Pages

03 April 2026

Saat Belanda menginvasi Kerajaan Aceh, banyak sekali Jendral dan Perwira Belanda lainnya yang ditugaskan di Aceh, mulanya mereka ditugaskan untuk menyerbu Kesultanan Aceh, namun selepas Kesultanan Aceh dapat ditaklukan pada 1874 seiring direbutnya Keraton dan Ibu Kota Kerajaan, mereka para Perwira dan pegawai-pegawai Belanda itu menetap di Aceh untuk memerintah di daerah taklukan barunya. Berjalannya waktu, kian hari orang-orang Belanda banyak mendiami Kota-Kota di Aceh yang ditaklukannya, mereka Para Perwira Belanda itu nantinya melakukan Praktek Pergundikan ketika menetap di Aceh, mereka mengambil wanita-wanita Aceh untuk dijadikan sebagai Gundiknya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahwa Gundik mempunyai arti "Perempuan Peliharaan" juga mempunyai arti Istri Tidak Resmi dan juga dapat dimaknai sebagai selir. Menurut beberapa Sejarawan, banyaknya Perwira Belanda yang menggundik berkaitan dengan latar belakang Agamanya. Umumnya mayoritas orang Belanda beragama Kristen, dalam Dogma Greja, laki-laki Kristen hanya dibolehkan menikahi satu orang wanita saja, sebab itu praktis administrasi pemerintah Kolonial hanya mengakui 1 istri saja. Berlatar Belakang dari Dogma Greja itulah, maka apabila seorang Kristen Belanda mengawini wanita lain dianggap sebagai perkawinan yang tidak sah menurut Greja dan sudah barang tentu tidak sah juga perkawinanya dalam adminsistrasi pemerintah Kolonial, sehingga Istri kedua dan seterusnya disebut "Gundik" atau wanita Peliharaan. Catatan mengenai wanita Aceh yang dijadikan Gundik oleh para Perwira Belanda tercatat dalam buku Karya Zentgraf yang berjudul " De Atjeh", dalam bukunya ia mencatat, bahwa ketika hubungan Sosial Belanda dan Pribumi Aceh kian meningkat seiring ekspedisi Belanda yang menjangkau pedalaman untuk menumpas para Grilyawan, para Perwira Belanda banyak menjadikan wanita Aceh sebagai Gundiknya. Menariknya, dalam buku tersebut juga dikisahkan mengenai tujuan mereka menjadikan wanita Aceh sebagai Gundiknya, adapun tujuannya salah satunya adalah "Mempelajari Bahasa dan Budaya Aceh" sementara tujuan puncak dari Praktek Pergundikan itu adalah menaklukan daerah-daerah yang dianggap sebagai sarang Grilyawan. Gundik Asal Aceh yang paling terkenal dalam sejarah Aceh adalah wanita yang disebut sebagai Istri "Panglima Ulee Lheu Mugoe", ketika suaminya berjuang menjadi Grilyawan, wanita tersebut dijadikan sebagai Gundik Perwira Belanda, mirisnya Gundik Aceh itu kemudian membocorkan persembunyian suaminya kepada Kekasih Belandanya, sehingga dari peristiwa tersebut Suami sahnya dapat ditangkap oleh Belanda. Zuftazani dalam De Atjeh Oorlog (hlm, 438) menyebutkan "Seorang Perwira Belanda yang mempunyai Gundik dari Wanita Aceh, yang mana Gundik itu tidak berkurang hormatnya pada tuannya walaupun tuannya adalah seorang Kafir, ini adalah sebuah kenyataan bahwa Aceh mempunyai lembaran hitam dalam sejarah menentang penjajahan Belanda, Wanita Aceh yang menjadi Gundik Belanda itu tidak hanya menjual kehormatannya melainkan juga menjual Agamanya". Tidak dapat dipungkiri, bahwa hasil Pergundikan antara Perwira Belanda dan Wanita Aceh sisa-sisanya masih dapat dilihat sampai sekarang dari sebaran penduduk Aceh yang mempunyai darah keturunan Belanda, mereka umumnya bermata biru dan berkulit putih, hanya saja guna menutupi malu mereka terkadang menyebut sebagai keturunan Portugis yang dahulu pernah singgah di Aceh (Kapal Portugis Karam di Aceh) dan ada juga yang beralasan ketika Portugis menakluk Pasai pada Tahun 1521. Alasan tersebut tentu tidak dapat dibenarkan sepenuhnya, mengingat rentang Kedatangan Portugis ke Aceh sangat jauh sekali (Aabad 16-17), sehingga jika keturunan Portugis itu kawain mengawin dengan penduduk lokal secara terus menerus selama beberapa genarsi akan hilang kekhasan darah dan ciri ke Eropannya, berbeda dengan Belanda yang baru datang ke Aceh pada abad 19, jelas keturunan hasil Perkawinan antara Perwira Belanda dan Gundik Acehnya itu secara genetik masih dapat dilihat di Abad 21 ini. Orang-orang keturunan Eropa di Aceh biasanya disebut dengan Istilah "Bulek Lamno", umumnya mereka dianggap sebagai keturunan Portugis, tanpa sama sekali menyebut jika nenek moyang mereka merupakan hasil Kawin Campur antara Perwira Belanda dengan wanita Aceh yang dijadikan sebagai Gundik tuan Belandanya. Oleh : Sejarah Cirebon

 Saat Belanda menginvasi Kerajaan Aceh, banyak sekali Jendral dan Perwira Belanda lainnya yang ditugaskan di Aceh, mulanya mereka ditugaskan...
01 April 2026

KHALID bin WALID dan MITOS Selat HORMUZ: Mana FAKTA, Mana CERITA? Narasi yang mengaitkan nama Strait of Hormuz dengan kekalahan seorang komandan Persia bernama Hormuz di tangan Khalid ibn al-Walid sering beredar luas dan terdengar meyakinkan. Namun, jika ditelaah secara kritis, cerita ini lebih dekat pada mitos daripada fakta sejarah. JEJAK NAMA HORMUZ Fakta pertama yang tak bisa diabaikan adalah soal kronologi. Nama “Hormuz” sudah dikenal jauh sebelum abad ke-7 M, yakni masa ekspansi Islam ke wilayah Persia. Nama ini berasal dari tradisi dan wilayah kuno Persia, terutama yang berkaitan dengan Kingdom of Hormuz dan Hormuz Island. Kawasan ini telah menjadi pusat perdagangan penting sejak berabad-abad sebelumnya. Artinya, secara logika sejarah, mustahil nama selat tersebut diambil dari seorang tokoh yang hidup jauh setelah nama itu ada. BATTLE OF CHAINS Di sisi lain, memang benar ada tokoh Persia bernama Hormuz dalam catatan sejarah awal Islam. Ia disebut terlibat dalam konflik melawan pasukan Muslim, termasuk dalam peristiwa yang dikenal sebagai Battle of Chains. Namun, menghubungkan tokoh ini sebagai asal-usul nama Selat Hormuz adalah lompatan logika yang tidak didukung bukti. “Hormuz” sendiri merupakan nama yang umum dalam budaya Persia, bukan identitas tunggal yang otomatis menjadi penanda geografis. Masalah lain terletak pada kisah duel antara Khalid dan Hormuz yang sering diceritakan secara dramatis. Sumber-sumber klasik seperti karya Al-Tabari dan Ibn Kathir memang mencatat peperangan tersebut, tetapi detail-detail heroik seperti duel satu lawan satu tidak selalu dapat diverifikasi dengan standar historiografi modern. Dalam banyak kasus, narasi seperti ini berfungsi sebagai penguat semangat dan simbol kemenangan, bukan laporan faktual yang sepenuhnya objektif. PENAMAAN GEOGRAFIS Lebih jauh lagi, dalam praktik penamaan geografis di seluruh dunia, hampir tidak pernah ada selat atau laut besar yang dinamai dari duel individu. Nama-nama geografis biasanya berasal dari bahasa lokal, peradaban setempat, atau kekuatan politik yang telah lama menguasai wilayah tersebut. Karena itu, anggapan bahwa Selat Hormuz seharusnya dinamai dari Khalid bin Walid atau terkait langsung dengan peristiwa duel adalah asumsi yang tidak memiliki dasar historis. Dengan demikian, penting untuk membedakan antara fakta dan cerita. Fakta menunjukkan bahwa nama Selat Hormuz berakar pada sejarah panjang peradaban Persia. Sementara itu, cerita tentang duel Khalid dan Hormuz—terlepas dari nilai heroiknya—tidak memiliki kaitan dengan penamaan selat tersebut. Memahami perbedaan ini bukan untuk merendahkan sejarah, melainkan untuk menempatkannya secara proporsional dan berdasarkan data yang dapat dipertanggung jawabkan. WaLlahu a’lamu bishshawab #iran #IranvsIsrael #politik #timurtengah #krisisekonomi #SelatHormuz #BBM #IranvsUSA #arabsaudi #sejarahislam #khalidbinwalid

 KHALID bin WALID dan MITOS Selat HORMUZ: Mana FAKTA, Mana CERITA? Narasi yang mengaitkan nama Strait of Hormuz dengan kekalahan seorang kom...
30 March 2026

CakNun.com Password Iblis (Pokoknya Saya yang Benar) Emha Ainun Nadjib Kali ini saya benar-benar marah kepada Iblis. Marah besar. Tidak bisa saya tahan lagi. Tak ada stok kesabaran lagi. Apalagi kompromi. Saya harus segera menemukan si raja bangsat ini. Kemungkinan besar saya akan tantang dia berkelahi. Terus terang semakin udzur usia saya semakin kacau hidup saya, karena polah Iblis, bukan karena yang lain, misalnya Malaikat atau Tuhan. Banyak anak-anak saya di sana sini yang usianya masih muda tapi mengalami benturan besar dalam hidupnya, misalnya terpaksa bercerai dengan suami atau istrinya. Mereka bilang “Yaaah, sebenarnya saya maunya tetap berkeluarga baik-baik, tapi Tuhan yang di atas sana berkehendak lain…” Masih lumayan yang mengacau hidup mereka adalah Tuhan. Pasti ada hikmahnya kalau Tuhan yang berinisiatif. Tuhan memang Maha Menyesatkan (Al-Mudhill), tetapi pasti ada kebaikan yang ditabiri rahasia di balik penderitaan. Toh Tuhan juga Maha Memberi Petunjuk (Al-Hadi). Pun jelas Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Jadi semenderita apapun, tetap ada menit atau hari atau bulan atau tahun berikutnya yang memuat solusi dan kebahagiaan untuk manusia. Kalau durasi waktu permainan sepakbola adalah 90 menit, maka menit ke-90 hidup kita kan nanti di ujung keabadian. Kehidupan di dunia ini hanya detik-detik awal di menit pertama permainan sepakbola kehidupan. Sesudah mati kita lepas dari babak penyisihan, masuk ke perdelapan final. Kalah atau menangnya hidup kita masih harus kita tunggu kelak di “kholidina fiha abada”: di bagian akhir dari kekekalan dan keabadian. Kita ini penduduk asli Sorga. Disuruh “Malioboro” (dadio Wali kang ngumboro) sejenak. “Mampir ngombe”, kata orang Jawa. Menempuh perjalanan rindu, sampai ke love meeting point di Sorga kembali. “Katakan: kalau memang kalian mencintai Allah, maka ikutilah jalanku”. “Barangsiapa kangen untuk berjumpa dengan-Ku, maka berbuat baiklah selama di dunia”. Kehidupan yang berat di dunia dan kesengsaraan sedahsyat apapun tidak masalah selama di dunia, karena toh itu baru detik-detik awal Permainan Abadi. “Asalkan Engkau tidak marah kepadaku, wahai Maha Kekasih, aku tidak peduli nasib apapun yang harus kujalani di dunia”. Pokoknya kalau sekadar urusan di dunia: aku gak pathéken! Masalahnya, kesengsaraan yang saya alami ini bukan Tuhan inisiatornya, melainkan Iblis. Baik kesengsaraan sebagai individu, penderitaan sebagai seorang Muslim, maupun keterpurukan sebagai bangsa Indonesia. Iblis benar-benar menjalankan apa yang dulu dia tuduhkan kepada Adam dan anak turunnya: “Untuk apa Engkau ciptakan manusia, wahai Allah, toh sudah selalu jelas profesi mereka adalah merusak bumi dan berbunuh-bunuhan” di antara mereka, dengan berbagai cara dan dalam berbagai level, segmen, konteks dan nuansa. Iblis memang bandit, preman, korak, gali, munyuk, menyun, bangsat, taek lintung, dobol, demit, sèmpel, pekok, ahmaq… Nah, Ahmaq ini utamanya. Semua orang tahu apa itu Ahmaq. Sejak kecil saya berjuang, tirakat, lelaku, puasa nasi dan hanya makan gaplek atau bugik, latihan menaklukkan diri sendiri, mencintai Tuhan, alam dan manusia. Tapi di usia tua sekarang ini malah saya jadi Ahmaq. Iblis melakukan rekayasa, penelusupan, perongrongan, subversi, terorisme intelektual dan berbagai formula lagi, sehingga berhasil membuat saya menjadi Ahmaq. Saya frustrasi karena tiba-tiba menjumpai saya adalah Ahmaq: manusia yang tidak memenuhi syarat untuk disebut manusia. Manusia yang sudah tidak bisa diajak omong. Tidak bisa mendengarkan. Tidak mau bermusyawarah. Tidak bisa menerima apapun selain yang sudah ada pada dirinya. Manusia yang terkurung di dalam kotak kebenaran subjektifnya sendiri, sehingga kalau ia berekspresi, berinteraksi atau berdebat dengan manusia lain, yang ia bawa bukan kebenaran, melainkan pembenaran atas (yang ia sangka) kebenarannya sendiri. Pokoknya yang benar adalah saya. Siapa saja dan apa saja yang tidak sama dengan saya, pasti tidak benar. Pandangan yang bukan sebagaimana pandangan saya, berarti sesat. Pikiran yang tidak persis seperti pikiran saya, berarti kafir atau musyrik. Tindakan yang bertentangan dengan kemauan saya, berarti makar. Kata dan kalimat yang tidak cocok dengan kepentingan saya, berarti hoax. Kalau saya bilang a-b-c-d, maka alif-ba-ta adalah radikal. Kalau ketetapan saya adalah Sunday-Monday, maka Pahing-Kliwon adalah intoleransi. Kalau kebenaran saya adalah Abajadun-hawazun, maka Honocoroko adalah penghuni neraka. Kalau saya bilang Pemerintah benar, maka kebenarannya absolut sebagaimana Tuhan dan Nabi. Kalau saya nyatakan Pemerintah salah, maka kesalahannya mutlak seperti Iblis, Setan, Dajjal, Druhun. Dan anehnya, justru Iblis yang mendidik cara berpikir, mental dan budaya saya untuk ber-ahmaq ria seperti itu. Lebih tidak gampang dimengerti lagi aplikasi absurd itu kabarnya memang merupakan bagian dari klausul kontrak antara Iblis dengan Allah swt. Yang berlaku hingga Hari Kiamat. Yaumul Qiyamah. Hari Kebangkitan. Momentum Transformasi dari babak penyisihan di Bumi menuju babak berikutnya, dengan sistem nilai yang sama sekali berbeda. Entah dari jasmani mengefisien menjadi rohani. Jasad ke roh. Atau raga ke sukma. Atau Sukmo Nguntal Rogo. Entah bagaimana. Saya harus segera cari referensi tentang itu di Perpustakaan Universitas. Ada yang bilang bisa googling: Iblis.com. Password-nya: indonesiaraya. Akan saya lihat. Harus segera saya lakukan penelitian dan pendataan. Karena bukan hanya menyangkut kehancuran diri saya, tapi Iblis juga sangat menguasai seluruh perangkat perusakan dan penghancuran atas NKRI. Sedangkan menurut Nabi Isa As dan Sayidina Ali bin Abi Thalib, obatnya penyakit Ahmaq hanya satu: kematian. https://www.caknun.com/2017/password-iblis-com/

 CakNun.com  Password Iblis (Pokoknya Saya yang Benar)  Emha Ainun Nadjib  Kali ini saya benar-benar marah kepada Iblis. Marah besar. Tidak ...

*DIKATAI KAFIR, DIHINA ULAMA, DAN SEKOLAHNYA DIBAKAR.* *TETAPI JUSTRU BELIAU MENYELAMATKAN INDONESIA DARI KEBODOHAN* (Sampai-sampai.asetnya dijual untuk menggaji pendidik yang membantunya). Apakah sekarang masih demikian, para pengurus yang ada...???????? Atau justru sebaliknya. . Ketika semua ulama menolak ilmu Barat, satu tokoh justru mempertemukan Islam dan sains di teras rumahnya sendiri. Ketika kaum kolonial ingin membiarkan rakyat bodoh, ia justru mendirikan sekolah modern tanpa bantuan siapapun. K.H. Ahmad Dahlan melihat anak-anak pribumi tumbuh tanpa akses pendidikan. Mereka dipaksa kerja, dipandang rendah, dan tidak punya masa depan. Rasa iba bukan hanya membuatnya menangis, tapi membuatnya bertindak. Ia meminjam ruang tamu rumahnya sendiri untuk dijadikan kelas. Dengan tiga meja, tiga kursi, dan satu papan tulis, ia mulai mengajar. Hanya sembilan murid, tapi impiannya sangat besar: membebaskan bangsa. Banyak ulama menentangnya. Menurut mereka, mengajarkan ilmu umum berarti tunduk pada Barat. Islam akan tercemar, katanya. Orangtuapun enggan menyekolahkan anaknya. Takut mereka menjadi kafir. Takut mereka lupa agama. Ahmad Dahlan dipandang sesat. Tapi ia tidak mundur. Ia percaya, Islam tidak pernah takut pada ilmu. Islam tidak pernah lemah pada modernitas. Islam memang datang untuk mencerahkan. Perlahan, muridnya bertambah. Mereka belajar membaca, menulis, berhitung, dan juga belajar Al-Qur’an. Semua di satu ruangan, tanpa sekat. Dari ruang tamu itu, lahir Muhammadiyah. Dari Muhammadiyah, lahir ribuan sekolah. Dari ribuan sekolah, lahir puluhan ribu lulusan. Hingga hari ini, lebih dari 2.000 lembaga pendidikan Muhammadiyah ada di seluruh Indonesia. Mulai dari TK hingga universitas. K.H. Ahmad Dahlan membuktikan, pendidikan bukan soal bangunan megah atau kurikulum canggih. Pendidikan adalah niat untuk membebaskan. Ia tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga akhlak. Tidak hanya mencerdaskan, tapi juga memanusiakan. Itulah filsafat pendidikannya. Dan ia membuktikan, perubahan tidak datang dari mereka yang pintar bicara, tapi dari mereka yang berani bertindak meski sendirian. Kalau kamu ingin tahu lebih dalam bagaimana seorang ulama bisa mengubah masa depan bangsa dengan pendidikan, baca buku ini. Filsafat Pendidikan K.H. Ahmad Dahlan karya Utami Pratiwi. Buku ini akan buat kamu terdiam, terharu, dan tergerak.

 *DIKATAI KAFIR, DIHINA ULAMA, DAN SEKOLAHNYA DIBAKAR.* *TETAPI JUSTRU BELIAU MENYELAMATKAN INDONESIA DARI KEBODOHAN* (Sampai-sampai.asetnya...