bahwa mereka masih remaja, walaupun begitu mereka rela berkorban demi bangsa dan Tanah Air.



Sumber : KITLV LEIDEN

Posted: #TEMPODOELOE

Pabrik Gula Barongan, Jetis, Bantul, Yogyakarta. Pabrik Gula ini dahulu lokasinya diperkirakan berada di dusun Mindi, desa Sumberagung, Jetis, Bantul, Yogyakarta. Pabrik Gula Barongan ini sekarang Hanya menyisakan reruntuhan tembok tua serta saluran air tua, Perkiraan lokasi pabrik gula ini berdasarkan peta tua tahun 1928 dari dinas Topografi (Topografishce Dienst), lokasi PG ini diperkirakan di dekat persimpangan jalur kereta Ngabean - Kotagede-Pleret -Pundong. Pabrik gula Barongan merupakah salah satu korban dari Mallaise atau krisis yang melanda saat itu, Pada tahun 1931 terjadi kesepakatan perdagangan gula yang dikenal sebagai Charbourne Agreement. Pada perjanjian itu Pemerintah Belanda diharuskan mengurangi jumlah produksi. Jawa diwajibkan menurunkan produksi gulanya dari sekitar 3 juta ton menjadi tidak lebih 1,4 juta ton per tahun. Karena pengurangan produksi gula ini ditutuplah pabrik gula Barongan. Sumber foto: KITLV Leiden University Library, geheugen_delpher, Roemah Toea, Atlas Bersiapkampen, Petrus Seno. #pabrikgulabarongan #bantul #sejarahbantul #tempodoeloe #fyp #keindahanjogja #barongan #mindi #jetis #foryoupage#legendalintaszaman

 Pabrik Gula Barongan, Jetis, Bantul, Yogyakarta.

Pabrik Gula ini dahulu lokasinya diperkirakan berada di dusun Mindi, desa Sumberagung, Jetis, Bantul, Yogyakarta. Pabrik Gula Barongan ini sekarang Hanya menyisakan reruntuhan tembok tua serta saluran air tua,

Perkiraan lokasi pabrik gula ini berdasarkan peta tua tahun 1928 dari dinas Topografi (Topografishce Dienst), lokasi PG ini diperkirakan di dekat persimpangan jalur kereta Ngabean - Kotagede-Pleret -Pundong.



Pabrik gula Barongan merupakah salah satu korban dari Mallaise atau krisis yang melanda saat itu, Pada tahun 1931 terjadi kesepakatan perdagangan gula yang dikenal sebagai Charbourne Agreement.


Pada perjanjian itu Pemerintah Belanda diharuskan mengurangi jumlah produksi. Jawa diwajibkan menurunkan produksi gulanya dari sekitar 3 juta ton menjadi tidak lebih 1,4 juta ton per tahun. Karena pengurangan produksi gula ini ditutuplah pabrik gula Barongan.


Sumber foto: KITLV Leiden University Library, geheugen_delpher, Roemah Toea, Atlas Bersiapkampen, Petrus Seno.


#pabrikgulabarongan #bantul #sejarahbantul #tempodoeloe #fyp #keindahanjogja #barongan #mindi #jetis #foryoupage#legendalintaszaman

20 September 2024

Dia adalah George McLaurin, pria kulit hitam pertama yang diterima di Universitas Oklahoma pada tahun 1948. Ia dipaksa duduk di sudut terpisah dari rekan-rekan kulit putihnya. Namun, namanya tetap tercatat dalam daftar kehormatan sebagai salah satu dari tiga mahasiswa terbaik di perguruan tinggi tersebut. Ini kata-katanya: "Beberapa rekan memandangku seperti aku adalah binatang, tidak ada yang berbicara padaku, dan bagi para pengajar aku bahkan tidak ada—mereka jarang menjawab pertanyaanku. Aku mengabdikan diri sepenuhnya, dan akhirnya teman-temanku mulai mencariku, dan para pengajar mulai memperhatikanku. Aku tidak lagi menjadi tidak terlihat bagi mereka." Pendidikan memiliki kekuatan yang lebih besar daripada senjata.

 Dia adalah George McLaurin, pria kulit hitam pertama yang diterima di Universitas Oklahoma pada tahun 1948. Ia dipaksa duduk di sudut terpisah dari rekan-rekan kulit putihnya. Namun, namanya tetap tercatat dalam daftar kehormatan sebagai salah satu dari tiga mahasiswa terbaik di perguruan tinggi tersebut.



Ini kata-katanya:

"Beberapa rekan memandangku seperti aku adalah binatang, tidak ada yang berbicara padaku, dan bagi para pengajar aku bahkan tidak ada—mereka jarang menjawab pertanyaanku. Aku mengabdikan diri sepenuhnya, dan akhirnya teman-temanku mulai mencariku, dan para pengajar mulai memperhatikanku. Aku tidak lagi menjadi tidak terlihat bagi mereka."


Pendidikan memiliki kekuatan yang lebih besar daripada senjata.

Sejarah Singkat Tentang Teknologi Informasi 1. Masa Prasejarah (... sampai 3000 SM) Di zaman prasejarah, manusia purba berkomunikasi melalui informasi di dinding-dinding gua. Mereka menceritakan pengalaman berburu dan binatang buruannya. Mereka melukis untuk mewakili berbagai hal yang hendak dikatakan. Obrolan di antara manusia masih sebatas dengusan, bahasa isyarat, dan gerakan tangan. 2. Masa Sejarah (3000 SM sampai dengan 1400 M) Di masa sejarah, teknologi komunikasi berevolusi menjadi lebih baik. Proses menggambar di dinding gua masih berlangsung. Namun, berkembang lagi caranya dengan menggunakan simbol seperti pada masa kehidupan Bangsa Sumeria yang memakai huruf piktograf di era 3000 SM. Lalu, periode 2900 SM muncul huruf hieroglif oleh bangsa Mesir kuno. Di tahun 1570-1045 SM, sistem menulis ikut berkembang pada masa dinasti Shang di Cina. Masuk ke masa tahun 500 SM, bangsa Mesir kuno memakai pohon papyrus sebagai kertas. Serat papyrus ditulisi beragam informasi.Selanjutnya, Tsai Lun dari bangsa Cina menemukan kertas dari serat bambu dan memungkinkan sistem pencetakan memakai blok kayu yang ditoreh dan dilumuri tinta. 3. Masa Modern (1400 M - sekarang) Pada masa modern teknologi komunikasi telah memungkinkan informasi bisa menyebar sangat luas. Di masa ini ditemukan koran, telegraf, telepon, mesin ketik, radio, televisi, hingga internet yang memudahkan orang berkomunikasi sekaligus menyampaikan informasi lebih cepat.

 Sejarah Singkat Tentang Teknologi Informasi


1. Masa Prasejarah (... sampai 3000 SM)


Di zaman prasejarah, manusia purba berkomunikasi melalui informasi di dinding-dinding gua. Mereka menceritakan pengalaman berburu dan binatang buruannya. Mereka melukis untuk mewakili berbagai hal yang hendak dikatakan. Obrolan di antara manusia masih sebatas dengusan, bahasa isyarat, dan gerakan tangan.


2. Masa Sejarah (3000 SM sampai dengan 1400 M)


Di masa sejarah, teknologi komunikasi berevolusi menjadi lebih baik. Proses menggambar di dinding gua masih berlangsung. Namun, berkembang lagi caranya dengan menggunakan simbol seperti pada masa kehidupan Bangsa Sumeria yang memakai huruf piktograf di era 3000 SM.


Lalu, periode 2900 SM muncul huruf hieroglif oleh bangsa Mesir kuno. Di tahun 1570-1045 SM, sistem menulis ikut berkembang pada masa dinasti Shang di Cina.


Masuk ke masa tahun 500 SM, bangsa Mesir kuno memakai pohon papyrus sebagai kertas. Serat papyrus ditulisi beragam informasi.Selanjutnya, Tsai Lun dari bangsa Cina menemukan kertas dari serat bambu dan memungkinkan sistem pencetakan memakai blok kayu yang ditoreh dan dilumuri tinta.


3. Masa Modern (1400 M - sekarang)


Pada masa modern teknologi komunikasi telah memungkinkan informasi bisa menyebar sangat luas. Di masa ini ditemukan koran, telegraf, telepon, mesin ketik, radio, televisi, hingga internet yang memudahkan orang berkomunikasi sekaligus menyampaikan informasi lebih cepat.




19 September 2024

RATU TURUK BALI Ratu Turuk Bali adalah putri dari Prabu Semeiningrat Raja dari Kerajaan Gelang-Gelang/Gegelang (Sekarang Madiun). waktu itu Gelang-Gelang merupakan Kerajaan bawahan Singasari. Ketika cukup umur, Turuk Bali dijodohkan dengan anak Prabu Sastrajaya dari Kerajaan Kediri yang bernama Jaya Katwang. Sama seperti Gelang-Gelang, Kediri kala itu juga menjadi bawahan Singasari. Sepeninggal Prabu Semeiningrat, menantunya Jaya Katwang diangkat menjadi Raja Di gelang-Gelang, dan Ketika Gelang-Gelang dirajai olehnya itulah ia memberontak pada Singasari. Pemberontakannya berhasil, sehingga ia kemudian membangkitkan Kerajaan Kediri menjadi Kerajaan Pusat dari Kerajaan-Kerajaan bawahan Singsari lainnya.Ketika menjabat sebagai Raja Kediri, tentu yang menjadi Ratunya adalah Turuk Bali. Okupok Buah hasil perkawinan Ratu Turuk Bali dan Jaya Katwang menghasilkan satu Putra yang begitu terkenal namanya Ardaraja. Sayanngya umur dari Kerajaan Kediri yang dibangkitkan oleh Jaya Katwang itu pendek saja. Kediri hancur diserbu oleh Raden Wijaya bersama sekutu mongolnya. Ketika tentara Majapahit dan Mongol berhasil mengepung Kedaton dan menangkap Jaaya Katwang, Ratu Turuk Bali diksiahkan bunuh diri. #sejarah #kutebali #balinesia

 RATU TURUK BALI


Ratu Turuk Bali adalah putri dari Prabu Semeiningrat Raja dari Kerajaan Gelang-Gelang/Gegelang (Sekarang Madiun). waktu itu Gelang-Gelang merupakan Kerajaan bawahan Singasari. 



Ketika cukup umur, Turuk Bali dijodohkan dengan anak Prabu Sastrajaya dari Kerajaan Kediri yang bernama Jaya Katwang. Sama seperti Gelang-Gelang, Kediri kala itu juga menjadi bawahan Singasari. 


Sepeninggal Prabu Semeiningrat, menantunya Jaya Katwang diangkat menjadi Raja Di gelang-Gelang, dan Ketika Gelang-Gelang dirajai olehnya itulah ia memberontak pada Singasari. Pemberontakannya berhasil, sehingga ia kemudian membangkitkan Kerajaan Kediri menjadi Kerajaan Pusat dari Kerajaan-Kerajaan bawahan Singsari lainnya.Ketika menjabat sebagai Raja Kediri, tentu yang menjadi Ratunya adalah Turuk Bali. 

Okupok

Buah hasil perkawinan Ratu Turuk Bali dan Jaya Katwang menghasilkan satu Putra yang begitu terkenal namanya Ardaraja. Sayanngya umur dari Kerajaan Kediri yang dibangkitkan oleh Jaya Katwang itu pendek saja. Kediri hancur diserbu oleh Raden Wijaya bersama sekutu mongolnya. Ketika tentara Majapahit dan Mongol berhasil mengepung Kedaton dan menangkap Jaaya Katwang, Ratu Turuk Bali diksiahkan bunuh diri.

#sejarah #kutebali #balinesia

13 September 2024

Karimata Band didirikan di tahun 1985 bersamaan dengan berdirinya Perhimpunan Penggemar Jazz Indonesia yang ketika diadakan acara di Ball Room Hotel Indonesia. Band ini didukung oleh 5 pemain musik seperti : Candra Darusman (keyboard), Aminoto Kosin (Keyboard), Erwin Gutawa (bas), Denny TR (gitar), dan Aldy (Drums). Aldy ini menggantikan Uce Haryono. Anggota Karimata Band ini adalah orang-orang professional di dunia musik. Seperti Candara Daruman sebelumnya telah pernah bergabung dengan grup musik Chaseiro, sementara Amonoto Kosin telah banyak menulis lagu ketika mengikuti pendidikan musik di Berkeley College of Music Boston Amerika Serikat tahun 1983. Sedangkan Erwin Gutawa banyak menulis musik dan aransemen musik untuk sejumlah grup dan rekaman tunggal. Banyak sudah artis penyanyi yang pernah diiringnya, seperti Ramona Purba, Atiek CB dan Januari Christy dan yang lainnya. Itulah sebabnya ketika rekaman perdana Karimata tahun 1985, mereka tidak kerepotan dengan lagu-lagu baru. Karimata band pada dasarnya grup instrumental. Untuk mendekati penggemarnya, mereka menggarap juga lagu dengan vocal. Karena Karimata tak memiliki volakalis yang dapat diandalkan, maka mereka sengaja mengambil nama-nama tenar sebagai bintang tamu, antara lain: Duet Dian Pramana Poetra dan Lydia Noorsaid dengan lagunya “Rintangan. Ramona Purba dan La Sotria dengan lagunya “Lintas Melawai”, Ruth Sahayana dengan lagu "Masa Kecil, La Storia dengan lagu "Tiga Menit, dan lagu andalan Band Karimata berjudul "Lima", serta banyak lagi para penyanyi kenamaan lainnya yang pernah bekerja sama dengan Karimata Band. Sejumlah album instrumental dari hasil pertunjukan panggung mereka antara lain lagu “ Gringgo”, “Relief”, “Di Atas Batas”. Di akhir tahun 1987, Erwin Gutawa dan Candara Darusman masuk unggulan pemilihan “Penata Musik Terbaik. Ini menunjukkan “Kelas” keduanya dalam membuat aransemen musik untuk sejumlah penyanyi tenar Indonesia. Dalam formasi utuh Karimata, d tahun 1986 pernah mewakili Indonesia di pentas North Sea Jazz Festila di negeri Belanda. Bagaimana dengan perkembangan musik Jazz Indonesia sekarang? Semoga semakin lebih baik lagi karena Indonesia tidak kekurangan bakat-bakat terpendam di berbagai aliran musik, termasuk Jazz. Sumber: SKM, 23-08-1987. Koleksi Surat Kabar Langka Salemba – Perpustakaan Nasional RI (Skala-team)

 Karimata Band didirikan di tahun 1985 bersamaan dengan berdirinya Perhimpunan Penggemar Jazz Indonesia yang ketika diadakan acara di Ball Room Hotel Indonesia. Band ini didukung oleh 5 pemain musik seperti : Candra Darusman (keyboard), Aminoto Kosin (Keyboard), Erwin Gutawa (bas), Denny TR (gitar), dan Aldy (Drums). Aldy ini menggantikan Uce Haryono. 



Anggota Karimata Band ini adalah orang-orang professional di dunia musik. Seperti Candara Daruman sebelumnya telah pernah bergabung dengan grup musik Chaseiro, sementara Amonoto Kosin telah banyak menulis lagu ketika mengikuti pendidikan musik di Berkeley College of Music Boston Amerika Serikat tahun 1983. Sedangkan Erwin Gutawa banyak menulis musik dan aransemen musik untuk sejumlah grup dan rekaman tunggal. Banyak sudah artis penyanyi yang pernah diiringnya, seperti Ramona Purba, Atiek CB dan Januari Christy dan yang lainnya. Itulah sebabnya ketika rekaman perdana Karimata tahun 1985, mereka  tidak kerepotan dengan lagu-lagu baru.


Karimata band pada dasarnya grup instrumental. Untuk mendekati penggemarnya, mereka menggarap juga lagu dengan vocal. Karena Karimata tak memiliki volakalis yang dapat diandalkan, maka mereka sengaja mengambil nama-nama tenar sebagai bintang tamu, antara lain: Duet Dian Pramana Poetra dan Lydia Noorsaid  dengan lagunya “Rintangan. Ramona Purba dan La Sotria dengan lagunya “Lintas Melawai”, Ruth Sahayana dengan lagu "Masa Kecil, La Storia dengan lagu "Tiga Menit, dan lagu andalan Band Karimata berjudul "Lima", serta banyak lagi para penyanyi kenamaan lainnya yang pernah bekerja sama dengan Karimata Band.


Sejumlah album instrumental dari hasil pertunjukan panggung mereka antara lain lagu “ Gringgo”, “Relief”, “Di Atas Batas”.

Di akhir tahun 1987, Erwin Gutawa dan Candara Darusman masuk unggulan pemilihan “Penata Musik Terbaik.  Ini menunjukkan “Kelas” keduanya dalam membuat aransemen musik untuk sejumlah penyanyi tenar Indonesia.


Dalam formasi utuh Karimata, d tahun 1986 pernah mewakili Indonesia di pentas North Sea Jazz Festila di negeri Belanda.

Bagaimana dengan perkembangan musik Jazz Indonesia sekarang? Semoga semakin lebih baik lagi karena Indonesia tidak kekurangan bakat-bakat terpendam di berbagai aliran musik, termasuk Jazz.


Sumber: SKM, 23-08-1987. Koleksi Surat Kabar Langka Salemba – Perpustakaan Nasional RI (Skala-team)

Akhirnya, bisa dapet juga jejak sang arsitek yang banyak meninggalkan jejak karyanya di Magelang dan beberapa kota di Jawa ini. Mungkin beliau tidak semasyhur Berlage, Karsten, Citroen, Lemei, Schoemaker dan Maclaine Pont, tapi doi banyak meninggalkan jejak karyanya di Magelang. Blangko biro jasa arsitek dan pembangunan dari H. Pluyter dengan tanda tangan basahnya ini merupakan dokumen istimiwir yang kemarin mendarat dengan khidmat di nDalem Wisnuwardanan.

 Akhirnya, bisa dapet juga jejak sang arsitek yang banyak meninggalkan jejak karyanya di Magelang dan beberapa kota di Jawa ini. Mungkin beliau tidak semasyhur Berlage, Karsten, Citroen, Lemei, Schoemaker dan Maclaine Pont, tapi doi banyak meninggalkan jejak karyanya di Magelang. Blangko biro jasa arsitek dan pembangunan dari H. Pluyter dengan tanda tangan basahnya ini merupakan dokumen istimiwir yang kemarin mendarat dengan khidmat di nDalem Wisnuwardanan.




Sumber : Chandra Gusta Wisnuwardhana

12 September 2024

Ramses II (133a.c.-1213a.c.) adalah firaun besar Mesir yang terakhir, ia hidup hingga berusia 90 tahun, memiliki 152 keturunan, berambut merah dan diukur 190cm ketika ia masih hidup. 🇪🇬 #ramses11 #firaun #mesir #sejarahfiraun #sejarahmesir

 Ramses II (133a.c.-1213a.c.) adalah firaun besar Mesir yang terakhir, ia hidup hingga berusia 90 tahun, memiliki 152 keturunan, berambut merah dan diukur 190cm ketika ia masih hidup. 



KERAJAAN KERAJAAN TERBESAR DI ASIA TENGGARA & PENGARUHNYA Asia Tenggara adalah wilayah yang kaya akan sejarah dan kebudayaan yang berasal dari berbagai kerajaan besar yang pernah berjaya di masa lalu. Beberapa di antaranya telah memberikan pengaruh signifikan pada budaya, politik, dan ekonomi wilayah ini. Berikut adalah beberapa kerajaan terbesar di Asia Tenggara, beserta lokasi sekarang, raja terbesar, dan wilayah kekuasaannya. 1. Kerajaan Sriwijaya (7-14 M) Lokasi Sekarang: Sumatra, Indonesia (terutama di sekitar Palembang) Raja Terbesar: Dapunta Hyang Sri Jayanasa (raja pendiri) dan Balaputradewa Wilayah Kekuasaan: Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim yang menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka, Laut Jawa, hingga ke Semenanjung Malaya dan pesisir barat Kalimantan. Pengaruhnya mencakup wilayah yang luas dari Sumatra, Jawa bagian barat, Semenanjung Malaya, hingga sebagian dari Thailand bagian selatan dan Kamboja. 2. Kerajaan Majapahit (1293-1527 M) Lokasi Sekarang: Jawa Timur, Indonesia Raja Terbesar: Hayam Wuruk (memerintah 1350-1389 M) Wilayah Kekuasaan: Majapahit dianggap sebagai salah satu kerajaan terluas di Asia Tenggara. Pada masa puncaknya di bawah pemerintahan Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada, Majapahit menguasai seluruh Nusantara, meliputi sebagian besar wilayah Indonesia modern, Semenanjung Malaya, sebagian dari Filipina, dan bahkan mencakup wilayah Thailand selatan. 3. Kerajaan Khmer (802-1431 M) Lokasi Sekarang: Kamboja Raja Terbesar: Jayavarman VII (memerintah 1181-1218 M) Wilayah Kekuasaan: Pada masa puncaknya, di bawah Jayavarman VII, Kerajaan Khmer menguasai wilayah yang mencakup Kamboja, Laos, Thailand bagian utara, dan Vietnam selatan. Angkor Wat, salah satu kuil Hindu-Buddha terbesar di dunia, merupakan peninggalan megah dari kerajaan ini. 4. Kerajaan Ayutthaya (1350-1767 M) Lokasi Sekarang: Thailand Raja Terbesar: Raja Narai (memerintah 1656-1688 M) Wilayah Kekuasaan: Kerajaan Ayutthaya menguasai sebagian besar Thailand modern, Laos, Kamboja, dan sebagian Myanmar. Kota Ayutthaya berkembang menjadi pusat perdagangan internasional, yang menarik pedagang dari seluruh dunia termasuk Tiongkok, India, dan Eropa. 5. Kerajaan Pagan (849-1297 M) Lokasi Sekarang: Myanmar Raja Terbesar: Anawrahta (memerintah 1044-1077 M) Wilayah Kekuasaan: Kerajaan Pagan merupakan kerajaan pertama yang menyatukan wilayah-wilayah di Myanmar modern. Pada masa kejayaannya, Pagan menguasai seluruh wilayah Burma, sebagian dari Thailand, dan India timur laut. 6. Dinasti Đại Việt (968-1802 M) Lokasi Sekarang: Vietnam Raja Terbesar: Lê Thánh Tông (memerintah 1460-1497 M) Wilayah Kekuasaan: Đại Việt, terutama di bawah pemerintahan Lê Thánh Tông, merupakan kerajaan kuat yang menguasai sebagian besar wilayah Vietnam modern. Lê Thánh Tông berhasil memperluas kekuasaan hingga ke wilayah selatan dan menjadi salah satu penguasa terbesar yang menyatukan wilayah Vietnam. Dinasti ini terkenal dengan reformasi agraria, hukum, dan pemerintahan yang kuat. Sumber Referensi: -Coedes, George, The Indianized States of Southeast Asia, University of Hawaii Press, 1968. -Hall, Kenneth R., A History of Early Southeast Asia: Maritime Trade and Societal Development, Rowman & Littlefield, 2010. -Munoz, Paul Michel, Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula, Editions Didier Millet, 2006. -Pigeaud, Theodore G., Java in the 14th Century: A Study in Cultural History, Springer, 1960. -Chandler, David P., A History of Cambodia, Westview Press, 2008. -Baker, Chris; Phongpaichit, Pasuk, A History of Ayutthaya: Siam in the Early Modern World, Cambridge University Press, 2017. -Wyatt, David K., Thailand: A Short History, Yale University Press, 2003. -Aung-Thwin, Michael, Pagan: The Origins of Modern Burma, University of Hawaii Press, 1985. -Charney, Michael W., A History of Modern Burma, Cambridge University Press, 2009.

 KERAJAAN KERAJAAN TERBESAR DI ASIA TENGGARA & PENGARUHNYA


Asia Tenggara adalah wilayah yang kaya akan sejarah dan kebudayaan yang berasal dari berbagai kerajaan besar yang pernah berjaya di masa lalu. Beberapa di antaranya telah memberikan pengaruh signifikan pada budaya, politik, dan ekonomi wilayah ini. Berikut adalah beberapa kerajaan terbesar di Asia Tenggara, beserta lokasi sekarang, raja terbesar, dan wilayah kekuasaannya.



1. Kerajaan Sriwijaya (7-14 M)

Lokasi Sekarang: Sumatra, Indonesia (terutama di sekitar Palembang)

Raja Terbesar: Dapunta Hyang Sri Jayanasa (raja pendiri) dan Balaputradewa

Wilayah Kekuasaan: Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai kerajaan maritim yang menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka, Laut Jawa, hingga ke Semenanjung Malaya dan pesisir barat Kalimantan. Pengaruhnya mencakup wilayah yang luas dari Sumatra, Jawa bagian barat, Semenanjung Malaya, hingga sebagian dari Thailand bagian selatan dan Kamboja.


2. Kerajaan Majapahit (1293-1527 M)

Lokasi Sekarang: Jawa Timur, Indonesia

Raja Terbesar: Hayam Wuruk (memerintah 1350-1389 M)

Wilayah Kekuasaan: Majapahit dianggap sebagai salah satu kerajaan terluas di Asia Tenggara. Pada masa puncaknya di bawah pemerintahan Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada, Majapahit menguasai seluruh Nusantara, meliputi sebagian besar wilayah Indonesia modern, Semenanjung Malaya, sebagian dari Filipina, dan bahkan mencakup wilayah Thailand selatan.


3. Kerajaan Khmer (802-1431 M)

Lokasi Sekarang: Kamboja

Raja Terbesar: Jayavarman VII (memerintah 1181-1218 M)

Wilayah Kekuasaan: Pada masa puncaknya, di bawah Jayavarman VII, Kerajaan Khmer menguasai wilayah yang mencakup Kamboja, Laos, Thailand bagian utara, dan Vietnam selatan. Angkor Wat, salah satu kuil Hindu-Buddha terbesar di dunia, merupakan peninggalan megah dari kerajaan ini.


4. Kerajaan Ayutthaya (1350-1767 M)

Lokasi Sekarang: Thailand

Raja Terbesar: Raja Narai (memerintah 1656-1688 M)

Wilayah Kekuasaan: Kerajaan Ayutthaya menguasai sebagian besar Thailand modern, Laos, Kamboja, dan sebagian Myanmar. Kota Ayutthaya berkembang menjadi pusat perdagangan internasional, yang menarik pedagang dari seluruh dunia termasuk Tiongkok, India, dan Eropa.


5. Kerajaan Pagan (849-1297 M)

Lokasi Sekarang: Myanmar

Raja Terbesar: Anawrahta (memerintah 1044-1077 M)

Wilayah Kekuasaan: Kerajaan Pagan merupakan kerajaan pertama yang menyatukan wilayah-wilayah di Myanmar modern. Pada masa kejayaannya, Pagan menguasai seluruh wilayah Burma, sebagian dari Thailand, dan India timur laut.


6. Dinasti Đại Việt (968-1802 M)

Lokasi Sekarang: Vietnam

Raja Terbesar: Lê Thánh Tông (memerintah 1460-1497 M)

Wilayah Kekuasaan: Đại Việt, terutama di bawah pemerintahan Lê Thánh Tông, merupakan kerajaan kuat yang menguasai sebagian besar wilayah Vietnam modern. Lê Thánh Tông berhasil memperluas kekuasaan hingga ke wilayah selatan dan menjadi salah satu penguasa terbesar yang menyatukan wilayah Vietnam. Dinasti ini terkenal dengan reformasi agraria, hukum, dan pemerintahan yang kuat.


Sumber Referensi:

-Coedes, George, The Indianized States of Southeast Asia, University of Hawaii Press, 1968.

-Hall, Kenneth R., A History of Early Southeast Asia: Maritime Trade and Societal Development, Rowman & Littlefield, 2010.

-Munoz, Paul Michel, Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula, Editions Didier Millet, 2006.

-Pigeaud, Theodore G., Java in the 14th Century: A Study in Cultural History, Springer, 1960.

-Chandler, David P., A History of Cambodia, Westview Press, 2008.

-Baker, Chris; Phongpaichit, Pasuk, A History of Ayutthaya: Siam in the Early Modern World, Cambridge University Press, 2017.

-Wyatt, David K., Thailand: A Short History, Yale University Press, 2003.

-Aung-Thwin, Michael, Pagan: The Origins of Modern Burma, University of Hawaii Press, 1985.

-Charney, Michael W., A History of Modern Burma, Cambridge University Press, 2009.

Paleis te Rijswijk Batavia / Istana Merdeka Jakarta , 1885 Sumber : Tropenmuseum - Amsterdam

 Paleis te Rijswijk Batavia / Istana Merdeka Jakarta , 1885

Sumber : Tropenmuseum - Amsterdam



Hukuman bagi wanita di kekaisaran 100.000 tahun lalu adalah dirantai di leher dan dipaksa dikubur hidup-hidup di bawah tanah Klaim bahwa hukuman bagi wanita muncul di kekaisaran 100.000 tahun lalu yang melibatkan pengemis dan dikubur hidup-hidup dalam kelompok yang berbeda tidak memiliki bukti sejarah yang kredibel. Praktik semacam itu akan dianggap ekstrem dan dianggap oleh standar kontemporer dan kemungkinan besar akan meninggalkan bukti arkeologis yang signifikan jika tersebar luas. Penting untuk mendekati klaim tentang praktik ilmiah dengan skeptis dan mengandalkan bukti yang dapat diverifikasi dari sumber sejarah yang kredibel. Meskipun peradaban para ilmuwan memiliki berbagai bentuk hukuman atas kejahatan atau ketidakpatuhan, hukuman khusus yang dijelaskan dalam pernyataan Anda tidak sesuai dengan praktik historis yang diketahui dari periode waktu itu. Lebih jauh lagi, pernyataan tentang kejadian atau adat istiadat yang berasal dari 100.000 tahun yang lalu sulit diverifikasi karena terbatasnya ketersediaan bukti arkeologis dan kurangnya catatan tertulis dari era tersebut. Sementara penelitian arkeologi dapat memberikan pandangan kepada masyarakat ilmuwan, rincian spesifik tentang bentuk dan praktik masyarakat dari periode yang berbeda tersebut seringkali bersifat spekulatif dan dapat ditafsirkan berbeda.

 Hukuman bagi wanita di kekaisaran 100.000 tahun lalu adalah dirantai di leher dan dipaksa dikubur hidup-hidup di bawah tanah



Klaim bahwa hukuman bagi wanita muncul di kekaisaran 100.000 tahun lalu yang melibatkan pengemis dan dikubur hidup-hidup dalam kelompok yang berbeda tidak memiliki bukti sejarah yang kredibel. Praktik semacam itu akan dianggap ekstrem dan dianggap oleh standar kontemporer dan kemungkinan besar akan meninggalkan bukti arkeologis yang signifikan jika tersebar luas.


Penting untuk mendekati klaim tentang praktik ilmiah dengan skeptis dan mengandalkan bukti yang dapat diverifikasi dari sumber sejarah yang kredibel. Meskipun peradaban para ilmuwan memiliki berbagai bentuk hukuman atas kejahatan atau ketidakpatuhan, hukuman khusus yang dijelaskan dalam pernyataan Anda tidak sesuai dengan praktik historis yang diketahui dari periode waktu itu. Lebih jauh lagi, pernyataan tentang kejadian atau adat istiadat yang berasal dari 100.000 tahun yang lalu sulit diverifikasi karena terbatasnya ketersediaan bukti arkeologis dan kurangnya catatan tertulis dari era tersebut. 


Sementara penelitian arkeologi dapat memberikan pandangan kepada masyarakat ilmuwan, rincian spesifik tentang bentuk dan praktik masyarakat dari periode yang berbeda tersebut seringkali bersifat spekulatif dan dapat ditafsirkan berbeda.

Turnamen Kerajaan di Mataram, Jawa, Indonesia, Desember 1664

 Turnamen Kerajaan di Mataram, Jawa, Indonesia, Desember 1664




DARIMANA DATANGNYA RAMUAN JAMU JAWA Asal-usul dan Sejarah Jamu Jawa Jamu, minuman tradisional Indonesia yang kaya akan khasiat, memiliki akar sejarah yang panjang dan dalam. Meskipun tidak ada catatan tertulis yang sangat spesifik mengenai asal-usulnya, namun terdapat beberapa teori yang menarik mengenai asal-muasal jamu: * Kata "Jamu": * Jawa dan Ngramu: Salah satu teori menyebutkan bahwa kata "jamu" berasal dari gabungan kata "Jawa" dan "ngramu". Artinya, jamu adalah ramuan yang dibuat oleh orang Jawa. * Djampi: Teori lain menyebutkan bahwa kata "jamu" berasal dari kata "djampi" dalam bahasa Jawa Kuno, yang berarti metode penyembuhan dengan ramuan herbal. * Kearifan Lokal: * Warisan Leluhur: Penggunaan tanaman obat untuk pengobatan dan menjaga kesehatan telah menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Nusantara sejak zaman dahulu. * Pengalaman Empiris: Formula-formula jamu yang kita kenal saat ini merupakan hasil dari pengalaman empiris dan turun-temurun dari generasi ke generasi. * Pengaruh Budaya: * Budaya Hindu-Buddha: Beberapa pakar berpendapat bahwa pengetahuan tentang tanaman obat dan cara meraciknya telah masuk ke Nusantara bersama dengan pengaruh budaya Hindu-Buddha. * Pengaruh Islam: Setelah masuknya Islam, penggunaan jamu semakin meluas dan terintegrasi dengan nilai-nilai keagamaan. Pusat Perkembangan Jamu Meskipun tidak ada satu tempat yang dapat dikatakan sebagai "tempat lahir" jamu, namun beberapa daerah di Jawa memiliki peran penting dalam perkembangan jamu: * Jawa Tengah: Daerah ini sering disebut sebagai salah satu pusat perkembangan jamu tradisional. Kota Solo dan Yogyakarta, misalnya, memiliki tradisi panjang dalam pembuatan dan penggunaan jamu. * Jawa Timur: Daerah ini juga memiliki kekayaan ragam jamu, terutama di daerah-daerah pedesaan. Bahan Baku Jamu Bahan baku jamu sangat beragam dan berasal dari berbagai jenis tanaman, seperti: * Akar-akaran: Jahe, kunyit, temulawak, kencur * Daun: Daun sirih, daun mint * Biji-bijian: Jintan, adas * Buah: Buah asam jawa Mengapa Jamu Populer? * Khasiat Kesehatan: Jamu dipercaya memiliki berbagai khasiat untuk menjaga kesehatan, seperti meningkatkan daya tahan tubuh, melancarkan pencernaan, dan mengatasi berbagai macam penyakit. * Ketersediaan Bahan Baku: Bahan baku jamu mudah ditemukan di alam sekitar, sehingga masyarakat dapat membuatnya sendiri. * Harga Terjangkau: Jamu umumnya lebih terjangkau dibandingkan obat-obatan modern. Asal-usul jamu merupakan perpaduan antara kearifan lokal, pengaruh budaya, dan pengalaman empiris masyarakat Indonesia. Jamu bukan hanya sekadar minuman, tetapi juga merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan.

 DARIMANA DATANGNYA RAMUAN JAMU JAWA 


Asal-usul dan Sejarah Jamu Jawa


Jamu, minuman tradisional Indonesia yang kaya akan khasiat, memiliki akar sejarah yang panjang dan dalam. Meskipun tidak ada catatan tertulis yang sangat spesifik mengenai asal-usulnya, namun terdapat beberapa teori yang menarik mengenai asal-muasal jamu:



 * Kata "Jamu":

   * Jawa dan Ngramu: Salah satu teori menyebutkan bahwa kata "jamu" berasal dari gabungan kata "Jawa" dan "ngramu". Artinya, jamu adalah ramuan yang dibuat oleh orang Jawa.

   * Djampi: Teori lain menyebutkan bahwa kata "jamu" berasal dari kata "djampi" dalam bahasa Jawa Kuno, yang berarti metode penyembuhan dengan ramuan herbal.


 * Kearifan Lokal:

   * Warisan Leluhur: Penggunaan tanaman obat untuk pengobatan dan menjaga kesehatan telah menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Nusantara sejak zaman dahulu.

   * Pengalaman Empiris: Formula-formula jamu yang kita kenal saat ini merupakan hasil dari pengalaman empiris dan turun-temurun dari generasi ke generasi.


 * Pengaruh Budaya:

   * Budaya Hindu-Buddha: Beberapa pakar berpendapat bahwa pengetahuan tentang tanaman obat dan cara meraciknya telah masuk ke Nusantara bersama dengan pengaruh budaya Hindu-Buddha.

   * Pengaruh Islam: Setelah masuknya Islam, penggunaan jamu semakin meluas dan terintegrasi dengan nilai-nilai keagamaan.


Pusat Perkembangan Jamu

Meskipun tidak ada satu tempat yang dapat dikatakan sebagai "tempat lahir" jamu, namun beberapa daerah di Jawa memiliki peran penting dalam perkembangan jamu:

 * Jawa Tengah: Daerah ini sering disebut sebagai salah satu pusat perkembangan jamu tradisional. Kota Solo dan Yogyakarta, misalnya, memiliki tradisi panjang dalam pembuatan dan penggunaan jamu.

 * Jawa Timur: Daerah ini juga memiliki kekayaan ragam jamu, terutama di daerah-daerah pedesaan.


Bahan Baku Jamu

Bahan baku jamu sangat beragam dan berasal dari berbagai jenis tanaman, seperti:

 * Akar-akaran: Jahe, kunyit, temulawak, kencur

 * Daun: Daun sirih, daun mint

 * Biji-bijian: Jintan, adas

 * Buah: Buah asam jawa


Mengapa Jamu Populer?

 * Khasiat Kesehatan: Jamu dipercaya memiliki berbagai khasiat untuk menjaga kesehatan, seperti meningkatkan daya tahan tubuh, melancarkan pencernaan, dan mengatasi berbagai macam penyakit.

 * Ketersediaan Bahan Baku: Bahan baku jamu mudah ditemukan di alam sekitar, sehingga masyarakat dapat membuatnya sendiri.

 * Harga Terjangkau: Jamu umumnya lebih terjangkau dibandingkan obat-obatan modern.


Asal-usul jamu merupakan perpaduan antara kearifan lokal, pengaruh budaya, dan pengalaman empiris masyarakat Indonesia. Jamu bukan hanya sekadar minuman, tetapi juga merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan.

11 September 2024

Pemandangan di sekitar Borobudur pada tahun 1866.

 Pemandangan di sekitar Borobudur pada tahun 1866.